Memahami Orang Aceh


Judul Buku: Memahami Orang Aceh
Penulis: Dr. Mohd. Harun, M.Pd.
Penerbit: Citapustaka Media Perintis
Cetakan I: April 2009
Isi: xvi + 304

Beranjak dari penelitian disertasi, “Memahami Orang Aceh” menjadi sebuah buku yang sangat kuat mengangkat karakteristik dan tipologi masyarakat Aceh. Apalagi, penelitian dititikberatkan pada hadih maja yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Aceh. Oleh karena itu, buku setebal 304 halaman ini sangat patut dijadikan cermin dari kehidupan masyarakat Aceh: tempoe doeloe dan kini.

Bukan hanya itu, latar belakang si penulis yang menyandang predikat doktor bidang pendidikan dan bergelut sebagai pengajar sastra, adat dan budaya di Universitas Syiah Kuala dalam kesehariannya, semakin mengokohkan bahwa disertasi ini murni hasil penelitian lapangan. Tentunya ia memiliki landasan yang sangat kuat sebagai sumber acuan para peneliti berikutnya, yakni penelitian tentang karakteristik masyarakat Aceh.

Membaca buku mantan wartawan ini, kita semakin menyadari bahwa masyarakat Aceh sesungguhnya memiliki hati yang lembut dan kasih sayang. Adapun timbulnya sikap atau sifat iri hati, itu disebutkan bukan sifat mutlak ureueng Aceh, melainkan timbul kemudian hari karena sebab sesuatu semisal dikhianati, dicerca, dimaki, ditipu, dan sebagainya. Padahal, orang Aceh memiliki sifat lembut dan selalu mengalah. Hal itu terungkap dalam hadih maja pada buku ini, yang dikutip pula oleh Rektor Unsyiah, Darni M. Daud, pada pengantarnya. Hadih maja tersebut adalah surôt lhèe langkah meureundah diri, mangat jituri nyang bijaksana.

Secara umum, buku ini mengkaji struktur, fungsi, dan nilai hadih maja sebagai sastra lisan dalam masyarakat Aceh. Hadih maja dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan peribahasa, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut proverb, bahasa Arab matsal, bahasa Belanda Spreekword.

Melalui hadih maja-hadih maja yang sudah dikumpulnya bertahun-tahun, Harun mencoba memberikan pengetahuan baru kepada kita. Bahwa hadih maja yang selama ini terkesan sekedar jadi penambah pemanis kata bagi orang tua-orang tua ternyata memiliki nilai filosofis yang sangat dalam, yang dapat menunjukkan karakteristik masyarakat pemakainya: tentunya hal ini berdasarkan zaman pula.

Kendati tidak semua hadih maja dapat berlaku secara harfiah di segala zaman, nilai filosofis di dalamnya tetap menggambarkan tipologi masyarakat Aceh secara keseluruhan. Misalkan saja pada hadih maja Ureueng Aceh hanjeut teupèh / meunyo ka teupèh, bu leubèh han meuteumè rasa / meunyo hana teupèh, boh krèh jeut taraba /.

Filosofis yang diemban hadih maja tersebut masih terlihat dalam masyarakat Aceh hingga saat ini. Oleh karena itu, upaya pendokumentasian hadih maja apalagi dalam bentuk penelitian ilmiah seperti yang dilakukan Harun patut mendapatkan apresiasi tinggi.

Lebih rinci, Harun membagi beberapa konsep pemikiran dan watak orang Aceh melalui perspektif hadih maja: konsep nilai filosofis orang Aceh; konsep nilai etis orang Aceh; dan konsep nilai estetis orang Aceh. Ia mengakui bahwa ada satu konsep lagi yang tidak dimasukkan di sini, konsep religius orang Aceh, atas pertimbangan masih belum sempurnanya hasil penelitian tentang religius dalam masyarakat Aceh. Namun demikian, konsep dasar religius orang Aceh dapat dilihat pada disertasi Harun, yang dikeluarkan oleh Universitas Negeri Malang, 2006.

Akhirnya, membaca buku bersampul gambar orang tua bertopi ke belakang, hasil lukisan Mahdi Abdullah, ini membuat saya seperti semakin kenal ke-Aceh-an dalam diri dan masyarakat tempat saya tinggal. Gambar sampul buku itu pun seperti khas gambar salah seorang masyarakat Aceh, yang gemar telanjang dada dan memakai topi yang arahnya ke belakang. Pantas pula Rektor Unsyiah menyebutkan pada pengantarnya bahwa “Memahami Orang Aceh” adalah buku yang memuat berbagai aspek kehidupan masyarakat Aceh secara rinci.

Hemat saya, akan lebih rinci lagi manakala buku ini juga memuat pandangan orang Aceh dari sisi religius, sebab persoalan agama bagi masyarakat Aceh sudah seperti rapatnya kulit dengan ari. Namun demikian, buku ini tetap dapat menjadi landasan bagi para peneliti yang hendak mengkaji seluk beluk masyarakat Aceh, dulu dan sekarang.

sumber:atjehcyber
[Herman RN, Redaktur Pelaksan tuhoe]
Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XI, Desember 2009

23.12 | Posted in , , , , | Read More »

Memahami Orang Aceh


Judul Buku: Memahami Orang Aceh
Penulis: Dr. Mohd. Harun, M.Pd.
Penerbit: Citapustaka Media Perintis
Cetakan I: April 2009
Isi: xvi + 304

Beranjak dari penelitian disertasi, “Memahami Orang Aceh” menjadi sebuah buku yang sangat kuat mengangkat karakteristik dan tipologi masyarakat Aceh. Apalagi, penelitian dititikberatkan pada hadih maja yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Aceh. Oleh karena itu, buku setebal 304 halaman ini sangat patut dijadikan cermin dari kehidupan masyarakat Aceh: tempoe doeloe dan kini.

Bukan hanya itu, latar belakang si penulis yang menyandang predikat doktor bidang pendidikan dan bergelut sebagai pengajar sastra, adat dan budaya di Universitas Syiah Kuala dalam kesehariannya, semakin mengokohkan bahwa disertasi ini murni hasil penelitian lapangan. Tentunya ia memiliki landasan yang sangat kuat sebagai sumber acuan para peneliti berikutnya, yakni penelitian tentang karakteristik masyarakat Aceh.

Membaca buku mantan wartawan ini, kita semakin menyadari bahwa masyarakat Aceh sesungguhnya memiliki hati yang lembut dan kasih sayang. Adapun timbulnya sikap atau sifat iri hati, itu disebutkan bukan sifat mutlak ureueng Aceh, melainkan timbul kemudian hari karena sebab sesuatu semisal dikhianati, dicerca, dimaki, ditipu, dan sebagainya. Padahal, orang Aceh memiliki sifat lembut dan selalu mengalah. Hal itu terungkap dalam hadih maja pada buku ini, yang dikutip pula oleh Rektor Unsyiah, Darni M. Daud, pada pengantarnya. Hadih maja tersebut adalah surôt lhèe langkah meureundah diri, mangat jituri nyang bijaksana.

Secara umum, buku ini mengkaji struktur, fungsi, dan nilai hadih maja sebagai sastra lisan dalam masyarakat Aceh. Hadih maja dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan peribahasa, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut proverb, bahasa Arab matsal, bahasa Belanda Spreekword.

Melalui hadih maja-hadih maja yang sudah dikumpulnya bertahun-tahun, Harun mencoba memberikan pengetahuan baru kepada kita. Bahwa hadih maja yang selama ini terkesan sekedar jadi penambah pemanis kata bagi orang tua-orang tua ternyata memiliki nilai filosofis yang sangat dalam, yang dapat menunjukkan karakteristik masyarakat pemakainya: tentunya hal ini berdasarkan zaman pula.

Kendati tidak semua hadih maja dapat berlaku secara harfiah di segala zaman, nilai filosofis di dalamnya tetap menggambarkan tipologi masyarakat Aceh secara keseluruhan. Misalkan saja pada hadih maja Ureueng Aceh hanjeut teupèh / meunyo ka teupèh, bu leubèh han meuteumè rasa / meunyo hana teupèh, boh krèh jeut taraba /.

Filosofis yang diemban hadih maja tersebut masih terlihat dalam masyarakat Aceh hingga saat ini. Oleh karena itu, upaya pendokumentasian hadih maja apalagi dalam bentuk penelitian ilmiah seperti yang dilakukan Harun patut mendapatkan apresiasi tinggi.

Lebih rinci, Harun membagi beberapa konsep pemikiran dan watak orang Aceh melalui perspektif hadih maja: konsep nilai filosofis orang Aceh; konsep nilai etis orang Aceh; dan konsep nilai estetis orang Aceh. Ia mengakui bahwa ada satu konsep lagi yang tidak dimasukkan di sini, konsep religius orang Aceh, atas pertimbangan masih belum sempurnanya hasil penelitian tentang religius dalam masyarakat Aceh. Namun demikian, konsep dasar religius orang Aceh dapat dilihat pada disertasi Harun, yang dikeluarkan oleh Universitas Negeri Malang, 2006.

Akhirnya, membaca buku bersampul gambar orang tua bertopi ke belakang, hasil lukisan Mahdi Abdullah, ini membuat saya seperti semakin kenal ke-Aceh-an dalam diri dan masyarakat tempat saya tinggal. Gambar sampul buku itu pun seperti khas gambar salah seorang masyarakat Aceh, yang gemar telanjang dada dan memakai topi yang arahnya ke belakang. Pantas pula Rektor Unsyiah menyebutkan pada pengantarnya bahwa “Memahami Orang Aceh” adalah buku yang memuat berbagai aspek kehidupan masyarakat Aceh secara rinci.

Hemat saya, akan lebih rinci lagi manakala buku ini juga memuat pandangan orang Aceh dari sisi religius, sebab persoalan agama bagi masyarakat Aceh sudah seperti rapatnya kulit dengan ari. Namun demikian, buku ini tetap dapat menjadi landasan bagi para peneliti yang hendak mengkaji seluk beluk masyarakat Aceh, dulu dan sekarang.

sumber:atjehcyber
[Herman RN, Redaktur Pelaksan tuhoe]
Dimuat di Buletin Tuhoe Edisi XI, Desember 2009

23.12 | Posted in , , , , | Read More »

Nasihat Rasulullah Untuk Putrinya

Berikut ini beberapa nasihat Rasulullah SAW untuk putrinda kesayangannya,Fatimah az-Zahra.
Dari nasihat tersebut terungkap konsep kebahagiaan rumah tangga.

Suatu hari Rasulullah SAW menyempatkan diri berkunjung ke rumah Fatimah az-Zahra.Setiba dirumah putri kesayangannya itu,Rasulullah SAW berucap salam kemudian masuk.Ketika itu didapatinya Fatimah tengah menangis sambil menggiling syair (sejenis gandum) dengan penggilingan tangan dari batu. .

Seketika itu Rasulullah SAW bertanya,”Duhai Fatimah,apa gerangan yang membuat engkau menangis?.Semoga Allah tidak menyebabkan air matamu berderai.” Jawab Fatimah,”Wahai Rasulullah…penggilingan dan urusan rumah tangga inilah yang menyebabkan ananda menangis.” Lalu duduklah Rasulullah SAW disisi Fatimah.Kemudian Fatimah melanjutkan,”Duhai Ayahanda,sudikah kiranya Ayah minta kepada Ali,suamiku,mencarikan seorang jariah (hamba perempuan) untuk membantu ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah?”.

Maka bangkitlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu.Dengan tangannya,beliau mengambil sejumput gandum lalu diletakkannya dipenggilingan tangan seraya membaca Basmalah.Ajaib..!!,dengan ijin Allah penggilinan tersebut berputar sendiri. Sementara penggilingan itu berputar,Rasulullah SAW bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa,sehingga habislah bulir-bulir gandum itu tergiling.”Berhentilah berputar atas izin Allah SWT,” maka penggilingan itupun berhenti berputar.Lalu dengan izin Allah,penggilingan itu berkata-kata dalam bahasa manusia. “Ya Rasulullah SAW..,demi Allah yang telah menjadikan Tuan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya.

Kalaulah Tuan menyuruh hamba menggiling gandum dari timur hingga barat pun niscaya hamba akan gilingkan semuanya.Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT,‘Hai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya (dari) manusia dan batu.Penjaganya para malaikat yang kasar lagi keras,yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan’.Maka hamba takut ya Rasulullah…kelak hamba menjadi batu dalam neraka.”

Dan bersabdalah Rasulullah SAW,”Bergembiralah,karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fatimah az-Zahra didalam surga”.Maka bergembiralah penggilingan batu itu,kemudian diamlah ia.
Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada Fatimah,”Jika Allah SWT menghendaki,niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu.Tapi Allah menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh-Nya beberapa kesalahanmu,dan diangkat-Nya beberapa derajat untukmu.

~ Wanita yang menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya,Allah SWT menuliskan setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat”.

~ “Wahai Fatimah,wanita yang berkeringat ketika menggiling gandum untuk suaminya..,Allah menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh parit.

~ Wanita yang meminyaki dan menyisir rambut anak-anaknya serta mencuci pakaian mereka..,Allah mencatat pahala seperti orang yang memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya..,Allah akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar dihari kiamat”.

~ “Wahai Fatimah,yang lebih utama dari semua itu adalah keridaan suami terhadap istrinya.Jika suamimu tidak rida,aku tidaklah mendoakan kamu.Tidaklah engkau ketahui,rida suami adalah rida Allah SWT,dan kemarahan suami adalah kemarahan Allah SWT?”.

~ “Apabila seorang wanita mengandung janin,beristighfarlah para malaikat,dan Allah mencatat tiap hari seribu kebaikan dan menghapus seribu kejahatan.Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan..,Allah mencatat pahala seperti orang-orang yg berjihad.Apabila ia melahirkan,keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaan saat ibunya melahirkannya.Apabila ia meninggal,tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun.Kelak akan didapati kuburnya sebagai taman dari taman-taman surga,dan Allah mengaruniakan pahala seribu haji dan seribu umroh. Dan beristighfarlah seribu malaikat sampai hari kiamat “.

~ “Wahai Fatimah,wanita yg melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar..,Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya.Dan Allah SWT akan mengenakannya seperangkat pakaian hijau,dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya seribu kebaikan.Wanita yang tersenyum dihadapan suaminya,Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat”.

~ “Wahai Fatimah,wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring,atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati..,berserulah para malaikat untuknya,”Teruskanlah amalmu,maka Allah SWT telah mengampunimu dari dosa yang lalu dan yang akan datang.”

~ “Wahai Fatimah,wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya,serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya,Allah SWT memberinya minuman dari sungai-sungai surga.Allah SWT meringankan sakaratul mautnya,dan kuburnya akan menjadi taman-taman disurga.Allah SWT akan menyelamatkan dari api neraka,selamat dari titian sirathalmustakim”.
Subhanallah….

Wassalam.......( ~GR~)
Buku : Biografi Fatimah Az Zahra Binti Rasulullah

18.49 | Posted in , | Read More »

Nasihat Rasulullah Untuk Putrinya

Berikut ini beberapa nasihat Rasulullah SAW untuk putrinda kesayangannya,Fatimah az-Zahra.
Dari nasihat tersebut terungkap konsep kebahagiaan rumah tangga.

Suatu hari Rasulullah SAW menyempatkan diri berkunjung ke rumah Fatimah az-Zahra.Setiba dirumah putri kesayangannya itu,Rasulullah SAW berucap salam kemudian masuk.Ketika itu didapatinya Fatimah tengah menangis sambil menggiling syair (sejenis gandum) dengan penggilingan tangan dari batu. .

Seketika itu Rasulullah SAW bertanya,”Duhai Fatimah,apa gerangan yang membuat engkau menangis?.Semoga Allah tidak menyebabkan air matamu berderai.” Jawab Fatimah,”Wahai Rasulullah…penggilingan dan urusan rumah tangga inilah yang menyebabkan ananda menangis.” Lalu duduklah Rasulullah SAW disisi Fatimah.Kemudian Fatimah melanjutkan,”Duhai Ayahanda,sudikah kiranya Ayah minta kepada Ali,suamiku,mencarikan seorang jariah (hamba perempuan) untuk membantu ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah?”.

Maka bangkitlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu.Dengan tangannya,beliau mengambil sejumput gandum lalu diletakkannya dipenggilingan tangan seraya membaca Basmalah.Ajaib..!!,dengan ijin Allah penggilinan tersebut berputar sendiri. Sementara penggilingan itu berputar,Rasulullah SAW bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa,sehingga habislah bulir-bulir gandum itu tergiling.”Berhentilah berputar atas izin Allah SWT,” maka penggilingan itupun berhenti berputar.Lalu dengan izin Allah,penggilingan itu berkata-kata dalam bahasa manusia. “Ya Rasulullah SAW..,demi Allah yang telah menjadikan Tuan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya.

Kalaulah Tuan menyuruh hamba menggiling gandum dari timur hingga barat pun niscaya hamba akan gilingkan semuanya.Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT,‘Hai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya (dari) manusia dan batu.Penjaganya para malaikat yang kasar lagi keras,yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan’.Maka hamba takut ya Rasulullah…kelak hamba menjadi batu dalam neraka.”

Dan bersabdalah Rasulullah SAW,”Bergembiralah,karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fatimah az-Zahra didalam surga”.Maka bergembiralah penggilingan batu itu,kemudian diamlah ia.
Lalu Rasulullah SAW bersabda kepada Fatimah,”Jika Allah SWT menghendaki,niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu.Tapi Allah menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh-Nya beberapa kesalahanmu,dan diangkat-Nya beberapa derajat untukmu.

~ Wanita yang menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya,Allah SWT menuliskan setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat”.

~ “Wahai Fatimah,wanita yang berkeringat ketika menggiling gandum untuk suaminya..,Allah menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh parit.

~ Wanita yang meminyaki dan menyisir rambut anak-anaknya serta mencuci pakaian mereka..,Allah mencatat pahala seperti orang yang memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang telanjang. Sedangkan wanita yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya..,Allah akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar dihari kiamat”.

~ “Wahai Fatimah,yang lebih utama dari semua itu adalah keridaan suami terhadap istrinya.Jika suamimu tidak rida,aku tidaklah mendoakan kamu.Tidaklah engkau ketahui,rida suami adalah rida Allah SWT,dan kemarahan suami adalah kemarahan Allah SWT?”.

~ “Apabila seorang wanita mengandung janin,beristighfarlah para malaikat,dan Allah mencatat tiap hari seribu kebaikan dan menghapus seribu kejahatan.Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan..,Allah mencatat pahala seperti orang-orang yg berjihad.Apabila ia melahirkan,keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaan saat ibunya melahirkannya.Apabila ia meninggal,tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun.Kelak akan didapati kuburnya sebagai taman dari taman-taman surga,dan Allah mengaruniakan pahala seribu haji dan seribu umroh. Dan beristighfarlah seribu malaikat sampai hari kiamat “.

~ “Wahai Fatimah,wanita yg melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar..,Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya.Dan Allah SWT akan mengenakannya seperangkat pakaian hijau,dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya seribu kebaikan.Wanita yang tersenyum dihadapan suaminya,Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat”.

~ “Wahai Fatimah,wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring,atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati..,berserulah para malaikat untuknya,”Teruskanlah amalmu,maka Allah SWT telah mengampunimu dari dosa yang lalu dan yang akan datang.”

~ “Wahai Fatimah,wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya,serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya,Allah SWT memberinya minuman dari sungai-sungai surga.Allah SWT meringankan sakaratul mautnya,dan kuburnya akan menjadi taman-taman disurga.Allah SWT akan menyelamatkan dari api neraka,selamat dari titian sirathalmustakim”.
Subhanallah….

Wassalam.......( ~GR~)
Buku : Biografi Fatimah Az Zahra Binti Rasulullah

18.49 | Posted in , | Read More »

Melupakan GAM?

Di awal perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) periode 1998, anggota GAM yang telah mendapatkan ideologi yang berada di Malaysia dan bahkan yang telah menjalani pendidikan militer di Tripoli Libya berada di bawah satu garis komando pemimpin tertinggi Wali Neugara Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Mereka kembali ke Aceh untuk melakukan penerangan perjuangan GAM melalui ceramah di kampung-kampung dan meunasah-meunasah.
Hal ini dilakukan untuk memberikan penerangan sejarah dan status Aceh secara hukum Internasional. Penerangan seperti ini dihadiri oleh ratusan massa dari berbagai pelosok gampông. Melalui penerangan ini masyarakat memiliki wawasan ideologi tentang dasar perjuangan GAM yang diproklamirkan oleh Hasan di Tiro di Gunong Halimon pada 4 Desember 1976.
Pada saat itu juga Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) mulai merekrut dan meminta pemuda-pemudi yang pintar, berani, berpendidikan baik sekolah maupun pesantren/dayah, sehat badan dan pikiran, serta cukup usia di kampung-kampung secara sukarela dilatih menjadi teuntra GAM.
Pemuda-pemudi yang mendaftar secara sukarela untuk menjadi anggota GAM memiliki kriteria dan alasan sebagai berikut, di antaranya  ada yang pemberani namun berpendidikan rendah, orang tua menjadi korban Daerah Operasi Militer (DOM) 1989-1998.
Di samping itu ada juga yang ikut-ikutan ingin memegang senjata, mengalami permasalahan pribadi seperti maling, terkait utang-piutang dan lain-lain mencari aman bergabung dengan GAM.
Selain itu ada yang bergabung sebab terpengaruh mendengar ceramah atau penerangan GAM karena jika merdeka, maka negara dapat diatur sendiri dan semua rakyat Aceh makmur hidupnya dan berpendidikan  seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), pengusaha, tokoh masyarakat dan ulama, dengan kesadaran sendiri karena ingin membantu perjuangan GAM.
Berbagai elemen masyarakat dalam unsur GAM  bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Mayoritas yang pemberani bertempur, menjaga radio komunikasi, logistik, perhubungan, mencari dana, membeli senjata, dan lain-lain. Indonesia pun menerapkan berbagai operasi militer  untuk menumpas GAM. Ribuan GAM masih hidup, termasuk segelintir yang berperilaku negatif yang selamat hingga sekarang.
Sekarang, akibat ulah perilaku negatif segelintir orang seperti ini, masyarakat menerjemahkan orang-orang seperti ini jumlahnya lebih dominan dibandingkan orang baik dan berpendidikan. Karena mereka berpendidikan rendah sehingga menjadi pemberani dan tak takut mati, rela meninggalkan keluarga bergabung dalam barisan GAM.
Padahal tidak sedikit mereka yang menjadi syuhada dalam pertempuran itu, mati kelaparan karena terkepung dan tersesat dalam hutan belantara, serta memperoleh hasil yaitu isterinya menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim.
Nama KPA/GAM sangat populer dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, KPA/GAM kerap disebutkan mulai dari pembicaraan di warung kopi hingga ke kantor pemerintahan.
Di masa konflik nama Teuntra Neugara Aceh  (TNA) atau GAM sangat diagung-agungkan oleh rakyat Aceh, mereka adalah pahlawan perjuangan yang membela kepentingan dan melindungi rakyat. Kini nama KPA/GAM telah memudar atau tak lagi dianggap sebagai pahlawan perjuangan yang melindungi rakyat sebagaimana masa konflik.
Seharusnya Kita menyadari bahwa sekarang Anggaran dan Pendapatan Belanja Aceh (APBA) sekitar Rp 7 triliun adalah hasil perjuangan mereka dan rakyat yang mendukung perjuangan GAM. Tanpa perjuangan GAM bersama rakyat, tanpa suara ledakan bom, tanpa letusan senjata, tanpa mengalir darah dan air mata, tak ada yang namanya Dana Otonomi Khusus Bagi Hasil Migas (Otsus Migas).
Kini Aceh sudah damai, ruang dan waktu telah tersedia untuk mengatakan terima kasih kepada yang peduli Aceh. Dengan dukungan semua pihak, rakyat perlu menyadari bahwa perjuangan melalui GAM telah membawa nama Aceh diakui oleh dunia Internasional, seperti Uni Eropa yang memfasilitasi MoU GAM dengan Indonesia di Helsinki, Finlandia pada tanggal 15 Agustus 2005. Adalah sebuah fakta sejarah bahwa Aceh dan organisasi perjuangan GAM diakui keberadaan di Internasional.
Namun mereka yang kini telah duduk di tampuk-tampuk kepemimpinan atau sukses dan hidup makmur akibat perjuangan ini terkesan tidak mengakui bahwa keberadaan di sana, kesuksesan dan kemakmuran mereka karena menggunakan terkait tiga huruf yaitu G, A dan M atau GAM. Para tampuk pimpinan itu menganggap seolah-olah karena kepintaran dan kejagoan pribadi mereka masing-masinglah yang mengantarkan mereka hingga menjadi tampuk pimpinan di Aceh. Bahkan mereka juga mengatakan bahwa GAM tidak lama lagi bertahan di Aceh, karena GAM orang-orang bodoh.
Seharusnya para tampuk pimpinan dan semua yang telah sukses dan makmur menyadari bahwa jabatan, kesuksesan dan kemakmuran yang diperoleh setelah perdamaian ini adalah semuanya hasil dari perjuangan.
Kalau dapat diumpamakan dengan membangun jalan, anggota KPA/GAM dan semua elemen merupakan alat utama seperti alat berat becho, grader, exavator, mobil giling, pengaspal jalan, dan lain-lain. Fungsi dan tugas masing-masing semua alat berat ini dari membersihkan lahan, menimbun badan jalan, menggeruk, memindahkan dan meratakan tanah, memecahkan batu besar, dan bahkan memotong gunung hingga rata sehingga terbentuk jalan baru. Mereka bekerja siang dan malam, kondisi yang tidak menentu, di bawah terik panas matahari, guyuran hujan dan debu selama bertahun-tahun, kemudian masuk ke proses pengerasan jalan, hingga terakhir pengaspalan.
Setelah jalan aspal ini selesai, lalu lintas kenderaan pribadi dan umum menjadi mudah, cepat dan lancar, mobil tua, mobil murah, hingga mobil mewah dapat melewati jalan aspal ini. Namun mobil-mobil yang melewati jalan aspal ini sepertinya tak mau tahu bahwa dulu ada becho, grader, exavator, mobil giling dan pengaspal jalan yang membangun jalan.  Seolah-olah jalan yang mereka naiki itu adalah terjadi secara “sim salabin abra kadabra”.
Begitu jalan aspal tersebut selesai dan dapat difungsikan, alat berat seperti Becho, Grader, Exavator, mobil giling dan pengaspal jalan terbuang begitu saja, bahkan dilarang untuk menaiki jalan aspal tersebut walaupun sekedar merasakan nikmatnya berjalan di jalan baru, bahkan tidak sedikit mereka yang ditangkap dan dihukum gara-gara memaksa diri ingin menikmati mulusnya jalan aspal yang telah mereka buat. Justru mereka disalahkan jika menaiki jalan tersebut karena akan merusak jalan aspal dan mengganggu lalulintas kenderaan pribadi dan umum, hingga mobil-mobil mewah.
Semua alat berat ini kurang perhatian dari pengguna jalan tersebut, bahkan nyaris tak ada orang yang bertanya apa keinginan semua alat berat itu? Apakah mereka harus digudangkan, dirawat atau ingin juga menikmati mulusnya jalan aspal?
Jika mereka ingin menikmati mulusnya jalan aspal, ada solusinya yaitu alat berat ini dapat dinaikkan ke dalam mobil lain seperti Trailer atau Intercooler, lalu diangkut melalui jalan aspal yang telah mereka bangun sendiri itu, dengan demikian mereka juga dapat ikut menikmati mulusnya jalan aspal walaupun melalui perantaraan Trailer atau Intercooler. Sehingga jalan aspal akan tetap terjaga tanpa gangguan dan sama-sama bisa menikmatinya.
Kalau mereka kurang diperhatikan dan dibiarkan begitu lama, mereka akan hilang kesabaran dan bahkan panik sehingga mengganggu lalulintas kenderaan pribadi dan umum. Bukankah lebih baik mengakomodir keinginan mereka yang ingin menikmati sedikit nikmatnya jalan aspal yaitu menyediakan beberapa Trailer atau Intercooler yang bisa menampung membawa mereka merasakan nikmatnya jalan aspal daripada membiarkan mereka hilang kesabarannya? Kalau mereka membuat kesalahan, mari kita tegur, bukan dengan mencaci-maki, menghina, bahkan memusuhinya.
Mari jaga perdamaian yang sangat mahal ini. Bersatulah rakyat untuk sama-sama membangun, Janganlah bersatu untuk menghancurkan Aceh. Perjuangan belum berakhir. Melupakan GAM adalah sebuah keniscayaan.
Penulis adalah mantan Jurubicara Militer GAM Wilayah Pasee/mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

10.13 | Posted in , , | Read More »

Melupakan GAM?

Di awal perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) periode 1998, anggota GAM yang telah mendapatkan ideologi yang berada di Malaysia dan bahkan yang telah menjalani pendidikan militer di Tripoli Libya berada di bawah satu garis komando pemimpin tertinggi Wali Neugara Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Mereka kembali ke Aceh untuk melakukan penerangan perjuangan GAM melalui ceramah di kampung-kampung dan meunasah-meunasah.
Hal ini dilakukan untuk memberikan penerangan sejarah dan status Aceh secara hukum Internasional. Penerangan seperti ini dihadiri oleh ratusan massa dari berbagai pelosok gampông. Melalui penerangan ini masyarakat memiliki wawasan ideologi tentang dasar perjuangan GAM yang diproklamirkan oleh Hasan di Tiro di Gunong Halimon pada 4 Desember 1976.
Pada saat itu juga Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) mulai merekrut dan meminta pemuda-pemudi yang pintar, berani, berpendidikan baik sekolah maupun pesantren/dayah, sehat badan dan pikiran, serta cukup usia di kampung-kampung secara sukarela dilatih menjadi teuntra GAM.
Pemuda-pemudi yang mendaftar secara sukarela untuk menjadi anggota GAM memiliki kriteria dan alasan sebagai berikut, di antaranya  ada yang pemberani namun berpendidikan rendah, orang tua menjadi korban Daerah Operasi Militer (DOM) 1989-1998.
Di samping itu ada juga yang ikut-ikutan ingin memegang senjata, mengalami permasalahan pribadi seperti maling, terkait utang-piutang dan lain-lain mencari aman bergabung dengan GAM.
Selain itu ada yang bergabung sebab terpengaruh mendengar ceramah atau penerangan GAM karena jika merdeka, maka negara dapat diatur sendiri dan semua rakyat Aceh makmur hidupnya dan berpendidikan  seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS), pengusaha, tokoh masyarakat dan ulama, dengan kesadaran sendiri karena ingin membantu perjuangan GAM.
Berbagai elemen masyarakat dalam unsur GAM  bekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Mayoritas yang pemberani bertempur, menjaga radio komunikasi, logistik, perhubungan, mencari dana, membeli senjata, dan lain-lain. Indonesia pun menerapkan berbagai operasi militer  untuk menumpas GAM. Ribuan GAM masih hidup, termasuk segelintir yang berperilaku negatif yang selamat hingga sekarang.
Sekarang, akibat ulah perilaku negatif segelintir orang seperti ini, masyarakat menerjemahkan orang-orang seperti ini jumlahnya lebih dominan dibandingkan orang baik dan berpendidikan. Karena mereka berpendidikan rendah sehingga menjadi pemberani dan tak takut mati, rela meninggalkan keluarga bergabung dalam barisan GAM.
Padahal tidak sedikit mereka yang menjadi syuhada dalam pertempuran itu, mati kelaparan karena terkepung dan tersesat dalam hutan belantara, serta memperoleh hasil yaitu isterinya menjadi janda dan anak-anaknya menjadi yatim.
Nama KPA/GAM sangat populer dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, KPA/GAM kerap disebutkan mulai dari pembicaraan di warung kopi hingga ke kantor pemerintahan.
Di masa konflik nama Teuntra Neugara Aceh  (TNA) atau GAM sangat diagung-agungkan oleh rakyat Aceh, mereka adalah pahlawan perjuangan yang membela kepentingan dan melindungi rakyat. Kini nama KPA/GAM telah memudar atau tak lagi dianggap sebagai pahlawan perjuangan yang melindungi rakyat sebagaimana masa konflik.
Seharusnya Kita menyadari bahwa sekarang Anggaran dan Pendapatan Belanja Aceh (APBA) sekitar Rp 7 triliun adalah hasil perjuangan mereka dan rakyat yang mendukung perjuangan GAM. Tanpa perjuangan GAM bersama rakyat, tanpa suara ledakan bom, tanpa letusan senjata, tanpa mengalir darah dan air mata, tak ada yang namanya Dana Otonomi Khusus Bagi Hasil Migas (Otsus Migas).
Kini Aceh sudah damai, ruang dan waktu telah tersedia untuk mengatakan terima kasih kepada yang peduli Aceh. Dengan dukungan semua pihak, rakyat perlu menyadari bahwa perjuangan melalui GAM telah membawa nama Aceh diakui oleh dunia Internasional, seperti Uni Eropa yang memfasilitasi MoU GAM dengan Indonesia di Helsinki, Finlandia pada tanggal 15 Agustus 2005. Adalah sebuah fakta sejarah bahwa Aceh dan organisasi perjuangan GAM diakui keberadaan di Internasional.
Namun mereka yang kini telah duduk di tampuk-tampuk kepemimpinan atau sukses dan hidup makmur akibat perjuangan ini terkesan tidak mengakui bahwa keberadaan di sana, kesuksesan dan kemakmuran mereka karena menggunakan terkait tiga huruf yaitu G, A dan M atau GAM. Para tampuk pimpinan itu menganggap seolah-olah karena kepintaran dan kejagoan pribadi mereka masing-masinglah yang mengantarkan mereka hingga menjadi tampuk pimpinan di Aceh. Bahkan mereka juga mengatakan bahwa GAM tidak lama lagi bertahan di Aceh, karena GAM orang-orang bodoh.
Seharusnya para tampuk pimpinan dan semua yang telah sukses dan makmur menyadari bahwa jabatan, kesuksesan dan kemakmuran yang diperoleh setelah perdamaian ini adalah semuanya hasil dari perjuangan.
Kalau dapat diumpamakan dengan membangun jalan, anggota KPA/GAM dan semua elemen merupakan alat utama seperti alat berat becho, grader, exavator, mobil giling, pengaspal jalan, dan lain-lain. Fungsi dan tugas masing-masing semua alat berat ini dari membersihkan lahan, menimbun badan jalan, menggeruk, memindahkan dan meratakan tanah, memecahkan batu besar, dan bahkan memotong gunung hingga rata sehingga terbentuk jalan baru. Mereka bekerja siang dan malam, kondisi yang tidak menentu, di bawah terik panas matahari, guyuran hujan dan debu selama bertahun-tahun, kemudian masuk ke proses pengerasan jalan, hingga terakhir pengaspalan.
Setelah jalan aspal ini selesai, lalu lintas kenderaan pribadi dan umum menjadi mudah, cepat dan lancar, mobil tua, mobil murah, hingga mobil mewah dapat melewati jalan aspal ini. Namun mobil-mobil yang melewati jalan aspal ini sepertinya tak mau tahu bahwa dulu ada becho, grader, exavator, mobil giling dan pengaspal jalan yang membangun jalan.  Seolah-olah jalan yang mereka naiki itu adalah terjadi secara “sim salabin abra kadabra”.
Begitu jalan aspal tersebut selesai dan dapat difungsikan, alat berat seperti Becho, Grader, Exavator, mobil giling dan pengaspal jalan terbuang begitu saja, bahkan dilarang untuk menaiki jalan aspal tersebut walaupun sekedar merasakan nikmatnya berjalan di jalan baru, bahkan tidak sedikit mereka yang ditangkap dan dihukum gara-gara memaksa diri ingin menikmati mulusnya jalan aspal yang telah mereka buat. Justru mereka disalahkan jika menaiki jalan tersebut karena akan merusak jalan aspal dan mengganggu lalulintas kenderaan pribadi dan umum, hingga mobil-mobil mewah.
Semua alat berat ini kurang perhatian dari pengguna jalan tersebut, bahkan nyaris tak ada orang yang bertanya apa keinginan semua alat berat itu? Apakah mereka harus digudangkan, dirawat atau ingin juga menikmati mulusnya jalan aspal?
Jika mereka ingin menikmati mulusnya jalan aspal, ada solusinya yaitu alat berat ini dapat dinaikkan ke dalam mobil lain seperti Trailer atau Intercooler, lalu diangkut melalui jalan aspal yang telah mereka bangun sendiri itu, dengan demikian mereka juga dapat ikut menikmati mulusnya jalan aspal walaupun melalui perantaraan Trailer atau Intercooler. Sehingga jalan aspal akan tetap terjaga tanpa gangguan dan sama-sama bisa menikmatinya.
Kalau mereka kurang diperhatikan dan dibiarkan begitu lama, mereka akan hilang kesabaran dan bahkan panik sehingga mengganggu lalulintas kenderaan pribadi dan umum. Bukankah lebih baik mengakomodir keinginan mereka yang ingin menikmati sedikit nikmatnya jalan aspal yaitu menyediakan beberapa Trailer atau Intercooler yang bisa menampung membawa mereka merasakan nikmatnya jalan aspal daripada membiarkan mereka hilang kesabarannya? Kalau mereka membuat kesalahan, mari kita tegur, bukan dengan mencaci-maki, menghina, bahkan memusuhinya.
Mari jaga perdamaian yang sangat mahal ini. Bersatulah rakyat untuk sama-sama membangun, Janganlah bersatu untuk menghancurkan Aceh. Perjuangan belum berakhir. Melupakan GAM adalah sebuah keniscayaan.
Penulis adalah mantan Jurubicara Militer GAM Wilayah Pasee/mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

10.13 | Posted in , , | Read More »

Beberapa Nasihat Bijak Para Filosof Yunani

Plato

Orang yang ingin bergembira harus menyukai kelelahan akibat bekerja.

Janganlah engkau berteman dengan orang jahat karena sifatmu akan mencuri sifatnya tanpa engkau sadari.

Plato berkata ,”Orang yang berilmu mengetahui orang yang bodoh karena dia pernah bodoh,sedangkan orang yang bodoh tidak mengetahui orang yang berilmu karena dia tidak pernah berilmu”.

Budi pekerti yang tinggi adalah rasa malu terhadap diri sendiri.

Plato di Tanya ,”Bagaimana caranya agar seseorang biasa hidup dengan tenang?”. Dia menjawab ,” Jika orang itu tidak melakukan kejahatan dan tidak bersedih akan sesuatu yang di alaminya,maka dia tentu akan merasa tenang”.

Kerendahan seseorang di ketahui melalui dua hal : banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna,dan bercerita padahal tidak di tanya.

Jangan terlalu banyak mengenal orang .sebab, kalian lebih sering di sakiti oleh orang yang kalian kenal,sedangkan orang yang tidak kalian kenal nyaris tidak dapat menyakiti kalian.

Cinta adalah gerak jiwa yang kosong tanpa pikiran.

Socrates

Seseorang menampar pipi Socrates,lalu pada bekas tamparan itu Socrates menulis “Seseorang telah menamparku ini balasan dariku”.

Socrates di cela karena makan terlalu sedikit, maka di menjawab,“aku makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”.

Socrates di cela karena di tidak banyak bicara, dia menjawab,”Tuhan telah menciptakan dua telinga dan satu lidah untukku agar aku banyak mendengar daripada berbicara,tetapi kalian lebih banyak bicara daripada mendengar”.

Setelah berusia tua,Socrates,belajar musik. Lalu ada orang berkata padanya,” apakah engkau tidak malu belajar di usia tua?”. Dia menjawab,” Aku merasa lebih malu menjadi orang yang bodoh di usia tua”.

Socrates berkata,”Cobalah dulu,baru cerita. Pahamilah dulu,baru menjawab. Pikirlah dulu,baru berkata.Dengarlah dulu,baru beri penilaian .Bekerjalah dulu,baru berharap.

Socrates berkata ,” kesedihan membuat akal terpana dan tidak berdaya.jika anda tertimpa kesedihan, terimalah dia dengan keteguhan hati dan berdayakanlah akal untuk mencari jalan keluar”.
Janganlah engaku menceritakan isi jiwamu kepada oarng lain,karena sungguh jelek orang yang menaruh hartanya di rumah dan memerkan isinya.

Kesejahteraaan memberikan peringatan,sedangkan bencana memberi nasihat.

Jangan mengomentari kesalahan orang lain, karena orang itu akan mengambil manfaat dari ilmumu lalu di menjadi musuhmu.


Thales

“orang yang bercita-cita tinggi adalah orang yang menganggap teguran teguran keras baginya lenbut daripada sanjungan merdu dari penjilat yang berlebih-lebihan”

“apabila kamu menasihati orang yang bersalah maka berlemah lembutlah agar dia tidak merasa di telanjangi”

“orang yang secara sembunyi-sembunyi melakukan suatu perbuatan yang tidak di lakukan secara terang-terangan,ia tidak berharga di hadapan dirinya”


Phytagoras

Phytagoras berkata,”jika engkau ingin hidup senang ,maka hendaklah engkau rela di anggap sebagai tidak berakal atau di anggap orang bodoh”.

Pukulan dari sahabatmu lebih baik dari pada ciuman dari musuhmu.

Phytagoras berkata,”jangan sekali-kali percaya pada kasih sayang yang datang tiba-tiba,karena dia akan meninggalkanmu dengan tiba-tiba pula”.

Jangan membanggakan apa yang kamu lakukan hari ini, sebab engkau tidak akan tahu apa yang akan di berikan oleh hari esok.

Semoga kita semua bisa mengambil manfaat dari kata-kata bijak filosof-filosof yunani ini, Thanks sobat udah membaca ...
p

06.35 | Posted in , | Read More »

Beberapa Nasihat Bijak Para Filosof Yunani

Plato

Orang yang ingin bergembira harus menyukai kelelahan akibat bekerja.

Janganlah engkau berteman dengan orang jahat karena sifatmu akan mencuri sifatnya tanpa engkau sadari.

Plato berkata ,”Orang yang berilmu mengetahui orang yang bodoh karena dia pernah bodoh,sedangkan orang yang bodoh tidak mengetahui orang yang berilmu karena dia tidak pernah berilmu”.

Budi pekerti yang tinggi adalah rasa malu terhadap diri sendiri.

Plato di Tanya ,”Bagaimana caranya agar seseorang biasa hidup dengan tenang?”. Dia menjawab ,” Jika orang itu tidak melakukan kejahatan dan tidak bersedih akan sesuatu yang di alaminya,maka dia tentu akan merasa tenang”.

Kerendahan seseorang di ketahui melalui dua hal : banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna,dan bercerita padahal tidak di tanya.

Jangan terlalu banyak mengenal orang .sebab, kalian lebih sering di sakiti oleh orang yang kalian kenal,sedangkan orang yang tidak kalian kenal nyaris tidak dapat menyakiti kalian.

Cinta adalah gerak jiwa yang kosong tanpa pikiran.

Socrates

Seseorang menampar pipi Socrates,lalu pada bekas tamparan itu Socrates menulis “Seseorang telah menamparku ini balasan dariku”.

Socrates di cela karena makan terlalu sedikit, maka di menjawab,“aku makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”.

Socrates di cela karena di tidak banyak bicara, dia menjawab,”Tuhan telah menciptakan dua telinga dan satu lidah untukku agar aku banyak mendengar daripada berbicara,tetapi kalian lebih banyak bicara daripada mendengar”.

Setelah berusia tua,Socrates,belajar musik. Lalu ada orang berkata padanya,” apakah engkau tidak malu belajar di usia tua?”. Dia menjawab,” Aku merasa lebih malu menjadi orang yang bodoh di usia tua”.

Socrates berkata,”Cobalah dulu,baru cerita. Pahamilah dulu,baru menjawab. Pikirlah dulu,baru berkata.Dengarlah dulu,baru beri penilaian .Bekerjalah dulu,baru berharap.

Socrates berkata ,” kesedihan membuat akal terpana dan tidak berdaya.jika anda tertimpa kesedihan, terimalah dia dengan keteguhan hati dan berdayakanlah akal untuk mencari jalan keluar”.
Janganlah engaku menceritakan isi jiwamu kepada oarng lain,karena sungguh jelek orang yang menaruh hartanya di rumah dan memerkan isinya.

Kesejahteraaan memberikan peringatan,sedangkan bencana memberi nasihat.

Jangan mengomentari kesalahan orang lain, karena orang itu akan mengambil manfaat dari ilmumu lalu di menjadi musuhmu.


Thales

“orang yang bercita-cita tinggi adalah orang yang menganggap teguran teguran keras baginya lenbut daripada sanjungan merdu dari penjilat yang berlebih-lebihan”

“apabila kamu menasihati orang yang bersalah maka berlemah lembutlah agar dia tidak merasa di telanjangi”

“orang yang secara sembunyi-sembunyi melakukan suatu perbuatan yang tidak di lakukan secara terang-terangan,ia tidak berharga di hadapan dirinya”


Phytagoras

Phytagoras berkata,”jika engkau ingin hidup senang ,maka hendaklah engkau rela di anggap sebagai tidak berakal atau di anggap orang bodoh”.

Pukulan dari sahabatmu lebih baik dari pada ciuman dari musuhmu.

Phytagoras berkata,”jangan sekali-kali percaya pada kasih sayang yang datang tiba-tiba,karena dia akan meninggalkanmu dengan tiba-tiba pula”.

Jangan membanggakan apa yang kamu lakukan hari ini, sebab engkau tidak akan tahu apa yang akan di berikan oleh hari esok.

Semoga kita semua bisa mengambil manfaat dari kata-kata bijak filosof-filosof yunani ini, Thanks sobat udah membaca ...
p

06.35 | Posted in , | Read More »

Sejarah Kelam Pengkhianatan Pang Tibang


Ia datang sebagai pesulap yang mampu menarik simpati kalangan istana kerajaan Aceh. Karena kepiawannya Ia pun semakin mantap menancapkan pengaruhnya di istana, setelah Sultan Mahmud Alauddin Syah (1871-1874) mengangkatnya sebagai syahbandar di pelabuhan Aceh. Karena jabatan itu, ia pun diberi gelar kehormatan, layaknya seorang bangsawan, Teuku Panglima Maha Raja Tibang Muhammad, yang sepanjang masa dikenang oleh bangsa Aceh sebagai pengkhianat, yang menggunting dalam lipatan.

Pengkhianatan Panglima Tibang, bermula ketika ia ditunjuk oleh Sultan Aceh, untuk memimpin utusan kerajaan Aceh yang akan berunding dengan Belanda di Riau, agar pihak Belanda sebaiknya datang ke Aceh pada Desember 1872. Hal itu merupakan upaya kerajaan Aceh untuk mengulur-ngulur waktu, sambil mempersiapkan kerja sama dengan Amerika dan Italia dalam menghadapi Belanda.

Setelah utusan sultan pulang dari Turki di bawah pimpinan Perdana Menteri Kerajaan Aceh merangkap Mangkubumi Habib Abdurrahman el Zahir. Persaingan politik pun terjadi. Panglima Tibang bermaksud menancapkan pengaruhnya kepada sultan untuk mengalahkan Habib. Untuk itu ia menuju Singapura. Dalam perjalanan pulang, ia menghubungi utusan Amerika dan Italia, guna memperoleh bantuan untuk menghadapi peperangan melawan Belanda. Armada Amerika yang berada di Hongkong, di bawah pimpinan Laksamana Jenkis pun setuju untuk membantu Aceh berperang dengan Belanda.

Namun informasi itu akhirnya diketahui oleh pihak Belanda. Memahami akibat yang lebih jauh andaikata perjanjian antara Aceh dengan Amerika dan Italia terwujud, maka Belanda pun mendahuluinya. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, pada Pertengahan Februari 1873 pun mengirimkan armadanya ke Aceh. Apalagi setelah Belanda mendapat informasi bahwa armada Amerika di bawah pimpinan Laksamana Jenkins akan berangkat dari Hongkong menuju Aceh pada Maret 1873.

Menghadapi situasi seperti itu, para diplomat Aceh di Pulau Penang, Malaysia pun membentuk Dewan Delapan, yang terdiri dari empat orang bangsawan Aceh, dua orang Arab dan dua orang keling kelahiran Pulau Pinang. Dewan Delapan tersebut bertindak mewakili kepentingan Aceh di luar negeri. Di antaranya, menjalin diplomasi dengan negara-negara asing, mencari perbekalan perang dan mengangkutnya ke Aceh dengan menembus blokade angkatan laut Belanda yang sudah menguasai Selat Malaka.

Akhirnya pada Rabu 26 Maret 1873, bertepatan dengan 26 Muharam 1290 Hijriah, dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen, yang berlabuh antara Pulau Sabang dan daratan Aceh, Belanda menyatakan maklumat perangnya dengan Aceh, karena Aceh menolak mengakui kedaulatan Belanda. Maklumat perang itu diumumkan oleh Komisaris Pemerintah, merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda, F.N Nieuwenhuijzen.

Ia dipercayakah sebagai syahbandar. Guna menghadapi serangan Belanda, ia diutus untuk melakukan perjalanan diplomasi ke luar negeri. Tapi di luar negeri ia balik menyerang Aceh bersama Belanda. Seumur masa ia dicap pengkhianat.

Ramasamy, seorang pemuda dari India selatan, suatu ketika singgah di pelabuhan kerajaan Aceh. Ia hanya seorang perantau yang punya keahlian sebagai pesulap. Berbekal keahliannya itu pula, ia mampu menarik simpati masyarakat Aceh di pelabuhan. Keahliannya main sulap akhirnya sampai juga ke istana kerajaan Aceh Darussalam. Dalam sebuah perhelatan ia pun diundang untuk menunjukkan kebolehannya itu.

Pemuda pengembara itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Melalui pertunjukan sulapnya, ia berhasil masuk istana. Kesempatan itu pula yang digunakannya untuk menarik simpati raja Aceh. Hal itu pun dituainya, setelah ia memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad. Sebagai mualaf, biaya hidupnya ditanggung kerajaan.

Ia pun semakin mantap menancapkan pengaruhnya di istana, setelah Sultan Mahmud Alauddin Syah (1871-1874) mengangkatnya sebagai syahbandar di pelabuhan Aceh. Karena jabatan itu, ia pun diberi gelar kehormatan, layaknya seorang bangsawan, Teuku Panglima Maha Raja Tibang Muhammad, yang sepanjang masa dikenang oleh bangsa Aceh sebagai pengkhianat, yang menggunting dalam lipatan.


Pengkhianatan Panglima Tibang, bermula ketika ia ditunjuk oleh Sultan Aceh, untuk memimpin utusan kerajaan Aceh yang akan berunding dengan Belanda di Riau, agar pihak Belanda sebaiknya datang ke Aceh pada Desember 1872. Hal itu merupakan upaya kerajaan Aceh untuk mengulur-ngulur waktu, sambil mempersiapkan kerja sama dengan Amerika dan Italia dalam menghadapi Belanda.

Setelah utusan sultan pulang dari Turki di bawah pimpinan Perdana Menteri Kerajaan Aceh merangkap Mangkubumi Habib Abdurrahman el Zahir. Persaingan politik pun terjadi. Panglima Tibang bermaksud menancapkan pengaruhnya kepada sultan untuk mengalahkan Habib. Untuk itu ia menuju Singapura. Dalam perjalanan pulang, ia menghubungi utusan Amerika dan Italia, guna memperoleh bantuan untuk menghadapi peperangan melawan Belanda. Armada Amerika yang berada di Hongkong, di bawah pimpinan Laksamana Jenkis pun setuju untuk membantu Aceh berperang dengan Belanda.

Namun informasi itu akhirnya diketahui oleh pihak Belanda. Memahami akibat yang lebih jauh andaikata perjanjian antara Aceh dengan Amerika dan Italia terwujud, maka Belanda pun mendahuluinya. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, pada Pertengahan Februari 1873 pun mengirimkan armadanya ke Aceh. Apalagi setelah Belanda mendapat informasi bahwa armada Amerika di bawah pimpinan Laksamana Jenkins akan berangkat dari Hongkong menuju Aceh pada Maret 1873.

Menghadapi situasi seperti itu, para diplomat Aceh di Pulau Penang, Malaysia pun membentuk Dewan Delapan, yang terdiri dari empat orang bangsawan Aceh, dua orang Arab dan dua orang keling kelahiran Pulau Pinang. Dewan Delapan tersebut bertindak mewakili kepentingan Aceh di luar negeri. Di antaranya, menjalin diplomasi dengan negara-negara asing, mencari perbekalan perang dan mengangkutnya ke Aceh dengan menembus blokade angkatan laut Belanda yang sudah menguasai Selat Malaka.

Akhirnya pada Rabu 26 Maret 1873, bertepatan dengan 26 Muharam 1290 Hijriah, dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen, yang berlabuh antara Pulau Sabang dan daratan Aceh, Belanda menyatakan maklumat perangnya dengan Aceh, karena Aceh menolak mengakui kedaulatan Belanda. Maklumat perang itu diumumkan oleh Komisaris Pemerintah, merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda, F.N Nieuwenhuijzen.

Tindak lanjut dari maklumat perang tersebut, pada Senin 6 April 1873, pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R Kohler, dengan kekuatan enam kapal perang, dua kapal angkutan laut, lima barkas, delapan kapal peronda, satu kapal komado, dan lima kapal layar, melakukan pendaratan di Pante Ceureumen, yang disambut dengan perlawanan rakyat Aceh. Maka perang pun berkecamuk.

Tak tanggung-tanggung, dalam agresi pertama itu, Belanda mengerahkan 168 perwira, 3.198 pasukan, 31 ekor perwira berkuda, 149 pasukan berkuda, 1.000 orang pekerja paksa, 50 orang mandor, 220 orang wanita, 300 orang pelayan. Perang dengan Belanda pun terus berlanjut.

Namun di tengah usaha Aceh melawan agresi Belanda tersebut, pada tahun 1879, Panglima Tibang yang dipercayakan sultan untuk menggalang diplomasi di luar negeri, berbalik arah. Ia meninggalkan rekan seperjuangannya, bergabung dengan Belanda untuk kemudian menyerang Aceh. Kepercayaan yang diberikan raja Aceh kepadanya pun dibalas dengan pengkhianatan. Tak pelak, nama Panglima Tibang sampai kini tertoreh di sanubari rakyat Aceh sebagai pengkhianat yang tak terampuni.

Pelabelan nama Panglima Tibang sebagai pengkhianat nomor wahid pun terus berlanjut sampai kini. Dalam sejarah konflik Aceh, tak terkecuali ditubuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) nama Panglima Tibang selalu diberikan kepada orang-orang yang berkhianat atau menyerah kepada pemerintah. Sebuah label yang nilai kebenciannya melebihi cap cuak, sipil yang menjadi informan terhadap tentara. Kisah pengkhianatan Panglima Tibang itu, kini menjadi catatan kelam sejarah Aceh. 

***

Referensi:

1. Prof. Dr Aboe Bakar Atjeh, dalam “Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah” Panitia PKA II, Agustus 1972
2. M Nur El Ibrahimi dalam “Selayang Pandang Diplomasi Kerajaan Aceh”

06.15 | Posted in , , , , , | Read More »

Sejarah Kelam Pengkhianatan Pang Tibang


Ia datang sebagai pesulap yang mampu menarik simpati kalangan istana kerajaan Aceh. Karena kepiawannya Ia pun semakin mantap menancapkan pengaruhnya di istana, setelah Sultan Mahmud Alauddin Syah (1871-1874) mengangkatnya sebagai syahbandar di pelabuhan Aceh. Karena jabatan itu, ia pun diberi gelar kehormatan, layaknya seorang bangsawan, Teuku Panglima Maha Raja Tibang Muhammad, yang sepanjang masa dikenang oleh bangsa Aceh sebagai pengkhianat, yang menggunting dalam lipatan.

Pengkhianatan Panglima Tibang, bermula ketika ia ditunjuk oleh Sultan Aceh, untuk memimpin utusan kerajaan Aceh yang akan berunding dengan Belanda di Riau, agar pihak Belanda sebaiknya datang ke Aceh pada Desember 1872. Hal itu merupakan upaya kerajaan Aceh untuk mengulur-ngulur waktu, sambil mempersiapkan kerja sama dengan Amerika dan Italia dalam menghadapi Belanda.

Setelah utusan sultan pulang dari Turki di bawah pimpinan Perdana Menteri Kerajaan Aceh merangkap Mangkubumi Habib Abdurrahman el Zahir. Persaingan politik pun terjadi. Panglima Tibang bermaksud menancapkan pengaruhnya kepada sultan untuk mengalahkan Habib. Untuk itu ia menuju Singapura. Dalam perjalanan pulang, ia menghubungi utusan Amerika dan Italia, guna memperoleh bantuan untuk menghadapi peperangan melawan Belanda. Armada Amerika yang berada di Hongkong, di bawah pimpinan Laksamana Jenkis pun setuju untuk membantu Aceh berperang dengan Belanda.

Namun informasi itu akhirnya diketahui oleh pihak Belanda. Memahami akibat yang lebih jauh andaikata perjanjian antara Aceh dengan Amerika dan Italia terwujud, maka Belanda pun mendahuluinya. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, pada Pertengahan Februari 1873 pun mengirimkan armadanya ke Aceh. Apalagi setelah Belanda mendapat informasi bahwa armada Amerika di bawah pimpinan Laksamana Jenkins akan berangkat dari Hongkong menuju Aceh pada Maret 1873.

Menghadapi situasi seperti itu, para diplomat Aceh di Pulau Penang, Malaysia pun membentuk Dewan Delapan, yang terdiri dari empat orang bangsawan Aceh, dua orang Arab dan dua orang keling kelahiran Pulau Pinang. Dewan Delapan tersebut bertindak mewakili kepentingan Aceh di luar negeri. Di antaranya, menjalin diplomasi dengan negara-negara asing, mencari perbekalan perang dan mengangkutnya ke Aceh dengan menembus blokade angkatan laut Belanda yang sudah menguasai Selat Malaka.

Akhirnya pada Rabu 26 Maret 1873, bertepatan dengan 26 Muharam 1290 Hijriah, dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen, yang berlabuh antara Pulau Sabang dan daratan Aceh, Belanda menyatakan maklumat perangnya dengan Aceh, karena Aceh menolak mengakui kedaulatan Belanda. Maklumat perang itu diumumkan oleh Komisaris Pemerintah, merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda, F.N Nieuwenhuijzen.

Ia dipercayakah sebagai syahbandar. Guna menghadapi serangan Belanda, ia diutus untuk melakukan perjalanan diplomasi ke luar negeri. Tapi di luar negeri ia balik menyerang Aceh bersama Belanda. Seumur masa ia dicap pengkhianat.

Ramasamy, seorang pemuda dari India selatan, suatu ketika singgah di pelabuhan kerajaan Aceh. Ia hanya seorang perantau yang punya keahlian sebagai pesulap. Berbekal keahliannya itu pula, ia mampu menarik simpati masyarakat Aceh di pelabuhan. Keahliannya main sulap akhirnya sampai juga ke istana kerajaan Aceh Darussalam. Dalam sebuah perhelatan ia pun diundang untuk menunjukkan kebolehannya itu.

Pemuda pengembara itu pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Melalui pertunjukan sulapnya, ia berhasil masuk istana. Kesempatan itu pula yang digunakannya untuk menarik simpati raja Aceh. Hal itu pun dituainya, setelah ia memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad. Sebagai mualaf, biaya hidupnya ditanggung kerajaan.

Ia pun semakin mantap menancapkan pengaruhnya di istana, setelah Sultan Mahmud Alauddin Syah (1871-1874) mengangkatnya sebagai syahbandar di pelabuhan Aceh. Karena jabatan itu, ia pun diberi gelar kehormatan, layaknya seorang bangsawan, Teuku Panglima Maha Raja Tibang Muhammad, yang sepanjang masa dikenang oleh bangsa Aceh sebagai pengkhianat, yang menggunting dalam lipatan.


Pengkhianatan Panglima Tibang, bermula ketika ia ditunjuk oleh Sultan Aceh, untuk memimpin utusan kerajaan Aceh yang akan berunding dengan Belanda di Riau, agar pihak Belanda sebaiknya datang ke Aceh pada Desember 1872. Hal itu merupakan upaya kerajaan Aceh untuk mengulur-ngulur waktu, sambil mempersiapkan kerja sama dengan Amerika dan Italia dalam menghadapi Belanda.

Setelah utusan sultan pulang dari Turki di bawah pimpinan Perdana Menteri Kerajaan Aceh merangkap Mangkubumi Habib Abdurrahman el Zahir. Persaingan politik pun terjadi. Panglima Tibang bermaksud menancapkan pengaruhnya kepada sultan untuk mengalahkan Habib. Untuk itu ia menuju Singapura. Dalam perjalanan pulang, ia menghubungi utusan Amerika dan Italia, guna memperoleh bantuan untuk menghadapi peperangan melawan Belanda. Armada Amerika yang berada di Hongkong, di bawah pimpinan Laksamana Jenkis pun setuju untuk membantu Aceh berperang dengan Belanda.

Namun informasi itu akhirnya diketahui oleh pihak Belanda. Memahami akibat yang lebih jauh andaikata perjanjian antara Aceh dengan Amerika dan Italia terwujud, maka Belanda pun mendahuluinya. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, pada Pertengahan Februari 1873 pun mengirimkan armadanya ke Aceh. Apalagi setelah Belanda mendapat informasi bahwa armada Amerika di bawah pimpinan Laksamana Jenkins akan berangkat dari Hongkong menuju Aceh pada Maret 1873.

Menghadapi situasi seperti itu, para diplomat Aceh di Pulau Penang, Malaysia pun membentuk Dewan Delapan, yang terdiri dari empat orang bangsawan Aceh, dua orang Arab dan dua orang keling kelahiran Pulau Pinang. Dewan Delapan tersebut bertindak mewakili kepentingan Aceh di luar negeri. Di antaranya, menjalin diplomasi dengan negara-negara asing, mencari perbekalan perang dan mengangkutnya ke Aceh dengan menembus blokade angkatan laut Belanda yang sudah menguasai Selat Malaka.

Akhirnya pada Rabu 26 Maret 1873, bertepatan dengan 26 Muharam 1290 Hijriah, dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen, yang berlabuh antara Pulau Sabang dan daratan Aceh, Belanda menyatakan maklumat perangnya dengan Aceh, karena Aceh menolak mengakui kedaulatan Belanda. Maklumat perang itu diumumkan oleh Komisaris Pemerintah, merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda, F.N Nieuwenhuijzen.

Tindak lanjut dari maklumat perang tersebut, pada Senin 6 April 1873, pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R Kohler, dengan kekuatan enam kapal perang, dua kapal angkutan laut, lima barkas, delapan kapal peronda, satu kapal komado, dan lima kapal layar, melakukan pendaratan di Pante Ceureumen, yang disambut dengan perlawanan rakyat Aceh. Maka perang pun berkecamuk.

Tak tanggung-tanggung, dalam agresi pertama itu, Belanda mengerahkan 168 perwira, 3.198 pasukan, 31 ekor perwira berkuda, 149 pasukan berkuda, 1.000 orang pekerja paksa, 50 orang mandor, 220 orang wanita, 300 orang pelayan. Perang dengan Belanda pun terus berlanjut.

Namun di tengah usaha Aceh melawan agresi Belanda tersebut, pada tahun 1879, Panglima Tibang yang dipercayakan sultan untuk menggalang diplomasi di luar negeri, berbalik arah. Ia meninggalkan rekan seperjuangannya, bergabung dengan Belanda untuk kemudian menyerang Aceh. Kepercayaan yang diberikan raja Aceh kepadanya pun dibalas dengan pengkhianatan. Tak pelak, nama Panglima Tibang sampai kini tertoreh di sanubari rakyat Aceh sebagai pengkhianat yang tak terampuni.

Pelabelan nama Panglima Tibang sebagai pengkhianat nomor wahid pun terus berlanjut sampai kini. Dalam sejarah konflik Aceh, tak terkecuali ditubuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) nama Panglima Tibang selalu diberikan kepada orang-orang yang berkhianat atau menyerah kepada pemerintah. Sebuah label yang nilai kebenciannya melebihi cap cuak, sipil yang menjadi informan terhadap tentara. Kisah pengkhianatan Panglima Tibang itu, kini menjadi catatan kelam sejarah Aceh. 

***

Referensi:

1. Prof. Dr Aboe Bakar Atjeh, dalam “Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah” Panitia PKA II, Agustus 1972
2. M Nur El Ibrahimi dalam “Selayang Pandang Diplomasi Kerajaan Aceh”

06.15 | Posted in , , , , , | Read More »

Blog Archive

Labels