Inilah Isi Pesan Selebaran Pelaku Peledakan ATM Yogyakarta

Sebuah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) BRI di Jalan Gejayan, Sleman, Yogyakarta, diledakkan beberapa orang pada Jumat (7/10) pukul 02.00 WIB. Saat melarikan diri, pelaku meninggalkan tas yang di dalamnya berisi selebaran. Berikut bunyi selebaran tersebut;
"Pemberontakan sosial akan terus berlanjut karena mentari terus bersinar. Kali ini kami mengatakan, bahwa apa yang kami lakukan merupakan puncak dari semua kegelisahan serta kemarahan kami terhadap sistem yang sedang berjalan ini.

Sistem yang memberhalakan uang, sistem yang merecoki keseharian masyarakat dengan televisi, agar mereka membeli barang-barang yang tak mereka perlukan agar mereka terus bekerja seperti mesin. Sistem yang mengharuskan kami beserta masyarakat lainnya tidak memiliki kendali atas hidup kita sendiri. Sistem yang lainnya menguntungkan borjuis, para pebisnis, dan para birokrat negara yang menjadi sekutu setianya.

Bagi kami semua, ini bukan saatnya untuk diam, bukan saatnya untuk tenang menonton acara di depan televisi dan berkata bahwa "semua baik-baik saja".

Untuk setiap penindasan di Papua Barat.

Untuk setiap penindasan di Kulon Progo.

Untuk setiap penindasan bersejarah di Aceh.

Untuk setiap penindasan di Wera, Bima. Untuk setiap penggusuran dan perampasan lahan di Takalar dan Pandan Raya di Makasar.

Untuk setiap penindasan terhadap kawan-kawan kami yang berjuang.

Untuk Tukijo dan para kombatan sosial yang mendekam di penjara hanya karena berjuang mempertahankan hak hidupnya.

Untuk setiap konsensi hutan yang akan menghancurkan setiap keanekaragaman hayati mengatasnamakan uang dan bisnis!

Dan untuk setiap penjara yang seharusnya terbakar rata dengan tanah.

Maka selama negara dan kapitalisme masih eksis, tak pernah akan ada kata damai antara mereka yang tak berpunya dengan mereka yang berpunya.

Penyerangan terhadap pusat-pusat finansial: ATM, bank, gedung korporat adalah target yang penting, karena mereka adalah salah satu kolaborator yang menyebabkan penderitaan di muka bumi ini.

Ini bukanlah terorisme karena kami tidak mengadvokasikan untuk menyerang orang-orang, terorisme adalah peperangan antar negara. Terorisme adalah beras dan pangan di dapurmu yang semakin menipis. Terorisme adalah bajingan berseragam yang membawa senjata ke mana-mana. Terorisme adalah pembantaian orang-orang tak berpunya.

Maka kami mengatakan: sudah cukup! Dan ini juga untuk kalian!

Para kombatan yang tak pernah surut untuk berjuang di luar sana, meski kalian harus mendekam di jeruji besi karena keyakinan kalian akan kebebasan: Conspiracy cell of fire (Yunani), kombatan Chile: Tortuga! Lives on! Gabriel Pombo da Silva, Thomas Meyer Falk (Germany) Polikarpus Georgiadis, Revolutionary Struggle! Salut bagi kombatan Manado, Makassar, dan Bandung, kalian adalah inspirasi di tengah ketidakberdayaan masyarakat akan hidup mereka yang semakin tidak menentu dan tak berdaya.

"Biarkan api menyala dalam kegelapan!"

Long Live Luciano Tortuga Cell- International Revolutionary Front - FAI.

Indra Dahfald"

04.40 | Posted in , , , , , | Read More »

Inilah Isi Pesan Selebaran Pelaku Peledakan ATM Yogyakarta

Sebuah Anjungan Tunai Mandiri (ATM) BRI di Jalan Gejayan, Sleman, Yogyakarta, diledakkan beberapa orang pada Jumat (7/10) pukul 02.00 WIB. Saat melarikan diri, pelaku meninggalkan tas yang di dalamnya berisi selebaran. Berikut bunyi selebaran tersebut;
"Pemberontakan sosial akan terus berlanjut karena mentari terus bersinar. Kali ini kami mengatakan, bahwa apa yang kami lakukan merupakan puncak dari semua kegelisahan serta kemarahan kami terhadap sistem yang sedang berjalan ini.

Sistem yang memberhalakan uang, sistem yang merecoki keseharian masyarakat dengan televisi, agar mereka membeli barang-barang yang tak mereka perlukan agar mereka terus bekerja seperti mesin. Sistem yang mengharuskan kami beserta masyarakat lainnya tidak memiliki kendali atas hidup kita sendiri. Sistem yang lainnya menguntungkan borjuis, para pebisnis, dan para birokrat negara yang menjadi sekutu setianya.

Bagi kami semua, ini bukan saatnya untuk diam, bukan saatnya untuk tenang menonton acara di depan televisi dan berkata bahwa "semua baik-baik saja".

Untuk setiap penindasan di Papua Barat.

Untuk setiap penindasan di Kulon Progo.

Untuk setiap penindasan bersejarah di Aceh.

Untuk setiap penindasan di Wera, Bima. Untuk setiap penggusuran dan perampasan lahan di Takalar dan Pandan Raya di Makasar.

Untuk setiap penindasan terhadap kawan-kawan kami yang berjuang.

Untuk Tukijo dan para kombatan sosial yang mendekam di penjara hanya karena berjuang mempertahankan hak hidupnya.

Untuk setiap konsensi hutan yang akan menghancurkan setiap keanekaragaman hayati mengatasnamakan uang dan bisnis!

Dan untuk setiap penjara yang seharusnya terbakar rata dengan tanah.

Maka selama negara dan kapitalisme masih eksis, tak pernah akan ada kata damai antara mereka yang tak berpunya dengan mereka yang berpunya.

Penyerangan terhadap pusat-pusat finansial: ATM, bank, gedung korporat adalah target yang penting, karena mereka adalah salah satu kolaborator yang menyebabkan penderitaan di muka bumi ini.

Ini bukanlah terorisme karena kami tidak mengadvokasikan untuk menyerang orang-orang, terorisme adalah peperangan antar negara. Terorisme adalah beras dan pangan di dapurmu yang semakin menipis. Terorisme adalah bajingan berseragam yang membawa senjata ke mana-mana. Terorisme adalah pembantaian orang-orang tak berpunya.

Maka kami mengatakan: sudah cukup! Dan ini juga untuk kalian!

Para kombatan yang tak pernah surut untuk berjuang di luar sana, meski kalian harus mendekam di jeruji besi karena keyakinan kalian akan kebebasan: Conspiracy cell of fire (Yunani), kombatan Chile: Tortuga! Lives on! Gabriel Pombo da Silva, Thomas Meyer Falk (Germany) Polikarpus Georgiadis, Revolutionary Struggle! Salut bagi kombatan Manado, Makassar, dan Bandung, kalian adalah inspirasi di tengah ketidakberdayaan masyarakat akan hidup mereka yang semakin tidak menentu dan tak berdaya.

"Biarkan api menyala dalam kegelapan!"

Long Live Luciano Tortuga Cell- International Revolutionary Front - FAI.

Indra Dahfald"

04.40 | Posted in , , , , , | Read More »

Ulama Aceh :"Jepang & Belanda saja menunggu Muslim Aceh keluar dari masjid"

PIDIE - Komunitas Ulama di Aceh mengutuk keras tindakan penganiayaan terhadap khatib salat Jumat, Teungku Saiful Bahri Mila, di Masjid Raya Gampong Jie-Jiem, Keumala, Kabupaten Pidie.

Selain menodai kesucian masjid, aksi ini dinilai sebagai perilaku yang biadab dan tidak manusiawi serta jauh menyimpang dari ajaran Islam.

“Kami mengutuk dan mengecam keras tindakan ini,” ungkap Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Teungku Faisal Ali kepada okezone di Banda Aceh, Sabtu (10/9/2011).

Perilaku pemukulan di dalam masjid apa pun alasannya tak bisa ditorelir. Apalagi, lanjut Faisal, penganiayaan terjadi saat sedang prosesi ibadah dan dilakukan oleh umat Islam sendiri. “Saya tidak membela khatib dan menyalahkan pihak lain, tetapi saya hanya ingin menyatakan tindakan dilakukan dalam masjid itu yang salah,” tegasnya.

Dia menambahkan, kalau pun isi khutbah menyimpang, khatib bisa dimintai pertanggungjawaban di luar masjid atau dilaporkan ke polisi.

“Bukan dengan langsung memukul orang dalam masjid. Masjid ini tempat suci, di masa Rasullullah jangankan untuk menganiaya atau membunuh orang, membicarakan hal-hal dunia saja tidak boleh,” ungkap Faisal.

“Jepang dan Belanda saja dulu menunggu orang-orang Muslim Aceh keluar dari masjid untuk ditangkap,” lanjutnya.

Dalam sejarah Islam, setahu Faisal, tidak ada penganiayaan dilakukan dalam masjid oleh sesama Muslim.

“Kita pantas malu, orang Aceh yang begitu mengangung-agungkan nilai ke- Acehan yang sangat Islami tetapi apa yang terjadi sekarang adalah sangat bertolak belakang,” tukas Faisal.

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh itu juga menyesalkan penganiayaan tersebut melibatkan seorang wakil rakyat di DPRK Pidie. Seperti diberitakan sebelumnya Ilyas Abu Bakar, legislator asal Partai Aceh sudah dijadikan tersangka karena ikut menganiaya Teungku Saiful Bahri.

Menurutnya sangat tak pantas seorang wakil rakyat terhormat yang dipilih oleh rakyat dan digaji dengan uang rakyat berperilaku seperti itu. “Harusnya seorang wakil rakyat itu menjadi panutan,” kata Faisal.

Dia meminta polisi menuntaskan kasus ini agar tidak lagi terulang di masa mendatang.

(ton)

04.09 | Posted in , , | Read More »

Ulama Aceh :"Jepang & Belanda saja menunggu Muslim Aceh keluar dari masjid"

PIDIE - Komunitas Ulama di Aceh mengutuk keras tindakan penganiayaan terhadap khatib salat Jumat, Teungku Saiful Bahri Mila, di Masjid Raya Gampong Jie-Jiem, Keumala, Kabupaten Pidie.

Selain menodai kesucian masjid, aksi ini dinilai sebagai perilaku yang biadab dan tidak manusiawi serta jauh menyimpang dari ajaran Islam.

“Kami mengutuk dan mengecam keras tindakan ini,” ungkap Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Teungku Faisal Ali kepada okezone di Banda Aceh, Sabtu (10/9/2011).

Perilaku pemukulan di dalam masjid apa pun alasannya tak bisa ditorelir. Apalagi, lanjut Faisal, penganiayaan terjadi saat sedang prosesi ibadah dan dilakukan oleh umat Islam sendiri. “Saya tidak membela khatib dan menyalahkan pihak lain, tetapi saya hanya ingin menyatakan tindakan dilakukan dalam masjid itu yang salah,” tegasnya.

Dia menambahkan, kalau pun isi khutbah menyimpang, khatib bisa dimintai pertanggungjawaban di luar masjid atau dilaporkan ke polisi.

“Bukan dengan langsung memukul orang dalam masjid. Masjid ini tempat suci, di masa Rasullullah jangankan untuk menganiaya atau membunuh orang, membicarakan hal-hal dunia saja tidak boleh,” ungkap Faisal.

“Jepang dan Belanda saja dulu menunggu orang-orang Muslim Aceh keluar dari masjid untuk ditangkap,” lanjutnya.

Dalam sejarah Islam, setahu Faisal, tidak ada penganiayaan dilakukan dalam masjid oleh sesama Muslim.

“Kita pantas malu, orang Aceh yang begitu mengangung-agungkan nilai ke- Acehan yang sangat Islami tetapi apa yang terjadi sekarang adalah sangat bertolak belakang,” tukas Faisal.

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh itu juga menyesalkan penganiayaan tersebut melibatkan seorang wakil rakyat di DPRK Pidie. Seperti diberitakan sebelumnya Ilyas Abu Bakar, legislator asal Partai Aceh sudah dijadikan tersangka karena ikut menganiaya Teungku Saiful Bahri.

Menurutnya sangat tak pantas seorang wakil rakyat terhormat yang dipilih oleh rakyat dan digaji dengan uang rakyat berperilaku seperti itu. “Harusnya seorang wakil rakyat itu menjadi panutan,” kata Faisal.

Dia meminta polisi menuntaskan kasus ini agar tidak lagi terulang di masa mendatang.

(ton)

04.09 | Posted in , , | Read More »

Khatib Shalat Jumat Dipukuli di Atas Mimbar

PIDIE | IKHWANESIA.COM — Khatib salat Jumat di Masjid Raya Keumala babak belur dihajar sejumlah jemaah, Jumat (9/9). Ia dipukul ketika tengah menyampaikan khutbah.
Khatib yang berasal dari Gapui, Kecamatan Indrajaya, Pidie, menyampaikan kritikan tajam terhadap perilaku politisi lokal dan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka.
“Jinoe gadouh peugah MoU. Peuna iwoe MoU nyan keunoe u gampong?” tanya khatib Saiful Bahri berapi-api. “UUPA, ujong-ujong peungeut Aceh.”
Tak berhenti di situ, khatib ini juga menyindir perilaku elite GAM yang menurutnya menumpuk kekayaan di masa damai ini. “Peugot rumoh ube-be raya, bloe muto, mandum ateuh darah bangsa,” kata dia.
Materi khutbah ini disampaikan kala khatib menyampaikan kriteria dosa-dosa yang tidak diampuni Allah. Di antara dosa yang tidak diampuni, kata dia, adalah memutuskan tali silaturrahmi.
“Jangan gara-gara berbeda partai, kita saling bermusuhan. Ada menantu Partai SIRA tidak berbicara lagi dengan mertua yang Partai Aceh,” ujarnya.
Selain itu, khatib juga menyorot kasus pembunuhan. “Jangan pikir membunuh itu bisa diampuni dengan hanya taubat, kalau belum meminta maaf pada ahli waris,” sebutnya.
Seorang jemaah yang duduk di barisan keempat, sontak berdiri. “Turun. Jangan kampanye di sini,” kata pria yang mantan GAM itu.
Khatib lalu meneruskan khutbahnya, ingin mengakhiri. Namun, pria itu tetap meminta khatib turun dari mimbar.
Jemaah lantas satu per satu bangun sehingga menimbulkan kericuhan. Seorang lain, pria berbaju kuning bermotif kotak-kota, emosi dan menuju mimbar.
Di atas mimbar, khatib dihayak. Dua personel berusaha mengamankan khatib. Namun, sejumlah jemaah lain juga ikut memukul. Khatib dibogem, ditendang. Wajah khatib memar. Pelipisnya berdarah.
Jemaah lain berusaha melerai. Namun khatib terus dipukuli. Jemaah berusaha mengamankan khatib dari amarah sekelompok orang itu. []

03.29 | Posted in | Read More »

Khatib Shalat Jumat Dipukuli di Atas Mimbar

PIDIE | IKHWANESIA.COM — Khatib salat Jumat di Masjid Raya Keumala babak belur dihajar sejumlah jemaah, Jumat (9/9). Ia dipukul ketika tengah menyampaikan khutbah.
Khatib yang berasal dari Gapui, Kecamatan Indrajaya, Pidie, menyampaikan kritikan tajam terhadap perilaku politisi lokal dan mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka.
“Jinoe gadouh peugah MoU. Peuna iwoe MoU nyan keunoe u gampong?” tanya khatib Saiful Bahri berapi-api. “UUPA, ujong-ujong peungeut Aceh.”
Tak berhenti di situ, khatib ini juga menyindir perilaku elite GAM yang menurutnya menumpuk kekayaan di masa damai ini. “Peugot rumoh ube-be raya, bloe muto, mandum ateuh darah bangsa,” kata dia.
Materi khutbah ini disampaikan kala khatib menyampaikan kriteria dosa-dosa yang tidak diampuni Allah. Di antara dosa yang tidak diampuni, kata dia, adalah memutuskan tali silaturrahmi.
“Jangan gara-gara berbeda partai, kita saling bermusuhan. Ada menantu Partai SIRA tidak berbicara lagi dengan mertua yang Partai Aceh,” ujarnya.
Selain itu, khatib juga menyorot kasus pembunuhan. “Jangan pikir membunuh itu bisa diampuni dengan hanya taubat, kalau belum meminta maaf pada ahli waris,” sebutnya.
Seorang jemaah yang duduk di barisan keempat, sontak berdiri. “Turun. Jangan kampanye di sini,” kata pria yang mantan GAM itu.
Khatib lalu meneruskan khutbahnya, ingin mengakhiri. Namun, pria itu tetap meminta khatib turun dari mimbar.
Jemaah lantas satu per satu bangun sehingga menimbulkan kericuhan. Seorang lain, pria berbaju kuning bermotif kotak-kota, emosi dan menuju mimbar.
Di atas mimbar, khatib dihayak. Dua personel berusaha mengamankan khatib. Namun, sejumlah jemaah lain juga ikut memukul. Khatib dibogem, ditendang. Wajah khatib memar. Pelipisnya berdarah.
Jemaah lain berusaha melerai. Namun khatib terus dipukuli. Jemaah berusaha mengamankan khatib dari amarah sekelompok orang itu. []

03.29 | Posted in | Read More »

[Mengharukan] Aku Bangga Pada Suamiku

Bismillah …
(Semoga kisah ini juga bisa diambil manfaatnya oleh saudari-saudari muslimahku dimanapun berada)
.
***
Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu.
.
“Anty sudah menikah ?”.
“Belum mbak ”, jawabku .
Kemudian akhwat itu bertanya lagi
“ kenapa ?”
hanya bisa ku jawab dengan senyuman. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.
“Mbak menunggu siapa?” Aku mencoba bertanya .
“Nunggu suami” jawabnya.
.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya,
.
“Mbak kerja dimana?”, Entahlah keyakinan apa yang meyakiniku bahwa Mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi”, jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“kenapa?” tanyaku lagi .
Dia hanya tersenyum dan menjawab,
“karena inilah satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas .
.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya trsenyum.
“Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat”.
.
“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata,
.
“Abi, Umi pusing nih, ambil sendiri lah!”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23. 30 saya terbangun dan cepat – cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya . Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci.
.
Astagfirullah, kenapa Abi mengerjakan semua ini? Bukankah Abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap Abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya Abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.
Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, Abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya .”
.
Subhanallah, aku melihat Mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.
.
“Anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600 -700 rb /bulan. 10x lipat lebih rendah dari gaji saya. Dan malam itu saya benar- benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki , saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata,
.
“Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho ”, begitu katanya.
Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata- kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya ”, lanjutnya.
.
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah -mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
.
“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini . Saya sedih, karena orang tua, dan saudara - saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”
.
Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
.
“Kak , kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak -anak kita Kak . Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan . Nah kakak malah pengen berhenti kerja . Suami kakak pun penghasilannya kurang . Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai- santai aja dirumah. Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak , Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal , sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat .
.
“Anty tau , saya hanya bisa nangis saat itu..
Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia”
.
“Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata -kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. “
.
“Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan. Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak -hak suami saya .Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. “
.
“Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya , karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya , tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal.”
.
” Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakan pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya , dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptonya, bergegas ingin meninggalkanku.”
.
Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm , meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho .
.
***
.
Ya Alloh … .
Berkahi kami dalam menapaki jalan perjuangan menujuMU. Semoga Aku bisa selalu menjadi sebaik-baik istri untuk suamiku, yang menjadi bekal untuk meraih jannah Mu… Amin
.
Untuk Abi, apapun pekerjaan Abi, Ummi BANGGA Bi,

18.30 | Posted in , , , , , , , | Read More »

[Mengharukan] Aku Bangga Pada Suamiku

Bismillah …
(Semoga kisah ini juga bisa diambil manfaatnya oleh saudari-saudari muslimahku dimanapun berada)
.
***
Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu.
.
“Anty sudah menikah ?”.
“Belum mbak ”, jawabku .
Kemudian akhwat itu bertanya lagi
“ kenapa ?”
hanya bisa ku jawab dengan senyuman. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.
“Mbak menunggu siapa?” Aku mencoba bertanya .
“Nunggu suami” jawabnya.
.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya,
.
“Mbak kerja dimana?”, Entahlah keyakinan apa yang meyakiniku bahwa Mbak ini seorang pekerja, padahal setahu ku, akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi”, jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“kenapa?” tanyaku lagi .
Dia hanya tersenyum dan menjawab,
“karena inilah satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas .
.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya trsenyum.
“Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat”.
.
“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata,
.
“Abi, Umi pusing nih, ambil sendiri lah!”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23. 30 saya terbangun dan cepat – cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya . Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci.
.
Astagfirullah, kenapa Abi mengerjakan semua ini? Bukankah Abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap Abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya Abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.
Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, Abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya .”
.
Subhanallah, aku melihat Mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.
.
“Anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600 -700 rb /bulan. 10x lipat lebih rendah dari gaji saya. Dan malam itu saya benar- benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki , saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata,
.
“Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho ”, begitu katanya.
Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata- kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya ”, lanjutnya.
.
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah -mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
.
“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini . Saya sedih, karena orang tua, dan saudara - saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”
.
Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
.
“Kak , kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak -anak kita Kak . Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan . Nah kakak malah pengen berhenti kerja . Suami kakak pun penghasilannya kurang . Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai- santai aja dirumah. Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak , Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal , sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat .
.
“Anty tau , saya hanya bisa nangis saat itu..
Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia maremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia”
.
“Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membanguni saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata -kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. “
.
“Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan. Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak -hak suami saya .Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. “
.
“Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya , karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya , tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal.”
.
” Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakan pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya , dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptonya, bergegas ingin meninggalkanku.”
.
Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm , meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho .
.
***
.
Ya Alloh … .
Berkahi kami dalam menapaki jalan perjuangan menujuMU. Semoga Aku bisa selalu menjadi sebaik-baik istri untuk suamiku, yang menjadi bekal untuk meraih jannah Mu… Amin
.
Untuk Abi, apapun pekerjaan Abi, Ummi BANGGA Bi,

18.30 | Posted in , , , , , , , | Read More »

Mengenang Tragedi Simpang KKA

Tragedi Simpang KKA

***

Ketika sedang melancarkan aksinya, penduduk sempat mencatat kata-kata yang dikeluarkan para anggota TNI yaitu "AKAN KAMI TEMBAK SEMUA ORANG ACEH APABILA SEORANG ANGGOTA KAMI TIDAK DITEMUKAN".


Tanggal 3 Mei punya banyak makna bagi warga Aceh Utara, dan juga bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Tanggal tersebut selain bermakna resistensi atau perlawanan rakyat melawan negara, juga sebuah kenangan buruk, betapa negara begitu semena-mena terhadap rakyatnya. Karenanya, saban tahun—meski tak rutin karena kondisi Aceh tak selalu kondusif untuk mengenang tragedi—warga Aceh Utara khususnya para korban tragedi Simpang KKAmemperingatinya.

Sekedar merawat ingatan, Senin, 3 Mei 1999 atau sebelas tahun silam, banyak darah berceceran di sekitar simpang PT KKA. Jeritan dan tangisan para korban memecah telinga siapa saja yang pernah mendengar. Saat itu, harga peluru tentara begitu murahnya, karena bisa dihambur-hamburkan dengan sangat mudah. Setelah itu, puluhan mayat dan ratusan korban tergelatak, ada yang sudah kaku, banyak juga yang masih bernyawa sambil merintih, yang lainnya berlarian seperti dikejar air tsunami, mencari tempat yang bisa dijadikan tempat berlindung.

Saat tragedi itu, korban luka-luka tak terhitung. Hanya data yang dikumpulkan oleh Tim Pencari Fakta (TPF) Aceh Utara menyebutkan 115 orang mengalami luka parah, sementara 40 orang lainnya meninggal dunia. Dari jumlah itu, ada 6 orang masih sangat kanak-kanak, termasuk Saddam Husein (7 tahun) menjadi korban kebuasan aparat negara. 

Sementara data yang dikeluarkan Koalisi NGO HAM Aceh, menyebutkan sekitar 46 orangmeninggal (dua orang meninggal ketika menjalani perawatan di RSUZA Banda Aceh), sebanyak 156 mengalami luka tembak, dan 10 orang hilang dalam insiden tersebut.

Meskipun banyak pihak melupakan peristiwa itu, tidak bagi para korban. Jamaluddin, misalnya, sampai sekarang masih terkenang dengan tragedi paling kejam dalam hidupnya. Jamal, kelahiran Sawang, Aceh Utara mengisahkan, bahwa saat peristiwa itu terjadi, dirinya melihat banyak sekali korban tembakan yang rubuh. Jamal juga mendengar jeritan tangis dari para ibu dan bapak yang melihat warga tertembak.

Jamal sendiri mengaku, saat tragedi itu, tubuh-tubuh warga yang kena tembakan jatuh menindihnya. Dengan sisa tenaga yang ada, mayat-mayat diambil dan diletakkan di tempat yang layak. Jamal mengaku, tak tahu harus berkata apa saat itu. Jamal, sendiri luput dari maut.Jamal berharap Pemerintah Aceh tidak melupakan peristiwa itu. Kalau memang ini pelanggaran HAM, pelakunya harus diadili. Karena itulah keadilan bagi korban.


Kronologi Peristiwa


Sebelum Kejadian

Jumat malam, 30 April 1999, Sekitar jam 20.30 WIB masyarakat Desa Cot Murong, Kecamatan Dewantara, mengadakan rapat akbar untuk memperingati 1 Muharram yang bertepatan dengan 30 April 1999. Oleh pihak keamanan, peringatan 1 Muharram yang biasa diselenggarakan oleh masyarakat Islam di manapun di seluruh Propinsi Aceh, disebut sebagai ceramah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Lalu muncul kabar bahwa seorang anggota TNI dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berpangkat Sersan, bernama Adityawarman, hilang saat melakukan penyusupan di tengah kegiatan ceramah (Keterangan Kapuspen TNI, nama anggotanya yang hilang itu adalah Sersan Kepala Edi, dari Den Rudal 001/Pulo Rungkom, Aceh Utara).

Tidak jelas apakah anggota TNI itu benar hilang atau terjadi berbagai kemungkinan lainnya, tetapi yang pasti tidak satupun dari penduduk yang mengetahui keberadaannya. Dan yang pasti lagi, malam itu tidak terjadi apa-apa yang berarti di Desa Cot Murong.
Sabtu malam, 1 Mei 1999

Sebuah truk militer dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berputar-putar dikawasan Desa Cot Murong dengan aktivitas yang tidak jelas, tetapi hari itu tidak terjadi apa-apa.
Minggu pagi, 2 Mei 1999

Mulai pukul 05.00 WIB pasukan Den Rudal 001/Pulo Rungkom mulai melakukan operasi di kawasan Desa Cot Murong. Pada minggu pagi itu masyarakat sedang melakukan persiapan pelaksanaan kenduri memberi makan untuk anak-anak yatim sehubungan dengan pringatan 1 Muharram yang dilaksanakan sejak Jumat malam sebelumnya. Masyarakat memotong 4 ekor lembu di halaman Masjid Al-Abror, Cot Murong.

Pada saaat itulah, sekitar jam 11.00 WIB datang pasukan Den Rudal ke tempat kenduri dan dengan dalih menanyakan anggotanya yang hilang sehari sebelumnya mulai memuli warga setempat. Dilaporkan, waktu itu ada tidak kurang 20 orang yang dianiaya oleh anggota TNI tersebut. Praktek kekerasan dan penganiayaan dengan bertindak kasar, menampar dan memukuli hingga cedera, telah terjadi.

Ketika sedang melancarkan aksinya, penduduk sempat mencatat kata-kata yang dikeluarkan para anggota TNI yaitu "AKAN KAMI TEMBAK SEMUA ORANG ACEH APABILA SEORANG ANGGOTA KAMI TIDAK DITEMUKAN".

Menyadari kondisi yang mulai mencemaskan tersebut kemudian para warga dari Desa Murong dan desa-desa tentangga seperti Desa Lancang Barat, Kecamatan Nisam dan Paloh Lada, yang terdiri dari pemuda, wanita, orang tua serta anak-anak berkumpul untuk mencegah kemungkinan penganiayaan lebih lanjut, apalagi aparat militer telah mengeluarkan ancaman yang cukup menakutkan.

Tiba-tiba, pada pukul 13.00 WIB datang lagi pasukan tambahan yang terdiri dari 7 truk anggota TNI ke lokasi kenduri. Melihat itu, masyarakat yang telah berkumpul dari berbagai penjuru Kecamatan mencoba menghadang.

Tepat pukul 14.00 WIB terjadi negosiasi (membuat perjanjian) antara masyarakat Kecamatan Dewantara dengan Danramil Kecamatan Dewantara yang diketahui pihak MUI Kecamatan, yang isinya: "TNI tidak akan datang lagi ke Desa Cot Murong dengan alasan apapun".

Saat Kejadian

Minggu malam, 2 Mei 1999. Masyarakat desa mengetahui adanya penyusupan anggota TNI antara jam 20.00 WIB sampai dinihari ke Desa Cot Murong dan Desa Lancang Barat. Bahkan penduduk pun mengetahui adanya sebuah boat yang diperkirakan milik militer berupaya untuk melakukan pendaratan di pantai Desa Cot Murong, namun batal karena terlanjur diketahui oleh warga setempat. Sampai waktu itu tidak terjadi apa-apa, namun kecemasan penduduk semakin memuncak, dan sejak saat itu mereka semua mulai berkumpul sampai Senin pagi.

Para Syuhada Yang tewas
Senin pagi, 3 mei 1999. Tepat pada pukul 09.00 WIB, 4 truk pasukan TNI datang lagi memasuki Desa Lancang Barat, desa tentangga Cot Murong. Massa rakyat yang berkumpul merasa cemas dan mulai mempersenjatai diri dengan kayu dan parang (tanpa senjata api). Lalu datang Camat Dewantara, Drs. Marzuki Amin ke Simpang KKA dan mulai melakukan negosiasi dengan aparat TNI. Aparat berkeras dan negosiasi mentok. Camat tetap berpegang kepada perjanjian terdahulu yang telah disepakati oleh masyarakat dengan Koramil Dewantara yang intinya pihak TNI tidak lagi melakukan kegiatan operasi di daerah mereka. Negosiasi itu beralangsung cukup lama. Waktu sudaah menunjukkan hampir jam 12.00 WIB.

Untuk menunjukkan kesungguhan hati dan permohonan yang sangat besar agar pasukan segera ditarik dan pihak TNI menghormati perjanjian yang telah dibuat, Camat Marzuki Amin sempat mencopot tanda jabatan dari dadanya. Tetapi malah sang Camat kemudian dipukuli oleh tentara.

Pada saat itu tiba-tiba satu truk milik TNI bergerak dan sambil berlalu, dari atas truk para tentara melempari batu ke arah masyarakat, dan masyarakat yang terpancing balas melempari batu ke atas truk. Pada saat yang hampir bersamaan juga seorang anggota tentara berlari kearah semak-semak dan masyarakat yang terpancing mengejarnya. Tiba-tiba dari arah semak itu terdengar satu letusan senjata. Letusan senjata itulah yang seperti sebuah "komando" disusul oleh rentetan serangan. Pembantaian segera dimulai. Tepat jam 12.30 WIB.
Saat Kejadian.

Pukul 12.30 WIB, Suara gemuruh dan teriakan manusia memenuhi Simpang KKA. Ribuan orang berlarian menghindari serangan dari TNI. Dua wartawan RCTI (Umar HN dan Said Kaban) yang kebetulan sudah berada di tempat itu sempat merekam moment-moment penting yang terjadi baik dengan foto atau video. Dapat dikatakan, hasil rekamannya itu menjadi salah-satu bukti yang paling akurat dan tidak mungkin dapat dipungkiri tentang bagaimana peristiwa yang sebenarnya.

Syuruga Allah Keu Ureung Nyan
Tembakan yang dilakukan tanpa peringatan terlebih dahulu dan dengan posisi siap tempur. Tentara yang dibagian depan jongkok dan yang berada pada barisan belakang berdiri. Selain itu, tentara yang berada di atas truk juga terus melakukan tembakan sambil melakukan gerakan-gerakan tempur. Saat itu penduduk yang tidak lagi sempat lari melakukan tiarap tapi terus diberondong.

Selain melakukan tembakan kearah masa, TNI juga mengarahkan tembakan ke rumah-rumah penduduk, sehingga banyak warga yang sedang di dalam rumah juga menjadi korban. Bahkan mereka mengejar dan memasuki rumah-rumah penduduk dan melakukan pembantaian di sana.

Ketika melakukan tembakan para anggota tentara itu juga berteriak-teriak. Kalimat yang paling sering diucapkan adalah "Akan kubunuh semua orang Aceh". Dalam aksi pembantaian tersebut, 45 jiwa Tewas di tempat, 156 lainnya Luka-luka kebanyakan karena luka tembak, dan 10 diantaranya Hilang sampai saat ini tidak tahu keberadaannya. Banyak penduduk yang sudah tertembak dan tidak bisa lari lagi masih terus diberondong oleh tentara dari belakang. Mereka benar-benar melakukan pembantaian seperti sebuah pesta.

Sumber: Koalisi NGO HAM Aceh

06.54 | Posted in , , , , , , , , , | Read More »

Mengenang Tragedi Simpang KKA

Tragedi Simpang KKA

***

Ketika sedang melancarkan aksinya, penduduk sempat mencatat kata-kata yang dikeluarkan para anggota TNI yaitu "AKAN KAMI TEMBAK SEMUA ORANG ACEH APABILA SEORANG ANGGOTA KAMI TIDAK DITEMUKAN".


Tanggal 3 Mei punya banyak makna bagi warga Aceh Utara, dan juga bagi masyarakat Aceh pada umumnya. Tanggal tersebut selain bermakna resistensi atau perlawanan rakyat melawan negara, juga sebuah kenangan buruk, betapa negara begitu semena-mena terhadap rakyatnya. Karenanya, saban tahun—meski tak rutin karena kondisi Aceh tak selalu kondusif untuk mengenang tragedi—warga Aceh Utara khususnya para korban tragedi Simpang KKAmemperingatinya.

Sekedar merawat ingatan, Senin, 3 Mei 1999 atau sebelas tahun silam, banyak darah berceceran di sekitar simpang PT KKA. Jeritan dan tangisan para korban memecah telinga siapa saja yang pernah mendengar. Saat itu, harga peluru tentara begitu murahnya, karena bisa dihambur-hamburkan dengan sangat mudah. Setelah itu, puluhan mayat dan ratusan korban tergelatak, ada yang sudah kaku, banyak juga yang masih bernyawa sambil merintih, yang lainnya berlarian seperti dikejar air tsunami, mencari tempat yang bisa dijadikan tempat berlindung.

Saat tragedi itu, korban luka-luka tak terhitung. Hanya data yang dikumpulkan oleh Tim Pencari Fakta (TPF) Aceh Utara menyebutkan 115 orang mengalami luka parah, sementara 40 orang lainnya meninggal dunia. Dari jumlah itu, ada 6 orang masih sangat kanak-kanak, termasuk Saddam Husein (7 tahun) menjadi korban kebuasan aparat negara. 

Sementara data yang dikeluarkan Koalisi NGO HAM Aceh, menyebutkan sekitar 46 orangmeninggal (dua orang meninggal ketika menjalani perawatan di RSUZA Banda Aceh), sebanyak 156 mengalami luka tembak, dan 10 orang hilang dalam insiden tersebut.

Meskipun banyak pihak melupakan peristiwa itu, tidak bagi para korban. Jamaluddin, misalnya, sampai sekarang masih terkenang dengan tragedi paling kejam dalam hidupnya. Jamal, kelahiran Sawang, Aceh Utara mengisahkan, bahwa saat peristiwa itu terjadi, dirinya melihat banyak sekali korban tembakan yang rubuh. Jamal juga mendengar jeritan tangis dari para ibu dan bapak yang melihat warga tertembak.

Jamal sendiri mengaku, saat tragedi itu, tubuh-tubuh warga yang kena tembakan jatuh menindihnya. Dengan sisa tenaga yang ada, mayat-mayat diambil dan diletakkan di tempat yang layak. Jamal mengaku, tak tahu harus berkata apa saat itu. Jamal, sendiri luput dari maut.Jamal berharap Pemerintah Aceh tidak melupakan peristiwa itu. Kalau memang ini pelanggaran HAM, pelakunya harus diadili. Karena itulah keadilan bagi korban.


Kronologi Peristiwa


Sebelum Kejadian

Jumat malam, 30 April 1999, Sekitar jam 20.30 WIB masyarakat Desa Cot Murong, Kecamatan Dewantara, mengadakan rapat akbar untuk memperingati 1 Muharram yang bertepatan dengan 30 April 1999. Oleh pihak keamanan, peringatan 1 Muharram yang biasa diselenggarakan oleh masyarakat Islam di manapun di seluruh Propinsi Aceh, disebut sebagai ceramah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Lalu muncul kabar bahwa seorang anggota TNI dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berpangkat Sersan, bernama Adityawarman, hilang saat melakukan penyusupan di tengah kegiatan ceramah (Keterangan Kapuspen TNI, nama anggotanya yang hilang itu adalah Sersan Kepala Edi, dari Den Rudal 001/Pulo Rungkom, Aceh Utara).

Tidak jelas apakah anggota TNI itu benar hilang atau terjadi berbagai kemungkinan lainnya, tetapi yang pasti tidak satupun dari penduduk yang mengetahui keberadaannya. Dan yang pasti lagi, malam itu tidak terjadi apa-apa yang berarti di Desa Cot Murong.
Sabtu malam, 1 Mei 1999

Sebuah truk militer dari kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom berputar-putar dikawasan Desa Cot Murong dengan aktivitas yang tidak jelas, tetapi hari itu tidak terjadi apa-apa.
Minggu pagi, 2 Mei 1999

Mulai pukul 05.00 WIB pasukan Den Rudal 001/Pulo Rungkom mulai melakukan operasi di kawasan Desa Cot Murong. Pada minggu pagi itu masyarakat sedang melakukan persiapan pelaksanaan kenduri memberi makan untuk anak-anak yatim sehubungan dengan pringatan 1 Muharram yang dilaksanakan sejak Jumat malam sebelumnya. Masyarakat memotong 4 ekor lembu di halaman Masjid Al-Abror, Cot Murong.

Pada saaat itulah, sekitar jam 11.00 WIB datang pasukan Den Rudal ke tempat kenduri dan dengan dalih menanyakan anggotanya yang hilang sehari sebelumnya mulai memuli warga setempat. Dilaporkan, waktu itu ada tidak kurang 20 orang yang dianiaya oleh anggota TNI tersebut. Praktek kekerasan dan penganiayaan dengan bertindak kasar, menampar dan memukuli hingga cedera, telah terjadi.

Ketika sedang melancarkan aksinya, penduduk sempat mencatat kata-kata yang dikeluarkan para anggota TNI yaitu "AKAN KAMI TEMBAK SEMUA ORANG ACEH APABILA SEORANG ANGGOTA KAMI TIDAK DITEMUKAN".

Menyadari kondisi yang mulai mencemaskan tersebut kemudian para warga dari Desa Murong dan desa-desa tentangga seperti Desa Lancang Barat, Kecamatan Nisam dan Paloh Lada, yang terdiri dari pemuda, wanita, orang tua serta anak-anak berkumpul untuk mencegah kemungkinan penganiayaan lebih lanjut, apalagi aparat militer telah mengeluarkan ancaman yang cukup menakutkan.

Tiba-tiba, pada pukul 13.00 WIB datang lagi pasukan tambahan yang terdiri dari 7 truk anggota TNI ke lokasi kenduri. Melihat itu, masyarakat yang telah berkumpul dari berbagai penjuru Kecamatan mencoba menghadang.

Tepat pukul 14.00 WIB terjadi negosiasi (membuat perjanjian) antara masyarakat Kecamatan Dewantara dengan Danramil Kecamatan Dewantara yang diketahui pihak MUI Kecamatan, yang isinya: "TNI tidak akan datang lagi ke Desa Cot Murong dengan alasan apapun".

Saat Kejadian

Minggu malam, 2 Mei 1999. Masyarakat desa mengetahui adanya penyusupan anggota TNI antara jam 20.00 WIB sampai dinihari ke Desa Cot Murong dan Desa Lancang Barat. Bahkan penduduk pun mengetahui adanya sebuah boat yang diperkirakan milik militer berupaya untuk melakukan pendaratan di pantai Desa Cot Murong, namun batal karena terlanjur diketahui oleh warga setempat. Sampai waktu itu tidak terjadi apa-apa, namun kecemasan penduduk semakin memuncak, dan sejak saat itu mereka semua mulai berkumpul sampai Senin pagi.

Para Syuhada Yang tewas
Senin pagi, 3 mei 1999. Tepat pada pukul 09.00 WIB, 4 truk pasukan TNI datang lagi memasuki Desa Lancang Barat, desa tentangga Cot Murong. Massa rakyat yang berkumpul merasa cemas dan mulai mempersenjatai diri dengan kayu dan parang (tanpa senjata api). Lalu datang Camat Dewantara, Drs. Marzuki Amin ke Simpang KKA dan mulai melakukan negosiasi dengan aparat TNI. Aparat berkeras dan negosiasi mentok. Camat tetap berpegang kepada perjanjian terdahulu yang telah disepakati oleh masyarakat dengan Koramil Dewantara yang intinya pihak TNI tidak lagi melakukan kegiatan operasi di daerah mereka. Negosiasi itu beralangsung cukup lama. Waktu sudaah menunjukkan hampir jam 12.00 WIB.

Untuk menunjukkan kesungguhan hati dan permohonan yang sangat besar agar pasukan segera ditarik dan pihak TNI menghormati perjanjian yang telah dibuat, Camat Marzuki Amin sempat mencopot tanda jabatan dari dadanya. Tetapi malah sang Camat kemudian dipukuli oleh tentara.

Pada saat itu tiba-tiba satu truk milik TNI bergerak dan sambil berlalu, dari atas truk para tentara melempari batu ke arah masyarakat, dan masyarakat yang terpancing balas melempari batu ke atas truk. Pada saat yang hampir bersamaan juga seorang anggota tentara berlari kearah semak-semak dan masyarakat yang terpancing mengejarnya. Tiba-tiba dari arah semak itu terdengar satu letusan senjata. Letusan senjata itulah yang seperti sebuah "komando" disusul oleh rentetan serangan. Pembantaian segera dimulai. Tepat jam 12.30 WIB.
Saat Kejadian.

Pukul 12.30 WIB, Suara gemuruh dan teriakan manusia memenuhi Simpang KKA. Ribuan orang berlarian menghindari serangan dari TNI. Dua wartawan RCTI (Umar HN dan Said Kaban) yang kebetulan sudah berada di tempat itu sempat merekam moment-moment penting yang terjadi baik dengan foto atau video. Dapat dikatakan, hasil rekamannya itu menjadi salah-satu bukti yang paling akurat dan tidak mungkin dapat dipungkiri tentang bagaimana peristiwa yang sebenarnya.

Syuruga Allah Keu Ureung Nyan
Tembakan yang dilakukan tanpa peringatan terlebih dahulu dan dengan posisi siap tempur. Tentara yang dibagian depan jongkok dan yang berada pada barisan belakang berdiri. Selain itu, tentara yang berada di atas truk juga terus melakukan tembakan sambil melakukan gerakan-gerakan tempur. Saat itu penduduk yang tidak lagi sempat lari melakukan tiarap tapi terus diberondong.

Selain melakukan tembakan kearah masa, TNI juga mengarahkan tembakan ke rumah-rumah penduduk, sehingga banyak warga yang sedang di dalam rumah juga menjadi korban. Bahkan mereka mengejar dan memasuki rumah-rumah penduduk dan melakukan pembantaian di sana.

Ketika melakukan tembakan para anggota tentara itu juga berteriak-teriak. Kalimat yang paling sering diucapkan adalah "Akan kubunuh semua orang Aceh". Dalam aksi pembantaian tersebut, 45 jiwa Tewas di tempat, 156 lainnya Luka-luka kebanyakan karena luka tembak, dan 10 diantaranya Hilang sampai saat ini tidak tahu keberadaannya. Banyak penduduk yang sudah tertembak dan tidak bisa lari lagi masih terus diberondong oleh tentara dari belakang. Mereka benar-benar melakukan pembantaian seperti sebuah pesta.

Sumber: Koalisi NGO HAM Aceh

06.54 | Posted in , , , , , , , , , | Read More »

VIDEO: Dakwah Terakhir Zainuddin

Zainuddin menyoroti kepemimpinan bangsa yang dinilainya lemah dalam pemberantasan korupsi.


KH Zainuddin MZ wafat 


Atjeh-HorizonDa'i Sejuta Umat, Zainuddin MZ meninggal dunia dalam usia 58 tahun. Zainuddin yang seminggu belakangan mengeluh kecapean, akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.
Sebelum meninggal, Zainuddin masih sempat mengisi acara ceramah rutin yang disiarkan langsung oleh TvOne. Minggu, 3 Juli 2011, adalah ceramah terakhir sang da'i dalam acara tersebut.
Dalam ceramahnya, Zainuddin menyoroti permasalahan yang dihadapi Bangsa Indonesia saat ini. Zainuddin, menyoroti kepemimpinan bangsa dalam pemberantasan korupsi. Menurut dia, seorang pemimpin harus tegas memberantas korupsi.
"Pemimpin harus punya nyali. Kalau badan doang gedhe, nyali kaga punya, bobo aja bobo," kata Zainuddin. Lihat video terakhir Zainuddin 


sumber: vivanews

00.04 | Posted in , , , , , , | Read More »

VIDEO: Dakwah Terakhir Zainuddin

Zainuddin menyoroti kepemimpinan bangsa yang dinilainya lemah dalam pemberantasan korupsi.


KH Zainuddin MZ wafat 


Atjeh-HorizonDa'i Sejuta Umat, Zainuddin MZ meninggal dunia dalam usia 58 tahun. Zainuddin yang seminggu belakangan mengeluh kecapean, akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.
Sebelum meninggal, Zainuddin masih sempat mengisi acara ceramah rutin yang disiarkan langsung oleh TvOne. Minggu, 3 Juli 2011, adalah ceramah terakhir sang da'i dalam acara tersebut.
Dalam ceramahnya, Zainuddin menyoroti permasalahan yang dihadapi Bangsa Indonesia saat ini. Zainuddin, menyoroti kepemimpinan bangsa dalam pemberantasan korupsi. Menurut dia, seorang pemimpin harus tegas memberantas korupsi.
"Pemimpin harus punya nyali. Kalau badan doang gedhe, nyali kaga punya, bobo aja bobo," kata Zainuddin. Lihat video terakhir Zainuddin 


sumber: vivanews

00.04 | Posted in , , , , , , | Read More »

Rapat Samoedera Esplanade Koetaradja


Pada 15 Juni 1948 pukul 12.45, pesawat Seulawah RI 002 yang membawa Presiden Soekarno dan rombongan mendarat di lapangan terbang Lhoknga. Sehari kemudian Soekarno mengadakan Rapat Samoedra di Esplanade Koetaradja.

Kedatangan Soekarno ke Aceh pada 15 Juni 1948 itu ikut membawa beberapa pejabat tinggi. Dalam rombongan presiden itu ikut serta Menteri Dalam Negeri Dr Soekiman, Komisaris Negara Mr T Mohammad Hasan, ikut pula Panglima TNI bagian Sumatera Djendar Major Soehardjo. Semuanya ada 17 petinggi negara yang dibawa Soekarno ke Aceh hari itu.


Di Lhoknga mereka disambut oleh Gubernur Sumatera Utara Mr S M Amin, Gubernur Militer Djendral Major Tgk M Daud Beureueh, Residen Inspektur Toekoe Mahmoed, Residen Aceh T M Daoedsjah, serta Djendral Major Amir Hoesin al Moejahid.

Dalam buku “Perkundjungan Presiden Soekarno ke Atjeh” terbitan Djabatan Penerangan Atjeh, Djoeli 1948. Ketika tiba di Lapangan Udara Lhoknga, Soekarno berpidato berpidato beberapa saat membakarkan semangat ribuan rakyat Aceh yang datang untuk melihat kedatangannya.

Dari Lhonga Sokearno diantar ke Kutaraja. Malamnya, ia memberikan kursus politik kepada para pejabat Aceh di Atjeh Bioskop di Kutaraja. Gedung yang kemudian berubah nama menjadi Garuda Theater. Di tempat itu Soekarno menyampaikan kuliah umum kepada 800 orang dari berbakai kalangan. Sementara di luar gedung sampai ke lapangan Blang Padang ribuan orang mendengar kursus politik Soekarno dari pengeras suara.



Kuliah umum Soekarno di Garuda itu disampaikan pada pukul 21.00 WIB, setelah Gubernur Sumatera Utara Mr S M Amin menyampaikan kata sambutan. Berbeda dengan pidato yang disampaikan siang hari di lapangan terbang Lhok Nga, kali ini Soekarno tampil tidak lagi berapi-api, tapi dengan sedikit datar dan canda. Pada halaman 18 buku itu ditulis pernyataan Soekarno seperti di bawah ini:

“Saudara-saudara saya ini malam mau berbicara, saya tidak harus berpidato secara agitatie, secara berkobar-kobar, tetapi terutama sekali harus berpidato secara yang menuju kepada ketenangan pikiran….jangan kita mendengar pidato yang bergelora-gelora saja, melainkan lihatlah akan isinya pidato, jikalau sekarang pada ini malam saya hendak berbicara kepada saudara-saudara tentang hal-hal yang penting sekali tentang perjuangan kita di saat sekarang ini,”

Usai membuka mukaddimah itu, Soekarno kemudian melanjutkan kursus politiknya tentang syarat-syarat untuk pemimpin. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin harus berpikir panjang tanpa melupakan sejarahnya. Soekarno mengungkapkannya dalam istilah Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Di mata Soekarno, seorang pemimpin harus berpikir secara historisch feiten, berpikir dengan ukuran puluhan tahun, bukan dalam hitungan hari atau pekan. “Kita harus berpikir secara in decennia en in risch, berpikir secara garis sejarah, jangan berpikir secara kejadian sehari-hari,” tegasnya dalam kuliah umum di Garuda itu.

Rapat Samoedera di Esplanade Koetaradja
Pagi 16 Juni 1948, rakyat Aceh kembali datang berduyun-duyun ke lapangan Esplanade Koetaradja. Tapi mereka tidak bisa masuk ke lapangan, hanya berjubel di pinggiran saja. Pasalnya, di lapangan itu dilakukan defile angkatan perang dan persenjataan militer di Aceh.

Jam 09.00 WIB, Soekarno masuk ke lapangan dengan mobil pengantar. Di sana ia disambut Komandan Barisan Besar Kolonel H Sitompoel kemudian naik ke tribun. Di tribun itu, dibelakang presiden berdiri Komandan Divisi X TNI Kolonel Husin Jusuf, Gubernur Militer Aceh Langkah dan Tanah Karo Tgk Muhammad Daoed Beureueh, Panglima Sumatera Djendral major Soehardjo, dan Komisaris Negara Mr T M Hasan.

Komandan Barisan Besar Kolonel H Sitompoel kemudian melapor kepada presiden bahwa pasukan siap mengikuti rapat Samoedera. Usai menerima laporan itu, Presiden Soekarno bersama Tgk Muhammad Daoed Beureueh, Husein Jusuf dan Kolonel H Sitompoel melakukan pemeriksaan pasukan. Setelah itu kembali lagi ke tribun.

Jam 10.00 WIB, rapat kemudian dibuka oleh T Oesman Raliby dan dilanjutkan dengan sambutan dari Pejabat Tinggi Residen Aceh T M Daoedsjah. Ia meminta kepada seluruh rakyat Aceh yang hadir di lapangan Esplanade Koetaradja itu untuk mendengar baik-baik pidato-pidato yang akan disampaikan oleh beberapa pejabat tinggi negara dalam rapat Samoedera tersebut.

Setelah itu, naik ke podium utama untuk berpidato Mr Nazir DT Pamotjak. Ia berbicara tentang pentingnya membangun hubungan luar negeri. Untuk itu harus disiapkan dipolomat-diplomat ulung. Usaha meretas hubungan luar negeri itu sudah dirintis oleh sebuah tim diplomat Indonesia yang dikepalai Menteri Luar Negeri H Agoes Salim.

Ia menceritakan sambutan hangat dari beberapa negara yang dikunjungi para diplomat Indonesia itu. “Bukan main hebatnya sambutan dari luar negeri. Kita ketahui bahwa di India, telah begitu lama mereka memperhatikan perjuangan kita. Juga di India rombongan diplomat kita mendapatkan perhatian besar,” jelasnya dalam pidato itu.

Selanjutnya ia bercerita tentang sambutan Mufti besar Palestina yang menerima kunjungan tim diplomat Indonesia dan dijamu makan bersama. Begitu juga di Maroko, dan Sultan El Atras dari Syria. “Mesir juga mengakui negara kita sebagai negara yang merdeka,” katanya.

Giliran selanjutnya berpidato Menteri Dalam Negeri (Mendagri) DR Soekiman. Di hadapan ribuan rakyat di lapangan Esplanade Koetaradja ia mengelu-elukan patriotisme rakyat Aceh dalam melawan Belanda. Semangat yang masih diwarisi oleh rakyat Aceh untuk menentang politik deviden et impera yang dilakukan Belanda.

Setelah itu baru giliran Presiden Soekarno berpidato dalam rapat terbuka tersebut. Ketika Soekarno berdiri di depan mikrofon untuk berpidato, teriakan merdeka membahana di lapangan esplanade Koetaradja. Soekarno membalas teriakan merdeka itu dengan meneriakkan kata “Medeka” berkali kali. Ia kemudian membakar semangat rakyat Aceh untuk memekikkan kata “Merdeka” denan suara yang lebih lantang.

Di hadapan rakyat di lapangan itu Soekarno berkata, “Kata orang Amerika Let Freedom Ring. Kalimat pertama dari lagu Nasional Amerika bunyinya Let Freedom Ring, artinya gegap gempitakan pekikan kemerdekaan, jangan setengah-setengah, jangan tertahan-tahan jiwa,” katanya. Ia kemudian memekikkan kembali kata “Merdeka” yanmg dijawab dengan pekikan yang sama oleh ribuan rakyat Aceh.

Dalam pidatonya, Soekarno juga memuji Aceh sebagai pelopor dan kampium perjuangan kemerdekaan. Ia mengatakan kerinduannya yang sudah sangat lama untuk berkunjung dan bertatap muka langsung dengan rakyat Aceh. Kepada rakyat Aceh Soekarno berpesan untuk menjaga persatuan dan kesatuan dalam menghadapi imperialisme barat.

Di akhir pidatonya Soekarno mengingatkan rakyat Aceh bahwa revolusi belum selesai. “Aku meminta kepadamu hai pemuda-pemuda, pemudi-pemudi, ulama-ulama, saudara-saudara, anak-anakku dari angkatan perang, segenap pegawai, segenap rakyat jelata yang berkumpul di sini, di seluruh daerah Aceh, marilah kita terus berjuang, sebagai yang tadi malam telah kuceritakan jangan bercerai berai, jangan berpecah belah, jangan dengki mendengki, tetap perilahara persatuan bangsa, tetaplah bekerja bersama-sama, golongan Islam, golongan Pesindo, golongan apapun, tetap bersatu menyelesaikan kita punya Nationale Revolutie yang sekarang belum selesai, yang sekarang baru menghasilkan Republik, yang sekarang malah menjadi kecil, tapi cita-cita kita lebih besar dari pada itu,” pesan Soekarno.[iskandar norman]

02.11 | Posted in , , , , , | Read More »

Rapat Samoedera Esplanade Koetaradja


Pada 15 Juni 1948 pukul 12.45, pesawat Seulawah RI 002 yang membawa Presiden Soekarno dan rombongan mendarat di lapangan terbang Lhoknga. Sehari kemudian Soekarno mengadakan Rapat Samoedra di Esplanade Koetaradja.

Kedatangan Soekarno ke Aceh pada 15 Juni 1948 itu ikut membawa beberapa pejabat tinggi. Dalam rombongan presiden itu ikut serta Menteri Dalam Negeri Dr Soekiman, Komisaris Negara Mr T Mohammad Hasan, ikut pula Panglima TNI bagian Sumatera Djendar Major Soehardjo. Semuanya ada 17 petinggi negara yang dibawa Soekarno ke Aceh hari itu.


Di Lhoknga mereka disambut oleh Gubernur Sumatera Utara Mr S M Amin, Gubernur Militer Djendral Major Tgk M Daud Beureueh, Residen Inspektur Toekoe Mahmoed, Residen Aceh T M Daoedsjah, serta Djendral Major Amir Hoesin al Moejahid.

Dalam buku “Perkundjungan Presiden Soekarno ke Atjeh” terbitan Djabatan Penerangan Atjeh, Djoeli 1948. Ketika tiba di Lapangan Udara Lhoknga, Soekarno berpidato berpidato beberapa saat membakarkan semangat ribuan rakyat Aceh yang datang untuk melihat kedatangannya.

Dari Lhonga Sokearno diantar ke Kutaraja. Malamnya, ia memberikan kursus politik kepada para pejabat Aceh di Atjeh Bioskop di Kutaraja. Gedung yang kemudian berubah nama menjadi Garuda Theater. Di tempat itu Soekarno menyampaikan kuliah umum kepada 800 orang dari berbakai kalangan. Sementara di luar gedung sampai ke lapangan Blang Padang ribuan orang mendengar kursus politik Soekarno dari pengeras suara.



Kuliah umum Soekarno di Garuda itu disampaikan pada pukul 21.00 WIB, setelah Gubernur Sumatera Utara Mr S M Amin menyampaikan kata sambutan. Berbeda dengan pidato yang disampaikan siang hari di lapangan terbang Lhok Nga, kali ini Soekarno tampil tidak lagi berapi-api, tapi dengan sedikit datar dan canda. Pada halaman 18 buku itu ditulis pernyataan Soekarno seperti di bawah ini:

“Saudara-saudara saya ini malam mau berbicara, saya tidak harus berpidato secara agitatie, secara berkobar-kobar, tetapi terutama sekali harus berpidato secara yang menuju kepada ketenangan pikiran….jangan kita mendengar pidato yang bergelora-gelora saja, melainkan lihatlah akan isinya pidato, jikalau sekarang pada ini malam saya hendak berbicara kepada saudara-saudara tentang hal-hal yang penting sekali tentang perjuangan kita di saat sekarang ini,”

Usai membuka mukaddimah itu, Soekarno kemudian melanjutkan kursus politiknya tentang syarat-syarat untuk pemimpin. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin harus berpikir panjang tanpa melupakan sejarahnya. Soekarno mengungkapkannya dalam istilah Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Di mata Soekarno, seorang pemimpin harus berpikir secara historisch feiten, berpikir dengan ukuran puluhan tahun, bukan dalam hitungan hari atau pekan. “Kita harus berpikir secara in decennia en in risch, berpikir secara garis sejarah, jangan berpikir secara kejadian sehari-hari,” tegasnya dalam kuliah umum di Garuda itu.

Rapat Samoedera di Esplanade Koetaradja
Pagi 16 Juni 1948, rakyat Aceh kembali datang berduyun-duyun ke lapangan Esplanade Koetaradja. Tapi mereka tidak bisa masuk ke lapangan, hanya berjubel di pinggiran saja. Pasalnya, di lapangan itu dilakukan defile angkatan perang dan persenjataan militer di Aceh.

Jam 09.00 WIB, Soekarno masuk ke lapangan dengan mobil pengantar. Di sana ia disambut Komandan Barisan Besar Kolonel H Sitompoel kemudian naik ke tribun. Di tribun itu, dibelakang presiden berdiri Komandan Divisi X TNI Kolonel Husin Jusuf, Gubernur Militer Aceh Langkah dan Tanah Karo Tgk Muhammad Daoed Beureueh, Panglima Sumatera Djendral major Soehardjo, dan Komisaris Negara Mr T M Hasan.

Komandan Barisan Besar Kolonel H Sitompoel kemudian melapor kepada presiden bahwa pasukan siap mengikuti rapat Samoedera. Usai menerima laporan itu, Presiden Soekarno bersama Tgk Muhammad Daoed Beureueh, Husein Jusuf dan Kolonel H Sitompoel melakukan pemeriksaan pasukan. Setelah itu kembali lagi ke tribun.

Jam 10.00 WIB, rapat kemudian dibuka oleh T Oesman Raliby dan dilanjutkan dengan sambutan dari Pejabat Tinggi Residen Aceh T M Daoedsjah. Ia meminta kepada seluruh rakyat Aceh yang hadir di lapangan Esplanade Koetaradja itu untuk mendengar baik-baik pidato-pidato yang akan disampaikan oleh beberapa pejabat tinggi negara dalam rapat Samoedera tersebut.

Setelah itu, naik ke podium utama untuk berpidato Mr Nazir DT Pamotjak. Ia berbicara tentang pentingnya membangun hubungan luar negeri. Untuk itu harus disiapkan dipolomat-diplomat ulung. Usaha meretas hubungan luar negeri itu sudah dirintis oleh sebuah tim diplomat Indonesia yang dikepalai Menteri Luar Negeri H Agoes Salim.

Ia menceritakan sambutan hangat dari beberapa negara yang dikunjungi para diplomat Indonesia itu. “Bukan main hebatnya sambutan dari luar negeri. Kita ketahui bahwa di India, telah begitu lama mereka memperhatikan perjuangan kita. Juga di India rombongan diplomat kita mendapatkan perhatian besar,” jelasnya dalam pidato itu.

Selanjutnya ia bercerita tentang sambutan Mufti besar Palestina yang menerima kunjungan tim diplomat Indonesia dan dijamu makan bersama. Begitu juga di Maroko, dan Sultan El Atras dari Syria. “Mesir juga mengakui negara kita sebagai negara yang merdeka,” katanya.

Giliran selanjutnya berpidato Menteri Dalam Negeri (Mendagri) DR Soekiman. Di hadapan ribuan rakyat di lapangan Esplanade Koetaradja ia mengelu-elukan patriotisme rakyat Aceh dalam melawan Belanda. Semangat yang masih diwarisi oleh rakyat Aceh untuk menentang politik deviden et impera yang dilakukan Belanda.

Setelah itu baru giliran Presiden Soekarno berpidato dalam rapat terbuka tersebut. Ketika Soekarno berdiri di depan mikrofon untuk berpidato, teriakan merdeka membahana di lapangan esplanade Koetaradja. Soekarno membalas teriakan merdeka itu dengan meneriakkan kata “Medeka” berkali kali. Ia kemudian membakar semangat rakyat Aceh untuk memekikkan kata “Merdeka” denan suara yang lebih lantang.

Di hadapan rakyat di lapangan itu Soekarno berkata, “Kata orang Amerika Let Freedom Ring. Kalimat pertama dari lagu Nasional Amerika bunyinya Let Freedom Ring, artinya gegap gempitakan pekikan kemerdekaan, jangan setengah-setengah, jangan tertahan-tahan jiwa,” katanya. Ia kemudian memekikkan kembali kata “Merdeka” yanmg dijawab dengan pekikan yang sama oleh ribuan rakyat Aceh.

Dalam pidatonya, Soekarno juga memuji Aceh sebagai pelopor dan kampium perjuangan kemerdekaan. Ia mengatakan kerinduannya yang sudah sangat lama untuk berkunjung dan bertatap muka langsung dengan rakyat Aceh. Kepada rakyat Aceh Soekarno berpesan untuk menjaga persatuan dan kesatuan dalam menghadapi imperialisme barat.

Di akhir pidatonya Soekarno mengingatkan rakyat Aceh bahwa revolusi belum selesai. “Aku meminta kepadamu hai pemuda-pemuda, pemudi-pemudi, ulama-ulama, saudara-saudara, anak-anakku dari angkatan perang, segenap pegawai, segenap rakyat jelata yang berkumpul di sini, di seluruh daerah Aceh, marilah kita terus berjuang, sebagai yang tadi malam telah kuceritakan jangan bercerai berai, jangan berpecah belah, jangan dengki mendengki, tetap perilahara persatuan bangsa, tetaplah bekerja bersama-sama, golongan Islam, golongan Pesindo, golongan apapun, tetap bersatu menyelesaikan kita punya Nationale Revolutie yang sekarang belum selesai, yang sekarang baru menghasilkan Republik, yang sekarang malah menjadi kecil, tapi cita-cita kita lebih besar dari pada itu,” pesan Soekarno.[iskandar norman]

02.11 | Posted in , , , , , | Read More »

Menguak Misteri Rumoh Geudong

DIANTARA sederet kisah luka di Aceh, Rumoh Geudong (Pos Sattis, -Kopassus) memang memiliki sebuah kisah dan sejarah tersendiri bagi rakyat Aceh. Ditengah isu politik pada masa akan dicabutnya Daerah Operasi Militer (DOM) pada tanggal 7 Agustus 1999 saat jendral Wiranto menjabat, semakin terbuka peluang atas pengungkapan berbagi kasus kejahatan HAM yang terjadi di Aceh.

Rumoh Geudong terletak di desa Billie Aron, Kecamatan Geulumpang Tiga, Kabupaten Pidie, atau berjarak 125 kilometer dari pusat kota Banda Aceh. Kabupaten Pidie ini menempati posisi Lintang Utara 4,39-4,60 derajat dan Bujur Timur 95,75-96,20 derajat.

Menurut alkisah dari penuturan ahli waris Rumoh Geudong ini dibangun pada tahun 1818 oleh Ampon Raja Lamkuta, putera seorang hulubalang yang tinggal di Rumoh Raya sekitar 200 meter dari Rumoh Geudong. Pada masa penjajahan oleh Belanda, rumah tersebut sering digunakan sebagai tempat pengatur strategi perang yang diprakarsai oleh Raja Lamkuta bersama rekan-rekan perjuangannya.

Namun, Raja Lamkuta akhirnya tertembak dan syahid saat digelarkan aski kepung yang dilakukan oleh tentara marsose di Pulo Syahi, Keumala berkat adanya informasi yang di dapat dari informan (cuak, dalam bahasa Aceh). Jasadnya Raja Lamkuta dikuburkan dipemakaman raja-raja di Desa Aron yang tidak jauh dari Rumoh Geudong.

Tidak berhenti begitu saja perjuangan Raja Lamkuta, adiknya Teuku Cut Ahmad akhirnya mengambil alih lagi ketika baru berusia 15 tahun untuk memimpin perjuangan terhadap Belanda, namun beliau juga syahid ditembak oleh Belanda yang mengepung Rumoh Geudong.

Pada masa-masa berikutnya, Rumoh Geudong ditempati secara berturut-turut oleh Teuku Keujren Rahman, Teuku Keujren Husein, Teuku Keujren Gade. Selanjutnya pada masa Jepang masuk dan menjajah Indonesia hingga merdeka, rumah tersebut ditempati oleh Teuku Raja Umar (Keujren Umar) anak dari Teuku Keujren Husein. Setelah Teuku Raja Umar meninggal, rumah ini ditempati anaknya Teuku Muhammad.

Pengurusan Rumoh Geudong sekaran ini dipercayakan kepada Cut Maidawati anaknya dari Teuku A. Rahman. Teuku A. Rahman mewarisi rumah tersebut berdasarkan musyawarah keluarga, dari ayahnya yang bernama Teuku Ahmad alias Ampon Muda yang merupakan anak Teuku Keujren Gade.

Laksana Peti Mati

Sebelum Rumoh Geudong digunakan sebagai pos militer (Pos Sattis) sejak April 1990. Masih menurut ahli waris, penempatan sejumlah personal aparat militer pada saat itu hanya sementara, tanpa sepengetahuan pemiliknya. Sebenarnya pemilik Rumoh Geudong merasa keberatan, namun para anggota Kopassus yang terlanjur menjadikan rumah tersebut menjadi pos militer sekaligus “rumah tahanan” dan tidak mau pindah lagi.
Baru pada tahun 1996, dibuatlah sebuah surat pinjam pakai rumah yang ditandatangani Muspika setempa, tetapi sayang tanpa ada tanda tangan pemilik rumah. Rumah ini juga terkenal angker karena dihuni oleh makhlus halus, sehingga para anggota aparat yang bertempat disitu sering diganggu.

Memang ikhwal adanya sebuah peti mati yang berisikan kain kafan berlumuran darah di Rumoh Geudong cukup membuat mistis para penghuninya. Dari peti mati inilah sering keluar makhlus halus yang berwujud harimau. Menurut penuturan dari pemilik rumah ini, kain kafan yang berlumuran darah dalam peti tersebut merupakan milik nenek dari hulubalang pemilik Rumoh Geudong yang meninggal dunia karena diperlakukan secara kejam oleh Belanda.

Ada gangguan yang memang dirasakan oleh para aparat di tempat itu, misalnya aparat yang beragama non muslim yang tidur di rumah atas (rumah Aceh), secara tiba-tiba ‘diturunkan’ ke rumah bawah. Pada tahun 1992, sempat terjadi juga penembakan yang dilakukan oleh seorang anggota Kopassus yang menembak mati temannya sendiri karena ia bermimpi didatangi harimau yang menyuruhnya menembak temannya itu.

Karena beberapa peristiwa ini sering mengganggu, aparat militer hanya bertahan beberapa bulan saja di Rumoh Geudong di Desa Bilie Aron dan kemudian terpaksa pindah ke Desa Amud. Namun, karena alasan kurang strategis untuk sebuah pos operasi militer, anggota Kopassus memindahkan lagi posnya dari Amud ke Rumoh Geudong dengan meminta bantuan seorang ulama terkenal, Abu Kuta Krueng untuk memindahkan makhlus halus yang sering menghantui mereka yang berada di dalam peti mati melalui sebuah acara ritual kenduri (hajatan kecil).

Sebelum Ditarik Kopassus Masih Menculik

Selasa 18 agustus 1998, Dua anggota Kopassus masih mencoba menculik keluarga salah seorang korban di Desa Nibong, Ujong Rimba, Kecamatan Mutiara, kendati pasukannya sudah akan ditarik dari Pidie ke Lhokseumawe. Korban penculikan itu adalah keluarga Mohammad Yunus Ahmad, korban penculikan, 28 Maret 1998 lalu yang hingga kini belum kembali. Rumah Yunus di Desa Nibong, didatangi dua anggota Koppasus yang mengendarai mobil Toyota Kijang bernomor polisi BK 1655 LR. 

Kopassus semula hendak mengangkut istri Yunus, Ny Zaubaidah Cut (37 tahun). Zaubaidah kebetulan tak ada di rumah. Karena kecewa, Kopassus yang dari Pos Sattis Bilie Aron itu, mengambil ibu Ny. Zaubidah dan seorang anak Yunus yang masih berusia 15 tahun. Karena belum berhasil membawa Ny Zaubaidah, dua anggota Kopassus itu memarkir mobilnya di simpang jalan Blang Malu menunggu kedatangan Ny Zaubaidah. 

Penduduk yang mengetahui penculikan ibu, anak dan rencana penculikan Ny Zubaidah, menunggu Ny Zaubaidah di persimpangan lainnya dan mencegat perempuan itu pulang ke rumah. Penduduk kemudian membawa Ny Zaubaidah ke Sub Den-POM, Sigli. Kepala Sub Detasemen Polisi Militer (POM) Sigli Lettu CPM Hartoyo, menelepon Koramil Mutiara agar mobil Kijang Kopassus itu ditahan. 

Dua anggota Koramil Mutiara dengan sepeda motor menahan dua anggota Kopassus itu. Petugas Koramil itu kemudian menggiring mobil Kijang Kopassus hingga ke Markas Koramil Mutiara. Namun, sebelum petugas POM datang ke Koramil Mutiara, kedua angota Kopassus sudah kabur. "Saya akan cari mereka itu. Saya belum tahu namanya. Bisa jadi mereka oknum, atau cuak-cuak itu," kata Hartoyo.***

Tak Ada Lagi Jerit Kesakitan Di Rumoh Geudong

Warga sekitar Rumoh Geudong (rumah gedung), markas Kopassus yang dipakai sebagai tempat penahanan dan penyiksaan terhadap masyarakat Aceh, tidak lagi mendengar teriakan kesakitan dan menyaksikan penyiksaan yang dilakukan Kopassus. Perasaan lega masyarakat itu muncul seiring ditariknya pasukan ABRI dari seluruh wilayah Aceh. 

"Kami sudah tak sanggup lagi mendengar dan menyaksikan orang-orang disiksa di Rumoh Geudong itu. Kalau malam, tidur kami sering terganggu karena mendengar jeritan-jeritan orang yang disiksa. Atau mendengar lagu-lagu dari tape yang diputar keras-keras waktu penyiksaan," kata seorang warga Desa Aron, tempat marksa Kopassus itu berada. Kepergian Kopassus dari Aron disambut gembira masyarakat sekitar. Namun begitu, pemilik Rumoh Geudong mengeluh. Kopassus meninggalkan tagihan jutaan rupiah untuk rekening telepon. 

"Mereka suruh kami menagih pembayarannya sama bupati," kata pemilik rumah itu. Selama operasi Jaring Merah dilancarkan di wilayah itu, Pemda Pidie sudah cukup banyak mengeluarkan dana untuk biaya operasional Kopassus. Dana yang sebenarnya milik rakyat Pidie itu dipakai Kopassus untuk membayar rekening telepon, listrik, sewa rumah, kendaraan, dan sebagainya. "Tragisnya dana milik rakyat itu dipakai Kopassus untuk membunuh, menyiksa dan memperkosa rakyat," ujar seorang warga. ***


Berakhirnya Tanda Luka

Pos Sattis atau lebih dikenal dengan Rumoh Geudong menjadi ‘neraka’ bagi masyrakat Pidie. Meledaknya pengungkapan kejahatan kemanusiaan di rumah yang mempunyai luas tanah 150 x 80 meter yang tidak jauh dari jalan raya Banda Aceh - Medan sungguh telah mengores luka berat. Tidak hanya masyarakat di luar Aceh, bahkan bagi masyarakat Aceh pun kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh aparat negara (Pa’i, -istilah TNI/Polri bagi rakyat Aceh) telah melampaui akal sehat mereka.

Menurut keterangan masyarakat setempat, sejak Maret 1998 sampai DOM dicabut pada tanggal 7 Agustus 1998 (sekitar lima bulan, sebelum rumah itu dibakar massa), Rumoh Geudong telah dijadikan tempat tahanan sekitar lebih dari 50 orang laki-laki dan perempuan yang dituduh terlibat dalam Gerakan Pengacau Keamana-Aceh Merdeka (GPK-AM). Namun, dari penuturan seorang korban, ketika korban yang sempat ditahan di Pos Sattis selama tiga bulan, dia telah menyaksikan 78 orang dibawa ke pos dan mengalami penyiksaan-penyiksaan. Jadi, bisa diperkirakan berapa banyak masyarakat Aceh yang telah disiksa atau pun dieksekusi di tempat ini jika kembali dihitung mulai tahun 1990 sejak pertama kali Pos Sattis digunakan sampai tahun 1998.

Saat Tim Komnas HAM melakukan penyisiran dan penyelidikan ke Rumoh Geudong, tim juga menemukan berbagai barang bukti seperti kabel-kabel listrik, balok kayu berukuran 70 cm yang sebagian telah remuk serta bercak-bercak darah pada dinding-dinding rumah.

Selain itu, tim juga melakukan penyisiran dengan penggalian tanah di halaman Rumoh Geudong yang diduga dijadikan tempat sebagai tempat kuburan massal. Setelah dilakukan penggalian, tim hanya menemukan tulang jari, tangan, rambut kepala dan tulang kaki serta serpihan-serpihan tulang lainnya dari kerangka manusia.

Bagi masyarakat Aceh, kebencian terhadap Rumoh Geudong menjadikan mereka sangat mudah disulut provokasi oknum-oknum yang punya kepentingan untuk memusnahkan bukti kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM yang pernah dterjadi di rumah itu.

Tepat tanggal 12 Agustus 1998, sekitar 30 menit setelah Tim Komnas HAM yang dipimpin oleh Baharudin Lopa meninggalkan lokasi rumah tersebut dalam rangka mencari bukti-bukti kebenaran, akhirnya dibakar oleh massa. Tentu hal ini sangat disayangkan, karena telah hilangnya bukti penanda sejarah atau monumen historis adanya kekejaman dan kejahatan kemanusiaan yang telah terjadi di tempat ini.

Namun, lain lagi menurut ahli waris Rumoh Geudong. Pembakaran rumah tersebut ternyata sejak tahun 1945, pernah dicoba baka oleh sekelompok orang, lagi-lagi hasil itu gagal karena tiba-tiba muncul tiga ekor harimau dari rumah dan menyerang para pelakunya. Dan entah kenapa setelah dijadikan sebagai Pos Sattis oleh aparat, Rumoh Geudong malah justru dapat dibakar.

Menurut penuturan terakhir dari ahli waris, Teuku Djakfar Ahmad: “Mungkin Rumoh Geudong itu sendiri yang ‘minta dibakar’, karena tak ingin sejarahnya ternoda. Kalau dibikin monumen, mungkin orang hanya ingat Rumoh Geudong sebagai tempat pembantaian. Sedangkan sejarah perjuangannnya bisa-bisa dilupakan orang.”

Inilah kisah tragis Rumoh Geudong, pada masa Belanda dan Jepang, rumah besar ini justru menjadi pusat perjuangan membela agama dan merebut kemerdekaan Indonesia. Semoga kisah ini menjadi sebuah sejarah yang tidak pernah dilupakan oleh rakyat Aceh, kenangan yang telah membekas menjadi satu pelajaran yang bisa diambil untuk anak cucu nantinya.[] 

22.07 | Posted in , , , , , , | Read More »

Blog Archive

Labels