Indahnya "Meugle" dalam Masyarakat Aceh


Masyarakat Aceh memiliki tradisi gotong-royong yang unik dalam kehidupan sosial mereka, Meugle namanya. Kegiatan tolong-menolong ini dilakukan masyarakat Aceh saat hendak membuka ladang di hutan. Oleh karena itu, kegiatan ini juga biasa disebut dengan istilah meuladang. "Meuglee", (Berladang ; Indonesia)Prosesi meugle diawali dengan membabat hutan (ceumeucah). 
Tanah yang akan dijadikan ladang dibersihkan dulu sebelum ditanami padi atau palawija. Meugle biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki secara berkelompok dan dilakukan dengan mekanisme timbal-balik. Artinya, jika anggota kelompok ada yang ingin membuka ladang, maka anggota kelompok yang lain wajib membantu. Pemilik ladang tidak akan memberi imbalan apa-apa kecuali akan memberi makanan dan minuman sekadarnya. Jika tanah ladang sudah siap ditanami, kegiatan berladang selanjutnya dilakukan oleh peladang sendiri dengan dibantu oleh istri dan anak-anaknya. Meskipun demikian, dalam kondisi tertentu, misalnya ketika sakit atau ladang terlalu luas, peladang biasanya akan meminta bantuan tenaga dari keluarga batih. Dalam hal ini, keluarga yang membantu kelak akan diberi imbalan hasil ladang atau balas jasa yang lain. Dulu, tradisi berladang orang Aceh dilakukan secara berpindah-pindah. Tanah yang sudah digunakan sekali atau dua kali mereka tinggalkan karena dianggap tidak subur lagi.

Lalu, mereka pergi mencari ladang baru dan akan kembali ke ladang semula beberapa waktu kemudian setelah ladang tersebut sudah subur lagi. Setelah menemukan ladang baru, biasanya mereka membuat gubuk-gubuk untuk tempat tinggal sementara. 

Karena peladang semakin lama semakin banyak, gubuk-gubuk itu juga kian padat. Dari sinilah awal mula terbentuknya seuneubok atau perkampungan baru. Kemudian, muncul juga seuneubok-seuneubok lainnya sehingga jadilah sebuah desa. Di lingkungan satu seuneubok, masyarakat hidup dengan saling bergantung. Jika ada yang akan membuka ladang baru atau mendirikan rumah, masyarakat akan kembali bergotong-royong. Kegiatan meugle dalam berladang sudah mulai hilang atau mengalami pergeseran makna. Terkadang, meugle diartikan sebagai berkebun, bukan berladang. Kegiatan membuka ladang di hutan saat ini lebih banyak diupahkan, karena tanah hutan terlalu jauh dan memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini dapat dimaklumi karena kegiatan meugle lebih banyak dilakukan oleh pegawai dan orang-orang kaya yang hidup di kota.

Sementara itu, bukit atau hutan saat ini lebih banyak dijadikan kebun untuk menanam cengkeh, kelapa, atau jambu. Pemeliharaan tanaman ini dianggap lebih menguntungkan karena tahan lama dan tidak banyak memerlukan air. Hal ini berbeda jika dibuat ladang dan ditanami padi, di mana harus ditunggui dan selalu diperiksa airnya. Pembukaan lahan kebun juga banyak diupahkan, karena para pemilik kebun memilih bekerja lain.Kecenderungan mengupah untuk kegiatan meugle sedikit banyak juga mempengaruhi warga pedesaan, karena orang desa juga banyak yang menjadi pegawai dan tidak lagi suka turun ke ladang. Akibatnya, kegiatan-kegiatan yang dahulu biasa dikerjakan secara gotong-royong mulai hilang karena mereka tidak mau repot menyediakan makanan. Para pekerja pun jadi berpikir singkat, mereka lebih suka diupah karena bisa menghasilkan uang dengan cepat.Hilangnya tradisi meugle dapat dikatakan karena individualisme dan runtuhnya kolektivitas masyarakat. Kemodernan yang tampak memudahkan kehidupan manusia memiliki sisi negatif bagi kehidupan masyarakat. Ironisnya, banyak orang melihat ini sebagai sebuah kewajaran. Padahal, hilangnya tradisi gotong-royong adalah hilangnya budi pekerti. Rasa kebersamaan merupakan budi pekerti yang sebenarnya dapat menghindarkan manusia dari kesusahan. Bayangkan, jika semua orang menjunjung tinggi semangat gotong-royong, maka bagi mereka yang memiliki kehidupan ekonomi yang kurang beruntung akan dibantu oleh sesama. Tidak dapat dipungkiri, rasa kebersamaan di dalam masyarakat Aceh saat ini sudah hampir punah. Seyogyanya, meskipun saat ini tanah, sawah, ladang, dan kebun sudah berkurang, namun jika masyarakat masih memelihara semangat gotong-royong, maka orang yang hidup di kota atau di desa, dan tidak menjadi petani, niscaya rasa kebersamaan akan senantiasa terjaga.Yusuf Efendi, Redaktur www.MelayuOnline.com

01.29 | Posted in , , , , , , , , , | Read More »

Indahnya "Meugle" dalam Masyarakat Aceh


Masyarakat Aceh memiliki tradisi gotong-royong yang unik dalam kehidupan sosial mereka, Meugle namanya. Kegiatan tolong-menolong ini dilakukan masyarakat Aceh saat hendak membuka ladang di hutan. Oleh karena itu, kegiatan ini juga biasa disebut dengan istilah meuladang. "Meuglee", (Berladang ; Indonesia)Prosesi meugle diawali dengan membabat hutan (ceumeucah). 
Tanah yang akan dijadikan ladang dibersihkan dulu sebelum ditanami padi atau palawija. Meugle biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki secara berkelompok dan dilakukan dengan mekanisme timbal-balik. Artinya, jika anggota kelompok ada yang ingin membuka ladang, maka anggota kelompok yang lain wajib membantu. Pemilik ladang tidak akan memberi imbalan apa-apa kecuali akan memberi makanan dan minuman sekadarnya. Jika tanah ladang sudah siap ditanami, kegiatan berladang selanjutnya dilakukan oleh peladang sendiri dengan dibantu oleh istri dan anak-anaknya. Meskipun demikian, dalam kondisi tertentu, misalnya ketika sakit atau ladang terlalu luas, peladang biasanya akan meminta bantuan tenaga dari keluarga batih. Dalam hal ini, keluarga yang membantu kelak akan diberi imbalan hasil ladang atau balas jasa yang lain. Dulu, tradisi berladang orang Aceh dilakukan secara berpindah-pindah. Tanah yang sudah digunakan sekali atau dua kali mereka tinggalkan karena dianggap tidak subur lagi.

Lalu, mereka pergi mencari ladang baru dan akan kembali ke ladang semula beberapa waktu kemudian setelah ladang tersebut sudah subur lagi. Setelah menemukan ladang baru, biasanya mereka membuat gubuk-gubuk untuk tempat tinggal sementara. 

Karena peladang semakin lama semakin banyak, gubuk-gubuk itu juga kian padat. Dari sinilah awal mula terbentuknya seuneubok atau perkampungan baru. Kemudian, muncul juga seuneubok-seuneubok lainnya sehingga jadilah sebuah desa. Di lingkungan satu seuneubok, masyarakat hidup dengan saling bergantung. Jika ada yang akan membuka ladang baru atau mendirikan rumah, masyarakat akan kembali bergotong-royong. Kegiatan meugle dalam berladang sudah mulai hilang atau mengalami pergeseran makna. Terkadang, meugle diartikan sebagai berkebun, bukan berladang. Kegiatan membuka ladang di hutan saat ini lebih banyak diupahkan, karena tanah hutan terlalu jauh dan memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini dapat dimaklumi karena kegiatan meugle lebih banyak dilakukan oleh pegawai dan orang-orang kaya yang hidup di kota.

Sementara itu, bukit atau hutan saat ini lebih banyak dijadikan kebun untuk menanam cengkeh, kelapa, atau jambu. Pemeliharaan tanaman ini dianggap lebih menguntungkan karena tahan lama dan tidak banyak memerlukan air. Hal ini berbeda jika dibuat ladang dan ditanami padi, di mana harus ditunggui dan selalu diperiksa airnya. Pembukaan lahan kebun juga banyak diupahkan, karena para pemilik kebun memilih bekerja lain.Kecenderungan mengupah untuk kegiatan meugle sedikit banyak juga mempengaruhi warga pedesaan, karena orang desa juga banyak yang menjadi pegawai dan tidak lagi suka turun ke ladang. Akibatnya, kegiatan-kegiatan yang dahulu biasa dikerjakan secara gotong-royong mulai hilang karena mereka tidak mau repot menyediakan makanan. Para pekerja pun jadi berpikir singkat, mereka lebih suka diupah karena bisa menghasilkan uang dengan cepat.Hilangnya tradisi meugle dapat dikatakan karena individualisme dan runtuhnya kolektivitas masyarakat. Kemodernan yang tampak memudahkan kehidupan manusia memiliki sisi negatif bagi kehidupan masyarakat. Ironisnya, banyak orang melihat ini sebagai sebuah kewajaran. Padahal, hilangnya tradisi gotong-royong adalah hilangnya budi pekerti. Rasa kebersamaan merupakan budi pekerti yang sebenarnya dapat menghindarkan manusia dari kesusahan. Bayangkan, jika semua orang menjunjung tinggi semangat gotong-royong, maka bagi mereka yang memiliki kehidupan ekonomi yang kurang beruntung akan dibantu oleh sesama. Tidak dapat dipungkiri, rasa kebersamaan di dalam masyarakat Aceh saat ini sudah hampir punah. Seyogyanya, meskipun saat ini tanah, sawah, ladang, dan kebun sudah berkurang, namun jika masyarakat masih memelihara semangat gotong-royong, maka orang yang hidup di kota atau di desa, dan tidak menjadi petani, niscaya rasa kebersamaan akan senantiasa terjaga.Yusuf Efendi, Redaktur www.MelayuOnline.com

01.29 | Posted in , , , , , , , , , | Read More »

Inilah Rahasia Keajaiban Angka Dalam AlQuran


Kata-kata dalam Al-Qur’an, dengan sejumlah pengulangannya merupakan Mukjizat, keistimewaan yang tidak dimiliki Kitab Suci Agama lain sekaligus bukti bahwa Al Quran dibuat bukan tanpa perhitungan super teliti, seolah olah dengan itu Si Pembuat berusaha menyampaikan bahwa Al Quran Adalah Benar Dan Sempurna.
Jumlah kata-kata dalam Al-Qur’an yang menegaskan kata-kata yang lain ternyata jumlahnya sama dengan jumlah kata-kata Al-Qur’an yang menjadi lawan kata atau kebalikan dari kata-kata tersebut, atau diantara keduanya ada nisbah kontradiktif.
Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya serta pengetahuan-pengetahuan gaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam Al-Qur’an itu sendiri, begitu juga pengulangan kata dan hurufnya, orang-orang yang melakukan ‘ulum’ Al-Qur’an sejak dulu sudah menyadarai adanya fenomena tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.
Para peneliti terdahulu sudah mencatat, bahwa surat-surat yang dibuka dengan huruf-huruf ‘muqaththa’ah’ berjumlah 29 surat, sementara jumlah huruf ‘hijaiyah’ Arab ditambah dengan huruf “Hamzah” juga berjumlah 29 huruf hal ini dengan sudut pkitang bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.
DR. Abdul Razaq Naufal dalam bukunya berjudul ‘ Al’Ijaz Al’Adadiy Fi Al-Qur’an Al Karim” beliau menulis beberapa tema-tema tersebut terjadi keharmonisan diantara jumlah kata-kata Al-Qur’an dan berikut ini adalah sejumlah perhitungan yang benar-benar merupakan Mukjizat, dari jumlah kata dalam Al-Qur’an sebanyak 51.900, Jumlah Juz 30, Jumlah Surat 114, keanehan yang ada diantaranya sbb :
Kata ‘Iblis” ( La’nat ALLAH ‘alaihi ) dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 11 kali, sementara “Isti’adzah” juga disebutkan 11 kali,
Kata “ma’siyah” dan derivatnya disebutkan sebanyak 75 kali, sementara kata “Syukr” dan derivatnya juga disebutkan sebanyak 75 kali.
Kata “al-dunya” disebutkan sebanyak 115 kali, begitu juga kata “al-akhirah” sebanyak 115 kali.
Kata “Al-israf” disebutkan 23 kali, kata kebalikannya “al-sur’ah” sebanyak 23 kali.
Kata “Malaikat” disebutkan 88 kali, kata kebalikannya ‘Al-syayathin” juga 88 kali.
Kata “Al-sulthan disebutkan 37 kali, kata kebalikannya “Al-nifaq” juga 37 kali.
Kata “Al-harb”(panas) sebanyak 4 kali, kebalikannya “ Al-harb” juga 4 kali.
Kata “ Al-harb (perang) sebanyak 6 kali, kebalikannya “Al-husra” (tawanan) 6 kali.
Kata “Al-hayat” (hidup” sebanyak 145 kali, kebalikannya “Al-maut” (mati) 145 kali.
Kata “Qalu” (mereka mengatakan) sebanyak 332 kali, kebalikannya “Qul” ( katakanlah) sebanyak 332 kali.
Kata “Al-sayyiat” yang menjadi kebalikan kata “Al-shahihat” masing-masing 180 kali.
Kata “Al-rahbah” yang menjadi kebalikan kata “Al-ragbah” masing-masing 8 kali.
Kata “Al-naf’u” yang menjadi kebalikan kata “Al-fasad” masing-masing 50 kali.
Kata “Al-nas” yang menjadi kebalikan kata “Al-rusul” masing-masing 368 kali.
Kata “Al-asbath” yang menjadi kebalikan kata “Al-awariyun” masing-masing 5 kali
Kata “Al-jahr” yang menjadi kebalikan kata “Al-alaniyyah” masing-masing 16 kali
Kata “Al-jaza” 117 kali ( sama dg kebalikannya),
Kata “Al-magfiroh” 234 kali ( sama dengan kebalikannya),
Kata “Ad-dhalala” ( kesesatan) 191 kali ( sama dengan kebalikannya),
Kata “Al-ayat” 2 kali “Ad-dhalala” yaitu 282 kali. Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini.
Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk tunggal disebutkan sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada tahun Syamsyiyyah.
Kata “Syahr” ( bulan) sebanyak 12 kali, sama dg jumlah Bulan dalam satu Tahun.
Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk plural (jamak) sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu Bulan.
Kata “Sab’u” (minggu) disebutkan 7 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu minggu.
Jumlah “ saah” (jam) yang didahului dengan ‘harf’ sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari.
Kata “Sujud” disebutkan 34 kali, sama dengan jumlah raka’at dalam solat 5 waktu
Kata “Shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumlah solat wajib sehari semalam.
Kata “Aqimu” yang diikuti kata “Shalat” sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah Raka’at Sholat fardhu/ wajib.
[Sumber: http://situslakalaka.blogspot.com/2011/03/rahasia-keajaiban-angka-dalam-al-quran.html]

19.32 | Posted in , , , , , , , , , | Read More »

Inilah Rahasia Keajaiban Angka Dalam AlQuran


Kata-kata dalam Al-Qur’an, dengan sejumlah pengulangannya merupakan Mukjizat, keistimewaan yang tidak dimiliki Kitab Suci Agama lain sekaligus bukti bahwa Al Quran dibuat bukan tanpa perhitungan super teliti, seolah olah dengan itu Si Pembuat berusaha menyampaikan bahwa Al Quran Adalah Benar Dan Sempurna.
Jumlah kata-kata dalam Al-Qur’an yang menegaskan kata-kata yang lain ternyata jumlahnya sama dengan jumlah kata-kata Al-Qur’an yang menjadi lawan kata atau kebalikan dari kata-kata tersebut, atau diantara keduanya ada nisbah kontradiktif.
Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada ayat-ayat mulianya, makna-maknanya, prinsip-prinsip dan dasar-dasar keadilannya serta pengetahuan-pengetahuan gaibnya saja, melainkan juga termasuk jumlah-jumlah yang ada dalam Al-Qur’an itu sendiri, begitu juga pengulangan kata dan hurufnya, orang-orang yang melakukan ‘ulum’ Al-Qur’an sejak dulu sudah menyadarai adanya fenomena tersebut mempunyai maksud dan tujuan tertentu.
Para peneliti terdahulu sudah mencatat, bahwa surat-surat yang dibuka dengan huruf-huruf ‘muqaththa’ah’ berjumlah 29 surat, sementara jumlah huruf ‘hijaiyah’ Arab ditambah dengan huruf “Hamzah” juga berjumlah 29 huruf hal ini dengan sudut pkitang bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.
DR. Abdul Razaq Naufal dalam bukunya berjudul ‘ Al’Ijaz Al’Adadiy Fi Al-Qur’an Al Karim” beliau menulis beberapa tema-tema tersebut terjadi keharmonisan diantara jumlah kata-kata Al-Qur’an dan berikut ini adalah sejumlah perhitungan yang benar-benar merupakan Mukjizat, dari jumlah kata dalam Al-Qur’an sebanyak 51.900, Jumlah Juz 30, Jumlah Surat 114, keanehan yang ada diantaranya sbb :
Kata ‘Iblis” ( La’nat ALLAH ‘alaihi ) dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 11 kali, sementara “Isti’adzah” juga disebutkan 11 kali,
Kata “ma’siyah” dan derivatnya disebutkan sebanyak 75 kali, sementara kata “Syukr” dan derivatnya juga disebutkan sebanyak 75 kali.
Kata “al-dunya” disebutkan sebanyak 115 kali, begitu juga kata “al-akhirah” sebanyak 115 kali.
Kata “Al-israf” disebutkan 23 kali, kata kebalikannya “al-sur’ah” sebanyak 23 kali.
Kata “Malaikat” disebutkan 88 kali, kata kebalikannya ‘Al-syayathin” juga 88 kali.
Kata “Al-sulthan disebutkan 37 kali, kata kebalikannya “Al-nifaq” juga 37 kali.
Kata “Al-harb”(panas) sebanyak 4 kali, kebalikannya “ Al-harb” juga 4 kali.
Kata “ Al-harb (perang) sebanyak 6 kali, kebalikannya “Al-husra” (tawanan) 6 kali.
Kata “Al-hayat” (hidup” sebanyak 145 kali, kebalikannya “Al-maut” (mati) 145 kali.
Kata “Qalu” (mereka mengatakan) sebanyak 332 kali, kebalikannya “Qul” ( katakanlah) sebanyak 332 kali.
Kata “Al-sayyiat” yang menjadi kebalikan kata “Al-shahihat” masing-masing 180 kali.
Kata “Al-rahbah” yang menjadi kebalikan kata “Al-ragbah” masing-masing 8 kali.
Kata “Al-naf’u” yang menjadi kebalikan kata “Al-fasad” masing-masing 50 kali.
Kata “Al-nas” yang menjadi kebalikan kata “Al-rusul” masing-masing 368 kali.
Kata “Al-asbath” yang menjadi kebalikan kata “Al-awariyun” masing-masing 5 kali
Kata “Al-jahr” yang menjadi kebalikan kata “Al-alaniyyah” masing-masing 16 kali
Kata “Al-jaza” 117 kali ( sama dg kebalikannya),
Kata “Al-magfiroh” 234 kali ( sama dengan kebalikannya),
Kata “Ad-dhalala” ( kesesatan) 191 kali ( sama dengan kebalikannya),
Kata “Al-ayat” 2 kali “Ad-dhalala” yaitu 282 kali. Dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu disini.
Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk tunggal disebutkan sebanyak 365 kali, sebanyak jumlah hari pada tahun Syamsyiyyah.
Kata “Syahr” ( bulan) sebanyak 12 kali, sama dg jumlah Bulan dalam satu Tahun.
Kata “Yaum” (hari) dalam bentuk plural (jamak) sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu Bulan.
Kata “Sab’u” (minggu) disebutkan 7 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu minggu.
Jumlah “ saah” (jam) yang didahului dengan ‘harf’ sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam satu hari.
Kata “Sujud” disebutkan 34 kali, sama dengan jumlah raka’at dalam solat 5 waktu
Kata “Shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumlah solat wajib sehari semalam.
Kata “Aqimu” yang diikuti kata “Shalat” sebanyak 17 kali, sama dengan jumlah Raka’at Sholat fardhu/ wajib.
[Sumber: http://situslakalaka.blogspot.com/2011/03/rahasia-keajaiban-angka-dalam-al-quran.html]

19.32 | Posted in , , , , , , , , , | Read More »

Apakah Rakyat Aceh Bersatu Hanya Dalam Perang?


Perang dan konflik bersenjata telah menjadi keseharian rakyat Aceh. Dari perlawanan yang dibangun untuk melawan penjajahan Portugis, Belanda, Jepang, orde lama dan yang terakhir melawan kediktatoran orde baru atas ketidakadilan yang dibangun darah dan air mata pahlawan dan kesetiaan rakyat Aceh. Situasi ini telah menjadi ujian berat bagi persatuan rakyat Aceh.Berbagai istilah berkembang di masyarakat Aceh, seakan istilah tersebut menjadi ungkapan terhadap pengalaman pahit dalam membangun sebuah perjuangan. Kita ambil cotoh seperti kata ”Cu’ak” dan ”Panglima tibang” sering diungkapkan masyarakt Aceh untuk mereka yang tidak konsisten terhadap perjuangan.Ada pula kata yang diucapkan untuk membangkitkan semangat perjuangan dan persatuan seperti ”Perang sabi” atau kata ”PAI” untuk memberi batas jelas terhadap lawan mana yang perlu diwaspadai dan bisa menjadi musuh terhadap perjuangan.Selain itu ungkapan paranoid pun lahir dan berkembang yang sering diucapkan untuk merefleksikan kekecewaan batin terhadap mereka yang tidak konsisten. 

Sebut saja salah satu yang sangat populer adalah ”Tayue jak dikeu ditoeh geuntet, tayu jak dilikoet di koh likoet” (artinya kalau disuruh jadi pemimpin akan berkhianat dan kalau menjadi rakyat akan memberontak pada pemimpinnya). Ungkapan ini diucapkan untuk merefleksikan bahwa betapa tidak konsistenya sebagian mereka yang penuh ambisi untuk memperoleh kekuasaan dengan cara-cara yang tidak benar.Kita juga perlu mencermati refleksi sejarah akan eksistensi persatuan rakyat Aceh sebagai pelajaran sehingga tidak terjungkal dalam kisah yang sama. Hanya keledai dungulah yang sering jatuh dalam lubang yang sama. Sebut saja kisah panjang patriotisme rakyat Aceh melawan dan mengusir penjajahan Portugis, Belanda, Jepang yang diakhiri dengan kemerdekaan Indonesia. Dengan lantang seorang Tgk Daud Beureueh berani mewakili rakyat Aceh untuk menyatakan bergabung dengan Indonesia.

Padahal kalau beliau lebih arif dan demokratis, belum tentu rakyat Aceh setuju terhadap langkah tersebut.Hasil deklarasi Tgk Daud Beureueh akhirnya melahirkan konflik baru atas ketidakpuasan beliau terhadap janji Soekarno. Perlawananpun dikobarkan untuk melawan ketidakadilan pemerintahan Soekarno. Perlawanan berakhir dengan lahirnya perjanjian Lamteh yang diprakarsai oleh beberapa tokoh Aceh dan tentunya dengan beberapa janji baru terhadap tuntutan yang digelorakan rakyat Aceh.Dalam masa damai banyak tokoh dan pejuang Aceh, seakan larut dengan penghargaan dan keuntunga ekonomi yang mereka terima. Mereka lupa bahwa persatuan masih dibutuhkan untuk menuntut konsistensi pemerintah pusat dalam mengimplementasikan butit-butir perjanjian. Ketakutan dan keengganan untuk menggugat pemerintah pusat terhadap apa yang telah mereka janjikan, melemahkan daya tawar Aceh untuk mendapatkan apa sebenarnya menjadi hak mereka.

Ketika Hasan Tiro menggelorakan semangat baru perjuangan untuk melawan ketidakadilan ekonomi dibawah pemerintahan Soeharto, banyak dari tokoh DITII nya Daud Beureueh bersatu padu bergabung dan ikut berjuang. Drama perdamaian Lamteh ibarat pepesan kosong yang tidak sedikitpun mengikat mereka, karena hakikatnya memang dagelan politik wayang untuk meredam perjuangan rakyat Aceh.Saat ini perdamaian pun telah dibangun dengan landasan yang lebih kuat. MOU Helsinki yang difasilitasi CMI dan turut dikawal oleh semua negara Eropa. Butir-butir perjanjian MOU Helsinki jelas sangat menguntungkan rakyat Aceh bila pemerintah pusat dengan ikhlas mau mengimplementasikannya. Implementasi butir-butir MOU Helsinki tidak akan serta merta dikabulkan, tapi harus didesak dan diperjuangkan. Jangan lagi mengulang sejarah lama kalau kita tidak mau dibilang keledai dungu.

Saat ini mereka yang dahulu mengaku pejuang, aktivis dan tokoh masyarakat Aceh larut dalam memperjuangkan kepentingan ekonomi dan kekuasaan masing-masing. Kita terpecah belah dalam perebutan kekuasaan dan kekayaan. Sehingga muncul pertanyaan apakah persatuan rakyat Aceh hanya ada dalam perang?.Kita tidak ingat bahwa persatuan masih dibutuhkan karena memang perjuangan belum usai. Jangan saling sikut, karena kita perlu berjalan seiring layaknya dalam perang sehingga kita tidak mudah menjadi sasaran tembak lawan. Jangan terlena dengan kekuasaan, penghargaan dan keuntungan ekonomi, sementara kita melupakan hakekat perjuangan yang ingin dicapai.Semua lapisan rakyat Aceh baik bekas kombatan, aktivis, tokoh masyarakat, tokoh politik dan tokoh agama harus bersatu padu mengawal pelaksanaan butir-butir MOU Helsinki. 
Kita harus waspada terhadap pengalihan isu dalam upaya pengaburan esensi MOU Helsinki. Kita harus mengawal bersama kalau tidak ingin Aceh kembali tertipu.Kita harus ingat persatuan tidak hanya dibutuhkan saat perang, karena saat damaipun persatuan sangat dibutuhkan. Aceh sudah cukup banyak ditipu, karena memang kita mau ditipu. Sekarang saatnya menguatkan tekad dalam satu derap langkah yang seayun dan seirama berjuang untuk Aceh yang lebih bermartabat. (Taduek tadeng beusaban pakat sang seuneusap meu ado-a, bek dile pike keu hudep mangat segoh ta ingat keu nasib bangsa,nyo masanyoe geutanyoe lalee, hana le wate peubibeuh bangsa).

21.01 | Posted in , , , , , , , , , | Read More »

Apakah Rakyat Aceh Bersatu Hanya Dalam Perang?


Perang dan konflik bersenjata telah menjadi keseharian rakyat Aceh. Dari perlawanan yang dibangun untuk melawan penjajahan Portugis, Belanda, Jepang, orde lama dan yang terakhir melawan kediktatoran orde baru atas ketidakadilan yang dibangun darah dan air mata pahlawan dan kesetiaan rakyat Aceh. Situasi ini telah menjadi ujian berat bagi persatuan rakyat Aceh.Berbagai istilah berkembang di masyarakat Aceh, seakan istilah tersebut menjadi ungkapan terhadap pengalaman pahit dalam membangun sebuah perjuangan. Kita ambil cotoh seperti kata ”Cu’ak” dan ”Panglima tibang” sering diungkapkan masyarakt Aceh untuk mereka yang tidak konsisten terhadap perjuangan.Ada pula kata yang diucapkan untuk membangkitkan semangat perjuangan dan persatuan seperti ”Perang sabi” atau kata ”PAI” untuk memberi batas jelas terhadap lawan mana yang perlu diwaspadai dan bisa menjadi musuh terhadap perjuangan.Selain itu ungkapan paranoid pun lahir dan berkembang yang sering diucapkan untuk merefleksikan kekecewaan batin terhadap mereka yang tidak konsisten. 

Sebut saja salah satu yang sangat populer adalah ”Tayue jak dikeu ditoeh geuntet, tayu jak dilikoet di koh likoet” (artinya kalau disuruh jadi pemimpin akan berkhianat dan kalau menjadi rakyat akan memberontak pada pemimpinnya). Ungkapan ini diucapkan untuk merefleksikan bahwa betapa tidak konsistenya sebagian mereka yang penuh ambisi untuk memperoleh kekuasaan dengan cara-cara yang tidak benar.Kita juga perlu mencermati refleksi sejarah akan eksistensi persatuan rakyat Aceh sebagai pelajaran sehingga tidak terjungkal dalam kisah yang sama. Hanya keledai dungulah yang sering jatuh dalam lubang yang sama. Sebut saja kisah panjang patriotisme rakyat Aceh melawan dan mengusir penjajahan Portugis, Belanda, Jepang yang diakhiri dengan kemerdekaan Indonesia. Dengan lantang seorang Tgk Daud Beureueh berani mewakili rakyat Aceh untuk menyatakan bergabung dengan Indonesia.

Padahal kalau beliau lebih arif dan demokratis, belum tentu rakyat Aceh setuju terhadap langkah tersebut.Hasil deklarasi Tgk Daud Beureueh akhirnya melahirkan konflik baru atas ketidakpuasan beliau terhadap janji Soekarno. Perlawananpun dikobarkan untuk melawan ketidakadilan pemerintahan Soekarno. Perlawanan berakhir dengan lahirnya perjanjian Lamteh yang diprakarsai oleh beberapa tokoh Aceh dan tentunya dengan beberapa janji baru terhadap tuntutan yang digelorakan rakyat Aceh.Dalam masa damai banyak tokoh dan pejuang Aceh, seakan larut dengan penghargaan dan keuntunga ekonomi yang mereka terima. Mereka lupa bahwa persatuan masih dibutuhkan untuk menuntut konsistensi pemerintah pusat dalam mengimplementasikan butit-butir perjanjian. Ketakutan dan keengganan untuk menggugat pemerintah pusat terhadap apa yang telah mereka janjikan, melemahkan daya tawar Aceh untuk mendapatkan apa sebenarnya menjadi hak mereka.

Ketika Hasan Tiro menggelorakan semangat baru perjuangan untuk melawan ketidakadilan ekonomi dibawah pemerintahan Soeharto, banyak dari tokoh DITII nya Daud Beureueh bersatu padu bergabung dan ikut berjuang. Drama perdamaian Lamteh ibarat pepesan kosong yang tidak sedikitpun mengikat mereka, karena hakikatnya memang dagelan politik wayang untuk meredam perjuangan rakyat Aceh.Saat ini perdamaian pun telah dibangun dengan landasan yang lebih kuat. MOU Helsinki yang difasilitasi CMI dan turut dikawal oleh semua negara Eropa. Butir-butir perjanjian MOU Helsinki jelas sangat menguntungkan rakyat Aceh bila pemerintah pusat dengan ikhlas mau mengimplementasikannya. Implementasi butir-butir MOU Helsinki tidak akan serta merta dikabulkan, tapi harus didesak dan diperjuangkan. Jangan lagi mengulang sejarah lama kalau kita tidak mau dibilang keledai dungu.

Saat ini mereka yang dahulu mengaku pejuang, aktivis dan tokoh masyarakat Aceh larut dalam memperjuangkan kepentingan ekonomi dan kekuasaan masing-masing. Kita terpecah belah dalam perebutan kekuasaan dan kekayaan. Sehingga muncul pertanyaan apakah persatuan rakyat Aceh hanya ada dalam perang?.Kita tidak ingat bahwa persatuan masih dibutuhkan karena memang perjuangan belum usai. Jangan saling sikut, karena kita perlu berjalan seiring layaknya dalam perang sehingga kita tidak mudah menjadi sasaran tembak lawan. Jangan terlena dengan kekuasaan, penghargaan dan keuntungan ekonomi, sementara kita melupakan hakekat perjuangan yang ingin dicapai.Semua lapisan rakyat Aceh baik bekas kombatan, aktivis, tokoh masyarakat, tokoh politik dan tokoh agama harus bersatu padu mengawal pelaksanaan butir-butir MOU Helsinki. 
Kita harus waspada terhadap pengalihan isu dalam upaya pengaburan esensi MOU Helsinki. Kita harus mengawal bersama kalau tidak ingin Aceh kembali tertipu.Kita harus ingat persatuan tidak hanya dibutuhkan saat perang, karena saat damaipun persatuan sangat dibutuhkan. Aceh sudah cukup banyak ditipu, karena memang kita mau ditipu. Sekarang saatnya menguatkan tekad dalam satu derap langkah yang seayun dan seirama berjuang untuk Aceh yang lebih bermartabat. (Taduek tadeng beusaban pakat sang seuneusap meu ado-a, bek dile pike keu hudep mangat segoh ta ingat keu nasib bangsa,nyo masanyoe geutanyoe lalee, hana le wate peubibeuh bangsa).

21.01 | Posted in , , , , , , , , , | Read More »

Blog Archive

Labels