Inilah Penampakan Alam Menakjubkan di Malam Hari

Begitu indah bumikita ini walaupun malam pesona keindahanya tetap tanpak memukau berikut ini ada beberapakumpulan Luar biasa para fotografer ini. Mereka bisa menangkap momen penting seperti ini.
Austria

Iran

Australia

Lisabon, Portugal

Pulau Reunion, Samudera India

Tembok Raksasa, China

00.28 | Posted in , , , , | Read More »

Inilah Penampakan Alam Menakjubkan di Malam Hari

Begitu indah bumikita ini walaupun malam pesona keindahanya tetap tanpak memukau berikut ini ada beberapakumpulan Luar biasa para fotografer ini. Mereka bisa menangkap momen penting seperti ini.
Austria

Iran

Australia

Lisabon, Portugal

Pulau Reunion, Samudera India

Tembok Raksasa, China

00.28 | Posted in , , , , | Read More »

Novel "Teuntra Atom" : Kisah di Balik Perang

Oleh : Boy Nashruddin Agus,
Judul : Teuntra Atom,
Penulis : Thayeb Loh Angen,
Penerbit : CAJP, Banda Aceh,
Tebal: 368 halaman.


Sejarah utama Teuntra Atom adalah 1999, ketika Aceh mulai dilanda konflik berkepanjangan pasca pencabutan DOM. Sang pengarang mendemistifikasi heroisme yang kerap tergambar penuh kemewahan dan berlebihan oleh penulis Aceh lainnya. Penulis Aceh lain tentu akan berfikir panjang untuk memilih cara narasi Thayeb, misalnya mengungkap kasus korupsi di kalangan kombatan.

Cerita dalam novel ‘Teuntra Atom’ ini diawali dan diakhiri di Kawasan Budaya Paloh Dayah, Muara Satu Lhokseumawe. Paloh Dayah adalah sebuah kampung yang pada era konflik 1999-2002 jadi basis gerakan di seputar Lhokseumawe.

Novel ‘Teuntra Atom’, karya Thayeb Loh Angen dapat dikatakan sebagai kisah nyata yang diangkat dari dunia konflik Aceh. Jika dicermati, banyak hal yang menarik dalam tulisan sastra ini. Salah satunya, sisi human interest seorang kombatan yang dimunculkan sebagai tokoh utama oleh si penulis.

Selain munculnya segi kemanusiaan seorang pejuang, Novel Teuntra Atom juga mengkritik kebijakan-kebijakan yang dianggap si pelaku utama tidak benar, meski itu dari kesatuannya. Ini terlihat pada permulaan kisah ketika, Irfan si tokoh utama, masuk ke dalam barisan pejuang. 

Dalam hal ini, Irfan begitu geram melihat tingkah kesatuannya di sagoe, tempat ia direkrut menjadi tentara. Karenanya, Irfan dengan segala upaya melobi kawan-kawan yang ia kenal untuk meraih pangkat yang lebih tinggi. Selain menceritakan kisah perjuangan, Teuntra Atom juga memunculkan kegelisahan Irfan Maulana, selaku Polisi Militer Acheh Sumatera Nacional Liberted Front (ASNLF) ketika harus menghadapi pertarungan politik dengan kisah cintanya.

Irfan yang bergabung dengan tentara pejuang, seringkali merana ketika harus berhadapan dengan kerinduan pada kekasihnya, Aina. Sementara ia sendiri tidak bisa menjumpai langsung gadis tersebut, kecuali melalui perantara Puri, sahabat Aina. Kisah asmara antara Irfan yang menasbihkan cintanya pada Aina, terbendung oleh rasa kesalah pahaman Puri, yang selalu menerima sepucuk surat dari Irfan. Padahal, surat itu ditujukan pada Aina, kekasih hatinya.

Kegundahan yang dirasakan oleh sosok utama dari novel ini, jelas terlihat dalam kalimat : “…Surat itu kutulis di markas ini dengan amarah bergaya mengurai di sela latihanku seminggu lalu. Satu kesalahanku yang memicu Puri meninggalkanku. Aku tidak sadar, politik dan cinta punya dunianya masing-masing. Tololnya aku, saat itu aku belum membaca buku-buku psykhologi dan komunikasi. Selesai kubaca surat Puri, aku lemah, pening, bagaimana kuperbaiki perasaan Puri yang cenderung berprasangka buruk terhadapku…”

Meskipun menjabat sebagai PM Daerah I di Aceh Utara, sosok Irfan begitu kentara saat harus memilih antara kesatuan dan cinta. Rasa kasmaran yang membuat dirinya harus menempuh resiko, menyebrangi jalan menuju rumah Aina, setelah upacara peringatan proklamasi kaum combatan, Desember Islam.

Saat itu, demi mengobati kerinduaanya, Irfan rela memacu sepeda motornya melewati pos Polres setempat yang kalau dikaji amat berbahaya bagi dirinya. Namun, seperti yang diceritakan oleh penulis, Irfan adalah sosok yang sangat penakut setelah insidennya masuk ke dalam sumur, namun tergolong nekat menghadapi sesuatu yang sebenarnya sangat ditakuti oleh teman-temannya.

Menilik pada proses pembuatan novel ini, saya salut kepada penulis yang bisa memunculkan misteri dibalik perjuangan combatan Aceh. Buku ini, layak dibaca sebagai bahan renungan terhadap tentara-tentara yang ada. Di balik kegagahannya menyandang senjata dan dibalut seragam, ada hal yang juga perlu diperhatikan. Tentara adalah manusia yang sebenarnya memiliki rasa cinta dan kasih sayang seperti halnya manusia lain.

Selain itu, Novel Tentara Atom juga bisa dijadikan rujukan awal untuk peneliti ilmiah atas kritikan sosial yang dilontarkan mantan kombatan sehingga menimbulkan perjuangan bersenjata. Bagi pecinta sastra genre petualangan, saya rasa novel ini bisa mengajak pembaca untuk berkelana ke daerah konflik saat terjadinya peperangan antara RI-GAM tempo dulu.

Walaupun kisah ini berlatarbelakang perjuangan bersenjata para kombatan, penulis tak lupa membungkusnya dengan sisi perdamaian yang menjadi kerinduan setiap pejuang. Akhirnya, hanya satu kata yang bisa saya tuliskan dalam resensi sederhana ini, semoga buku karya Thayeb Loh Angen mampu mendongkrak pasar Novel dan budaya di Aceh, dengan mengenyampingkan segala perbedaan ideology yang ada.

Memahami Novel Teuntra Atom

Bila ada yang ingin membaca cerita perang seheboh film pembantaian di Vietnam maka tidak ada dalam buku ini, karena buku ini ditulis untuk mengatakan bahwa perang tidak baik untuk manusia, yang baik adalah perdamaian. Cerita perang hanya menimbulkan dendam dan merusak moral generasi, maka dalam novel ini cerita itu dihindari. Jangan pernah mengenang, kalau memang terpaksa, maka kenanglah keberhasilan dan kebaikan saja.

Pada Bab 12 berjudul Sumur-Sumur Tengkorak, ditulis kata-kata seorang perempuan gunung, “Sehebat apapun kemenangan perang, tidak aku bangga kehancuran karenanya.”

Perang Aceh yang dimulai oleh Belanda pada 26 Maret 1873 telah menghancurkan fisik Aceh, dan kehancuran terparah adalah serangan mental yang diluncurkan penjahat intelektual Snouck Hurgronje. Sampai kini mental Aceh belum pulih, namun sedang dipulihkan sebab era Snouck telah berakhir. Peradaban Aceh sedang diperbaiki.

Sebagian besar novel ini otobiografi, kecuali bab 19 yang berjudul Retina dengan tokoh Elli. Bab 19 adalah rangkuman novel ini, bahwa konflik Aceh di era pergantian abad 20 dan masuk abad 21 adalah konflik yang tidak diselesaikan dengan baik, bahkan ideologi pemicunya pun kerap diselewengkan.

Inti utama novel Teuntra Atom adalah filosofi perang dan damai serta pendidikan, semuanya dinyawai oleh kemanusiaan, bahwa yang paling utama adalah menjadi manusiawi. Mawardi Hasan, seorang penjabat di Majelis Pendidikan Aceh sekaligus dosen IT untuk S 2 di Unsyiah mengatakan bahwa sebaiknya intisari filosofi dan pendidikan dalam novel Teuntra Atom disusun dalam dua buah buku saku terpisah agar mudah dipahami.

Sementara Musmarwan Abdullah, seorang cerpenis di Aceh mengatakan, butuh seorang pengulas handal untuk membuat khalayak bisa memahami novel Teuntra Atom dengan baik dan lengkap, karena dalam novel ini banyak kalimat yang perlu dijelaskan dengan bahasa sederhana.

Intinya, ini pembuktian bahwa kita di Aceh bisa menulis cerita sendiri. Aceh jangan hanya dikenal dengan perang dan bencana serta korupsi pejabatnya, tapi Aceh juga bisa dikenal dengan karya anak bangsanya. Mari membangun peradaban baru di Aceh. Cintailah Aceh, banyak membaca, menulis. Kata penyair Portugal, berjuanglah dengan senimu, dan musuh kita hanyalah senjata.

Maka, berjuanglah membangun peradaban Aceh. Pertahankan dan majukan budaya Aceh yang baik, ciptakan budaya baru kita dan ambil budaya orang yang sesuai dengan amanah indatu. Cucu indatu yang baik adalah cucu yang memajukan peradaban.

Thayeb Loh Angen, Wartawan Harian Aceh, Inisiator Lembaga Budaya Saman.

23.22 | Posted in , , , , | Read More »

Novel "Teuntra Atom" : Kisah di Balik Perang

Oleh : Boy Nashruddin Agus,
Judul : Teuntra Atom,
Penulis : Thayeb Loh Angen,
Penerbit : CAJP, Banda Aceh,
Tebal: 368 halaman.


Sejarah utama Teuntra Atom adalah 1999, ketika Aceh mulai dilanda konflik berkepanjangan pasca pencabutan DOM. Sang pengarang mendemistifikasi heroisme yang kerap tergambar penuh kemewahan dan berlebihan oleh penulis Aceh lainnya. Penulis Aceh lain tentu akan berfikir panjang untuk memilih cara narasi Thayeb, misalnya mengungkap kasus korupsi di kalangan kombatan.

Cerita dalam novel ‘Teuntra Atom’ ini diawali dan diakhiri di Kawasan Budaya Paloh Dayah, Muara Satu Lhokseumawe. Paloh Dayah adalah sebuah kampung yang pada era konflik 1999-2002 jadi basis gerakan di seputar Lhokseumawe.

Novel ‘Teuntra Atom’, karya Thayeb Loh Angen dapat dikatakan sebagai kisah nyata yang diangkat dari dunia konflik Aceh. Jika dicermati, banyak hal yang menarik dalam tulisan sastra ini. Salah satunya, sisi human interest seorang kombatan yang dimunculkan sebagai tokoh utama oleh si penulis.

Selain munculnya segi kemanusiaan seorang pejuang, Novel Teuntra Atom juga mengkritik kebijakan-kebijakan yang dianggap si pelaku utama tidak benar, meski itu dari kesatuannya. Ini terlihat pada permulaan kisah ketika, Irfan si tokoh utama, masuk ke dalam barisan pejuang. 

Dalam hal ini, Irfan begitu geram melihat tingkah kesatuannya di sagoe, tempat ia direkrut menjadi tentara. Karenanya, Irfan dengan segala upaya melobi kawan-kawan yang ia kenal untuk meraih pangkat yang lebih tinggi. Selain menceritakan kisah perjuangan, Teuntra Atom juga memunculkan kegelisahan Irfan Maulana, selaku Polisi Militer Acheh Sumatera Nacional Liberted Front (ASNLF) ketika harus menghadapi pertarungan politik dengan kisah cintanya.

Irfan yang bergabung dengan tentara pejuang, seringkali merana ketika harus berhadapan dengan kerinduan pada kekasihnya, Aina. Sementara ia sendiri tidak bisa menjumpai langsung gadis tersebut, kecuali melalui perantara Puri, sahabat Aina. Kisah asmara antara Irfan yang menasbihkan cintanya pada Aina, terbendung oleh rasa kesalah pahaman Puri, yang selalu menerima sepucuk surat dari Irfan. Padahal, surat itu ditujukan pada Aina, kekasih hatinya.

Kegundahan yang dirasakan oleh sosok utama dari novel ini, jelas terlihat dalam kalimat : “…Surat itu kutulis di markas ini dengan amarah bergaya mengurai di sela latihanku seminggu lalu. Satu kesalahanku yang memicu Puri meninggalkanku. Aku tidak sadar, politik dan cinta punya dunianya masing-masing. Tololnya aku, saat itu aku belum membaca buku-buku psykhologi dan komunikasi. Selesai kubaca surat Puri, aku lemah, pening, bagaimana kuperbaiki perasaan Puri yang cenderung berprasangka buruk terhadapku…”

Meskipun menjabat sebagai PM Daerah I di Aceh Utara, sosok Irfan begitu kentara saat harus memilih antara kesatuan dan cinta. Rasa kasmaran yang membuat dirinya harus menempuh resiko, menyebrangi jalan menuju rumah Aina, setelah upacara peringatan proklamasi kaum combatan, Desember Islam.

Saat itu, demi mengobati kerinduaanya, Irfan rela memacu sepeda motornya melewati pos Polres setempat yang kalau dikaji amat berbahaya bagi dirinya. Namun, seperti yang diceritakan oleh penulis, Irfan adalah sosok yang sangat penakut setelah insidennya masuk ke dalam sumur, namun tergolong nekat menghadapi sesuatu yang sebenarnya sangat ditakuti oleh teman-temannya.

Menilik pada proses pembuatan novel ini, saya salut kepada penulis yang bisa memunculkan misteri dibalik perjuangan combatan Aceh. Buku ini, layak dibaca sebagai bahan renungan terhadap tentara-tentara yang ada. Di balik kegagahannya menyandang senjata dan dibalut seragam, ada hal yang juga perlu diperhatikan. Tentara adalah manusia yang sebenarnya memiliki rasa cinta dan kasih sayang seperti halnya manusia lain.

Selain itu, Novel Tentara Atom juga bisa dijadikan rujukan awal untuk peneliti ilmiah atas kritikan sosial yang dilontarkan mantan kombatan sehingga menimbulkan perjuangan bersenjata. Bagi pecinta sastra genre petualangan, saya rasa novel ini bisa mengajak pembaca untuk berkelana ke daerah konflik saat terjadinya peperangan antara RI-GAM tempo dulu.

Walaupun kisah ini berlatarbelakang perjuangan bersenjata para kombatan, penulis tak lupa membungkusnya dengan sisi perdamaian yang menjadi kerinduan setiap pejuang. Akhirnya, hanya satu kata yang bisa saya tuliskan dalam resensi sederhana ini, semoga buku karya Thayeb Loh Angen mampu mendongkrak pasar Novel dan budaya di Aceh, dengan mengenyampingkan segala perbedaan ideology yang ada.

Memahami Novel Teuntra Atom

Bila ada yang ingin membaca cerita perang seheboh film pembantaian di Vietnam maka tidak ada dalam buku ini, karena buku ini ditulis untuk mengatakan bahwa perang tidak baik untuk manusia, yang baik adalah perdamaian. Cerita perang hanya menimbulkan dendam dan merusak moral generasi, maka dalam novel ini cerita itu dihindari. Jangan pernah mengenang, kalau memang terpaksa, maka kenanglah keberhasilan dan kebaikan saja.

Pada Bab 12 berjudul Sumur-Sumur Tengkorak, ditulis kata-kata seorang perempuan gunung, “Sehebat apapun kemenangan perang, tidak aku bangga kehancuran karenanya.”

Perang Aceh yang dimulai oleh Belanda pada 26 Maret 1873 telah menghancurkan fisik Aceh, dan kehancuran terparah adalah serangan mental yang diluncurkan penjahat intelektual Snouck Hurgronje. Sampai kini mental Aceh belum pulih, namun sedang dipulihkan sebab era Snouck telah berakhir. Peradaban Aceh sedang diperbaiki.

Sebagian besar novel ini otobiografi, kecuali bab 19 yang berjudul Retina dengan tokoh Elli. Bab 19 adalah rangkuman novel ini, bahwa konflik Aceh di era pergantian abad 20 dan masuk abad 21 adalah konflik yang tidak diselesaikan dengan baik, bahkan ideologi pemicunya pun kerap diselewengkan.

Inti utama novel Teuntra Atom adalah filosofi perang dan damai serta pendidikan, semuanya dinyawai oleh kemanusiaan, bahwa yang paling utama adalah menjadi manusiawi. Mawardi Hasan, seorang penjabat di Majelis Pendidikan Aceh sekaligus dosen IT untuk S 2 di Unsyiah mengatakan bahwa sebaiknya intisari filosofi dan pendidikan dalam novel Teuntra Atom disusun dalam dua buah buku saku terpisah agar mudah dipahami.

Sementara Musmarwan Abdullah, seorang cerpenis di Aceh mengatakan, butuh seorang pengulas handal untuk membuat khalayak bisa memahami novel Teuntra Atom dengan baik dan lengkap, karena dalam novel ini banyak kalimat yang perlu dijelaskan dengan bahasa sederhana.

Intinya, ini pembuktian bahwa kita di Aceh bisa menulis cerita sendiri. Aceh jangan hanya dikenal dengan perang dan bencana serta korupsi pejabatnya, tapi Aceh juga bisa dikenal dengan karya anak bangsanya. Mari membangun peradaban baru di Aceh. Cintailah Aceh, banyak membaca, menulis. Kata penyair Portugal, berjuanglah dengan senimu, dan musuh kita hanyalah senjata.

Maka, berjuanglah membangun peradaban Aceh. Pertahankan dan majukan budaya Aceh yang baik, ciptakan budaya baru kita dan ambil budaya orang yang sesuai dengan amanah indatu. Cucu indatu yang baik adalah cucu yang memajukan peradaban.

Thayeb Loh Angen, Wartawan Harian Aceh, Inisiator Lembaga Budaya Saman.

23.22 | Posted in , , , , | Read More »

Perang, Antara Solusi dan Masalah


Budiadari meuriti di dong dji pandang
Di cut abang jak meucang dalam prang sabi
Oh ka judo teungku syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamong syuruga tinggi...

Oleh Adi Warsidi (*

Begitulah petikan suatu bait dari hikayat Prang Sabi, sebuah hikayat gubahan Tgk Chik Pante Kulu. Janji Allah tentang kedudukan dan kenikmatan abadi di surga membuat perang Aceh adalah perang yang terpanjang dan paling melelahkan di dalam sejarah Belanda.

Hari ini, perang tentunya telah bermetamorfosa. Bentuk penjajahan serta para penjajah juga berubah. Ia tidak hanya bermotif ekonomi, ia bisa berbentuk politik, ideologi, budaya, juga gaya hidup. Beberapa orang, para tokoh kepala negara mendeklarasikan perang terhadap ketertinggalan, kemiskinan, kebodohan, gizi buruk dan lainnya. Mereka adalah orang-orang yang komit dan berdedikasi penuh untuk menang dalam bentuk peperangan ini, at all cost.

Pada konteks tertentu, perang seperti ini adalah fardhu ain. Perang ini mungkin tidak kasat mata, hingga ia tidak besar seperti perang Aceh. Perang ini mungkin lebih hebat, karenanya ia memerlukan strategi khusus, juga karena ia merupakan musuh yang gesit dan pintar, yaitu keterbelakangan, ekonomi, kemiskinan, gizi buruk.

Otonomi daerah sejak dikeluarkan UU No.22/1999 memberikan implikasi yang sangat mendasar dari medan peperangan terhadap musuh di atas, musuh multidimensi. Salah satu misi otonomi daerah adalah meningkatkan kualitas pelayanan umum dan masyarakat di samping penciptaan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan dan efektifitas pengelolaan sumber daya (Mardiasmo, 2002). Hal ini tentunya membutuhkan reformasi pengelolaan sektor publik, kelembagaan serta manajemen pelayanan publik.

Setelah satu dekade, ternyata otonomi daerah memiliki dua sisi wajah. Jajak pendapat yang dilakukan Kompas (25 April 2011) mencatat pendapat yang beragam, beberapa capaian ekonomi, politik dan budaya di beberapa daerah menunjukkan angka yang mengesankan, sedangkan di daerah lain Indonesia masih tertatih-tatih, gagap, bahkan ada yang salah arah. Pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik di beberapa provinsi dan daerah masih berjalan di tempat, bahkan ada yang malah menurun.

Manajemen publik terkesan amburadul, lembaga terlalu gemuk, lamban, sulit bergerak. Beberapa panglima (kepala daerah) dan elite wakil rakyat gagap, lalai, salah strategi. Buah pahit otonomi dan desentralisasi Indonesia; lebih dari 65 persen belanja digunakan untuk membiayai pengeluaran rutin, menyisakan sedikit belanja untuk pembangunan (Faisal Basri, 2009).

Beberapa pakar kebijakan publik merisaukan bahwa otonomi daerah hanya akan memindahkan KKN serta inefisiensi pusat ke daerah, ditambah dengan perilaku “rent-seeking” yang lazim di masa transisi pascakonflik. Terlepas dari kekhawatiran ini, desentralisasi dan otonomi khusus untuk Aceh harus disukseskan karena hal ini telah menjadi kesepakatan antara Aceh dan Indonesia.

Aceh di dalam konteks otonomi yang khusus, peperangan terhadap berbagai ketertinggalan mestinya dimenangkan dengan sangat mudah. Allah yang maha pintar menguji bangsa Aceh dalam bentuk peperangan yang lain tersebut. Apabila ini ingin dianggap perang, perlengkapan perang sudah lebih dari cukup, lebih dari Rp 12 triliun dana otonomi khusus dan bagi hasil sudah ditumpahkan dalam kurun 5 tahun terakhir, mandat penuh dari rakyat sudah diberikan, panglima berikut para wakil rakyat dipilih langsung, medan tempur tentunya sudah di luar kepala, dalam kerangka syariat Islam pula. Tentunya ia memerlukan waktu yang relatif singkat untuk menang, mungkin hanya sibak rukok.

Tanpa menafikan beberapa pencapaian pembangunan yang patut diapresiasi, beberapa strategi peperangan terlihat cukup baik. Infrastruktur terlihat membaik, JKA dan program beasiswa telah memberikan peluang untuk menyiapkan generasi Aceh yang pintar dan tangguh. Aceh green, meskipun efektifitasnya diperdebatkan, tapi mungkin ‘berhasil’ meredam kehancuran hutan Aceh yang merajalela. Strategi-strategi ini dinilai cukup berhasil, namun beberapa catatan panjang dari strategi masih harus kita benahi jika ingin menang perang, mungkin dari membenahi urusan belanja dapur atau keuangan publik.

Laporan Bank Dunia (2008) tentang analisa pembelanjaan publik di Aceh, menyatakan bahwa terdapat persoalan serius yang perlu dibenahi dalam pengelolaan belanja publik. Pemborosan adalah fenomena umum terjadi di berbagai unit kerja pemerintah daerah.


Pendekatan “incrementalism” yang berdasar dari perubahan satu variabel atau lebih seperti inflasi dan jumlah penduduk akan meningkatkan jumlah alokasi anggaran dari alokasi semula tanpa melihat kebutuhan dan kepatutan dari suatu pembelanjaan terbukti tidak tepat dan perlu dibenahi secara serius. Beberapa pos pengeluaran yang tidak penting sulit dihapuskan, sementara analisis yang mendalam terhadap struktur, komponen, dan tingkat biaya yang secara akurat akan mengidentifikasi jumlah kebutuhan alokasi dana sesuai arah pembangunan tidak pernah dilakukan.

Akhirnya, kita tidak kenal disiplin anggaran yang merupakan kunci kesuksesan, pemborosan di tiap unit, pengeluaran yang tidak penting tetap dilakukan. Kita tidak kenal dengan konsep nilai uang. Ukuran kinerja pemerintah masih menitikberatkan target penyerapan, belum lagi kualitas pengeluaran dan belanja.


Beberapa Panglima sagoe (Bupati) pusing; anggaran defisit (negative budgetary slack), PAD terus-terusan direvisi dengan skenario paling optimis tanpa diimbangi dengan komitmen untuk memenuhi targetnya, berharap limpahan otsus yang hanya tinggal 17 tahun lagi. Pembangunan terserak, para elite dan wakil rakyat tercerai berai, hilang arah. Pengesahan anggaran terlambat dan deretan panjang persoalan yang melilit sebagai bukti bahwa pengelolaan keuangan publik kurang efektif jika tidak ingin dikatakan salah urus. Dana Otsus mendanai urusan cilet-cilet, remah-remah, printilan kecil, mungkin salah tafsir prinsip tentang “pemerataan” kue pembangunan.

Hingga akhir tahun 2011, sekitar Rp 12, 7 trilliun dana Otsus termasuk Bagi Hasil Migas telah dialokasikan, sekitar Rp 100 trilliun dana akan diguyur ke Aceh dalam waktu 20 tahun.

Wahai Tuan Para Panglima Perang, dan para wakil rakyat pemimpin kamoe, sekali lagi, persenjataan perang kita sudah lengkap, medan tempur sudah Anda hafal di luar kepala, tinggal strategi dan komitmen Anda untuk menang yang perlu kita mantapkan. Kita tidak bisa terus-terusan membuang amunisi, waktu berjalan 17 tahun lagi bukanlah waktu yang lama. Jika memang ingin menang, sekarang waktunya, now or never!

Tanpa strategi, tanpa data dan pisau analisis penganggaran, kita layaknya masih berperang dengan gerilya, hit and run tanpa sinkronisasi antarlini, tanpa disiplin anggaran dan konsistensi, bahkan cenderung politis pula. Jangan salahkan sejarah yang akan mencatat bahwa kita telah kalah perang, jika menang pun dalam waktu yang cukup lama.

Aceh memang sedang bergerak, lebih baik, tapi merangkak, beberapa indikator makro menunjukkan hal-hal positif bahkan lebih baik dari provinsi tetangga dan tingkat nasional. Hal ini patut kita acungi jempol. Tapi kita perlu kemenangan cepat (quick win) juga gilang gemilang. Tidak memerlukan ratusan tahun seperti perang Aceh, karena memang kita hanya punya 20 tahun amunisi dari limpahan Otsus.

Wahai Para panglima dan wakil rakyat; sebagai tanda puteh hate kamoe; kami ingin mengingatkan, “Sir, we are at war...” Tidak ada waktu untuk lalai, restorasi Aceh harus dimulai. Kami akan terus berperang dan kami ingin menang, karena janji Allah yang gagah akan surga dengan cara kami, seperti hikayat Prang Sabi.

Tajak prang meusoh beureuntoh dum sitre nabi
Yang meu ungkhi ke rabbi keu poe yang esa
Soe nyang hantem prang chit malang ceulaka tubuh rugoe roh
Syuruga tan roeh rugoe roh bala neuraka.

***
sumber: atjehcyber
*) Penulis berprofesi sebagai jurnalis dan  bekerja di Aceh

23.06 | Posted in , , , , | Read More »

Perang, Antara Solusi dan Masalah


Budiadari meuriti di dong dji pandang
Di cut abang jak meucang dalam prang sabi
Oh ka judo teungku syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamong syuruga tinggi...

Oleh Adi Warsidi (*

Begitulah petikan suatu bait dari hikayat Prang Sabi, sebuah hikayat gubahan Tgk Chik Pante Kulu. Janji Allah tentang kedudukan dan kenikmatan abadi di surga membuat perang Aceh adalah perang yang terpanjang dan paling melelahkan di dalam sejarah Belanda.

Hari ini, perang tentunya telah bermetamorfosa. Bentuk penjajahan serta para penjajah juga berubah. Ia tidak hanya bermotif ekonomi, ia bisa berbentuk politik, ideologi, budaya, juga gaya hidup. Beberapa orang, para tokoh kepala negara mendeklarasikan perang terhadap ketertinggalan, kemiskinan, kebodohan, gizi buruk dan lainnya. Mereka adalah orang-orang yang komit dan berdedikasi penuh untuk menang dalam bentuk peperangan ini, at all cost.

Pada konteks tertentu, perang seperti ini adalah fardhu ain. Perang ini mungkin tidak kasat mata, hingga ia tidak besar seperti perang Aceh. Perang ini mungkin lebih hebat, karenanya ia memerlukan strategi khusus, juga karena ia merupakan musuh yang gesit dan pintar, yaitu keterbelakangan, ekonomi, kemiskinan, gizi buruk.

Otonomi daerah sejak dikeluarkan UU No.22/1999 memberikan implikasi yang sangat mendasar dari medan peperangan terhadap musuh di atas, musuh multidimensi. Salah satu misi otonomi daerah adalah meningkatkan kualitas pelayanan umum dan masyarakat di samping penciptaan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan dan efektifitas pengelolaan sumber daya (Mardiasmo, 2002). Hal ini tentunya membutuhkan reformasi pengelolaan sektor publik, kelembagaan serta manajemen pelayanan publik.

Setelah satu dekade, ternyata otonomi daerah memiliki dua sisi wajah. Jajak pendapat yang dilakukan Kompas (25 April 2011) mencatat pendapat yang beragam, beberapa capaian ekonomi, politik dan budaya di beberapa daerah menunjukkan angka yang mengesankan, sedangkan di daerah lain Indonesia masih tertatih-tatih, gagap, bahkan ada yang salah arah. Pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik di beberapa provinsi dan daerah masih berjalan di tempat, bahkan ada yang malah menurun.

Manajemen publik terkesan amburadul, lembaga terlalu gemuk, lamban, sulit bergerak. Beberapa panglima (kepala daerah) dan elite wakil rakyat gagap, lalai, salah strategi. Buah pahit otonomi dan desentralisasi Indonesia; lebih dari 65 persen belanja digunakan untuk membiayai pengeluaran rutin, menyisakan sedikit belanja untuk pembangunan (Faisal Basri, 2009).

Beberapa pakar kebijakan publik merisaukan bahwa otonomi daerah hanya akan memindahkan KKN serta inefisiensi pusat ke daerah, ditambah dengan perilaku “rent-seeking” yang lazim di masa transisi pascakonflik. Terlepas dari kekhawatiran ini, desentralisasi dan otonomi khusus untuk Aceh harus disukseskan karena hal ini telah menjadi kesepakatan antara Aceh dan Indonesia.

Aceh di dalam konteks otonomi yang khusus, peperangan terhadap berbagai ketertinggalan mestinya dimenangkan dengan sangat mudah. Allah yang maha pintar menguji bangsa Aceh dalam bentuk peperangan yang lain tersebut. Apabila ini ingin dianggap perang, perlengkapan perang sudah lebih dari cukup, lebih dari Rp 12 triliun dana otonomi khusus dan bagi hasil sudah ditumpahkan dalam kurun 5 tahun terakhir, mandat penuh dari rakyat sudah diberikan, panglima berikut para wakil rakyat dipilih langsung, medan tempur tentunya sudah di luar kepala, dalam kerangka syariat Islam pula. Tentunya ia memerlukan waktu yang relatif singkat untuk menang, mungkin hanya sibak rukok.

Tanpa menafikan beberapa pencapaian pembangunan yang patut diapresiasi, beberapa strategi peperangan terlihat cukup baik. Infrastruktur terlihat membaik, JKA dan program beasiswa telah memberikan peluang untuk menyiapkan generasi Aceh yang pintar dan tangguh. Aceh green, meskipun efektifitasnya diperdebatkan, tapi mungkin ‘berhasil’ meredam kehancuran hutan Aceh yang merajalela. Strategi-strategi ini dinilai cukup berhasil, namun beberapa catatan panjang dari strategi masih harus kita benahi jika ingin menang perang, mungkin dari membenahi urusan belanja dapur atau keuangan publik.

Laporan Bank Dunia (2008) tentang analisa pembelanjaan publik di Aceh, menyatakan bahwa terdapat persoalan serius yang perlu dibenahi dalam pengelolaan belanja publik. Pemborosan adalah fenomena umum terjadi di berbagai unit kerja pemerintah daerah.


Pendekatan “incrementalism” yang berdasar dari perubahan satu variabel atau lebih seperti inflasi dan jumlah penduduk akan meningkatkan jumlah alokasi anggaran dari alokasi semula tanpa melihat kebutuhan dan kepatutan dari suatu pembelanjaan terbukti tidak tepat dan perlu dibenahi secara serius. Beberapa pos pengeluaran yang tidak penting sulit dihapuskan, sementara analisis yang mendalam terhadap struktur, komponen, dan tingkat biaya yang secara akurat akan mengidentifikasi jumlah kebutuhan alokasi dana sesuai arah pembangunan tidak pernah dilakukan.

Akhirnya, kita tidak kenal disiplin anggaran yang merupakan kunci kesuksesan, pemborosan di tiap unit, pengeluaran yang tidak penting tetap dilakukan. Kita tidak kenal dengan konsep nilai uang. Ukuran kinerja pemerintah masih menitikberatkan target penyerapan, belum lagi kualitas pengeluaran dan belanja.


Beberapa Panglima sagoe (Bupati) pusing; anggaran defisit (negative budgetary slack), PAD terus-terusan direvisi dengan skenario paling optimis tanpa diimbangi dengan komitmen untuk memenuhi targetnya, berharap limpahan otsus yang hanya tinggal 17 tahun lagi. Pembangunan terserak, para elite dan wakil rakyat tercerai berai, hilang arah. Pengesahan anggaran terlambat dan deretan panjang persoalan yang melilit sebagai bukti bahwa pengelolaan keuangan publik kurang efektif jika tidak ingin dikatakan salah urus. Dana Otsus mendanai urusan cilet-cilet, remah-remah, printilan kecil, mungkin salah tafsir prinsip tentang “pemerataan” kue pembangunan.

Hingga akhir tahun 2011, sekitar Rp 12, 7 trilliun dana Otsus termasuk Bagi Hasil Migas telah dialokasikan, sekitar Rp 100 trilliun dana akan diguyur ke Aceh dalam waktu 20 tahun.

Wahai Tuan Para Panglima Perang, dan para wakil rakyat pemimpin kamoe, sekali lagi, persenjataan perang kita sudah lengkap, medan tempur sudah Anda hafal di luar kepala, tinggal strategi dan komitmen Anda untuk menang yang perlu kita mantapkan. Kita tidak bisa terus-terusan membuang amunisi, waktu berjalan 17 tahun lagi bukanlah waktu yang lama. Jika memang ingin menang, sekarang waktunya, now or never!

Tanpa strategi, tanpa data dan pisau analisis penganggaran, kita layaknya masih berperang dengan gerilya, hit and run tanpa sinkronisasi antarlini, tanpa disiplin anggaran dan konsistensi, bahkan cenderung politis pula. Jangan salahkan sejarah yang akan mencatat bahwa kita telah kalah perang, jika menang pun dalam waktu yang cukup lama.

Aceh memang sedang bergerak, lebih baik, tapi merangkak, beberapa indikator makro menunjukkan hal-hal positif bahkan lebih baik dari provinsi tetangga dan tingkat nasional. Hal ini patut kita acungi jempol. Tapi kita perlu kemenangan cepat (quick win) juga gilang gemilang. Tidak memerlukan ratusan tahun seperti perang Aceh, karena memang kita hanya punya 20 tahun amunisi dari limpahan Otsus.

Wahai Para panglima dan wakil rakyat; sebagai tanda puteh hate kamoe; kami ingin mengingatkan, “Sir, we are at war...” Tidak ada waktu untuk lalai, restorasi Aceh harus dimulai. Kami akan terus berperang dan kami ingin menang, karena janji Allah yang gagah akan surga dengan cara kami, seperti hikayat Prang Sabi.

Tajak prang meusoh beureuntoh dum sitre nabi
Yang meu ungkhi ke rabbi keu poe yang esa
Soe nyang hantem prang chit malang ceulaka tubuh rugoe roh
Syuruga tan roeh rugoe roh bala neuraka.

***
sumber: atjehcyber
*) Penulis berprofesi sebagai jurnalis dan  bekerja di Aceh

23.06 | Posted in , , , , | Read More »

PSAP : Antara Gengsi dan Prestasi


Melihat komposisi team PSAP musim ini yang akan tampil di ISL, saya yakin tidak akan terlalu rumit untuk seorang Arman dalam meracik team PSAP SIGLI, hal ini di perjelas dengan nyaris 80% Skuad psap musim lalu berhasil dipertahankan oleh Manajement PSAP. Dan kita patus disyukuri, ternyata mayoritas skuad musim lalu ini masih ingin bernostalgia dengan public kuta asan dan pastinya dengan keinginan prestasi yang lebih baik dari musim lalu atau paling buruk menyamai prestasi musil lalu. 

Mungkin paling jelek bisa lah masuk 10 besar untuk musim ini. Dengan pendanaan yang miris, manajement dihadapkan dengan kondisi yang tidak bisa lagi menyusui uang rakyat secara real kondisi. Manajement “dipaksa” untuk terus “menjual” nama besar PSAP SIGLI untuk Sponsorship di Aceh dan kota-kota besar di Indonesia yang pastinya ada putra Pidie yang jadi OKB (orang kaya baru) atau politisi yang mau menyumbang kan sedikit uangnya untuk membantu mendanai perjalanan psap musim ini di ISL. Namun semua itu dengan catatan Manajement kembali terbuka pelaporan keuangannya minimal kepada para donatur dan akan lebih baik jika adanya Audit Independent yang bisa mengaudit pelaporan keuangan PSAP ditiap musim, dan hal ini perlu dilakukan, demi kepercayaan para donator kepada manajement PSAP SIGLI.
Kembali kepermasalah skuad PSAP sigli, dengan akan tampilnya PSAP SIGLI dikancah ISL sebuah kompetisi kasta tertinggi sepakbola di Tanah Air berdasarkan KONGRES di BALI 2011. Manajement PSAP jangan menutup mata melihat kondisi team sekarang. Ingat kita tidak di Divisi Utama, kita sekarang di Kompetisi Profesional di Tanah air, terlihat Sombong?? Iya bagi masyarakat yang belum tau sejarah perjalanan PSAP dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, namun Tidak dan sudah pantas, jika masyarakat yang tau perjalanan PSAP dalam kurun waktu tersebut,
Ketua Harian TheLAN

Kembali kita di Musim 2007, dimana PSAP SIGLI saat itu berkompetisi di Divisi Satu (saat itu kasta ke dua), El Capiten Tarmizi Rasyid, George Massatu, Dahlan Jalil, Wanderson, Wagner, Alfredo, Sukman Suib, Helmi Daud, Hendra Saputra Cs… bahu membahu bersama sang Arsitek Anwar dan Asisten Arman meluluhlantakkan sejumlah prediksi dikalangan pesepakbola di Aceh khususnya, Indonesia pada umumnya dengan berhasil menguasai singgasana klasement Divisi Satu Wilayah barat, yang di  Match Day Akhir Musim kompetisi melawan PSLS LHokseumawe berhasil menhantam PSLS 2-1 dalam partai usiran di Kota Langsa. 

Sebelumnya bermain Imbang ketika bermain di Tunas Bangsa Stadium dan sempat ricuh hingga Pagar pembatas Stadion dan lapangan Roboh di Hantam oleh PAsukan Laskar Aneuk Nanggroe yang disebabkan oleh sang pengadil yang seharusnya Adil tidak bisa menjalankan Amanah My Game is Fair Play, sehingga wasit asal Idi tersebut menjadi Bulan-bulanan Pendukung PSAP SIGLI, hingga PP menunda dan memindahkan Pertandingan usiran ke Kota Langsa.. 

satu pertanyaan yang harus anda semua jawab adalah selain Para Pemain yang harus di Banggakan, siapa lagi yang pantas kita beri kredit tersendiri kalau Bukan Duet “AA” Anwar dan Arman yang berhasil mengorbitkan segelintir pemain entah berantah menjadi pemain yang menjadi incaran klub-klub besar di Tanah air. Yang patut di Garis bawahi adalah tahun 2007 merupakan tahun kebangkitan Pesepakbolaan di Kabupaten Pidie setelah sekian puluhan tahun lamanya nyaris tak terdengar eksistensinya. 

Namun seperti kebiasaan sepakbola di tanah air pada umumnya, baik pelatih maupun pemain akan berganti kostum di tiap musim dan hal ini turut di rasakan oleh PSAP Sigli, pergantian pelatih dan hengkangnya beberapa pemain inti, membuat PSAP seperti Kapal Pesiar yang tengah menikmati pelayaran yang indah tiba-tiba ditinggal sang Nahkoda ditengah terpaan angin dan badai. Sang Arsitek memutuskan pergi dan membesut team PSSB Bireun hingga pemain semacam Suryadi, Tarmizi, Suheri hendra, memutuskan ikut sang arsitek, Hanya Arman sang asisten yang memutuskan membesut skuad Pasukan Saree PSAB Aceh Besar. 

Dengan Kompetisi yangmenuju arah professional (sebagaimana arah putusan Kongres AFC) Liga Indonesia Wajib membuat kompetisi Profesional yang wajib di ikuti oleh 18 team saja. Saat itu PSAP kembali sial. Lolos ke Kasta Divisi Utama namun bukan menjadi kasta tertinggi lagi karena PT. Liga Indonesia telah menetapkan Kompetisi ISL menjadi kasta tertinggi. Jadilah PSAP kembali berkutat di Kompetisi di Kasta kedua di Tanah Air bernama Liga Indonesia DU alias Divisi Utama. 

Sedih? Jelas terbentang di hati para maniak bola di Kabupaten Pidie dan Masyarakat Pidie pada umumnya. Namun itulah sepakbola Indonesia yang penuh intrik dan politik.

Ketua Harian TheLAN bersama Bintang PSAP

Setelah, PSSB, PERSIRAJA, Anwar ditahun 2010 bersama Arman kembali Reuni untuk menjadi duet pelatih yang saat itu dianggap akan Gagal mengulangi kisah mereka ditahun 2007. Namun kenyataannya????
 Andi Darussalam Tabussala, Djoko Dryono sampai Nurdin Halid bertanya kepada salah satu pengurus PSLS,
Djoko: “dimana letak kabupaten Pidie?”
ADT: ”Luar Biasa Teamnya, siapa Arsiteknya sekarang, pasca Sofyan Hadi?”
NH: ”Animo pentonton di Pidie Luar biasa ya?? Selamat…”

3 Pentolan PSSI tersbut terbelanga melihat sepakterjang PSAP, banyak oknum di PSSI yang coba menciderai hingga perjalanan PSAP di Curangi ketika bermain di Kutai Kartanegara.  Sekarang Indonesia tau PSAP SIGLI adalah Bagian dari Sejarah Sepakbola Indonesia juga.

Dengan Dualisme Kompetisi sekrang dan PSAP memutuskan bermain di ISL bersama, 4 Team terbaik di 8 besar musim lalu. Gresik United, Persiram Raja Ampat dan PSMS Medan Versi Kolonel Idris.
Bukan mencari Keuntungan bermain di kompetisi kasta tertinggi, Namun PSAP memang Layak Berada di Sana sejak 4 tahun lalu, andai saja kompetisi tidak diubah semena-mena oleh PSSI.
Sekarang dalam tidak kurang dari seminggu kompetisi ISL ini, PSAP akan Menjamu Persisam Samarinda di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh, dikarenakan Stadion Kuta Asan dalam tahap Perbaikan.

PSAP akan coba melawan team mapan bertabur bintang dan uang. Dengan kondisi Arman yang belum memiliki Lisensi kepalatihan Level A. ada baiknya Manajement PSAP SIGLI membuang jauh Gengsi demi mengejar Prestasi. Rekrut Kembali Sang Arsitek Anwar yang telah memiliki Lisensi A (lisensi yang harus dimiliki Seorang Pelatih di ISL), karena untuk saat ini memang Duet “AA” yang pantas membesut sang Laskar Aneuk Nanggroe PSAP SIGLI dalam mengarungi kompetisi ISL yang sudah didepan mata. Jangan hancurkan harapan public sepakbola Pidie hanya karena idealism yang tak berujung..

Saleum Aneuk Nanggroe. dari Kamoe Sagoe Baroeh Kuta Asan.
 

07.28 | Posted in , , , , , | Read More »

PSAP : Antara Gengsi dan Prestasi


Melihat komposisi team PSAP musim ini yang akan tampil di ISL, saya yakin tidak akan terlalu rumit untuk seorang Arman dalam meracik team PSAP SIGLI, hal ini di perjelas dengan nyaris 80% Skuad psap musim lalu berhasil dipertahankan oleh Manajement PSAP. Dan kita patus disyukuri, ternyata mayoritas skuad musim lalu ini masih ingin bernostalgia dengan public kuta asan dan pastinya dengan keinginan prestasi yang lebih baik dari musim lalu atau paling buruk menyamai prestasi musil lalu. 

Mungkin paling jelek bisa lah masuk 10 besar untuk musim ini. Dengan pendanaan yang miris, manajement dihadapkan dengan kondisi yang tidak bisa lagi menyusui uang rakyat secara real kondisi. Manajement “dipaksa” untuk terus “menjual” nama besar PSAP SIGLI untuk Sponsorship di Aceh dan kota-kota besar di Indonesia yang pastinya ada putra Pidie yang jadi OKB (orang kaya baru) atau politisi yang mau menyumbang kan sedikit uangnya untuk membantu mendanai perjalanan psap musim ini di ISL. Namun semua itu dengan catatan Manajement kembali terbuka pelaporan keuangannya minimal kepada para donatur dan akan lebih baik jika adanya Audit Independent yang bisa mengaudit pelaporan keuangan PSAP ditiap musim, dan hal ini perlu dilakukan, demi kepercayaan para donator kepada manajement PSAP SIGLI.
Kembali kepermasalah skuad PSAP sigli, dengan akan tampilnya PSAP SIGLI dikancah ISL sebuah kompetisi kasta tertinggi sepakbola di Tanah Air berdasarkan KONGRES di BALI 2011. Manajement PSAP jangan menutup mata melihat kondisi team sekarang. Ingat kita tidak di Divisi Utama, kita sekarang di Kompetisi Profesional di Tanah air, terlihat Sombong?? Iya bagi masyarakat yang belum tau sejarah perjalanan PSAP dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, namun Tidak dan sudah pantas, jika masyarakat yang tau perjalanan PSAP dalam kurun waktu tersebut,
Ketua Harian TheLAN

Kembali kita di Musim 2007, dimana PSAP SIGLI saat itu berkompetisi di Divisi Satu (saat itu kasta ke dua), El Capiten Tarmizi Rasyid, George Massatu, Dahlan Jalil, Wanderson, Wagner, Alfredo, Sukman Suib, Helmi Daud, Hendra Saputra Cs… bahu membahu bersama sang Arsitek Anwar dan Asisten Arman meluluhlantakkan sejumlah prediksi dikalangan pesepakbola di Aceh khususnya, Indonesia pada umumnya dengan berhasil menguasai singgasana klasement Divisi Satu Wilayah barat, yang di  Match Day Akhir Musim kompetisi melawan PSLS LHokseumawe berhasil menhantam PSLS 2-1 dalam partai usiran di Kota Langsa. 

Sebelumnya bermain Imbang ketika bermain di Tunas Bangsa Stadium dan sempat ricuh hingga Pagar pembatas Stadion dan lapangan Roboh di Hantam oleh PAsukan Laskar Aneuk Nanggroe yang disebabkan oleh sang pengadil yang seharusnya Adil tidak bisa menjalankan Amanah My Game is Fair Play, sehingga wasit asal Idi tersebut menjadi Bulan-bulanan Pendukung PSAP SIGLI, hingga PP menunda dan memindahkan Pertandingan usiran ke Kota Langsa.. 

satu pertanyaan yang harus anda semua jawab adalah selain Para Pemain yang harus di Banggakan, siapa lagi yang pantas kita beri kredit tersendiri kalau Bukan Duet “AA” Anwar dan Arman yang berhasil mengorbitkan segelintir pemain entah berantah menjadi pemain yang menjadi incaran klub-klub besar di Tanah air. Yang patut di Garis bawahi adalah tahun 2007 merupakan tahun kebangkitan Pesepakbolaan di Kabupaten Pidie setelah sekian puluhan tahun lamanya nyaris tak terdengar eksistensinya. 

Namun seperti kebiasaan sepakbola di tanah air pada umumnya, baik pelatih maupun pemain akan berganti kostum di tiap musim dan hal ini turut di rasakan oleh PSAP Sigli, pergantian pelatih dan hengkangnya beberapa pemain inti, membuat PSAP seperti Kapal Pesiar yang tengah menikmati pelayaran yang indah tiba-tiba ditinggal sang Nahkoda ditengah terpaan angin dan badai. Sang Arsitek memutuskan pergi dan membesut team PSSB Bireun hingga pemain semacam Suryadi, Tarmizi, Suheri hendra, memutuskan ikut sang arsitek, Hanya Arman sang asisten yang memutuskan membesut skuad Pasukan Saree PSAB Aceh Besar. 

Dengan Kompetisi yangmenuju arah professional (sebagaimana arah putusan Kongres AFC) Liga Indonesia Wajib membuat kompetisi Profesional yang wajib di ikuti oleh 18 team saja. Saat itu PSAP kembali sial. Lolos ke Kasta Divisi Utama namun bukan menjadi kasta tertinggi lagi karena PT. Liga Indonesia telah menetapkan Kompetisi ISL menjadi kasta tertinggi. Jadilah PSAP kembali berkutat di Kompetisi di Kasta kedua di Tanah Air bernama Liga Indonesia DU alias Divisi Utama. 

Sedih? Jelas terbentang di hati para maniak bola di Kabupaten Pidie dan Masyarakat Pidie pada umumnya. Namun itulah sepakbola Indonesia yang penuh intrik dan politik.

Ketua Harian TheLAN bersama Bintang PSAP

Setelah, PSSB, PERSIRAJA, Anwar ditahun 2010 bersama Arman kembali Reuni untuk menjadi duet pelatih yang saat itu dianggap akan Gagal mengulangi kisah mereka ditahun 2007. Namun kenyataannya????
 Andi Darussalam Tabussala, Djoko Dryono sampai Nurdin Halid bertanya kepada salah satu pengurus PSLS,
Djoko: “dimana letak kabupaten Pidie?”
ADT: ”Luar Biasa Teamnya, siapa Arsiteknya sekarang, pasca Sofyan Hadi?”
NH: ”Animo pentonton di Pidie Luar biasa ya?? Selamat…”

3 Pentolan PSSI tersbut terbelanga melihat sepakterjang PSAP, banyak oknum di PSSI yang coba menciderai hingga perjalanan PSAP di Curangi ketika bermain di Kutai Kartanegara.  Sekarang Indonesia tau PSAP SIGLI adalah Bagian dari Sejarah Sepakbola Indonesia juga.

Dengan Dualisme Kompetisi sekrang dan PSAP memutuskan bermain di ISL bersama, 4 Team terbaik di 8 besar musim lalu. Gresik United, Persiram Raja Ampat dan PSMS Medan Versi Kolonel Idris.
Bukan mencari Keuntungan bermain di kompetisi kasta tertinggi, Namun PSAP memang Layak Berada di Sana sejak 4 tahun lalu, andai saja kompetisi tidak diubah semena-mena oleh PSSI.
Sekarang dalam tidak kurang dari seminggu kompetisi ISL ini, PSAP akan Menjamu Persisam Samarinda di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh, dikarenakan Stadion Kuta Asan dalam tahap Perbaikan.

PSAP akan coba melawan team mapan bertabur bintang dan uang. Dengan kondisi Arman yang belum memiliki Lisensi kepalatihan Level A. ada baiknya Manajement PSAP SIGLI membuang jauh Gengsi demi mengejar Prestasi. Rekrut Kembali Sang Arsitek Anwar yang telah memiliki Lisensi A (lisensi yang harus dimiliki Seorang Pelatih di ISL), karena untuk saat ini memang Duet “AA” yang pantas membesut sang Laskar Aneuk Nanggroe PSAP SIGLI dalam mengarungi kompetisi ISL yang sudah didepan mata. Jangan hancurkan harapan public sepakbola Pidie hanya karena idealism yang tak berujung..

Saleum Aneuk Nanggroe. dari Kamoe Sagoe Baroeh Kuta Asan.
 

07.28 | Posted in , , , , , | Read More »

Fenomena Peralihan Waktu Shalat dan Warna Alam

Setiap peralihan waktu solat sebenarnya menunjukkan perubahan tenaga alam. Ini bisa diukur dan diperhatikan melalui perubahan warna alam. Fenomena perubahan warna alam adalah sesuatu yang tidak asing bagi mereka yang terlibat dalam bidang fotografi.

Subuh,
alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisme tubuh. Jadi warna biru muda atau waktu Subuh mempunyai rahasia yang berkaitan dengan rezeki dan komunikasi.

Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, maka lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki. Ini karena tenaga alam yaitu biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang hanya berfungsi dalam keadaan roh dan jasad bersatu (keserentakan ruang dan waktu) – dalam arti kata lain terjaga dari tidur. Disini juga dapat kita ambil rahasia diperintahkan solat diawal waktu. Bermulanya saja azan Subuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum. Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonan pada waktu rukuk dan sujud. Jadi mereka yang terlewat Subuhnya sebenarnya sudah tidak mendapatkan tenaga yang optimum lagi.

Zhuhur,
Warna alam selanjutnya berubah ke warna hijau (isyraq & dhuha) dan kemudian warna kuning menandakan masuknya waktu Zuhur. Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem pencernaan. Warna kuning ini mempunyai rahasia yang berkaitan dengan keceriaan. Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang-ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya. Orang yang tengah sakit perut ceria tidak?

Ashar,
Kemudian warna alam akan berubah kepada warna oren, yaitu masuknya waktu Ashar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis yang merangkumi sistem reproduksi. Rahasia warna oren adalah kreativitas. Orang yang kerap tertinggal Ahsar akan hilang daya kreativitasnya dan lebih rugi lagi kalau di waktu Ashar ini jasad dan roh seseorang ini terpisah (tidur). Dan jangan lupa, tenaga pada waktu Ashar ini sangat diperlukan bagi organ- organ reproduksi kita.

Maghrib,
Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita sering dinasehati oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Ini karena spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra- red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini sangat bertenaga karena mereka beresonansi dengan alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan juga sebaiknya berhenti dahulu pada waktu ini (sholat Maghrib dulu lah..) karena banyak interferens terjadi pada waktu ini yang dapat mengelirukan mata kita. Rahasia waktu Maghrib atau warna merah adalah keyakinan, pada frekuensi otot, saraf dan tulang.

Isya,
Apabila masuk waktu Isya alam berubah ke warna Indigo dan selanjutnya memasuki fase Kegelapan. Waktu Isya ini menyimpan rahasia ketenteraman dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak. Mereka yang sering ketinggalan Isyanya akan selalu berada dalam kegelisahan. Pada waktu ini alam berada dalam Kegelapan dan sebenarnya, inilah waktu tidur dalam Islam. Tidur pada waktu ini disebut tidur delta dimana keseluruhan sistem tubuh berada dalam keadaan istirahat. 
Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu dan selanjutnya ungu di mana ini bersamaan dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus. Tubuh seharusnya bangun kembali pada waktu ini dan dalam Islam waktu ini dipanggil Qiamullail.

semoga bermanfaat.. :D
 

19.27 | Posted in , , , , | Read More »

Fenomena Peralihan Waktu Shalat dan Warna Alam

Setiap peralihan waktu solat sebenarnya menunjukkan perubahan tenaga alam. Ini bisa diukur dan diperhatikan melalui perubahan warna alam. Fenomena perubahan warna alam adalah sesuatu yang tidak asing bagi mereka yang terlibat dalam bidang fotografi.

Subuh,
alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisme tubuh. Jadi warna biru muda atau waktu Subuh mempunyai rahasia yang berkaitan dengan rezeki dan komunikasi.

Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, maka lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki. Ini karena tenaga alam yaitu biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang hanya berfungsi dalam keadaan roh dan jasad bersatu (keserentakan ruang dan waktu) – dalam arti kata lain terjaga dari tidur. Disini juga dapat kita ambil rahasia diperintahkan solat diawal waktu. Bermulanya saja azan Subuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum. Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonan pada waktu rukuk dan sujud. Jadi mereka yang terlewat Subuhnya sebenarnya sudah tidak mendapatkan tenaga yang optimum lagi.

Zhuhur,
Warna alam selanjutnya berubah ke warna hijau (isyraq & dhuha) dan kemudian warna kuning menandakan masuknya waktu Zuhur. Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem pencernaan. Warna kuning ini mempunyai rahasia yang berkaitan dengan keceriaan. Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang-ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya. Orang yang tengah sakit perut ceria tidak?

Ashar,
Kemudian warna alam akan berubah kepada warna oren, yaitu masuknya waktu Ashar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis yang merangkumi sistem reproduksi. Rahasia warna oren adalah kreativitas. Orang yang kerap tertinggal Ahsar akan hilang daya kreativitasnya dan lebih rugi lagi kalau di waktu Ashar ini jasad dan roh seseorang ini terpisah (tidur). Dan jangan lupa, tenaga pada waktu Ashar ini sangat diperlukan bagi organ- organ reproduksi kita.

Maghrib,
Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita sering dinasehati oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah. Ini karena spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra- red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini sangat bertenaga karena mereka beresonansi dengan alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan juga sebaiknya berhenti dahulu pada waktu ini (sholat Maghrib dulu lah..) karena banyak interferens terjadi pada waktu ini yang dapat mengelirukan mata kita. Rahasia waktu Maghrib atau warna merah adalah keyakinan, pada frekuensi otot, saraf dan tulang.

Isya,
Apabila masuk waktu Isya alam berubah ke warna Indigo dan selanjutnya memasuki fase Kegelapan. Waktu Isya ini menyimpan rahasia ketenteraman dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak. Mereka yang sering ketinggalan Isyanya akan selalu berada dalam kegelisahan. Pada waktu ini alam berada dalam Kegelapan dan sebenarnya, inilah waktu tidur dalam Islam. Tidur pada waktu ini disebut tidur delta dimana keseluruhan sistem tubuh berada dalam keadaan istirahat. 
Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu dan selanjutnya ungu di mana ini bersamaan dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus. Tubuh seharusnya bangun kembali pada waktu ini dan dalam Islam waktu ini dipanggil Qiamullail.

semoga bermanfaat.. :D
 

19.27 | Posted in , , , , | Read More »

Melacak Jejak Nilai Demokrasi Dalam Islam

Oleh : Farhan Kurniawan*
Islam dan Demokrasi

Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani “demos” (rakyat) dan “kratos” (kekuasaan). Aristoteles dalam bukunya “Organon” bab “Retorika” ketika menyandingkan bentuk-bentuk pemerintahan dalam: Demokrasi, Oligarki, Aristokrasi, dan Monarki mendefinisikan pemerintahan demokrasi sebagai “jika kekuasaan dalam pemerintahan itu dibagi-bagi menurut pemilihan atau kesepakatan”.

Ibn Rusyd (Averroes) seorang filosof muslim Andalusia termasyur sekaligus pensyarah buku-buku Aristoletes menerjemahkan demokrasi dengan “politik kolektif” (as siyasah al jama’iyah).
Sedang dalam ilmu sosiologi, demokrasi adalah sikap hidup yang berpijak pada sikap egaliter (mengakui persamaan derajat) dan kebebasan berpikir.

Meski demokrasi merupakan kata kuno, namun demokrasi moderen merupakan istilah yang mengacu pada eksperimen orang-orang Barat dalam bernegara sebelum abad XX.

Orang-orang Islam mengenal kata demokrasi sejak jaman transliterasi buku-buku Yunani pada jaman Abbasiyah. Selanjutnya kata itu menjadi bahasan pokok para filosof muslim jaman pertengahan seperti Ibnu Sina (Avicenna), dan Ibn Rusyd ketika membahas karya-karya Aristoteles.

Istilah demokrasi dalam sejarah Islam tetaplah asing, karena sistem demokrasi tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin sejak awal. Orang-orang Islam hanya mengenal kebebasan (al hurriyah) yang merupakan pilar utama demokrasi yang diwarisi semenjak jaman Nabi Muhammad (Saw.), termasuk di dalamnya kebebasan memilih pemimpin, mengelola negara secara bersama-sama (syuro), kebebasan mengkritik penguasa, kebebasan berpendapat.

Sikap bebas dan demokratis merupakan ciri kehidupan yang hilang dari tengan-tengah sebagian besar ummat Islam pada saat ini, baik dalam bermasyarakat maupun bernegara.

Nabi Muhammad (Saw.) dan Sikap Demokratis.

Buku-buku sejarah mencatat bahwa di luar otoritas keagamaan yang menjadi tugas utamanya, Nabi Muhammad (Saw.) merupakan tokoh yang demokratis dalam berbagai hal. Bahkan ketika terjadi kasus-kasus yang tidak mempunyai sandaran keagamaan (wahyu) beliau bersikap demokratis dengan mengadopsi pendapat para sahabatnya, hingga memperoleh arahan ketetapan dari Allah.
Sikap demokratis Nabi Muhammad (Saw.) ini barangkali merupakan sikap demokratis pertama di Semenanjung Arabia, di tengah-tengah masyarakat padang pasir yang paternalistik, masih menjunjung tinggi status-status sosial klan, dan non-egaliter.

Beberapa contoh yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad (Saw.) merupakan seorang demokrat adalah:
Ketika Nabi Muhammad (Saw.) diminta suku-suku Arab menjadi penguasa sipil (non-agama) di luar status beliau sebagai pemegang otoritas agama, beliau mengambil pernyataan setia orang-orang yang ingin tunduk dalam kekuasaan beliau sebagai tekhnik memperoleh legitimasi kekuasaan. Pernyataan setia ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai “Bai’at Aqabah I & II”. Dari titik ini para ulama Islam sejak dulu menegaskan bahwa kekuasaan pada asalnya di tangan rakyat, karena itu kekuasaan tidak boleh dipaksakan tanpa ada kerelaan dari hati rakyat. Pernyataan kerelaan itu dinyatakan dalam bentuk “pernyataan setia” atau bai’at.

Berdasarkan prinsip ini maka ajaran Islam menolak kudeta atau merebut kekuasaan secara inkonstitusional, karena kudeta merupakan bentuk pernyataan sepihak sebagai penguasa. Sedangkan legitimasi kekuasaan harus diperoleh dari rakyat secara sukarela tanpa ada paksaan apapun.

Setelah Nabi Muhammad (Saw.) bermigrasi ke Madinah, beliau mengangkat budak kulit hitam Ethiopia yang bernama Bilal menjadi pengumandang panggilan shalat (azan). Posisi ini merupakan sebuah kedudukan prestisius bagi seorang budak kulit hitam dalam belantara kabilah-kabilah Arab yang terhormat.

Ketika beliau membentuk negara pertama kali dalam Islam, yaitu negara Madinah yang multi agama. Beliau tidak menggunakan Al Quran sebagai konstitusi negara Madinah. Karena Al Quran hanya berlaku bagi orang-orang yang mempercayainya, yaitu kaum muslimin. Beliau menyusun “Piagam Madinah” berdasarkan kesepakatan dengan orang-orang Yahudi sebagai konstitusi negara Madinah. Pada masa negara Madinah ini pula beliau mengenalkan konsep “bangsa” (al ummah) sebagai satu kesatuan warga negara Madinah tanpa membedakan asal-usul suku.

Nabi Muhammad (Saw.) mendirikan negara Madinah ini berdasarkan kontrak sosial (al ‘aqd al ijtima’i) antara kaum muslimin dengan kaum Yahudi, Kristen, dan kaum Arab pagan yang berdiam di Madinah. Piagam Madinah berisi prinsip-prinsip interaksi yang baik antarpemeluk agama; saling membantu menghadapi musuh yang menyerang negara Madinah, menegakkan keadilan dan membela orang yang teraniaya, saling menasehati, dan menghormati kebebasan beragama.
Sewaktu Perang Badar, perang pertama kali dalam sejarah Islam antara kaum muslimin dengan orang-orang Arab pagan, Nabi Muhammad (Saw.) menanggalkan pendapatnya dan mengambil pendapat sahabatnya dalam menyusun strategi perang yang jitu.

Perjalanan Demokrasi dalam Masyarakat Islam Pasca Nabi Muhammad (Saw.).

Sepeninggal Nabi Muhammad (Saw.) nilai-nilai demokratis yang beliau ajarkan mulai pudar. Hal ini terjadi akibat pertentangan dan persaingan kekuasaan yang menghebat.

Pada peralihan kekuasaan setelah wafatnya beliau ke tangan penggantinya Abu Bakar proses demokrasi dapat berjalan baik meski agak alot. Karena setiap kabilah Arab merasa berhak memegang tampuk kepemimpinan. Di balai pertemuan Bani Saadah di Madinah, Abu Bakar terpilih dengan dukungan mayoritas melalui bai’at atas kepemimpinannya.

Berdasarkan pengalaman peralihan kekuasaan pada masanya yang alot, maka Abu Bakar menunjuk penggantinya secara langsung sebelum ia wafat untuk memegang tampuk khalifah.

Abu Bakar digantikan Umar bin Khattab. Takut terjadi kericuhan dan kealotan dalam peralihan kekuasaan selanjutnya, Umar menunjuk enam orang untuk bermusyawarah menetapkan penggantinya. Pergantian kekuasaan setelah Umar berjalan lancar, dan terpilihlah Utsman bin Affan, meski ada rasa ketidakpuasan di antara orang-orang yang ditunjuk hingga menimbulkan friksi-friksi tajam.

Setelah Utsman terbunuh akibat ketidakpuasan daerah-daerah, peralihan kekuasaan menjadi semakin berdarah-darah. Pemilihan penggantinya Ali bin Abi Talib jauh dari tata cara yang sempurna.
Pada masa ini, sikap politik ummat Islam terbagi menjadi empat. Dua kekuatan besar menjadi mainstream yaitu: pendukung Ali dan pendukung khalifah terbunuh Utsman bin Affan yang diwakili oleh Muawiyah bin Abi Sufyan.
Pandangan politik pendukung Ali selanjutnya terlembaga menjadi sebuah ideologi dan sekte agama, yaitu Syi’ah.

Kelompok ketiga adalah orang-orang yang anti kelompok pertama dan kedua, kelompok ini menamakan diri Khawarij. Khawarij berusaha melakukan pembunuhan politik terhadap tokoh-tokoh kelompok pertama dan kedua, karena beranggapan bahwa mereka adalah biang keladi perpecahan ummat. Selanjutnya kelompok keempat adalah orang-orang yang tidak mengambil peran dalam konflik politik ini. Mereka menghindar sambil menyerahkan permasalahan ini kepada Allah untuk diselesaikan pada Hari Pembalasan, kelompok ini bernama Murji’ah.

Munculnya empat golongan ini terjadi pada akhir masa kekuasaan para sahabat dekat Nabi Muhammad (Saw.). Dalam sejarah Islam pemerintahan empat sahabat dekat beliau merupakan rujukan kedua, sebagai bentuk pemerintahan ideal pasca pemerintahan Nabi Muhammad (Saw.).

Hilangnya Sikap Demokratis dari Masyarakat Islam.

Kebebasan dan sikap demokratis mulai hilang dalam Islam seiring dengan berakhirnya kekuasaan khalifah keempat, Ali bin Abi Talib.

Setelah Ali terbunuh, pengikutnya membai’at anaknya Al Hasan bin Ali sebagai khalifah. Al Hasan bukanlah seorang kuat disamping ia selalu menghindar dari konfrontasi politik. Dengan alasan demi persatuan ummat Islam, maka ia menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, lawan politik Ali yang juga keluarga dekat Utsman.

Ketika Muawiyah berkuasa inilah kebebasan dan sikap demokratis yang diajarkan Nabi Muhammad (Saw.) mulai terpasung. Dengan menggunakan jargon-jargon agama yang totalistik (al jabariyah) dan ketajaman pedang, Muawiyah berusaha memperoleh legitimasi kekuasaan dari rakyat dan mempertahankannya. Muawiyah selalu mengatakan bahwa kekuasaannya merupakan kehendak Tuhan, karena itu tak ada seorang pun yang boleh mengambilnya.

Pada masa Muawiyah pula terjadi pewarisan kekuasaan pertama dalam sejarah Islam. Muawiyah telah mengubah sistem pemerintahan Islam dari demokrasi (pemerintahan yang dikelola bersama-sama dengan sistem syuro/musyawarah) menjadi monarkhi. Kekuasaan Muawiyah ini dikenal dengan “Dinasti Bani Umaiyah”, dan ia memindahkan ibukota Islam dari Kufah di Irak ke Damaskus, Syiria.

Pada masa Muawiyah dan keturunannya penindasan kejam terhadap kelompok oposisi dimulai, khususnya terhadap para pendukung keluarga Ali. Tindakan represif Bani Umaiyah ini belum pernah terjadi dalam sejarah Islam sebelumnya.

Ketika Dinasti Umaiyah runtuh dan digantikan dengan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, balas dendam politik terhadap para pembantai keluarga Ali tak terelakkan. Begitulah seterusnya, setiap penguasa muslim menggunakan agama untuk mengekalkan kekuasaannya dan membuang jauh-jauh kehendak rakyat. Dan hampir setiap pergantian kekuasaan selalu disertai pertumpahan darah.

Penguasa Mamalik di Mesir bahkan menggunakan militer untuk memisahkan kekuasaan dengan rakyat, sehingga rakyat tidak dapat berhubungan langsung dengan penguasa. Politik Mamalik ini mirip dengan apa yang dilakukan Orde baru di Indonesia, menggunakan militer untuk melindungi kekuasaan dan menyekat kekuasaan dari rakyat. Begitu pula pada jaman Ottoman, institusi khilafah yang agung dan demokratis hanya berupa nama. Para khalifah Ottoman merupakan raja-raja yang tidak memperoleh legitimasi kekuasaan dari rakyat.

Semenjak jaman Muawiyah ummat Islam tidak pernah menikmati kebebasan dan demokrasi dalam kehidupan nyata. Kebebasan dan demokrasi hanya ada dalam teks-teks suci. Para penguasa muslim yang despotis berkuasa tanpa legitimasi rakyat dan selalu memerangi kehendak mereka.

Dalam suasana despotis dan penuh ketakutan semacam ini maka teori-teori politik tidak pernah berkembang baik dalam Islam, akibat kondisi yang tidak mendukung. Oleh sebab itu kita tidak banyak menjumpai literatur Islam yang membahas tentang politik dan tata negara (fikih as siyasah), dibanding dengan buku-buku yang berbicara tentang ibadat (fikih al ibadah), konsep pembersihan hati (tasawuf), ilmu tauhid (ilmu kalam).

Sebab-Sebab Hilangnya Demokrasi dari Masyarakat Islam.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab hilangnya kebebasan dan demokrasi dari masyarakat Islam.

Faktor pertama adalah kekejaman para penguasa muslim pada masa lalu. Sikap despotis ini telah membentuk sebuah masyarakat yang miskin tata negara. Karena para ilmuwan muslim tidak banyak menulis perihal sistem pemerintahan dan pembagian kekuasaan ideal, akibat kerasnya tekanan penguasa.

Faktor kedua adalah hilangnya sistem konstitusi sebagai tempat berpijak bagi kehidupan bernegara. Tradisi membangun konstitusi sebenarnya telah diajarkan oleh Nabi Muhammad (Saw.) tatkala membangun negara Madinah. Konstitusi negara Madinah bernama “Piagam Madinah” (Watsiqah Al Madinah) hingga kini masih dapat dijumpai dalam literatur Islam. Namun entah mengapa tradisi berkonstitusi pada praktek kenegaraan kaum muslimin selanjutnya hilang. Hilangnya tradisi konstitusi ini berdampak pada hilangnya demokrasi dan timbulnya pertumpahan darah yang runyam pada setiap kali peralihan kekuasaan.

Faktor ketiga adalah pengekangan kebebasan yang merupakan pilar utama demokrasi. Setiap penguasa Islam pada masa lalu (hingga saat ini) memilih mazhab atau aliran agama tertentu sebagai aliran resmi negara dengan menyingkirkan aliran-aliran lain. Sebagaimana pada beberapa kurun Dinasti Abbasiyah yang bermazhab Mu’tazilah (rasionalis). Pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir bermazhab Syi’ah. Begitu pula dengan kondisi negara-negara Islam moderen, seperti Kerajaan Arab Saudi dan Iran.

Pengekangan kebebasan ini pada satu sisi untuk memperoleh dukungan dan legimitasi dalam rangka memperkuat kekuasaan. Namun di sisi lain, keberpihakan ini merupakan pemberangusan kebebasan yang merupakan dasar demokrasi. Penerimaan ataupun penolakan sebuah aliran keagamaan dalam tradisi asli Islam bukanlah dengan menggunakan kekuasaan dan politik, melainkan melalui tradisi keilmuan dalam bentuk dialog, debat, dan retorika dengan dalil-dalil ilmiah yang meyakinkan.

Faktor terakhir adalah sikap beragama yang menyimpang di kalangan kaum muslimin. Sikap beragama yang menyimpang ini pada akhirnya menimbulkan ekstrimitas; ekstrim dalam berinteraksi dengan keduniaan dan esktrim tidak peduli dengan urusan keduniaan.

Sikap ekstrem pertama menumbuhkan despotisme jika berkuasa, dan sikap ekstrem kedua tidak peduli dunia. Kedua sikap ini kontraproduktif, karena Nabi Muhammad (Saw.) mengajarkan keseimbangan hidup antara urusan dunia dan akhirat. (FK).

——————————————————————————————————
* Mahasiswa fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar Kairo, jurusan Akidah & Filsafat.

07.25 | Posted in , , , , | Read More »

Blog Archive

Labels