Republik Pendusta !

http://islamediaonline.files.wordpress.com/2011/07/truth.png
Atjeh-Horizon - Kamis malam(30/6), sebuah “sinetron” ditayangkan secara langsung di layar kaca. Judulnya: Panja Mafia Pemilu. Pemerannya: anggota Panja dari Komisi II DPR, Andi Nurpati, dan pihak-pihak yang terkait dengan surat palsu MK. Tempatnya: di gedung dewan yang terhormat. Lakonnya: Membantah setiap pernyataan yang dilontarkan lawan mainnya. Akting mereka tak kalah dengan artis-artis sinetron kebanyakan.

Sayang, semakin lama ditonton, “sinetron”  ini kian memprihatinkan. Apalagi jika disaksikan oleh anak-anak. Memang tak ada adegan pornoaksi dan pornografi; tapi ada lakon yang sama atau bahkan lebih berbahaya: mengajarkan dusta. Jika ada dua atau tiga orang yang sama-sama mengklaim dirinya benar dan bersumpah atas nama Allah, bukankah diantara mereka pasti berdusta? Dan, bagi mereka yang memiliki nurani, secara kasat mata bisa menyimpulkan siapa sesungguhnya pendusta itu.

Anggota Panja dari Fraksi PKS, Al Muzzammil Yusuf mencatat ada sedikitnya 4 keterangan berbeda antara Andi Nurpati dan lawan mainnya. Andi Nurpati bilang A, tapi lawan mainnya mengatakan B. Andi Nurpati bilang C, tapi lawan mainnya mengatakan D. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya Akbar Faisal dari Fraksi Hanura berujar untuk meluapkan kegundahannya:
“Jujur, saya tak tahu siapa diantara mereka ini yang berbohong.”

Di negeri ini, “sinetron” semacam di atas sangatlah banyak. Setiap hari, kita seolah dipaksa untuk menyaksikanya, meski sangat menjengkelkan. Tengok saja bagaimana kisah Nazaruddin yang lari ke Singapura. Dari Negeri Singa itu, politisi Partai Demokrat tersebut terus saja berkoar-koar tentang kasus yang melilit dirinya. Dia menuduh banyak pihak yang terlibat. Terakhir, mantan bendahara umum PD itu mengatakan bahwa dana Sesmenpora mengalir hingga ke Anas Urbaningrum. Tuduhan Nazaruddin tentu saja segera dibantah. Dan kita, menjadi bingung, siapa yang benar, siapa yang tak benar.

Di akhir tahun 2009, “sinetron” serupa juga pernah ditayangkan dan berhasil membetot perhatian publik. Aktornya: Presiden, Pimpinan Polri, KPK, Kejagung, Tim 8 dan Anggodo. Akting mereka sungguh memikat: ada yang menangis di hadapan Komisi III DPR sambil mengucap “Demi Allah”; ada yang bersumpah di bawah Al Qur’an; ada pula yang tetap tenang, menjaga wibawa atas nama “tidak ingin mengintervensi hukum”.

Saat itu, berbagai pernyataan berseliweran, membuat bingung banyak orang.

“Saya tak paham apa itu kriminalisasi KPK,” kata Presiden SBY menanggapi opini yang berkembang bahwa telah terjadi upaya kriminalisasi KPK. Seorang presiden bergelar S3 dan jenderal bintang empat sama sekali tak paham istilah kriminalisasi. Anda percaya atau tidak?

“Saya menemui Anggoro di Singapura difasilitasi KBRI,” ujar mantan Kabareskrim Susno Duadji. Belakangan, pihak KBRI membantahnya.

“Saya diperas oleh pimpinan KPK,” ucap Anggodo. Padahal, dalam rekaman yang diputar di Mahkamah Konstitusi jelas terdengar jika Anggodo mengambil inisiatif menyuap KPK.

“Sinetron” buruk di atas telah memakan korban. Salah satunya Alif dan kedua orangtuanya. Akibat kejujuran mereka yang membongkar praktik contek massal saat Ujian Nasioanal SD, mereka diusir dari tempat tinggalnya. Tragis!

Saya jadi teringat dengan seorang psikolog asal University of Massachusetts, Robert Feldman, PhD. Secara khusus ia melakukan penelitian untukmembuktikan seberapa sering manusia berdusta dan untuk apa mereka berdusta. Tak tanggung-tanggung, penelitian itu dilakukan selama 25 tahun! Salah satu hasilnya sangat mengejutkan. Menurutnya, orang-orang sukses dan memiliki jabatan tinggi sebetulnya adalah pembohong ulung.

Feldman kemudian memaparkan hasil penelitiannnya itu dalam bukunya The Liar in Your Life: The Way to Truthful Relationships. Ia mengatakan, rata-rata orang mengatakan 3 kebohongan setiap 10 menitnya. Diketahui pula bahwa tingkat kebohongan para responden sangat tinggi, berbohong bagi mereka sudah menjadi sangat umum dan hal biasa sampai-sampai seseorang tidak menyadari bahwa ia melakukannya.

Mengapa mereka berdusta? Pertama , mereka berbohong untuk bertahan hidup. Kedua, seseorang berbohong untuk mendapatkan apa yang ia mau. Contohnya, memuji seseorang untuk mendapat pujian balik atau keuntungan tertentu, meyakinkan orang lain untuk meyakini apa yang kita mau dan sebagainya.

Teknik berbohong sebenarnya tidak dilakukan oleh manusia saja, hampir seluruh makhluk hidup melakukannya, dan satu alasan yang sama untuk berbohong adalah untuk mempertahankan hidup.

Jika diperhatikan, hewan melakukan teknik kamuflase yang merupakan teknik berbohong sederhana. Kebanyakan hewan melakukan kamuflase untuk menarik lawan jenisnya atau mencari mangsa yang ujung-ujungnya bertujuan untuk mempertahankan hidup.

Lalu, bagaimana dengan manusia? Perlukah seseorang berbohong untuk mempertahankan hidupnya?

Dalam Islam, hanya ada tiga dusta yang diperbolehkan. Pertama, orang yang berbicara dengan maksud hendak mendamaikan. Kedua, orang yang berbicara bohong dalam peperangan. Ketiga, suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya (mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga)”. (HR. Muslim)

Dusta yang dilakukan oleh para pemimpin kita tak satu pun masuk dari tiga kategori di atas. Dusta mereka, justru membuat kita “Malu (Aku) jadi Orang Indonesia”, seperti judul puisi yang ditulis Taufiq Ismail.

...Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
 Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya dengan sepotong SK
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
 Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
 Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
 Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
 Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia. 

Erwyn Kurniawan
sumber: Islamedia.web.id

18.39 | Posted in , , , , , , , | Read More »

Republik Pendusta !

http://islamediaonline.files.wordpress.com/2011/07/truth.png
Atjeh-Horizon - Kamis malam(30/6), sebuah “sinetron” ditayangkan secara langsung di layar kaca. Judulnya: Panja Mafia Pemilu. Pemerannya: anggota Panja dari Komisi II DPR, Andi Nurpati, dan pihak-pihak yang terkait dengan surat palsu MK. Tempatnya: di gedung dewan yang terhormat. Lakonnya: Membantah setiap pernyataan yang dilontarkan lawan mainnya. Akting mereka tak kalah dengan artis-artis sinetron kebanyakan.

Sayang, semakin lama ditonton, “sinetron”  ini kian memprihatinkan. Apalagi jika disaksikan oleh anak-anak. Memang tak ada adegan pornoaksi dan pornografi; tapi ada lakon yang sama atau bahkan lebih berbahaya: mengajarkan dusta. Jika ada dua atau tiga orang yang sama-sama mengklaim dirinya benar dan bersumpah atas nama Allah, bukankah diantara mereka pasti berdusta? Dan, bagi mereka yang memiliki nurani, secara kasat mata bisa menyimpulkan siapa sesungguhnya pendusta itu.

Anggota Panja dari Fraksi PKS, Al Muzzammil Yusuf mencatat ada sedikitnya 4 keterangan berbeda antara Andi Nurpati dan lawan mainnya. Andi Nurpati bilang A, tapi lawan mainnya mengatakan B. Andi Nurpati bilang C, tapi lawan mainnya mengatakan D. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya Akbar Faisal dari Fraksi Hanura berujar untuk meluapkan kegundahannya:
“Jujur, saya tak tahu siapa diantara mereka ini yang berbohong.”

Di negeri ini, “sinetron” semacam di atas sangatlah banyak. Setiap hari, kita seolah dipaksa untuk menyaksikanya, meski sangat menjengkelkan. Tengok saja bagaimana kisah Nazaruddin yang lari ke Singapura. Dari Negeri Singa itu, politisi Partai Demokrat tersebut terus saja berkoar-koar tentang kasus yang melilit dirinya. Dia menuduh banyak pihak yang terlibat. Terakhir, mantan bendahara umum PD itu mengatakan bahwa dana Sesmenpora mengalir hingga ke Anas Urbaningrum. Tuduhan Nazaruddin tentu saja segera dibantah. Dan kita, menjadi bingung, siapa yang benar, siapa yang tak benar.

Di akhir tahun 2009, “sinetron” serupa juga pernah ditayangkan dan berhasil membetot perhatian publik. Aktornya: Presiden, Pimpinan Polri, KPK, Kejagung, Tim 8 dan Anggodo. Akting mereka sungguh memikat: ada yang menangis di hadapan Komisi III DPR sambil mengucap “Demi Allah”; ada yang bersumpah di bawah Al Qur’an; ada pula yang tetap tenang, menjaga wibawa atas nama “tidak ingin mengintervensi hukum”.

Saat itu, berbagai pernyataan berseliweran, membuat bingung banyak orang.

“Saya tak paham apa itu kriminalisasi KPK,” kata Presiden SBY menanggapi opini yang berkembang bahwa telah terjadi upaya kriminalisasi KPK. Seorang presiden bergelar S3 dan jenderal bintang empat sama sekali tak paham istilah kriminalisasi. Anda percaya atau tidak?

“Saya menemui Anggoro di Singapura difasilitasi KBRI,” ujar mantan Kabareskrim Susno Duadji. Belakangan, pihak KBRI membantahnya.

“Saya diperas oleh pimpinan KPK,” ucap Anggodo. Padahal, dalam rekaman yang diputar di Mahkamah Konstitusi jelas terdengar jika Anggodo mengambil inisiatif menyuap KPK.

“Sinetron” buruk di atas telah memakan korban. Salah satunya Alif dan kedua orangtuanya. Akibat kejujuran mereka yang membongkar praktik contek massal saat Ujian Nasioanal SD, mereka diusir dari tempat tinggalnya. Tragis!

Saya jadi teringat dengan seorang psikolog asal University of Massachusetts, Robert Feldman, PhD. Secara khusus ia melakukan penelitian untukmembuktikan seberapa sering manusia berdusta dan untuk apa mereka berdusta. Tak tanggung-tanggung, penelitian itu dilakukan selama 25 tahun! Salah satu hasilnya sangat mengejutkan. Menurutnya, orang-orang sukses dan memiliki jabatan tinggi sebetulnya adalah pembohong ulung.

Feldman kemudian memaparkan hasil penelitiannnya itu dalam bukunya The Liar in Your Life: The Way to Truthful Relationships. Ia mengatakan, rata-rata orang mengatakan 3 kebohongan setiap 10 menitnya. Diketahui pula bahwa tingkat kebohongan para responden sangat tinggi, berbohong bagi mereka sudah menjadi sangat umum dan hal biasa sampai-sampai seseorang tidak menyadari bahwa ia melakukannya.

Mengapa mereka berdusta? Pertama , mereka berbohong untuk bertahan hidup. Kedua, seseorang berbohong untuk mendapatkan apa yang ia mau. Contohnya, memuji seseorang untuk mendapat pujian balik atau keuntungan tertentu, meyakinkan orang lain untuk meyakini apa yang kita mau dan sebagainya.

Teknik berbohong sebenarnya tidak dilakukan oleh manusia saja, hampir seluruh makhluk hidup melakukannya, dan satu alasan yang sama untuk berbohong adalah untuk mempertahankan hidup.

Jika diperhatikan, hewan melakukan teknik kamuflase yang merupakan teknik berbohong sederhana. Kebanyakan hewan melakukan kamuflase untuk menarik lawan jenisnya atau mencari mangsa yang ujung-ujungnya bertujuan untuk mempertahankan hidup.

Lalu, bagaimana dengan manusia? Perlukah seseorang berbohong untuk mempertahankan hidupnya?

Dalam Islam, hanya ada tiga dusta yang diperbolehkan. Pertama, orang yang berbicara dengan maksud hendak mendamaikan. Kedua, orang yang berbicara bohong dalam peperangan. Ketiga, suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya (mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga)”. (HR. Muslim)

Dusta yang dilakukan oleh para pemimpin kita tak satu pun masuk dari tiga kategori di atas. Dusta mereka, justru membuat kita “Malu (Aku) jadi Orang Indonesia”, seperti judul puisi yang ditulis Taufiq Ismail.

...Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
 Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya dengan sepotong SK
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
 Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
 Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
 Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
 Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia. 

Erwyn Kurniawan
sumber: Islamedia.web.id

18.39 | Posted in , , , , , , , | Read More »

Indahnya "Meugle" dalam Masyarakat Aceh


Masyarakat Aceh memiliki tradisi gotong-royong yang unik dalam kehidupan sosial mereka, Meugle namanya. Kegiatan tolong-menolong ini dilakukan masyarakat Aceh saat hendak membuka ladang di hutan. Oleh karena itu, kegiatan ini juga biasa disebut dengan istilah meuladang. "Meuglee", (Berladang ; Indonesia)Prosesi meugle diawali dengan membabat hutan (ceumeucah). 
Tanah yang akan dijadikan ladang dibersihkan dulu sebelum ditanami padi atau palawija. Meugle biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki secara berkelompok dan dilakukan dengan mekanisme timbal-balik. Artinya, jika anggota kelompok ada yang ingin membuka ladang, maka anggota kelompok yang lain wajib membantu. Pemilik ladang tidak akan memberi imbalan apa-apa kecuali akan memberi makanan dan minuman sekadarnya. Jika tanah ladang sudah siap ditanami, kegiatan berladang selanjutnya dilakukan oleh peladang sendiri dengan dibantu oleh istri dan anak-anaknya. Meskipun demikian, dalam kondisi tertentu, misalnya ketika sakit atau ladang terlalu luas, peladang biasanya akan meminta bantuan tenaga dari keluarga batih. Dalam hal ini, keluarga yang membantu kelak akan diberi imbalan hasil ladang atau balas jasa yang lain. Dulu, tradisi berladang orang Aceh dilakukan secara berpindah-pindah. Tanah yang sudah digunakan sekali atau dua kali mereka tinggalkan karena dianggap tidak subur lagi.

Lalu, mereka pergi mencari ladang baru dan akan kembali ke ladang semula beberapa waktu kemudian setelah ladang tersebut sudah subur lagi. Setelah menemukan ladang baru, biasanya mereka membuat gubuk-gubuk untuk tempat tinggal sementara. 

Karena peladang semakin lama semakin banyak, gubuk-gubuk itu juga kian padat. Dari sinilah awal mula terbentuknya seuneubok atau perkampungan baru. Kemudian, muncul juga seuneubok-seuneubok lainnya sehingga jadilah sebuah desa. Di lingkungan satu seuneubok, masyarakat hidup dengan saling bergantung. Jika ada yang akan membuka ladang baru atau mendirikan rumah, masyarakat akan kembali bergotong-royong. Kegiatan meugle dalam berladang sudah mulai hilang atau mengalami pergeseran makna. Terkadang, meugle diartikan sebagai berkebun, bukan berladang. Kegiatan membuka ladang di hutan saat ini lebih banyak diupahkan, karena tanah hutan terlalu jauh dan memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini dapat dimaklumi karena kegiatan meugle lebih banyak dilakukan oleh pegawai dan orang-orang kaya yang hidup di kota.

Sementara itu, bukit atau hutan saat ini lebih banyak dijadikan kebun untuk menanam cengkeh, kelapa, atau jambu. Pemeliharaan tanaman ini dianggap lebih menguntungkan karena tahan lama dan tidak banyak memerlukan air. Hal ini berbeda jika dibuat ladang dan ditanami padi, di mana harus ditunggui dan selalu diperiksa airnya. Pembukaan lahan kebun juga banyak diupahkan, karena para pemilik kebun memilih bekerja lain.Kecenderungan mengupah untuk kegiatan meugle sedikit banyak juga mempengaruhi warga pedesaan, karena orang desa juga banyak yang menjadi pegawai dan tidak lagi suka turun ke ladang. Akibatnya, kegiatan-kegiatan yang dahulu biasa dikerjakan secara gotong-royong mulai hilang karena mereka tidak mau repot menyediakan makanan. Para pekerja pun jadi berpikir singkat, mereka lebih suka diupah karena bisa menghasilkan uang dengan cepat.Hilangnya tradisi meugle dapat dikatakan karena individualisme dan runtuhnya kolektivitas masyarakat. Kemodernan yang tampak memudahkan kehidupan manusia memiliki sisi negatif bagi kehidupan masyarakat. Ironisnya, banyak orang melihat ini sebagai sebuah kewajaran. Padahal, hilangnya tradisi gotong-royong adalah hilangnya budi pekerti. Rasa kebersamaan merupakan budi pekerti yang sebenarnya dapat menghindarkan manusia dari kesusahan. Bayangkan, jika semua orang menjunjung tinggi semangat gotong-royong, maka bagi mereka yang memiliki kehidupan ekonomi yang kurang beruntung akan dibantu oleh sesama. Tidak dapat dipungkiri, rasa kebersamaan di dalam masyarakat Aceh saat ini sudah hampir punah. Seyogyanya, meskipun saat ini tanah, sawah, ladang, dan kebun sudah berkurang, namun jika masyarakat masih memelihara semangat gotong-royong, maka orang yang hidup di kota atau di desa, dan tidak menjadi petani, niscaya rasa kebersamaan akan senantiasa terjaga.Yusuf Efendi, Redaktur www.MelayuOnline.com

01.29 | Posted in , , , , , , , , , | Read More »

Indahnya "Meugle" dalam Masyarakat Aceh


Masyarakat Aceh memiliki tradisi gotong-royong yang unik dalam kehidupan sosial mereka, Meugle namanya. Kegiatan tolong-menolong ini dilakukan masyarakat Aceh saat hendak membuka ladang di hutan. Oleh karena itu, kegiatan ini juga biasa disebut dengan istilah meuladang. "Meuglee", (Berladang ; Indonesia)Prosesi meugle diawali dengan membabat hutan (ceumeucah). 
Tanah yang akan dijadikan ladang dibersihkan dulu sebelum ditanami padi atau palawija. Meugle biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki secara berkelompok dan dilakukan dengan mekanisme timbal-balik. Artinya, jika anggota kelompok ada yang ingin membuka ladang, maka anggota kelompok yang lain wajib membantu. Pemilik ladang tidak akan memberi imbalan apa-apa kecuali akan memberi makanan dan minuman sekadarnya. Jika tanah ladang sudah siap ditanami, kegiatan berladang selanjutnya dilakukan oleh peladang sendiri dengan dibantu oleh istri dan anak-anaknya. Meskipun demikian, dalam kondisi tertentu, misalnya ketika sakit atau ladang terlalu luas, peladang biasanya akan meminta bantuan tenaga dari keluarga batih. Dalam hal ini, keluarga yang membantu kelak akan diberi imbalan hasil ladang atau balas jasa yang lain. Dulu, tradisi berladang orang Aceh dilakukan secara berpindah-pindah. Tanah yang sudah digunakan sekali atau dua kali mereka tinggalkan karena dianggap tidak subur lagi.

Lalu, mereka pergi mencari ladang baru dan akan kembali ke ladang semula beberapa waktu kemudian setelah ladang tersebut sudah subur lagi. Setelah menemukan ladang baru, biasanya mereka membuat gubuk-gubuk untuk tempat tinggal sementara. 

Karena peladang semakin lama semakin banyak, gubuk-gubuk itu juga kian padat. Dari sinilah awal mula terbentuknya seuneubok atau perkampungan baru. Kemudian, muncul juga seuneubok-seuneubok lainnya sehingga jadilah sebuah desa. Di lingkungan satu seuneubok, masyarakat hidup dengan saling bergantung. Jika ada yang akan membuka ladang baru atau mendirikan rumah, masyarakat akan kembali bergotong-royong. Kegiatan meugle dalam berladang sudah mulai hilang atau mengalami pergeseran makna. Terkadang, meugle diartikan sebagai berkebun, bukan berladang. Kegiatan membuka ladang di hutan saat ini lebih banyak diupahkan, karena tanah hutan terlalu jauh dan memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini dapat dimaklumi karena kegiatan meugle lebih banyak dilakukan oleh pegawai dan orang-orang kaya yang hidup di kota.

Sementara itu, bukit atau hutan saat ini lebih banyak dijadikan kebun untuk menanam cengkeh, kelapa, atau jambu. Pemeliharaan tanaman ini dianggap lebih menguntungkan karena tahan lama dan tidak banyak memerlukan air. Hal ini berbeda jika dibuat ladang dan ditanami padi, di mana harus ditunggui dan selalu diperiksa airnya. Pembukaan lahan kebun juga banyak diupahkan, karena para pemilik kebun memilih bekerja lain.Kecenderungan mengupah untuk kegiatan meugle sedikit banyak juga mempengaruhi warga pedesaan, karena orang desa juga banyak yang menjadi pegawai dan tidak lagi suka turun ke ladang. Akibatnya, kegiatan-kegiatan yang dahulu biasa dikerjakan secara gotong-royong mulai hilang karena mereka tidak mau repot menyediakan makanan. Para pekerja pun jadi berpikir singkat, mereka lebih suka diupah karena bisa menghasilkan uang dengan cepat.Hilangnya tradisi meugle dapat dikatakan karena individualisme dan runtuhnya kolektivitas masyarakat. Kemodernan yang tampak memudahkan kehidupan manusia memiliki sisi negatif bagi kehidupan masyarakat. Ironisnya, banyak orang melihat ini sebagai sebuah kewajaran. Padahal, hilangnya tradisi gotong-royong adalah hilangnya budi pekerti. Rasa kebersamaan merupakan budi pekerti yang sebenarnya dapat menghindarkan manusia dari kesusahan. Bayangkan, jika semua orang menjunjung tinggi semangat gotong-royong, maka bagi mereka yang memiliki kehidupan ekonomi yang kurang beruntung akan dibantu oleh sesama. Tidak dapat dipungkiri, rasa kebersamaan di dalam masyarakat Aceh saat ini sudah hampir punah. Seyogyanya, meskipun saat ini tanah, sawah, ladang, dan kebun sudah berkurang, namun jika masyarakat masih memelihara semangat gotong-royong, maka orang yang hidup di kota atau di desa, dan tidak menjadi petani, niscaya rasa kebersamaan akan senantiasa terjaga.Yusuf Efendi, Redaktur www.MelayuOnline.com

01.29 | Posted in , , , , , , , , , | Read More »

Blog Archive

Labels