[Kisah] Saat Pegawai Keuangan Melawan Korupsi

Disaat Korupsi di bangsa ini seolah menjadi budaya, saat lembaga yang seharusnya sibuk memberantas korupsi malahan sibuk dengan membuat sensasi di media. Mau tidak mau dari diri kita sendiri harus berazam untuk tidak menjadi bagian dari para Koruptor, berat memang apalagi jika kita berada dalam sistem. Kisah berikut semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita, bahwa korupsi tetap harus dilawan dan bisa dilawan. 

Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.

Saya Arif Sarjono, lahir di
Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.

Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.


Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.


Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang.
Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bisa memahami.

Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti ini seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.


Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti
sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat
rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan
klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat ingin semua sepakat dan sama seperti mereka.  Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, “Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik.” Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.” Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap. 

Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.
Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.
Ia lalu mengatakan, “Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,” katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplop itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi.
Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, “Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian.” Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.

Saya mau bicara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahu a’lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.

Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, “Kenapa tidak bilang-bilang?” Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.

Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa.

Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, “Uang setan ya dimakan hantu.”
Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.

Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum’at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum’atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga.
Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur’an. Tetapi mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN.
Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.

Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca). (JalanPanjang)

07.38 | Posted in , , , | Read More »

[Kisah] Saat Pegawai Keuangan Melawan Korupsi

Disaat Korupsi di bangsa ini seolah menjadi budaya, saat lembaga yang seharusnya sibuk memberantas korupsi malahan sibuk dengan membuat sensasi di media. Mau tidak mau dari diri kita sendiri harus berazam untuk tidak menjadi bagian dari para Koruptor, berat memang apalagi jika kita berada dalam sistem. Kisah berikut semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita, bahwa korupsi tetap harus dilawan dan bisa dilawan. 

Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.

Saya Arif Sarjono, lahir di
Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.

Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.


Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.


Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang.
Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bisa memahami.

Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti ini seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.


Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti
sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat
rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan
klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat ingin semua sepakat dan sama seperti mereka.  Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, “Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik.” Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.” Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap. 

Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.
Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.
Ia lalu mengatakan, “Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,” katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplop itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi.
Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, “Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian.” Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.

Saya mau bicara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahu a’lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.

Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, “Kenapa tidak bilang-bilang?” Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.

Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa.

Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, “Uang setan ya dimakan hantu.”
Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.

Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum’at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum’atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga.
Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur’an. Tetapi mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN.
Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.

Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca). (JalanPanjang)

07.38 | Posted in , , , | Read More »

Andaikata Rasulullah Menjadi Tamu Kita

Bayangkan apabila Rasulullah dengan seijin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita, Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu tersenyum........

Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam.

Beliau tentu tetap tersenyum........

Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa.
Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu.

Beliau tentu tersenyum.......

Bagaimana bila kemudian Rasulullah bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita teringat bahwa kita lebih hapal lagu-lagu barat daripada menghapal Shalawat kepada Rasulullah SAW.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mempelajarinya.

Beliau tentu tersenyum........

Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hapal di luar kepala mengenai anggota Indonesian Idols atau AFI.
Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang shalat. Atau barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah.

Beliau tentu tersenyum........

Belum lagi koleksi buku-buku kita. Belum lagi koleksi kaset kita. Belum lagi koleksi karaoke kita. Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita?
Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun adzan berbunyi.

Beliau tentu tersenyum........

Barangkali kita menjadi malu karena pada saat Maghrib keluarga kita malah sibuk di depan TV.
Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan shalat sunnah.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca Al-Qur'an.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita.

Beliau tentu tersenyum.......

Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah bertanya tentang nama dan alamat tukang penjaga masjid di kampung kita.

Betapa senyum beliau masih ada di situ........

Bayangkan apabila Rasulullah tiba-tiba muncul di depan rumah kita. Apa yang akan kita lakukan? Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita?

Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.

Maafkan kami ya Rasulullah.........

Masihkah beliau tersenyum?

Senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir........

Oh betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah........

Pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup merupakan suatu kombinasi kebahagiaan.

Jangan jadikan Penghalang sebagai hambatan, tetapi jadikan sebagai pendorong aktifitas.

Siapa yang mendiamkan saja kejahatan merajalela, dia itu membantu kejahatan!

Sehalus-halusnya musibah adalah ketika kedekatan kita denganNya perlahan-lahan terenggut dan itu biasanya ditandai dengan menurunnya kualitas ibadah.
sumber: dudung.net 

07.16 | Posted in | Read More »

Andaikata Rasulullah Menjadi Tamu Kita

Bayangkan apabila Rasulullah dengan seijin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita, Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu tersenyum........

Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam.

Beliau tentu tetap tersenyum........

Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa.
Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu.

Beliau tentu tersenyum.......

Bagaimana bila kemudian Rasulullah bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita teringat bahwa kita lebih hapal lagu-lagu barat daripada menghapal Shalawat kepada Rasulullah SAW.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mempelajarinya.

Beliau tentu tersenyum........

Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hapal di luar kepala mengenai anggota Indonesian Idols atau AFI.
Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang shalat. Atau barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah.

Beliau tentu tersenyum........

Belum lagi koleksi buku-buku kita. Belum lagi koleksi kaset kita. Belum lagi koleksi karaoke kita. Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita?
Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun adzan berbunyi.

Beliau tentu tersenyum........

Barangkali kita menjadi malu karena pada saat Maghrib keluarga kita malah sibuk di depan TV.
Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan shalat sunnah.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca Al-Qur'an.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita.

Beliau tentu tersenyum.......

Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah bertanya tentang nama dan alamat tukang penjaga masjid di kampung kita.

Betapa senyum beliau masih ada di situ........

Bayangkan apabila Rasulullah tiba-tiba muncul di depan rumah kita. Apa yang akan kita lakukan? Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita?

Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.

Maafkan kami ya Rasulullah.........

Masihkah beliau tersenyum?

Senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir........

Oh betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah........

Pikiran yang terbuka dan mulut yang tertutup merupakan suatu kombinasi kebahagiaan.

Jangan jadikan Penghalang sebagai hambatan, tetapi jadikan sebagai pendorong aktifitas.

Siapa yang mendiamkan saja kejahatan merajalela, dia itu membantu kejahatan!

Sehalus-halusnya musibah adalah ketika kedekatan kita denganNya perlahan-lahan terenggut dan itu biasanya ditandai dengan menurunnya kualitas ibadah.
sumber: dudung.net 

07.16 | Posted in | Read More »

[Kisah] Andai Dia Jadi Istriku

Sabtu pagi yang cerah, tidak secerah hatiku. Sudah beberapa bulan ini hanya bisa mondar-mandir dirumah, tidak ada aktifitas yang dapat kulakukan. Walaupun keluar hanya melaksanakan Sholat lima waktu yang terkadang dikerjakan dirumah.  Gelar sarjana yang kumiliki hanya terpajang dalam sebuah transkip nilai IPK (Indeks Prestasi Komulatif) di kamar yang berantakan, tak pernah kurapikan.

Foto saat wisuda nampak tersenyum, senyuman sekaligus menertawai kepada seorang sarjana yang masih menganggur. Bukannya tidak mau bekerja, aku berusaha mencari pekerjaan, akan tetapi perusahaan-perusahaan itu tidak mau menerimaku sebagai karyawan. Jadi, sehari-hari hanya didepan komputer merangkai kata bak seorang pujangga, menulis bait syair atau novel picisan yang membuat melotot anak remaja.

Pagi tadi ibu berteriak menggetarkan seluruh alam. Menulis sejuta kata dalam kekesalan. Menagih janji yang tak kunjung tiba. Pedas kata ibu mengiris hati.
"Ade...!! Empat tahun kamu kuliah, berapa juta yang kau habiskan??, Tapi kamu hanya bisa ber-tapa dikamar yang bau apek!! Sarjana macam apa kamu, hah!! Kerjanya melototi komputer setiap jam, setiap hari..., bukannya cari kerja. Bukannya cari duit. Mau jadi apa kamu nanti, hah!!"

Sakit hati ini..., rasa sakit bukan karena marah sama ibu, tapi menangis karena keadaan yang melambungkan kemiskinan dan pengangguran.
Akhirnya, sebelum Dzuhur aku mengemasi semua peralatan, memasukkan setumpuk map berisi biodata dan setumpuk lembaran cerpen plus novel yang telah rapi kususun kedalam tas yang menemani sejak kuliah dulu. Entah mau kemana, yang pasti diluar sana mudah-mudahan Allah memberikan rizkinya.

Bis Patas AC EKA dengan tujuan jakarta menghampiriku yang memang sedari tadi menunggu. Tidak biasanya, bis hari ini sepi dan nyaman. Aku duduk dibarisan tengah yang dua bangkunya masih kosong, sengaja aku duduk disitu karena ingin merasakan kenyamanan dan menghilangkan kepenatan di rumah. Bis melaju menyusuri jalanan yang berdebu, menyalip angkot-angkot yang tak berdaya melawan gagahnya sang bis. Diluar kulihat rumah-rumah dan toko-toko bertingkat berjejer disepanjang jalan, mengganti lahan padi menjadi bangunan yang angkuh dan sombong.

Tak lama bis kurasa berhenti, tak tahu sedang menurunkan atau menaikkan penumpang, yang jelas sedetik setelah bis melaju kembali, sesosok wanita dengan enaknya duduk disampingku, seorang wanita dengan jilbab lebar berwarna putih dengan pakaian yang berwarna biru muda. Aku tak peduli, yang ada hanya kekaguman melihat gunung salak jauh disana,  terlihat samar-samar berwarna kebiru-biruan.

Sejenak aku diam. Wanita disampingku menggerakkan tangannya, nampak sebuah buku yang dikeluarkannya, kuperhatikan ternyata sebuah buku berwarna Pink.
"Pasti tentang cinta." sedetik aku berpikir. Benar dugaanku, sebuah buku berjudul: Aku mencintaimu, Akhi. Jadikan aku istrimu.
"Cinta lagi..., cinta lagi..., Wah!! apa dunia ini tak pernah bosan-bosannya dengan cinta? Apa Allah menciptakan manusia hanya karena cinta?"  ucapku dalam hati. Membayangkan kisah cinta yang selalu menemani setiap jiwa manusia. Hmm, sebenarnya aku juga akan selalu merindukan cinta.

Aku menghempaskan pandangan, kembali ke jendela menyaksikan berjuta manusia bertarung dalam riuhnya suasana, manusia yang bertarung demi sesuap nasi. Mendadak mataku terasa perih, dengan refleks membuang muka tepat kearah wanita tadi. Subhanallah, ternyata wajah wanita itu sangat cantik. Ayu manis. Matanya sayu-bening, dagunya indah, bibir tipis merah-jambu, disempurnakan dengan hidungnya yang aduhai. Hatiku berdegup kencang, meletup-letup membangunkan syaraf kedewasaaan.

Aaakhh..., wajahnya tenang penuh kesejukan. Bersih bersinar bak rembulan yang tidak malu menampakkan keindahannya.
"Kenapa aku baru melihatnya. Kenapa baru sekarang menyadari seorang bidadari duduk disampingku." pikiran terus menyesali keterlambatanku. Semua kepenatan masalah dirumah seketika lenyap, terbius oleh sosok bidadari cantik yang duduk disampingku.
Jari-jari lentiknya membuka halaman demi halaman buku yang sedari tadi dibacanya dengan penuh takzim dan penghayatan. Aku mencintaimu, akhi!!, jadikan aku istrimu.

Tanpa sadar dia melirikku, aaakhh..., indah sekali. Bola matanya memancarkan kesholehan yang tersimpan di sela-sela warna biru. Dia tersenyum. Memamerkan bibir tipisnya yang sungguh menggoda, andai saja dia jadi istriku tak akan kulepas bibir indahnya itu. Kedua pipinya bersih, lesung pipit semakin menggoda para lelaki yang sedang dirundung kesepian. Aaakhh..., jiwaku bergetar. Tak kuasa terus menatap wajahnya yang terlukis indah. Aku palingkan muka, kembali menatap keluar, namun wajah wanita itu masih berkelebatan. Aaakhh..., andai saja wanita ini menjadi istriku tak akan henti kucumbu-bermesra dengannya. Aku tetap menatap keluar sana, membayangkan indahnya bersama permaisuri cantik, bermimpi dalam indahnya sang bidadari.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sesaat kemudian wanita itu menyapa. Tadinya aku tidak percaya, apa urusan dia denganku?
"Assalamu'alaikum. Mas...?" suaranya begitu merdu, merembes keseluruh kujur tubuh. Membasahi jiwa yang kering.
"Wa'alaikum salam. Ada yang bisa saya bantu mbak'??" akhirnya aku menjawab dengan tak kalah sopannya. Duh... mawar mewangi....! Betapa cantik wanita ini, senyumnya menebar aroma kesturi yang merangsang keorgan yang paling dalam. Saking terlenanya, aku tak kuasa menahan pandangan. Menyusuri semua bagian wajahnya yang ayu.
"Maaf mas, Masjid raya masih jauh ya??" tanya dia. Masih jelas menatapku dengan kebeningan matanya semakin menggoda khayalku.
"Masjid raya? Owh..., dekat. Sebentar lagi, kebetulan saya juga mau mampir dulu, hendak sholat Dzuhur. Nanti kita bareng saja turunnya." dengan semangat kujawab tutur halusnya.

Dia diam, membuka lembaran baru buku yang dibacanya. "Ini kesempatan emas, harus kugunakan untuk berkenalan." pikirku, sekilat merangkai kata yang tepat untuk mengatakan satu pertanyaan saja.
"Maaf, mba dari mana asalnya?" sangat hati-hati kuucap.
"Saya dari Bandung."
"Bandung??"
"Iya!"
"Jadi, bisa sunda."
"Tiasa (Baca:Bisa). Mas, dari mana??"
"Dari Solo."
"Kalau begitu panggil saja saya teteh, teh Indah Nurhikmah." Amboii...! namanya Indah, seperti orangnya penuh keindahan.
"Saya Ade. Ade kelana. Panggil aja Mas Ade."
"Masih kuliah? Atau sudah kerja?" tanyaku memperpanjang pembicaraan.
"Masih. Sedang nyusun skripsi." singkatnya. Lalu kami terdiam, dia meneruskan membacanya, sedangkan aku tak puas-puasnya mengamati keelokannya.

"Sudah bersuami??" tanyaku memecahkan kesunyian, pertanyaan yang meluncur tanpa di olah dalam sel otakku. Raut mukanya tampak terkejut, namun masih terlihat cantik.
"Oh..., belum. Masih menunggu pinangan seorang laki-laki." jawabnya polos.
Aku diam, sejuta asa menyelimuti jiwa, perasaan mengharu biru. Entah datangnya darimana, keberadaan dirinya terasa sangat menentramkan, sepanjang jalan tak hentinya aku bertanya dan bercerita. Walaupun dia tak berani menatapku. Namun, sesekali aku curi sorot matanya yang indah.

Sekejap masjid raya terlihat. Aku bangkit. Kubisikan ketelinga Indah, bahwa masjid sudah dekat. Diapun mengangguk pelan... sambil berjalan kepintu mengikutiku yang sudah terlebih dahulu. Tiga puluh meter dari masjid bis berhenti, aku turun melangkah keluar, Indah satu per satu menuruni tangga bis. Aku berdiri dengan gagahnya menjaga kalau-kalau bidadari ini jatuh, sayang kalau kulitnya yang mulus tergores aspal jalanan.

Sepuluh meter sampai di masjid. Tak henti aku menoleh kebelakang, Indah mengikuti dengan-cukup jaga jarak. Aku jadi gemes, kenapa sih tidak jalan disampingku saja, kan lebih romantis sambil mengecup harumnya mawar yang merekah. Dia memang sholehah, tidak mau berjalan berdua dengan lelaki bukan muhrim. Pantas saja jilbabnya begitu lebar, menutupi keanggunannya. Beberapa langkah masuk masjid, sengaja aku berhenti. Indah terkejut, sekarang sudah tepat disampingku, nyaris menubruk. Dia tersenyum, masih cantik.

"Lhoo.., kok berhenti Mas??" tanya lembutnya.
"Sampai lupa, boleh Mas minta nomor Ha-Penya??" balasaku, dia mengerti. Lalu diberinya nomor Ha-Pe, lengkap dengan alamat rumah, jln. Dewi pesona indah, Bandung.
"Ngapain pake alamat rumah segala sih?" bisikku dalam hati.
Seminggu sudah melewati waktu, berlari dalam seribu tanda tanya. Berkali-kali kucoba menghubunginya lewat HP, tapi nomornya tidak aktif. Aaakhh..., mungkin yang diberikannya bukan nomornya yang asli. Siapa juga yang akan memberikan nomor HP kesembarang orang yang tak dikenalnya.

Sejak pertemuan di bis itu jiwaku seakan merasa ada sesuatu yang hilang, tumbuh asmara yang tiada henti melayang. Wajahnya yang cantik tak mampu kulupakan, keelokan-kejelitaan-wajahnya membasahi seluruh jiwa. Membenamkan asa yang begitu kuat menghujami diri.

Disetiap malam aku merintih, meneteskan air mata menengadahkan kedua tangan, berdoa. Bersujud dalam kebimbangan jiwa, terhempas dalam titian rindu yang merana. Hati yang sudah teramat jatuh keseorang wanita, tak akan mudah ditelan waktu, ia selalu hadir meski hanya dalam bayang-bayang. Apa dia akan kembali padaku?, apa aku dapat bertemu kembali dengannya? Apa dia benar-benar nyata? Seribu tanya menyelimuti hati.

Dihari yang berbeda, hari kebahagiaan sahabatku. Kebahagiaan yang diimpikan oleh setiap orang, juga impian aku yang semakin ditinggalkan oleh sahabat-sahabat seperjuanganku. Sahabatku hari ini menikah. Ya, menikah. Dengan seorang gadis yang telah dipinangnya setahun yang lalu. aku belum pernah melihatnya, jangankan aku, sahabatku saja baru dua kali melihatnya, ketiga kalinya langsung aqad nikah.

"Hmmm, aku baru bertemu sekali, jadi yang ketiganya adalah proses meminang." pikirku dalam hati, membuat gumpalan hasrat yang suci. Kesucian dalam melangsungkan pernikahan. Tercipta dikhayal sosok wanita bernama Indah.
Usiaku memang sudah cukup. Terlebih melihat teman-teman yang sebagian besar sudah menikah, aku selalu saja diprovokasi agar menyusul. Aaakhh..., mereka seakan menyuruhku untuk cepat-cepat menikah. Betapa tidak, setiap berkunjung kerumah. Mereka selalu berpasangan, berduaan, berjalan berdua, merasakan indahnya malam pertama, tak jarang mereka didepanku menciumi istrinya, mengecup keningnya, meremas jarinya. Aaakhhhh... Aku iri!! Aku juga ingin cepat menikah, aku ingin merasakan nikmatnya memadu kasih. Tapi, semua tahu bahwa keluargaku saja belum mengizinkanku menikah, dengan alasan belum dapat kerja atau usia masih kecil. Padahal, dari usia aku sudah cukup.

Dikeramaian walimahan seorang sahabat, suasana begitu romantis, beberapa sahabat yang datang menyalami. Mereka memboyong istri-istri mereka, masih membelai mesra.
Disudut depan, seorang wanita yang tak pernah kulupakan duduk dengan manisnya, dekat pengntin wanita. Dengan senyuman yang mempesona indah. Disana Indah, yang selama ini aku cari menampakkan diri saat resepsi pernikahan sahabtku. Aaakhh..., jodoh memang tidak kemana. Saat yang tepat, tak boleh aku sia-sia kan. Secepat kilat aku mendekatinya, sedetik kemudian sudah disampingnya. Dia nampak terkejut, namun masih terlihat cantik.
"Maass..., Ade?"
"Indah?"
Sejenak kami terdiam, sorot matanya penuh kebahagiaan. Pengantin wanita membuyarkan lamunan kami.
"Rupanya kalian sudah saling kenal?, Indah kamu sudah mengenal Ade, sahabat suamiku, kini. Ade, kamu mengenal Indah, dia sahabatku."

Selanjutnya, kami membahagiakan pengantin, saling bercerita dengan indah, tentang sahabatku Dodi yang saat ini sedang bermesraan dengan istrinya yang syah, Indah menceritakan persahabatannya dengan Istri Dodi. Dengan diselingi tawa renyah dari kami. Menyegarkan suasana walimahan.

"Kamu tidak memakai nomor ha-pe dulu lagi ya?, pernah (padahal beberapa kali) aku hubungi kamu, kok gak nyambung sih?" seketika ucapku.
"Ooooh! Maaf, waktu shalat dzuhur itu ha-peku terjatuh dan semua isinya berantakan termasuk pin-kartu yang kupakai, dan sampai sekarang tidak ketemu." jelasnya. Sejuta hati yang gundah, seribu kekecewaan dan prasangka gak baik seketika lenyap ditelan waktu yang terus berlari.
Jam terus berputar, ibu pasti marah besar jika sudah siang aku belum pulang mengembalikan baju batik yang kupinjam ketetangga sebelah.
"Wah, maaf ya. Aku harus pulang, sudah siang nih." ucapku, segurat kekecewaan terlintas di wajah Indah.
"Saya juga harus pulang." singkatnya.
Akhirnya, aku dan dia pulang bersamaan. Diperjalanan kami brcerita tentang masa depan. Tentang indahnya berkeluarga. Tentang Sakinah, Mawaddah Wa rahmah.
Sebelum brpisah...
"Indah....," sapaku pelan, dengan nada bergetar terbata-bata.
"Kenapa, A?" balasnya lembut.
"Hmmm, sudah ada niat untuk me...ni..kah?" dengan harapan yang teramat agung.
"Sudah ada..,"jawabnya pelan.
"Apa??!!" aku terkejut.
"Sudah ada niat, tapi belum ada laki-laki yang berani menyatakan: Cinta." balasnya dengan mata berbinar-binar penuh harapan. Meredakan kegalauan yang nyaris membuat patah hati.

Jiwa pemudaku muncul. Kegagahan yang telah lama terpatri seketika meledak. Keyakinan dan keinginan selam ini terpendam membuncah, membanjiri rona alam yang mempesona. Melahirkan kekuatan dan keberanian yang semakin kuat, terbang melayang keseluruh arah.
"Maukah Dinda menjadi istriku??"
Sebuah pengakuan yang terdalam dari isi hatiku. Wajahnya merona merah. Keayuannya memancarkan butir-butir kebahagiaan. Nampak keindahan syurgawi yang selama ini terpelihara dalam diri. Dia tertunduk malu. Jari-jemarinya tak bisa diam. Gemuruh didadanya terdengar menyentuh gemuruhnya hatiku. Sebuah penyatuan jiwa yang selama ini mendamba hadirnya cinta.
"Mas..., Insyaallah..., Indah siap. Indah bersedia."

masih tertunduk, bibirnya menyusun kata-kata yang selama ini kuharapkan. Jilbabnya yang melambai-lambai terbawa angin yang seakan menjadi saksi bisu cinta kami berdua.

Tentu saja setelah hari yang teramat bahagia itu, kuungkapkan kepada ibu, memohon doa restu, dengan merayu penuh cinta mengucap keinginan menikahi seorang bidadari. Aaakhh..., alam tidak selalu cerah, ibu menolak dengan tegas.
"Mau kawin? mau pake apa? Pake uang kertas!! Semuanya sekarang harus pakai uang, kerja belum... minta kawin!! Kamu bukan di zaman nabi lagi, yang hanya dengan mengucap basmallah kamu bisa kawin, hanya dengan sepeser kamu bisa kawin!!" kata-kata ibu menusuk ulu hatiku, semua memang salahku sendiri. Kenapa sampai detik ini belum kerja, kenapa tidak mencari uang, mencari penghasilan. Kalau saja waktu kuliah aku mengikuti saran Farhan membuka kios, tentu saja saat ini beberapa lembar uang unuk menikah dapat terkumpul.

Aku menangis, lelehan air mata membasahi pipiku. Menyiksa batin yang selama ini aku hiasi dengan cinta.
"Maafkan Mas, dinda. Mas belum bisa menikahimu!!"
Dua minggu sudah harapan itu berlalu,  perlahan redup. Indah yang menunggu tak sabar memintaku menemui orangtuanya, sebagai komitmen cinta dan kata kalbuku. Aku tak sanggup menahan sesaknya dada ini. Hanya dimalam yang hening kubersujud padaNya, memohon kemurahanNya, meminta belas kasihNya. Mengharapkan kasih sayangNya.
Jumat pagi, ponselku berbunyi. Sajadah yang basah oleh air mata kulipat dengan khidmat. Kuterima suara diujung ha-pe. Suara lelaki berucap.

"Selamat...!!, sekali lagi selamat! Bapak Ade kelana menjadi pemenang dalam lomba penulisan karya ilmiah, sebagai juara pertama. Mendapat uang tunai sebesar 20 Juta. Benar 20 juta! Besok silahkan ambil langsung di panitia."
Bagai bumi yang kering setahun mendadak tersiram air hujan. Aku bahagia sekali. Mulutku tak bisa berucap. Sekejap terpaku dalam hening. Lalu sederet takbir menggema, takbir memekikan kemenangan. Takbir akan kekuasaan sang ilahi. Memang tiga bulan yang lalu aku mengirim sebuah karya ilmiah, dan aku sendiri lupa bahwa pengumumannya kemarin.

Hari ini, dengan gagah dan rapi bergegas mendatangi panitia lomba. Dengan wajah yang ceria dan tubuh yang sehat. Tidak biasanya, pagi tadi ibu menyiapkan sarapan yang enak, membuat selera makanku bangkit. Dua piring habis kulahap. Ibu dengan wajah berbinar-binar, ikut senang anaknya dapat uang banyak, tentu saja beberapa lembar akan jatuh ketangan kasarnya.
Ditempat panitia lomba aku langusng menagih hadiahku, gepokan uang seratus ribuan berderet dihadapanku. Dengan teliti kuhitung perlembarnya, sudah cukup. Sejurus pulang kerumah dengan wajah berseri-seri.

Sejak itu semuanya lancar. Orangtua indah mengizinkan kami menikah. Indah tersenyum, malu-malu. Ia masuk kekamarnya. Aku hanya melihatnya berjalan seperti bidadari yang hendak dikecup.
"Sebulan lagi aku akan dikamar itu, bersamamu." gumamku dalam hati.
Sebulan waktu yang pendek, persiapan diatur sedemikian rupa. Keluara Indah yang memiliki perusahaan dua, hendak menyenangkan hati putri satu-satunya. Jadi, gelar S1 cukup bisa memegang sebuah perusahaan yang dihadiahkan oleh ibu mertua untuk kami, kelak.
Hari yang cerah, disebuah rumah yang megah. Bersama dua keluarga besar, berkumpul menyaksikan sebuah sejarah baru dari dua insan yang hendak memadu kasih. Sebuah aqad nikah yang sakral, dan hanya sekali.

Indah sudah merelakan untuk menjadi teman hidupku, maka sesaat lagi jalinan perasaan itu akan sah. Sesaat lagi, apa-apa yang haram bagi kami telah menjadi halal atas karunia Allah. Sesaat lagi, seorang jejaka akan memberikan kelembutan sikap kepada wanita, bernama Indah yang beberapa waktu lalu aku pinang. Inilah akad nikah. Inilah akad yang menjadikan halal apa-apa yang sebelumnya haram, dan membuat berpahala apa-apa yang sebelumnya merupakan dosa.

Aqad nikah diakhiri dengan takbir para undangan. Menyambut kami yang sudah Syah. Sebagai suami-istri. Indah resmi menjadi isriku, aku menjadi suaminya.
"Alhamdulillah, aku jadi nikah juga." bisikku pada seorang sahabat yang datang dengan istrinya.
Mulai hari ini, dia akan kujaga, tak akan kubiarkan air matanya menetes karena kesombonganku. Dia akan kubahagiakan, ku jadikan bidadari dalam rumahku. Aku akan menjadi suami yang berada didepannya dalam keadaan sesulit apapun. Semua kesedihan, sakit, dan kegalauannya adalah milikku juga.

Kupegang tangan istriku yang cantik. Kuremas jari-jarinya yang lembut. Ia tertunduk malu. Kuangkat dagunya yang indah. Nampak tetesan air mata kebahagiaan. Aaakhh...., Aku terbang keawan yang biru, indah. Indah sekali. Dengan sejuta asa dalam hati. Dengan seribu urat syaraf yang berlarian. Diiringi detak jantung yang saling berkejaran. Aku dekatkan bibirku pada keningnya. Ah, kecupan pertama yang indah. Hangat. Meresap dalam rongga dada. Ia membuka matanya yang sayu-putih. Aku tersenyum, Indah membalas senyumku, senyuman termanis sejak ia jadi istriku.

Aqad telah berakhir, suasana ramai menyertai kebahagiaan kami, semua karib kerabat mengucapkan selamat, menyalami dengan hangat.
Malam cepat berkunjung. Burung-burung telah terbang kembali kesarangnya. Suasana diluar cerah. Para tamu berangsur meninggalkan malam yang hening. Setelah semua sepi, Indah meninggalkanku pergi berwudhu, sedetik kulihat ia berjalan kekamar, kulihat senyumnya menggoda hatiku, ia menganggukan kepala. Akupun mengambil wudhu, mengikutinya memasuki kamar. Kami melaksanakan sholat Isya bersama. Rasa cinta menghadirkan kerinduan-kerinduan halus.  Walau dihiasi salah tingkah dan malu-malu. Dua rakaat sunnah kami laksanakan.

Selepas sholat dia mencium tanganku penuh kelembutan, meminta doa akan kesejahteraan dan kedamaian dalam keluarga. Segelas air susu tersedia sedari tadi, aku meminumnya dia pun menghabiskan setengah gelas yang masih tersisa.

Aku duduk ditempat tidur yang bertaburan bunga. Wangi semerbak menggoda gairah pengantin baru. Indah duduk disampingku. Perlahan melepaskan jilbabnya. Subhanallah, rambutnya halus terurai. Wajahnya nampak indah dengan rambut halusnya terurai. Kini telah hadir sosok bidadari dihadapanku. Kembali kuremas jari jemarinya yang lembut. Kutatap bola matanya, dan kukecup keningnya. Ah, masih hangat. Tanganku memegang pipinya yang ayu. Ia tertunduk malu. Kugoda dengan kata-kata manis yang membuatnya semangat. Setelah itu kami terdiam, diam seribu kata. Kuangakat dagunya, dia tersenyum. Kupandangi bibir tipisnya yang merah-jingga.

Kudekatkan bibirku ke bibirnya. Namun, seketika telunjuknya menghentikan bibirku, menempel sebuah telunjuk yang halus. Kedua tangannya memegang pundakku, meremas-remasnya. Aku tetap menatapnya. Membiarkan dirinya merasakan apa yang diinginkan. Aku mengikhlaskan diri, membiarkan istriku  yang sedang merasakan kebahagiaan denganku. Dia menggoyangkan bahuku, pelan... pelan.. pelan.

Namun semakin lama semakin kuat.. semakin keras... Ia goyangkan tubuhku dengan kerasnya. Terus... terus.. terus... aku hamir jatuh. Ia seakan tertawa, melihatku yang sedikit ketakutan. Ia memukul dadaku. Menggoyangkan tubuhku, kali ini lebih keras lagi. Dorongannya semakin kuat. Aku terkejut!! Ia dorong lagi. sampai terjatuh. Aku terjatuh, keras sekali.
"Uuhkhhh... Sakit!!"
****************

"Mas... bangun mas... sudah sampai terminal Pulogadung!!" kulihat seorang bapak berkumis berdiri dihadapanku, bangku-bangku bis nampak berjejer. Kulihat sekeliling sudah sepi. Wanita yang disamping pun lenyap.
"Aaaaaaaakhh..., ternyata semua ini hanya mimpi."

-TAMAT-
--------------------
- Iva -
p

07.07 | Posted in | Read More »

[Kisah] Andai Dia Jadi Istriku

Sabtu pagi yang cerah, tidak secerah hatiku. Sudah beberapa bulan ini hanya bisa mondar-mandir dirumah, tidak ada aktifitas yang dapat kulakukan. Walaupun keluar hanya melaksanakan Sholat lima waktu yang terkadang dikerjakan dirumah.  Gelar sarjana yang kumiliki hanya terpajang dalam sebuah transkip nilai IPK (Indeks Prestasi Komulatif) di kamar yang berantakan, tak pernah kurapikan.

Foto saat wisuda nampak tersenyum, senyuman sekaligus menertawai kepada seorang sarjana yang masih menganggur. Bukannya tidak mau bekerja, aku berusaha mencari pekerjaan, akan tetapi perusahaan-perusahaan itu tidak mau menerimaku sebagai karyawan. Jadi, sehari-hari hanya didepan komputer merangkai kata bak seorang pujangga, menulis bait syair atau novel picisan yang membuat melotot anak remaja.

Pagi tadi ibu berteriak menggetarkan seluruh alam. Menulis sejuta kata dalam kekesalan. Menagih janji yang tak kunjung tiba. Pedas kata ibu mengiris hati.
"Ade...!! Empat tahun kamu kuliah, berapa juta yang kau habiskan??, Tapi kamu hanya bisa ber-tapa dikamar yang bau apek!! Sarjana macam apa kamu, hah!! Kerjanya melototi komputer setiap jam, setiap hari..., bukannya cari kerja. Bukannya cari duit. Mau jadi apa kamu nanti, hah!!"

Sakit hati ini..., rasa sakit bukan karena marah sama ibu, tapi menangis karena keadaan yang melambungkan kemiskinan dan pengangguran.
Akhirnya, sebelum Dzuhur aku mengemasi semua peralatan, memasukkan setumpuk map berisi biodata dan setumpuk lembaran cerpen plus novel yang telah rapi kususun kedalam tas yang menemani sejak kuliah dulu. Entah mau kemana, yang pasti diluar sana mudah-mudahan Allah memberikan rizkinya.

Bis Patas AC EKA dengan tujuan jakarta menghampiriku yang memang sedari tadi menunggu. Tidak biasanya, bis hari ini sepi dan nyaman. Aku duduk dibarisan tengah yang dua bangkunya masih kosong, sengaja aku duduk disitu karena ingin merasakan kenyamanan dan menghilangkan kepenatan di rumah. Bis melaju menyusuri jalanan yang berdebu, menyalip angkot-angkot yang tak berdaya melawan gagahnya sang bis. Diluar kulihat rumah-rumah dan toko-toko bertingkat berjejer disepanjang jalan, mengganti lahan padi menjadi bangunan yang angkuh dan sombong.

Tak lama bis kurasa berhenti, tak tahu sedang menurunkan atau menaikkan penumpang, yang jelas sedetik setelah bis melaju kembali, sesosok wanita dengan enaknya duduk disampingku, seorang wanita dengan jilbab lebar berwarna putih dengan pakaian yang berwarna biru muda. Aku tak peduli, yang ada hanya kekaguman melihat gunung salak jauh disana,  terlihat samar-samar berwarna kebiru-biruan.

Sejenak aku diam. Wanita disampingku menggerakkan tangannya, nampak sebuah buku yang dikeluarkannya, kuperhatikan ternyata sebuah buku berwarna Pink.
"Pasti tentang cinta." sedetik aku berpikir. Benar dugaanku, sebuah buku berjudul: Aku mencintaimu, Akhi. Jadikan aku istrimu.
"Cinta lagi..., cinta lagi..., Wah!! apa dunia ini tak pernah bosan-bosannya dengan cinta? Apa Allah menciptakan manusia hanya karena cinta?"  ucapku dalam hati. Membayangkan kisah cinta yang selalu menemani setiap jiwa manusia. Hmm, sebenarnya aku juga akan selalu merindukan cinta.

Aku menghempaskan pandangan, kembali ke jendela menyaksikan berjuta manusia bertarung dalam riuhnya suasana, manusia yang bertarung demi sesuap nasi. Mendadak mataku terasa perih, dengan refleks membuang muka tepat kearah wanita tadi. Subhanallah, ternyata wajah wanita itu sangat cantik. Ayu manis. Matanya sayu-bening, dagunya indah, bibir tipis merah-jambu, disempurnakan dengan hidungnya yang aduhai. Hatiku berdegup kencang, meletup-letup membangunkan syaraf kedewasaaan.

Aaakhh..., wajahnya tenang penuh kesejukan. Bersih bersinar bak rembulan yang tidak malu menampakkan keindahannya.
"Kenapa aku baru melihatnya. Kenapa baru sekarang menyadari seorang bidadari duduk disampingku." pikiran terus menyesali keterlambatanku. Semua kepenatan masalah dirumah seketika lenyap, terbius oleh sosok bidadari cantik yang duduk disampingku.
Jari-jari lentiknya membuka halaman demi halaman buku yang sedari tadi dibacanya dengan penuh takzim dan penghayatan. Aku mencintaimu, akhi!!, jadikan aku istrimu.

Tanpa sadar dia melirikku, aaakhh..., indah sekali. Bola matanya memancarkan kesholehan yang tersimpan di sela-sela warna biru. Dia tersenyum. Memamerkan bibir tipisnya yang sungguh menggoda, andai saja dia jadi istriku tak akan kulepas bibir indahnya itu. Kedua pipinya bersih, lesung pipit semakin menggoda para lelaki yang sedang dirundung kesepian. Aaakhh..., jiwaku bergetar. Tak kuasa terus menatap wajahnya yang terlukis indah. Aku palingkan muka, kembali menatap keluar, namun wajah wanita itu masih berkelebatan. Aaakhh..., andai saja wanita ini menjadi istriku tak akan henti kucumbu-bermesra dengannya. Aku tetap menatap keluar sana, membayangkan indahnya bersama permaisuri cantik, bermimpi dalam indahnya sang bidadari.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sesaat kemudian wanita itu menyapa. Tadinya aku tidak percaya, apa urusan dia denganku?
"Assalamu'alaikum. Mas...?" suaranya begitu merdu, merembes keseluruh kujur tubuh. Membasahi jiwa yang kering.
"Wa'alaikum salam. Ada yang bisa saya bantu mbak'??" akhirnya aku menjawab dengan tak kalah sopannya. Duh... mawar mewangi....! Betapa cantik wanita ini, senyumnya menebar aroma kesturi yang merangsang keorgan yang paling dalam. Saking terlenanya, aku tak kuasa menahan pandangan. Menyusuri semua bagian wajahnya yang ayu.
"Maaf mas, Masjid raya masih jauh ya??" tanya dia. Masih jelas menatapku dengan kebeningan matanya semakin menggoda khayalku.
"Masjid raya? Owh..., dekat. Sebentar lagi, kebetulan saya juga mau mampir dulu, hendak sholat Dzuhur. Nanti kita bareng saja turunnya." dengan semangat kujawab tutur halusnya.

Dia diam, membuka lembaran baru buku yang dibacanya. "Ini kesempatan emas, harus kugunakan untuk berkenalan." pikirku, sekilat merangkai kata yang tepat untuk mengatakan satu pertanyaan saja.
"Maaf, mba dari mana asalnya?" sangat hati-hati kuucap.
"Saya dari Bandung."
"Bandung??"
"Iya!"
"Jadi, bisa sunda."
"Tiasa (Baca:Bisa). Mas, dari mana??"
"Dari Solo."
"Kalau begitu panggil saja saya teteh, teh Indah Nurhikmah." Amboii...! namanya Indah, seperti orangnya penuh keindahan.
"Saya Ade. Ade kelana. Panggil aja Mas Ade."
"Masih kuliah? Atau sudah kerja?" tanyaku memperpanjang pembicaraan.
"Masih. Sedang nyusun skripsi." singkatnya. Lalu kami terdiam, dia meneruskan membacanya, sedangkan aku tak puas-puasnya mengamati keelokannya.

"Sudah bersuami??" tanyaku memecahkan kesunyian, pertanyaan yang meluncur tanpa di olah dalam sel otakku. Raut mukanya tampak terkejut, namun masih terlihat cantik.
"Oh..., belum. Masih menunggu pinangan seorang laki-laki." jawabnya polos.
Aku diam, sejuta asa menyelimuti jiwa, perasaan mengharu biru. Entah datangnya darimana, keberadaan dirinya terasa sangat menentramkan, sepanjang jalan tak hentinya aku bertanya dan bercerita. Walaupun dia tak berani menatapku. Namun, sesekali aku curi sorot matanya yang indah.

Sekejap masjid raya terlihat. Aku bangkit. Kubisikan ketelinga Indah, bahwa masjid sudah dekat. Diapun mengangguk pelan... sambil berjalan kepintu mengikutiku yang sudah terlebih dahulu. Tiga puluh meter dari masjid bis berhenti, aku turun melangkah keluar, Indah satu per satu menuruni tangga bis. Aku berdiri dengan gagahnya menjaga kalau-kalau bidadari ini jatuh, sayang kalau kulitnya yang mulus tergores aspal jalanan.

Sepuluh meter sampai di masjid. Tak henti aku menoleh kebelakang, Indah mengikuti dengan-cukup jaga jarak. Aku jadi gemes, kenapa sih tidak jalan disampingku saja, kan lebih romantis sambil mengecup harumnya mawar yang merekah. Dia memang sholehah, tidak mau berjalan berdua dengan lelaki bukan muhrim. Pantas saja jilbabnya begitu lebar, menutupi keanggunannya. Beberapa langkah masuk masjid, sengaja aku berhenti. Indah terkejut, sekarang sudah tepat disampingku, nyaris menubruk. Dia tersenyum, masih cantik.

"Lhoo.., kok berhenti Mas??" tanya lembutnya.
"Sampai lupa, boleh Mas minta nomor Ha-Penya??" balasaku, dia mengerti. Lalu diberinya nomor Ha-Pe, lengkap dengan alamat rumah, jln. Dewi pesona indah, Bandung.
"Ngapain pake alamat rumah segala sih?" bisikku dalam hati.
Seminggu sudah melewati waktu, berlari dalam seribu tanda tanya. Berkali-kali kucoba menghubunginya lewat HP, tapi nomornya tidak aktif. Aaakhh..., mungkin yang diberikannya bukan nomornya yang asli. Siapa juga yang akan memberikan nomor HP kesembarang orang yang tak dikenalnya.

Sejak pertemuan di bis itu jiwaku seakan merasa ada sesuatu yang hilang, tumbuh asmara yang tiada henti melayang. Wajahnya yang cantik tak mampu kulupakan, keelokan-kejelitaan-wajahnya membasahi seluruh jiwa. Membenamkan asa yang begitu kuat menghujami diri.

Disetiap malam aku merintih, meneteskan air mata menengadahkan kedua tangan, berdoa. Bersujud dalam kebimbangan jiwa, terhempas dalam titian rindu yang merana. Hati yang sudah teramat jatuh keseorang wanita, tak akan mudah ditelan waktu, ia selalu hadir meski hanya dalam bayang-bayang. Apa dia akan kembali padaku?, apa aku dapat bertemu kembali dengannya? Apa dia benar-benar nyata? Seribu tanya menyelimuti hati.

Dihari yang berbeda, hari kebahagiaan sahabatku. Kebahagiaan yang diimpikan oleh setiap orang, juga impian aku yang semakin ditinggalkan oleh sahabat-sahabat seperjuanganku. Sahabatku hari ini menikah. Ya, menikah. Dengan seorang gadis yang telah dipinangnya setahun yang lalu. aku belum pernah melihatnya, jangankan aku, sahabatku saja baru dua kali melihatnya, ketiga kalinya langsung aqad nikah.

"Hmmm, aku baru bertemu sekali, jadi yang ketiganya adalah proses meminang." pikirku dalam hati, membuat gumpalan hasrat yang suci. Kesucian dalam melangsungkan pernikahan. Tercipta dikhayal sosok wanita bernama Indah.
Usiaku memang sudah cukup. Terlebih melihat teman-teman yang sebagian besar sudah menikah, aku selalu saja diprovokasi agar menyusul. Aaakhh..., mereka seakan menyuruhku untuk cepat-cepat menikah. Betapa tidak, setiap berkunjung kerumah. Mereka selalu berpasangan, berduaan, berjalan berdua, merasakan indahnya malam pertama, tak jarang mereka didepanku menciumi istrinya, mengecup keningnya, meremas jarinya. Aaakhhhh... Aku iri!! Aku juga ingin cepat menikah, aku ingin merasakan nikmatnya memadu kasih. Tapi, semua tahu bahwa keluargaku saja belum mengizinkanku menikah, dengan alasan belum dapat kerja atau usia masih kecil. Padahal, dari usia aku sudah cukup.

Dikeramaian walimahan seorang sahabat, suasana begitu romantis, beberapa sahabat yang datang menyalami. Mereka memboyong istri-istri mereka, masih membelai mesra.
Disudut depan, seorang wanita yang tak pernah kulupakan duduk dengan manisnya, dekat pengntin wanita. Dengan senyuman yang mempesona indah. Disana Indah, yang selama ini aku cari menampakkan diri saat resepsi pernikahan sahabtku. Aaakhh..., jodoh memang tidak kemana. Saat yang tepat, tak boleh aku sia-sia kan. Secepat kilat aku mendekatinya, sedetik kemudian sudah disampingnya. Dia nampak terkejut, namun masih terlihat cantik.
"Maass..., Ade?"
"Indah?"
Sejenak kami terdiam, sorot matanya penuh kebahagiaan. Pengantin wanita membuyarkan lamunan kami.
"Rupanya kalian sudah saling kenal?, Indah kamu sudah mengenal Ade, sahabat suamiku, kini. Ade, kamu mengenal Indah, dia sahabatku."

Selanjutnya, kami membahagiakan pengantin, saling bercerita dengan indah, tentang sahabatku Dodi yang saat ini sedang bermesraan dengan istrinya yang syah, Indah menceritakan persahabatannya dengan Istri Dodi. Dengan diselingi tawa renyah dari kami. Menyegarkan suasana walimahan.

"Kamu tidak memakai nomor ha-pe dulu lagi ya?, pernah (padahal beberapa kali) aku hubungi kamu, kok gak nyambung sih?" seketika ucapku.
"Ooooh! Maaf, waktu shalat dzuhur itu ha-peku terjatuh dan semua isinya berantakan termasuk pin-kartu yang kupakai, dan sampai sekarang tidak ketemu." jelasnya. Sejuta hati yang gundah, seribu kekecewaan dan prasangka gak baik seketika lenyap ditelan waktu yang terus berlari.
Jam terus berputar, ibu pasti marah besar jika sudah siang aku belum pulang mengembalikan baju batik yang kupinjam ketetangga sebelah.
"Wah, maaf ya. Aku harus pulang, sudah siang nih." ucapku, segurat kekecewaan terlintas di wajah Indah.
"Saya juga harus pulang." singkatnya.
Akhirnya, aku dan dia pulang bersamaan. Diperjalanan kami brcerita tentang masa depan. Tentang indahnya berkeluarga. Tentang Sakinah, Mawaddah Wa rahmah.
Sebelum brpisah...
"Indah....," sapaku pelan, dengan nada bergetar terbata-bata.
"Kenapa, A?" balasnya lembut.
"Hmmm, sudah ada niat untuk me...ni..kah?" dengan harapan yang teramat agung.
"Sudah ada..,"jawabnya pelan.
"Apa??!!" aku terkejut.
"Sudah ada niat, tapi belum ada laki-laki yang berani menyatakan: Cinta." balasnya dengan mata berbinar-binar penuh harapan. Meredakan kegalauan yang nyaris membuat patah hati.

Jiwa pemudaku muncul. Kegagahan yang telah lama terpatri seketika meledak. Keyakinan dan keinginan selam ini terpendam membuncah, membanjiri rona alam yang mempesona. Melahirkan kekuatan dan keberanian yang semakin kuat, terbang melayang keseluruh arah.
"Maukah Dinda menjadi istriku??"
Sebuah pengakuan yang terdalam dari isi hatiku. Wajahnya merona merah. Keayuannya memancarkan butir-butir kebahagiaan. Nampak keindahan syurgawi yang selama ini terpelihara dalam diri. Dia tertunduk malu. Jari-jemarinya tak bisa diam. Gemuruh didadanya terdengar menyentuh gemuruhnya hatiku. Sebuah penyatuan jiwa yang selama ini mendamba hadirnya cinta.
"Mas..., Insyaallah..., Indah siap. Indah bersedia."

masih tertunduk, bibirnya menyusun kata-kata yang selama ini kuharapkan. Jilbabnya yang melambai-lambai terbawa angin yang seakan menjadi saksi bisu cinta kami berdua.

Tentu saja setelah hari yang teramat bahagia itu, kuungkapkan kepada ibu, memohon doa restu, dengan merayu penuh cinta mengucap keinginan menikahi seorang bidadari. Aaakhh..., alam tidak selalu cerah, ibu menolak dengan tegas.
"Mau kawin? mau pake apa? Pake uang kertas!! Semuanya sekarang harus pakai uang, kerja belum... minta kawin!! Kamu bukan di zaman nabi lagi, yang hanya dengan mengucap basmallah kamu bisa kawin, hanya dengan sepeser kamu bisa kawin!!" kata-kata ibu menusuk ulu hatiku, semua memang salahku sendiri. Kenapa sampai detik ini belum kerja, kenapa tidak mencari uang, mencari penghasilan. Kalau saja waktu kuliah aku mengikuti saran Farhan membuka kios, tentu saja saat ini beberapa lembar uang unuk menikah dapat terkumpul.

Aku menangis, lelehan air mata membasahi pipiku. Menyiksa batin yang selama ini aku hiasi dengan cinta.
"Maafkan Mas, dinda. Mas belum bisa menikahimu!!"
Dua minggu sudah harapan itu berlalu,  perlahan redup. Indah yang menunggu tak sabar memintaku menemui orangtuanya, sebagai komitmen cinta dan kata kalbuku. Aku tak sanggup menahan sesaknya dada ini. Hanya dimalam yang hening kubersujud padaNya, memohon kemurahanNya, meminta belas kasihNya. Mengharapkan kasih sayangNya.
Jumat pagi, ponselku berbunyi. Sajadah yang basah oleh air mata kulipat dengan khidmat. Kuterima suara diujung ha-pe. Suara lelaki berucap.

"Selamat...!!, sekali lagi selamat! Bapak Ade kelana menjadi pemenang dalam lomba penulisan karya ilmiah, sebagai juara pertama. Mendapat uang tunai sebesar 20 Juta. Benar 20 juta! Besok silahkan ambil langsung di panitia."
Bagai bumi yang kering setahun mendadak tersiram air hujan. Aku bahagia sekali. Mulutku tak bisa berucap. Sekejap terpaku dalam hening. Lalu sederet takbir menggema, takbir memekikan kemenangan. Takbir akan kekuasaan sang ilahi. Memang tiga bulan yang lalu aku mengirim sebuah karya ilmiah, dan aku sendiri lupa bahwa pengumumannya kemarin.

Hari ini, dengan gagah dan rapi bergegas mendatangi panitia lomba. Dengan wajah yang ceria dan tubuh yang sehat. Tidak biasanya, pagi tadi ibu menyiapkan sarapan yang enak, membuat selera makanku bangkit. Dua piring habis kulahap. Ibu dengan wajah berbinar-binar, ikut senang anaknya dapat uang banyak, tentu saja beberapa lembar akan jatuh ketangan kasarnya.
Ditempat panitia lomba aku langusng menagih hadiahku, gepokan uang seratus ribuan berderet dihadapanku. Dengan teliti kuhitung perlembarnya, sudah cukup. Sejurus pulang kerumah dengan wajah berseri-seri.

Sejak itu semuanya lancar. Orangtua indah mengizinkan kami menikah. Indah tersenyum, malu-malu. Ia masuk kekamarnya. Aku hanya melihatnya berjalan seperti bidadari yang hendak dikecup.
"Sebulan lagi aku akan dikamar itu, bersamamu." gumamku dalam hati.
Sebulan waktu yang pendek, persiapan diatur sedemikian rupa. Keluara Indah yang memiliki perusahaan dua, hendak menyenangkan hati putri satu-satunya. Jadi, gelar S1 cukup bisa memegang sebuah perusahaan yang dihadiahkan oleh ibu mertua untuk kami, kelak.
Hari yang cerah, disebuah rumah yang megah. Bersama dua keluarga besar, berkumpul menyaksikan sebuah sejarah baru dari dua insan yang hendak memadu kasih. Sebuah aqad nikah yang sakral, dan hanya sekali.

Indah sudah merelakan untuk menjadi teman hidupku, maka sesaat lagi jalinan perasaan itu akan sah. Sesaat lagi, apa-apa yang haram bagi kami telah menjadi halal atas karunia Allah. Sesaat lagi, seorang jejaka akan memberikan kelembutan sikap kepada wanita, bernama Indah yang beberapa waktu lalu aku pinang. Inilah akad nikah. Inilah akad yang menjadikan halal apa-apa yang sebelumnya haram, dan membuat berpahala apa-apa yang sebelumnya merupakan dosa.

Aqad nikah diakhiri dengan takbir para undangan. Menyambut kami yang sudah Syah. Sebagai suami-istri. Indah resmi menjadi isriku, aku menjadi suaminya.
"Alhamdulillah, aku jadi nikah juga." bisikku pada seorang sahabat yang datang dengan istrinya.
Mulai hari ini, dia akan kujaga, tak akan kubiarkan air matanya menetes karena kesombonganku. Dia akan kubahagiakan, ku jadikan bidadari dalam rumahku. Aku akan menjadi suami yang berada didepannya dalam keadaan sesulit apapun. Semua kesedihan, sakit, dan kegalauannya adalah milikku juga.

Kupegang tangan istriku yang cantik. Kuremas jari-jarinya yang lembut. Ia tertunduk malu. Kuangkat dagunya yang indah. Nampak tetesan air mata kebahagiaan. Aaakhh...., Aku terbang keawan yang biru, indah. Indah sekali. Dengan sejuta asa dalam hati. Dengan seribu urat syaraf yang berlarian. Diiringi detak jantung yang saling berkejaran. Aku dekatkan bibirku pada keningnya. Ah, kecupan pertama yang indah. Hangat. Meresap dalam rongga dada. Ia membuka matanya yang sayu-putih. Aku tersenyum, Indah membalas senyumku, senyuman termanis sejak ia jadi istriku.

Aqad telah berakhir, suasana ramai menyertai kebahagiaan kami, semua karib kerabat mengucapkan selamat, menyalami dengan hangat.
Malam cepat berkunjung. Burung-burung telah terbang kembali kesarangnya. Suasana diluar cerah. Para tamu berangsur meninggalkan malam yang hening. Setelah semua sepi, Indah meninggalkanku pergi berwudhu, sedetik kulihat ia berjalan kekamar, kulihat senyumnya menggoda hatiku, ia menganggukan kepala. Akupun mengambil wudhu, mengikutinya memasuki kamar. Kami melaksanakan sholat Isya bersama. Rasa cinta menghadirkan kerinduan-kerinduan halus.  Walau dihiasi salah tingkah dan malu-malu. Dua rakaat sunnah kami laksanakan.

Selepas sholat dia mencium tanganku penuh kelembutan, meminta doa akan kesejahteraan dan kedamaian dalam keluarga. Segelas air susu tersedia sedari tadi, aku meminumnya dia pun menghabiskan setengah gelas yang masih tersisa.

Aku duduk ditempat tidur yang bertaburan bunga. Wangi semerbak menggoda gairah pengantin baru. Indah duduk disampingku. Perlahan melepaskan jilbabnya. Subhanallah, rambutnya halus terurai. Wajahnya nampak indah dengan rambut halusnya terurai. Kini telah hadir sosok bidadari dihadapanku. Kembali kuremas jari jemarinya yang lembut. Kutatap bola matanya, dan kukecup keningnya. Ah, masih hangat. Tanganku memegang pipinya yang ayu. Ia tertunduk malu. Kugoda dengan kata-kata manis yang membuatnya semangat. Setelah itu kami terdiam, diam seribu kata. Kuangakat dagunya, dia tersenyum. Kupandangi bibir tipisnya yang merah-jingga.

Kudekatkan bibirku ke bibirnya. Namun, seketika telunjuknya menghentikan bibirku, menempel sebuah telunjuk yang halus. Kedua tangannya memegang pundakku, meremas-remasnya. Aku tetap menatapnya. Membiarkan dirinya merasakan apa yang diinginkan. Aku mengikhlaskan diri, membiarkan istriku  yang sedang merasakan kebahagiaan denganku. Dia menggoyangkan bahuku, pelan... pelan.. pelan.

Namun semakin lama semakin kuat.. semakin keras... Ia goyangkan tubuhku dengan kerasnya. Terus... terus.. terus... aku hamir jatuh. Ia seakan tertawa, melihatku yang sedikit ketakutan. Ia memukul dadaku. Menggoyangkan tubuhku, kali ini lebih keras lagi. Dorongannya semakin kuat. Aku terkejut!! Ia dorong lagi. sampai terjatuh. Aku terjatuh, keras sekali.
"Uuhkhhh... Sakit!!"
****************

"Mas... bangun mas... sudah sampai terminal Pulogadung!!" kulihat seorang bapak berkumis berdiri dihadapanku, bangku-bangku bis nampak berjejer. Kulihat sekeliling sudah sepi. Wanita yang disamping pun lenyap.
"Aaaaaaaakhh..., ternyata semua ini hanya mimpi."

-TAMAT-
--------------------
- Iva -
p

07.07 | Posted in | Read More »

Blog Archive

Labels

Recently Commented

Recently Added

Popular Posts