Novel "Teuntra Atom" : Kisah di Balik Perang

Oleh : Boy Nashruddin Agus,
Judul : Teuntra Atom,
Penulis : Thayeb Loh Angen,
Penerbit : CAJP, Banda Aceh,
Tebal: 368 halaman.


Sejarah utama Teuntra Atom adalah 1999, ketika Aceh mulai dilanda konflik berkepanjangan pasca pencabutan DOM. Sang pengarang mendemistifikasi heroisme yang kerap tergambar penuh kemewahan dan berlebihan oleh penulis Aceh lainnya. Penulis Aceh lain tentu akan berfikir panjang untuk memilih cara narasi Thayeb, misalnya mengungkap kasus korupsi di kalangan kombatan.

Cerita dalam novel ‘Teuntra Atom’ ini diawali dan diakhiri di Kawasan Budaya Paloh Dayah, Muara Satu Lhokseumawe. Paloh Dayah adalah sebuah kampung yang pada era konflik 1999-2002 jadi basis gerakan di seputar Lhokseumawe.

Novel ‘Teuntra Atom’, karya Thayeb Loh Angen dapat dikatakan sebagai kisah nyata yang diangkat dari dunia konflik Aceh. Jika dicermati, banyak hal yang menarik dalam tulisan sastra ini. Salah satunya, sisi human interest seorang kombatan yang dimunculkan sebagai tokoh utama oleh si penulis.

Selain munculnya segi kemanusiaan seorang pejuang, Novel Teuntra Atom juga mengkritik kebijakan-kebijakan yang dianggap si pelaku utama tidak benar, meski itu dari kesatuannya. Ini terlihat pada permulaan kisah ketika, Irfan si tokoh utama, masuk ke dalam barisan pejuang. 

Dalam hal ini, Irfan begitu geram melihat tingkah kesatuannya di sagoe, tempat ia direkrut menjadi tentara. Karenanya, Irfan dengan segala upaya melobi kawan-kawan yang ia kenal untuk meraih pangkat yang lebih tinggi. Selain menceritakan kisah perjuangan, Teuntra Atom juga memunculkan kegelisahan Irfan Maulana, selaku Polisi Militer Acheh Sumatera Nacional Liberted Front (ASNLF) ketika harus menghadapi pertarungan politik dengan kisah cintanya.

Irfan yang bergabung dengan tentara pejuang, seringkali merana ketika harus berhadapan dengan kerinduan pada kekasihnya, Aina. Sementara ia sendiri tidak bisa menjumpai langsung gadis tersebut, kecuali melalui perantara Puri, sahabat Aina. Kisah asmara antara Irfan yang menasbihkan cintanya pada Aina, terbendung oleh rasa kesalah pahaman Puri, yang selalu menerima sepucuk surat dari Irfan. Padahal, surat itu ditujukan pada Aina, kekasih hatinya.

Kegundahan yang dirasakan oleh sosok utama dari novel ini, jelas terlihat dalam kalimat : “…Surat itu kutulis di markas ini dengan amarah bergaya mengurai di sela latihanku seminggu lalu. Satu kesalahanku yang memicu Puri meninggalkanku. Aku tidak sadar, politik dan cinta punya dunianya masing-masing. Tololnya aku, saat itu aku belum membaca buku-buku psykhologi dan komunikasi. Selesai kubaca surat Puri, aku lemah, pening, bagaimana kuperbaiki perasaan Puri yang cenderung berprasangka buruk terhadapku…”

Meskipun menjabat sebagai PM Daerah I di Aceh Utara, sosok Irfan begitu kentara saat harus memilih antara kesatuan dan cinta. Rasa kasmaran yang membuat dirinya harus menempuh resiko, menyebrangi jalan menuju rumah Aina, setelah upacara peringatan proklamasi kaum combatan, Desember Islam.

Saat itu, demi mengobati kerinduaanya, Irfan rela memacu sepeda motornya melewati pos Polres setempat yang kalau dikaji amat berbahaya bagi dirinya. Namun, seperti yang diceritakan oleh penulis, Irfan adalah sosok yang sangat penakut setelah insidennya masuk ke dalam sumur, namun tergolong nekat menghadapi sesuatu yang sebenarnya sangat ditakuti oleh teman-temannya.

Menilik pada proses pembuatan novel ini, saya salut kepada penulis yang bisa memunculkan misteri dibalik perjuangan combatan Aceh. Buku ini, layak dibaca sebagai bahan renungan terhadap tentara-tentara yang ada. Di balik kegagahannya menyandang senjata dan dibalut seragam, ada hal yang juga perlu diperhatikan. Tentara adalah manusia yang sebenarnya memiliki rasa cinta dan kasih sayang seperti halnya manusia lain.

Selain itu, Novel Tentara Atom juga bisa dijadikan rujukan awal untuk peneliti ilmiah atas kritikan sosial yang dilontarkan mantan kombatan sehingga menimbulkan perjuangan bersenjata. Bagi pecinta sastra genre petualangan, saya rasa novel ini bisa mengajak pembaca untuk berkelana ke daerah konflik saat terjadinya peperangan antara RI-GAM tempo dulu.

Walaupun kisah ini berlatarbelakang perjuangan bersenjata para kombatan, penulis tak lupa membungkusnya dengan sisi perdamaian yang menjadi kerinduan setiap pejuang. Akhirnya, hanya satu kata yang bisa saya tuliskan dalam resensi sederhana ini, semoga buku karya Thayeb Loh Angen mampu mendongkrak pasar Novel dan budaya di Aceh, dengan mengenyampingkan segala perbedaan ideology yang ada.

Memahami Novel Teuntra Atom

Bila ada yang ingin membaca cerita perang seheboh film pembantaian di Vietnam maka tidak ada dalam buku ini, karena buku ini ditulis untuk mengatakan bahwa perang tidak baik untuk manusia, yang baik adalah perdamaian. Cerita perang hanya menimbulkan dendam dan merusak moral generasi, maka dalam novel ini cerita itu dihindari. Jangan pernah mengenang, kalau memang terpaksa, maka kenanglah keberhasilan dan kebaikan saja.

Pada Bab 12 berjudul Sumur-Sumur Tengkorak, ditulis kata-kata seorang perempuan gunung, “Sehebat apapun kemenangan perang, tidak aku bangga kehancuran karenanya.”

Perang Aceh yang dimulai oleh Belanda pada 26 Maret 1873 telah menghancurkan fisik Aceh, dan kehancuran terparah adalah serangan mental yang diluncurkan penjahat intelektual Snouck Hurgronje. Sampai kini mental Aceh belum pulih, namun sedang dipulihkan sebab era Snouck telah berakhir. Peradaban Aceh sedang diperbaiki.

Sebagian besar novel ini otobiografi, kecuali bab 19 yang berjudul Retina dengan tokoh Elli. Bab 19 adalah rangkuman novel ini, bahwa konflik Aceh di era pergantian abad 20 dan masuk abad 21 adalah konflik yang tidak diselesaikan dengan baik, bahkan ideologi pemicunya pun kerap diselewengkan.

Inti utama novel Teuntra Atom adalah filosofi perang dan damai serta pendidikan, semuanya dinyawai oleh kemanusiaan, bahwa yang paling utama adalah menjadi manusiawi. Mawardi Hasan, seorang penjabat di Majelis Pendidikan Aceh sekaligus dosen IT untuk S 2 di Unsyiah mengatakan bahwa sebaiknya intisari filosofi dan pendidikan dalam novel Teuntra Atom disusun dalam dua buah buku saku terpisah agar mudah dipahami.

Sementara Musmarwan Abdullah, seorang cerpenis di Aceh mengatakan, butuh seorang pengulas handal untuk membuat khalayak bisa memahami novel Teuntra Atom dengan baik dan lengkap, karena dalam novel ini banyak kalimat yang perlu dijelaskan dengan bahasa sederhana.

Intinya, ini pembuktian bahwa kita di Aceh bisa menulis cerita sendiri. Aceh jangan hanya dikenal dengan perang dan bencana serta korupsi pejabatnya, tapi Aceh juga bisa dikenal dengan karya anak bangsanya. Mari membangun peradaban baru di Aceh. Cintailah Aceh, banyak membaca, menulis. Kata penyair Portugal, berjuanglah dengan senimu, dan musuh kita hanyalah senjata.

Maka, berjuanglah membangun peradaban Aceh. Pertahankan dan majukan budaya Aceh yang baik, ciptakan budaya baru kita dan ambil budaya orang yang sesuai dengan amanah indatu. Cucu indatu yang baik adalah cucu yang memajukan peradaban.

Thayeb Loh Angen, Wartawan Harian Aceh, Inisiator Lembaga Budaya Saman.

23.22 | Posted in , , , , | Read More »

Novel "Teuntra Atom" : Kisah di Balik Perang

Oleh : Boy Nashruddin Agus,
Judul : Teuntra Atom,
Penulis : Thayeb Loh Angen,
Penerbit : CAJP, Banda Aceh,
Tebal: 368 halaman.


Sejarah utama Teuntra Atom adalah 1999, ketika Aceh mulai dilanda konflik berkepanjangan pasca pencabutan DOM. Sang pengarang mendemistifikasi heroisme yang kerap tergambar penuh kemewahan dan berlebihan oleh penulis Aceh lainnya. Penulis Aceh lain tentu akan berfikir panjang untuk memilih cara narasi Thayeb, misalnya mengungkap kasus korupsi di kalangan kombatan.

Cerita dalam novel ‘Teuntra Atom’ ini diawali dan diakhiri di Kawasan Budaya Paloh Dayah, Muara Satu Lhokseumawe. Paloh Dayah adalah sebuah kampung yang pada era konflik 1999-2002 jadi basis gerakan di seputar Lhokseumawe.

Novel ‘Teuntra Atom’, karya Thayeb Loh Angen dapat dikatakan sebagai kisah nyata yang diangkat dari dunia konflik Aceh. Jika dicermati, banyak hal yang menarik dalam tulisan sastra ini. Salah satunya, sisi human interest seorang kombatan yang dimunculkan sebagai tokoh utama oleh si penulis.

Selain munculnya segi kemanusiaan seorang pejuang, Novel Teuntra Atom juga mengkritik kebijakan-kebijakan yang dianggap si pelaku utama tidak benar, meski itu dari kesatuannya. Ini terlihat pada permulaan kisah ketika, Irfan si tokoh utama, masuk ke dalam barisan pejuang. 

Dalam hal ini, Irfan begitu geram melihat tingkah kesatuannya di sagoe, tempat ia direkrut menjadi tentara. Karenanya, Irfan dengan segala upaya melobi kawan-kawan yang ia kenal untuk meraih pangkat yang lebih tinggi. Selain menceritakan kisah perjuangan, Teuntra Atom juga memunculkan kegelisahan Irfan Maulana, selaku Polisi Militer Acheh Sumatera Nacional Liberted Front (ASNLF) ketika harus menghadapi pertarungan politik dengan kisah cintanya.

Irfan yang bergabung dengan tentara pejuang, seringkali merana ketika harus berhadapan dengan kerinduan pada kekasihnya, Aina. Sementara ia sendiri tidak bisa menjumpai langsung gadis tersebut, kecuali melalui perantara Puri, sahabat Aina. Kisah asmara antara Irfan yang menasbihkan cintanya pada Aina, terbendung oleh rasa kesalah pahaman Puri, yang selalu menerima sepucuk surat dari Irfan. Padahal, surat itu ditujukan pada Aina, kekasih hatinya.

Kegundahan yang dirasakan oleh sosok utama dari novel ini, jelas terlihat dalam kalimat : “…Surat itu kutulis di markas ini dengan amarah bergaya mengurai di sela latihanku seminggu lalu. Satu kesalahanku yang memicu Puri meninggalkanku. Aku tidak sadar, politik dan cinta punya dunianya masing-masing. Tololnya aku, saat itu aku belum membaca buku-buku psykhologi dan komunikasi. Selesai kubaca surat Puri, aku lemah, pening, bagaimana kuperbaiki perasaan Puri yang cenderung berprasangka buruk terhadapku…”

Meskipun menjabat sebagai PM Daerah I di Aceh Utara, sosok Irfan begitu kentara saat harus memilih antara kesatuan dan cinta. Rasa kasmaran yang membuat dirinya harus menempuh resiko, menyebrangi jalan menuju rumah Aina, setelah upacara peringatan proklamasi kaum combatan, Desember Islam.

Saat itu, demi mengobati kerinduaanya, Irfan rela memacu sepeda motornya melewati pos Polres setempat yang kalau dikaji amat berbahaya bagi dirinya. Namun, seperti yang diceritakan oleh penulis, Irfan adalah sosok yang sangat penakut setelah insidennya masuk ke dalam sumur, namun tergolong nekat menghadapi sesuatu yang sebenarnya sangat ditakuti oleh teman-temannya.

Menilik pada proses pembuatan novel ini, saya salut kepada penulis yang bisa memunculkan misteri dibalik perjuangan combatan Aceh. Buku ini, layak dibaca sebagai bahan renungan terhadap tentara-tentara yang ada. Di balik kegagahannya menyandang senjata dan dibalut seragam, ada hal yang juga perlu diperhatikan. Tentara adalah manusia yang sebenarnya memiliki rasa cinta dan kasih sayang seperti halnya manusia lain.

Selain itu, Novel Tentara Atom juga bisa dijadikan rujukan awal untuk peneliti ilmiah atas kritikan sosial yang dilontarkan mantan kombatan sehingga menimbulkan perjuangan bersenjata. Bagi pecinta sastra genre petualangan, saya rasa novel ini bisa mengajak pembaca untuk berkelana ke daerah konflik saat terjadinya peperangan antara RI-GAM tempo dulu.

Walaupun kisah ini berlatarbelakang perjuangan bersenjata para kombatan, penulis tak lupa membungkusnya dengan sisi perdamaian yang menjadi kerinduan setiap pejuang. Akhirnya, hanya satu kata yang bisa saya tuliskan dalam resensi sederhana ini, semoga buku karya Thayeb Loh Angen mampu mendongkrak pasar Novel dan budaya di Aceh, dengan mengenyampingkan segala perbedaan ideology yang ada.

Memahami Novel Teuntra Atom

Bila ada yang ingin membaca cerita perang seheboh film pembantaian di Vietnam maka tidak ada dalam buku ini, karena buku ini ditulis untuk mengatakan bahwa perang tidak baik untuk manusia, yang baik adalah perdamaian. Cerita perang hanya menimbulkan dendam dan merusak moral generasi, maka dalam novel ini cerita itu dihindari. Jangan pernah mengenang, kalau memang terpaksa, maka kenanglah keberhasilan dan kebaikan saja.

Pada Bab 12 berjudul Sumur-Sumur Tengkorak, ditulis kata-kata seorang perempuan gunung, “Sehebat apapun kemenangan perang, tidak aku bangga kehancuran karenanya.”

Perang Aceh yang dimulai oleh Belanda pada 26 Maret 1873 telah menghancurkan fisik Aceh, dan kehancuran terparah adalah serangan mental yang diluncurkan penjahat intelektual Snouck Hurgronje. Sampai kini mental Aceh belum pulih, namun sedang dipulihkan sebab era Snouck telah berakhir. Peradaban Aceh sedang diperbaiki.

Sebagian besar novel ini otobiografi, kecuali bab 19 yang berjudul Retina dengan tokoh Elli. Bab 19 adalah rangkuman novel ini, bahwa konflik Aceh di era pergantian abad 20 dan masuk abad 21 adalah konflik yang tidak diselesaikan dengan baik, bahkan ideologi pemicunya pun kerap diselewengkan.

Inti utama novel Teuntra Atom adalah filosofi perang dan damai serta pendidikan, semuanya dinyawai oleh kemanusiaan, bahwa yang paling utama adalah menjadi manusiawi. Mawardi Hasan, seorang penjabat di Majelis Pendidikan Aceh sekaligus dosen IT untuk S 2 di Unsyiah mengatakan bahwa sebaiknya intisari filosofi dan pendidikan dalam novel Teuntra Atom disusun dalam dua buah buku saku terpisah agar mudah dipahami.

Sementara Musmarwan Abdullah, seorang cerpenis di Aceh mengatakan, butuh seorang pengulas handal untuk membuat khalayak bisa memahami novel Teuntra Atom dengan baik dan lengkap, karena dalam novel ini banyak kalimat yang perlu dijelaskan dengan bahasa sederhana.

Intinya, ini pembuktian bahwa kita di Aceh bisa menulis cerita sendiri. Aceh jangan hanya dikenal dengan perang dan bencana serta korupsi pejabatnya, tapi Aceh juga bisa dikenal dengan karya anak bangsanya. Mari membangun peradaban baru di Aceh. Cintailah Aceh, banyak membaca, menulis. Kata penyair Portugal, berjuanglah dengan senimu, dan musuh kita hanyalah senjata.

Maka, berjuanglah membangun peradaban Aceh. Pertahankan dan majukan budaya Aceh yang baik, ciptakan budaya baru kita dan ambil budaya orang yang sesuai dengan amanah indatu. Cucu indatu yang baik adalah cucu yang memajukan peradaban.

Thayeb Loh Angen, Wartawan Harian Aceh, Inisiator Lembaga Budaya Saman.

23.22 | Posted in , , , , | Read More »

Download Novel Bidadari untuk Ikhwan

Bidadari untuk IkhwanSebuah novel yang menceritakan perjalanan hidup seorang ikhwan bernama Khalid. Seorang mahasiswa Fakultas Hukum tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Dengan kesibukannya ia tetap aktif dengan kegiatan dakwahnya yang penuh damai, santun, lembut tapi juga berani. Ia berdakwah kepada para preman sampai Bosnya juga ikut ngaji. Bahkan mereka menjadi saudara. Pengalaman dengan dosen pembimbing yang dianggap killer oleh teman-temannya, tapi ia tetap berjuang sampai akhirnya ia dipercaya dan berhasil. Perjuangan dan keteguhannya.

Diselingi dengan bahasa kocak para teman-temannya dengan bahasa khas anak-anak tarbiyah (aktivis dakwah kampus). Walaupun masih ada beberapa bahasa yang bertutur panjang, sedikit menjenuhkan tapi disisi itu ada yang diimbangi dengan humor-humor kecil yang membuat novel ini kembali hidup. Novel ini penuh dengan nilai/nasehat mulia tentang indahnya Islam, Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Kita bisa merasakan indahnya persaudaraan sesama muslim, ukhuwah islamiyah. Ada sebuah perenungan dan pemaknaan hidup. Dan yang tak kalah menarik dan romantis yaitu kisah ia menemukan bidadari dan cintanya.

Jika dihadapkan dengan kondisi realita sekarang, Novel ini mungkin terlalu perfeksionis menceritakan karakter utamanya. Saya membaca novel ini ada pengaruh atau terinspirasi dari sebuah novel fenomenal. Tapi yang lebih tau ya penulisnya sendiri. Tapi untuk sebuah mimpi, visi dan cita-cita hal ini tidak menutup kemungkinan akan terwujud menjadi nyata. Sebuah peristiwa yang langka, namun Saya turut mengapresiasi karya ini, ada beberapa hikmah yang dapat saya teladani: keteguhan, keberanian dalam berdakwah dsb. Semoga penulisnya terus berkembang melahirkan karya-karya yang mengangkat sastra Islami.

Bagi yang ingin mambaca novel download di “Bidadari untuk Ikhwan” 

06.03 | Posted in , , , , | Read More »

Download Novel Bidadari untuk Ikhwan

Bidadari untuk IkhwanSebuah novel yang menceritakan perjalanan hidup seorang ikhwan bernama Khalid. Seorang mahasiswa Fakultas Hukum tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Dengan kesibukannya ia tetap aktif dengan kegiatan dakwahnya yang penuh damai, santun, lembut tapi juga berani. Ia berdakwah kepada para preman sampai Bosnya juga ikut ngaji. Bahkan mereka menjadi saudara. Pengalaman dengan dosen pembimbing yang dianggap killer oleh teman-temannya, tapi ia tetap berjuang sampai akhirnya ia dipercaya dan berhasil. Perjuangan dan keteguhannya.

Diselingi dengan bahasa kocak para teman-temannya dengan bahasa khas anak-anak tarbiyah (aktivis dakwah kampus). Walaupun masih ada beberapa bahasa yang bertutur panjang, sedikit menjenuhkan tapi disisi itu ada yang diimbangi dengan humor-humor kecil yang membuat novel ini kembali hidup. Novel ini penuh dengan nilai/nasehat mulia tentang indahnya Islam, Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Kita bisa merasakan indahnya persaudaraan sesama muslim, ukhuwah islamiyah. Ada sebuah perenungan dan pemaknaan hidup. Dan yang tak kalah menarik dan romantis yaitu kisah ia menemukan bidadari dan cintanya.

Jika dihadapkan dengan kondisi realita sekarang, Novel ini mungkin terlalu perfeksionis menceritakan karakter utamanya. Saya membaca novel ini ada pengaruh atau terinspirasi dari sebuah novel fenomenal. Tapi yang lebih tau ya penulisnya sendiri. Tapi untuk sebuah mimpi, visi dan cita-cita hal ini tidak menutup kemungkinan akan terwujud menjadi nyata. Sebuah peristiwa yang langka, namun Saya turut mengapresiasi karya ini, ada beberapa hikmah yang dapat saya teladani: keteguhan, keberanian dalam berdakwah dsb. Semoga penulisnya terus berkembang melahirkan karya-karya yang mengangkat sastra Islami.

Bagi yang ingin mambaca novel download di “Bidadari untuk Ikhwan” 

06.03 | Posted in , , , , | Read More »

Inilah 10 Novel Modern Pertama Indonesia

Kelahiran novel modern di Indonesia banyak dikemukakan oleh para penulis angkatan Balai Pustaka seperti Merari Siregar, Marah Roesli, Muhammad Yamin, Nur Sutan Iskandar, Tulis Sutan Sati, Djamaluddin Adinegoro, Abbas Soetan Pamoentjak, Abdul Muis, dan Aman Datuk Madjoindo. Beberapa karya mereka sangat terkenal hingga sekarang, sebut saja Siti Nurbaya karya Marah Roesli, Sengsara membawa nikmat karya Tulis Sutan Sati, dan masih banyak yang lainnya. Berikut 10 novel modern pertama di Indonesia:

10. Salah Pilih (1928)
Penulis: Nur Sutan Iskandar
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: kehidupan seseorang yang telah salah pilih dalam menentukan pilihannya.






9. Salah Asuhan (1928)
Penulis: Abdul Muis
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: Karya sastra legendaris SALAH ASUHAN karya Abdul Muis, berkisah tentang seorang pria Minang yang mendapatkan seorang istri berkewarganegaraan asing. Pada zamannya, perbedaan kewarganegaraan menjadi persoalan serius, karena faktor budaya.







8. Sengsara membawa nikmat (1928)
Penulis: Tulis Sutan Sati
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: Dari novel ini muncul tokoh yang mungkin masih anda kenal sampai sekarang, mengisahkan tentang kisah seorang pemuda shalih bernama Midun.

7. Pertemuan (1927)
Penulis: Abbas Soetan Pamoentjak
Penerbit: Balai Pustaka

6. Cinta yang membawa maut (1926)
Penulis: Nur Sutan Iskandar
Penerbit: Balai Pustaka


5. La Hami (1924)
Penulis: Marah Roesli
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: perjuangan seorang pemuda yang gagah berani dalam mencari jati diri.






4. Tak Disangka (1923)
Penulis: Tulis Sutan Sati
Penerbit: Balai Pustaka

3. Apa dayaku karena aku seorang perempuan (1923)
Penulis: Nur Sutan Iskandar
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: Kisah seorang perempuan yang harus mematuhi keingginan keluarganya demi martabat keluarga.

2. Siti Nurbaya (Kasih tak sampai), 1922
Penulis: Marah Roesli
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis:
Siapa yang tidak kenal dengan nama Siti Nurbaya, Siapa juga yang tidak kenal dengan Datuk Maringgih & Samsulbahri. Mereka merupakan tokoh-tokoh dari Novel terkenal Karya Marah Rusli.
Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel Sitti Nurbaya ini sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara tematik, seperti yang disinggung H.B. Jassin, Zuber Usman, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, maupun Teeuw, novel ini tidak hanya menampilkan latar social lebih jelas, tetapi juga mengandung kritik yang tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Novel ini pula yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat, yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang Indonesia sesudahnya.
Pada tahun 1969, novel ini memperoleh hadiah penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai hadiah tahunan yang diberikan setiap tanggal 17 Agustus- kini Hadiah Tahunan Pemerintah ini tidak dilanjutkan lagi.
Berbagai artikel maupun makalah yang membahas novel ini sudah banyak ditulis oleh para pengamat sastra Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Hingga kini, ulasannya masih terus banyak dilakukan, baik dalam konteks sejarah kesusastraan Indonesia modern, maupun dalam konteks social dan emansipasi wanita.






1. Azab dan Sengsara (1920)
Penulis: Merari Siregar
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: Tema dari novel Azab dan Sengsara adalah permasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga. Novel ini mengkisahkan tentang kehidupan cinta seorang perempuan yang menyedihkan.










20.31 | Posted in , , , , , | Read More »

Inilah 10 Novel Modern Pertama Indonesia

Kelahiran novel modern di Indonesia banyak dikemukakan oleh para penulis angkatan Balai Pustaka seperti Merari Siregar, Marah Roesli, Muhammad Yamin, Nur Sutan Iskandar, Tulis Sutan Sati, Djamaluddin Adinegoro, Abbas Soetan Pamoentjak, Abdul Muis, dan Aman Datuk Madjoindo. Beberapa karya mereka sangat terkenal hingga sekarang, sebut saja Siti Nurbaya karya Marah Roesli, Sengsara membawa nikmat karya Tulis Sutan Sati, dan masih banyak yang lainnya. Berikut 10 novel modern pertama di Indonesia:

10. Salah Pilih (1928)
Penulis: Nur Sutan Iskandar
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: kehidupan seseorang yang telah salah pilih dalam menentukan pilihannya.






9. Salah Asuhan (1928)
Penulis: Abdul Muis
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: Karya sastra legendaris SALAH ASUHAN karya Abdul Muis, berkisah tentang seorang pria Minang yang mendapatkan seorang istri berkewarganegaraan asing. Pada zamannya, perbedaan kewarganegaraan menjadi persoalan serius, karena faktor budaya.







8. Sengsara membawa nikmat (1928)
Penulis: Tulis Sutan Sati
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: Dari novel ini muncul tokoh yang mungkin masih anda kenal sampai sekarang, mengisahkan tentang kisah seorang pemuda shalih bernama Midun.

7. Pertemuan (1927)
Penulis: Abbas Soetan Pamoentjak
Penerbit: Balai Pustaka

6. Cinta yang membawa maut (1926)
Penulis: Nur Sutan Iskandar
Penerbit: Balai Pustaka


5. La Hami (1924)
Penulis: Marah Roesli
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: perjuangan seorang pemuda yang gagah berani dalam mencari jati diri.






4. Tak Disangka (1923)
Penulis: Tulis Sutan Sati
Penerbit: Balai Pustaka

3. Apa dayaku karena aku seorang perempuan (1923)
Penulis: Nur Sutan Iskandar
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: Kisah seorang perempuan yang harus mematuhi keingginan keluarganya demi martabat keluarga.

2. Siti Nurbaya (Kasih tak sampai), 1922
Penulis: Marah Roesli
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis:
Siapa yang tidak kenal dengan nama Siti Nurbaya, Siapa juga yang tidak kenal dengan Datuk Maringgih & Samsulbahri. Mereka merupakan tokoh-tokoh dari Novel terkenal Karya Marah Rusli.
Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel Sitti Nurbaya ini sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara tematik, seperti yang disinggung H.B. Jassin, Zuber Usman, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, maupun Teeuw, novel ini tidak hanya menampilkan latar social lebih jelas, tetapi juga mengandung kritik yang tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Novel ini pula yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat, yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang Indonesia sesudahnya.
Pada tahun 1969, novel ini memperoleh hadiah penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai hadiah tahunan yang diberikan setiap tanggal 17 Agustus- kini Hadiah Tahunan Pemerintah ini tidak dilanjutkan lagi.
Berbagai artikel maupun makalah yang membahas novel ini sudah banyak ditulis oleh para pengamat sastra Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Hingga kini, ulasannya masih terus banyak dilakukan, baik dalam konteks sejarah kesusastraan Indonesia modern, maupun dalam konteks social dan emansipasi wanita.






1. Azab dan Sengsara (1920)
Penulis: Merari Siregar
Penerbit: Balai Pustaka
Sinopsis: Tema dari novel Azab dan Sengsara adalah permasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga. Novel ini mengkisahkan tentang kehidupan cinta seorang perempuan yang menyedihkan.










20.31 | Posted in , , , , , | Read More »

Blog Archive

Labels