[Kisah] Aku Terpaksa Menikahinya

Kisah inspiratif untuk para istri dan suami:
ini adalah artikel yang saya copy dari catatan seorang teman di facebook. Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

sumber: bundaiin.blogdetik.com/

05.53 | Posted in , , | Read More »

[Kisah] Aku Terpaksa Menikahinya

Kisah inspiratif untuk para istri dan suami:
ini adalah artikel yang saya copy dari catatan seorang teman di facebook. Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

sumber: bundaiin.blogdetik.com/

05.53 | Posted in , , | Read More »

Inilah 10 Kisah Sukses Yang Berawal Dari Kegagalan

1. Adam Khoo
http://hermawayne.blogspot.com
Dia adalah orang Singapura. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV.

Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas 4 SD, ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh 6 SMP terbaik di sana.

Akhirnya ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis.

Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki 4 bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta. Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.

2. Albert Enstein
http://hermawayne.blogspot.com
Siapa yang belum tahu Albert Einstein? Dialah Ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dia juga salah satu peraih Nobel. Siapa sangka dia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Waktu kecil dia juga suka lalai dengan pelajaran.

3. Aristotle Onassis
http://hermawayne.blogspot.com
Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya.

Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi guru guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. Walaupun raportnya di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Akhirnya dia menjadi seorang milyuner.

4. Thomas Alva Edison
http://hermawayne.blogspot.com
Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. Ibunya pun membaca kertas tersebut yang berisi, "Tommy, anak ibu, sangat bodoh. Kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah." Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ”anak saya Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”

Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang, salah satu penemu terbesar di dunia. Dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.

Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya.

5. Chris Gardner
http://hermawayne.blogspot.com
Sudah pernah nonton film atau baca buku "The Pursuit of Happyness"? Itulah kisah nyata kehidupan Christoper Paul Gardner yang diperankan oleh Will Smith. Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olehnya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, tapi dia terus berusaha dan berjuang. Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis. Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.

6. Ludwig Van Beethoven
http://hermawayne.blogspot.com
Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil yang telah mempunyai 8 anak, 3 di antaranya tuli, 2 buta, 1 mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankannya untuk menggugurkan kandungannya? Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh salah satu komponis termahsyur di dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.

Ketika Beethoven berumur di ujung 20an, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak, tapi akhirnya ia menjadi Komponis yang terkenal dengan karya 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi.

7. Louis Braille
http://hermawayne.blogspot.com
Louis Braille mengalami kerusakan pada salah satu matanya ketika berusia 3 tahun. Waktu itu secara tidak sengaja dia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang dari perkakas kerja ayahnya. Kemudian mata yang satunya terkena sympathetic ophthalmia, sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata yang lainnya. Kebutaan tidak membuatnya putus asa, ia menciptakan abjad Braille yang membantu supaya orang buta juga bisa membaca. Sekarang siapa yang tidak tahu Abjad Braille?

8. Abraham Lincoln
http://hermawayne.blogspot.com
Kisah Lincoln merupakan contoh klasik orang-orang yang benar-benar berani gagal.
Gagal dalam bisnis pada tahun 1831.
Dikalahkan di Badan Legislatif pada tahun 1832.
Gagal sekali lagi dalam bisnis pada tahun 1833.
Mengalami patah semangat pada tahun 1836.
Gagal memenangkan kontes pembicara pada tahun 1838.
Gagal menduduki dewan pemilih pada tahun 1840.
Gagal dipilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1843.
Gagal menjadi anggota Kongres pada tahun 1848.
Gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855.
Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856.
Gagal Menjadi anggota Dewan Senat pada tahun 1858.

Akhirnya pada tahun 1860, ia dilantik sebagai presiden Amerika yang ke-16 dan menjadi salah seorang presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.

9. Bill Gates
http://hermawayne.blogspot.com
Nah, ada yang tidak kenal Bill Gates? William Henry Gates III, atau yang lebih dikenal Bill Gates adalah pendiri (bersama Paul Allen) dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Ia juga merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates.

Ia menempati posisi pertama dalam orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama 13 tahun (1995 hingga 2007). Siapa sangka dia dulunya DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy.

10. Mark Zuckerberg
http://hermawayne.blogspot.com
Yang satu ini dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri. Bagaimana tidak, dimulai dari sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard, ternyata banyak yang menyukainya, dengan nekat ia mengikuti jejak seniornya, Bill Gates, DO dari Harvard untuk mengembangkan situs tersebut menjadi Facebook yang kita kenal sekarang.

Tahukah Anda? Mark pernah menolak tawaran Friendster yang ingin membeli Facebook 10 juta US$, artinya sekitar Rp. 9,500,000,000 (kurs Rp. 9,500), tawaran dari viacom 750 juta dolar (Rp. 7,125,000,000,000) dan yang paling mengagetkan tawaran dari yahoo sebesar 1 miliar dolar (Rp. 9,500,000,000,000)

sumber

06.25 | Posted in , , , , | Read More »

Inilah 10 Kisah Sukses Yang Berawal Dari Kegagalan

1. Adam Khoo
http://hermawayne.blogspot.com
Dia adalah orang Singapura. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV.

Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas 4 SD, ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh 6 SMP terbaik di sana.

Akhirnya ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis.

Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki 4 bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta. Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.

2. Albert Enstein
http://hermawayne.blogspot.com
Siapa yang belum tahu Albert Einstein? Dialah Ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dia juga salah satu peraih Nobel. Siapa sangka dia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Waktu kecil dia juga suka lalai dengan pelajaran.

3. Aristotle Onassis
http://hermawayne.blogspot.com
Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya.

Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi guru guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. Walaupun raportnya di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Akhirnya dia menjadi seorang milyuner.

4. Thomas Alva Edison
http://hermawayne.blogspot.com
Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. Ibunya pun membaca kertas tersebut yang berisi, "Tommy, anak ibu, sangat bodoh. Kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah." Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ”anak saya Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”

Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang, salah satu penemu terbesar di dunia. Dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.

Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya.

5. Chris Gardner
http://hermawayne.blogspot.com
Sudah pernah nonton film atau baca buku "The Pursuit of Happyness"? Itulah kisah nyata kehidupan Christoper Paul Gardner yang diperankan oleh Will Smith. Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olehnya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, tapi dia terus berusaha dan berjuang. Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis. Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.

6. Ludwig Van Beethoven
http://hermawayne.blogspot.com
Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil yang telah mempunyai 8 anak, 3 di antaranya tuli, 2 buta, 1 mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankannya untuk menggugurkan kandungannya? Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh salah satu komponis termahsyur di dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.

Ketika Beethoven berumur di ujung 20an, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak, tapi akhirnya ia menjadi Komponis yang terkenal dengan karya 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi.

7. Louis Braille
http://hermawayne.blogspot.com
Louis Braille mengalami kerusakan pada salah satu matanya ketika berusia 3 tahun. Waktu itu secara tidak sengaja dia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang dari perkakas kerja ayahnya. Kemudian mata yang satunya terkena sympathetic ophthalmia, sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata yang lainnya. Kebutaan tidak membuatnya putus asa, ia menciptakan abjad Braille yang membantu supaya orang buta juga bisa membaca. Sekarang siapa yang tidak tahu Abjad Braille?

8. Abraham Lincoln
http://hermawayne.blogspot.com
Kisah Lincoln merupakan contoh klasik orang-orang yang benar-benar berani gagal.
Gagal dalam bisnis pada tahun 1831.
Dikalahkan di Badan Legislatif pada tahun 1832.
Gagal sekali lagi dalam bisnis pada tahun 1833.
Mengalami patah semangat pada tahun 1836.
Gagal memenangkan kontes pembicara pada tahun 1838.
Gagal menduduki dewan pemilih pada tahun 1840.
Gagal dipilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1843.
Gagal menjadi anggota Kongres pada tahun 1848.
Gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855.
Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856.
Gagal Menjadi anggota Dewan Senat pada tahun 1858.

Akhirnya pada tahun 1860, ia dilantik sebagai presiden Amerika yang ke-16 dan menjadi salah seorang presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.

9. Bill Gates
http://hermawayne.blogspot.com
Nah, ada yang tidak kenal Bill Gates? William Henry Gates III, atau yang lebih dikenal Bill Gates adalah pendiri (bersama Paul Allen) dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Ia juga merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates.

Ia menempati posisi pertama dalam orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama 13 tahun (1995 hingga 2007). Siapa sangka dia dulunya DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy.

10. Mark Zuckerberg
http://hermawayne.blogspot.com
Yang satu ini dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri. Bagaimana tidak, dimulai dari sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard, ternyata banyak yang menyukainya, dengan nekat ia mengikuti jejak seniornya, Bill Gates, DO dari Harvard untuk mengembangkan situs tersebut menjadi Facebook yang kita kenal sekarang.

Tahukah Anda? Mark pernah menolak tawaran Friendster yang ingin membeli Facebook 10 juta US$, artinya sekitar Rp. 9,500,000,000 (kurs Rp. 9,500), tawaran dari viacom 750 juta dolar (Rp. 7,125,000,000,000) dan yang paling mengagetkan tawaran dari yahoo sebesar 1 miliar dolar (Rp. 9,500,000,000,000)

sumber

06.25 | Posted in , , , , | Read More »

Perjalanan Hidup Seorang Korban Tsunami Aceh

Perjalanan Hidup Seorang Korban Tsunami Aceh
Tiap kali memandang laut, hatiku bergetar karena melihat sebuah tanda kebesaran Tuhan, yang membuatku merasa sangat kecil, ibarat sebutir pasir di tepi pantai. Namun tak dapat kupungkiri, aku pernah merasa sangat trauma melihat laut. Sebab laut pula yang telah membuat jalan hidupku berubah seratus delapan puluh derajat, beberapa tahun silam…
***
Waktu itu hari Sabtu, 25 Desember 2004. Aku mengantarkan istri dan putri semata wayangku yang baru berusia delapan bulan ke rumah orangtuaku untuk berakhir pekan. Ada suatu urusan yang mengharuskan aku tak bisa kembali hingga esok hari. Entah kenapa, sebelum pergi, ada dorongan kuat dari dalam hatiku untuk masuk ke kamar Mamak (ibu) yang sedang tidur. Sebuah dorongan yang aneh, karena selama ini aku dikenal sebagai anak paling badung dan cuek dalam keluarga. Namun entah kenapa, hari itu aku ingin sekali memandangi wajah wanita yang melahirkanku itu dari dekat. Kucium kening Mamak yang sedang tidur pulas, dan hatiku bergetar saat melakukannya. Ada sesuatu yang berkecamuk di dadaku, yang tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.
Keesokan paginya, 26 Desember 2004, menjadi hari paling tak terlupakan sepanjang sejarah hidupku. Aku tengah berjualan di pasar saat peristiwa mengerikan itu terjadi. Tak pernah kusangka diriku akan menjadi salah satu saksi hidup sebuah bencana terbesar dalam kancah sejarah dunia. Aku ada di sana, tubuhku tergulung-gulung, terombang-ambing, dan terseret derasnya arus air bah yang meluluhlantakkan bumi Serambi Mekkah hari itu.
Aku tak ingat berapa lama aku meronta-ronta dan mencoba menyelamatkan diri. Ketika akhirnya semua berakhir, kudapati diriku dalam kondisi mengenaskan. Pakaianku berbalut lumpur, tubuhku terluka di sana-sini terkena pecahan beling dan paku. Aku berjalan tertatih, mencoba mencari tempat beristirahat karena lelah yang teramat-sangat mendera fisikku.
Dalam kondisi kebingungan, tiba-tiba, entah dari mana asalnya, seorang kakek tua menghampiriku. Ia menyodorkan selembar gamis putih bersih kepadaku dan menyuruhku mengenakannya. Aku tak sempat memikirkan dari mana datangnya kakek misterius itu, juga bagaimana bisa masih ada pakaian bersih sementara semua yang ada di sekelilingku berlumuran lumpur. Tanpa banyak cakap, aku segera mengganti pakaian yang terasa berat karena lumpur, kemudian bergegas pergi untuk mencari keluargaku.
Luka-luka yang disebabkan pecahan beling dan paku menimbulkan perih di sekujur tubuhku, tapi tak mampu mengalahkan perihnya rasa di hatiku  saat  kudatangi lokasi tempat rumah orangtuaku, namun tak kutemukan apa-apa kecuali puing-puing bangunan yang telah rata dengan tanah. Mamakku, adikku, istriku, dan malaikat kecilku, semua hilang tak bersisa, ikut tersapu amukan air bah bersama ratusan ribu warga Tanah Rencong lainnya. Aku menjerit histeris. Langit serasa runtuh, menimpa hatiku hingga hancur berkeping-keping.
Selanjutnya, tak henti-hentinya aku menangis, menjerit seperti orang gila. Berhari-hari aku terlunta-lunta, dalam kondisi shock berat, menggelandang di jalanan, di tengah gelimpangan mayat-mayat yang mulai menebarkan aroma busuk.
Akhirnya bala bantuan datang. Oleh sebuah LSM, aku dibawa ke sebuah camp pengungsian, tempat aku menghabiskan hari-hari dalam kondisi seperti orang gila. Menjerit dan menangis meratap-ratap, itulah yang kulakukan setiap hari selama berada di barak pengungsian. Dengan waktu yang terasa berjalan begitu lambat.
Hingga suatu hari, saat sedang tidur, aku mendengar seseorang memanggil-manggil namaku.
“Teddy, saya pamanmu!” kata pria itu setelah kami duduk saling berhadapan
Oh Tuhan, ternyata aku masih punya keluarga, ternyata aku tidak sebatang kara seperti perkiraanku. Pamanku yang menetap di Bali, hari itu datang ke Aceh khusus untuk mencari keluarganya. Dan ternyata aku satu-satunya keluarga yang ditemukan dalam kondisi hidup.
Aku lantas diboyong oleh pamanku ke Bali, dalam kondisi masih labil dan dihantui rasa trauma berat. Dalam perjalanan ke Bali, aku terus berteriak-teriak dan menangis seperti orang gila, dan perilaku tersebut berlanjut hingga tiba di Bali dan tinggal bersama keluarga pamanku di sebuah rumah di kawasan Ubung, Denpasar. Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, pamanku terpaksa mengurungku di dalam kamar. Aku tidak boleh ke mana-mana.
Hari demi hari berlalu, kondisiku mulai stabil meskipun belum sepenuhnya sembuh dari trauma. Aku mulai jenuh terus-menerus berdiam diri di dalam kamar. Kepada salah seorang putra pamanku, aku minta keluar dan dibukakan pintu pagar. Semula dia menolak. Namun karena aku terus-menerus mendesaknya, akhirnya dia pun meluluskan permintaanku.
Aku keluar dari rumah pamanku dan berjalan tak tentu arah, tanpa sepeser pun uang di kantongku. Aku berjalan dan terus berjalan. Aku tak ingat lagi berapa lama aku berjalan, hingga tibalah aku di sebuah pantai, yang belakangan kuketahui sebagai Pantai Kuta.
Aku lantas duduk di atas sebongkah batu besar di tepi pantai, memandang ke arah laut lepas dengan kecamuk perasaan yang sulit dilukiskan oleh kata-kata. Aku sekarang berada di Pantai Kuta, sebuah pantai yang terkenal hingga penjuru dunia karena keindahannya, namun duduk di sini, tak sedikit pun kudapati keindahan itu. Yang kulihat hanya sebuah kekejaman terpampang di depan mataku. Kejamnya laut, yang telah merenggut paksa orang-orang tercinta dariku! Mamakku, istriku, adikku, putriku tercinta. Semuanya. Trauma itu kembali menyesakkan dada, dan aku mulai larut dalam ledakan emosi yang menghentak-hentak.
Aku menangis, meraung, hingga orang-orang di sekitar pantai berdatangan mengerumuniku, menanyakan apa yang terjadi. Banyak yang bersimpati dan tergerak untuk mengulurkan tangan. Seorang pedagang nasi bungkus bahkan berbaik hati memberiku nasi bungkus dan air minum.
Susah-payah kukuatkan diriku, mencoba bangkit di tengah puing-puing hatiku yang terserak. Aku mulai memutar otak, mencari cara untuk bertahan hidup. Sebab aku tak mau dikasihani. Walaupun aku punya paman yang mampu membiayaiku, namun aku tak mau bergantung padanya.
Aku lantas berkenalan dengan seorang penjual koran di sekitar pantai Kuta. Kepadanya aku meminta diizinkan ikut membantu menjualkan koran, agar aku bisa punya uang sekadar untuk makan. Syukurlah, ia mau menolongku. Belakangan, setelah mengetahui kisahku sebagai salah seorang korban tsunami Aceh, ia lantas mengenalkanku dengan agen koran kenalannya, sehingga aku bisa langsung mengambil koran dari agen tersebut dengan keuntungan yang lebih banyak.
Maka, berlanjutlah hidupku dalam hari-hari sebagai penjual koran. Aku tenggelam dalam kerasnya hidup di daerah wisata yang namanya pernah tercoreng lantaran diguncang bom dengan jumlah korban tak sedikit, menyebabkan aparat setempat bertindak keras pada penduduk pendatang. Pernah suatu hari aku ditangkap oleh seseorang yang belakangan kuketahui disebut pecalang (polisi adat Bali). Dengan galak dia menginterogasiku, menanyai soal kipem (kartu identitas penduduk musiman). Karena tidak tahu-menahu soal kipem, kukatakan bahwa aku adalah korban tsunami Aceh. Sontak sinar kemarahan di matanya meredup, berubah menjadi tatap iba. Aku lantas dibantunya mengurus kipem dengan tanpa dikenai biaya sepeser pun.
Selanjutnya, aku terus menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitar Kuta, rajin mencari kenalan-kenalan baru. Aku mulai banyak memiliki kenalan orang-orang bule, salah satunya kemudian menjadi pelanggan tetap koran daganganku. Dari sinilah jalan hidupku mulai berbelok. Melalui interaksi dengan bule-bule itu, akhirnya aku berkesempatan untuk bekerja di sebuah restoran milik warga asing di bilangan Kuta.
Awalnya, aku hanya bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran itu. Lama-kelamaan, karena bosku menganggap aku telah bekerja dengan baik, aku naik jabatan menjadi pelayan saji. Lalu sebuah skandal korupsi terungkap, dengan manajer restoran sebagai terdakwanya. Pemilik restoran lantas memecatnya. Setelah itu aku diangkatnya  sebagai manajer pengganti, dengan gaji tiga juta rupiah setiap bulan. Aku mendapat kepercayaan penuh dari pemilik restoran untuk mengelola restoran, sekaligus secara berkala mengirimkan uang hasil penjualan. Tiap bulan, rata-rata aku mentransfer sekitar Rp 30-50 juta ke rekening sang pemilik restoran di luar negeri. Aku pula yang memegang uang belanja harian. Yah, walaupun aku bukan tergolong orang yang religius, namun kejujuran adalah sebuah nilai hidup yang selalu kupegang.
Namun tak dapat kupungkiri bahwa pekerjaan dan pergaulanku sebagai manajer restoran di kawasan wisata semakin menyeretku jauh dari Tuhan. Aku yang sedari masih di Aceh dulu memang jarang sholat dan jauh dari kehidupan religius, setiap hari menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan dan dugem. Hari demi hari, di tengah nikmatnya kemapanan, aku merasakan ada sisi lain dari diriku yang menjerit karena rasa hampa yang mendera. Aku teringat pada adikku, mamakku, istri dan anakku yang telah berpulang. Mengapa hanya aku yang dibiarkan tetap hidup dalam bencana mahadahsyat itu? Tentu ada maksud Tuhan di balik semua ini. Aku telah berhasil bangkit dari keterpurukan, dan Dia telah memberiku kecukupan. Namun uang yang kuperoleh kuhambur-hamburkan hanya untuk dugem dan mabuk-mabukan. Haruskah selamanya aku menjalani hidup dengan penuh kesia-siaan seperti ini?
Dalam keadaan kalut, aku lantas mulai mencari dan mencari. Beberapa waktu kemudian, dorongan hati membawa langkahku pada sebuah masjid di bilangan Imam Bonjol Denpasar. Di sana, aku menemukan sebuah titik terang atas pencarianku, dengan bergabung dalam sebuah jama’ah dakwah. Aku mulai rajin mengkaji ayat-ayat Allah bersama jamaah ini. Lambat-laun kegersangan hatiku mulai terobati. Aku mulai belajar mengenal Allah yang selama ini telah jauh kutinggalkan.
Visi hidupku pun berubah total, yang membuat tekadku bulat untuk meninggalkan pekerjaanku sebagai manajer restoran, dan memulai hidup baru dengan pekerjaan lain. Kujalankan sunnah Rasul dengan berdagang di samping juga bekerja serabutan.
Suatu hari, saat sedang mondar-mandir di kawasan Kuta terkait pekerjaanku sebagai pedagang, tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang wanita bule Australia yang menjadi pelanggan setia restoran tempat aku bekerja dahulu. Tak kuduga pertemuan itu menjadi awal dari terungkapnya sebuah fakta. Ternyata, diam-diam dia pernah menaruh hati padaku, dan demikian sebaliknya. Aku juga pernah menyimpan “rasa” kepadanya.
Akhirnya kami menikah. Ya, untuk kedua kalinya aku menikah, kali ini dengan wanita yang usianya terpaut jauh di atasku. Disaksikan teman-teman jama’ahku, kami menikah dalam suasana penuh kesyukuran, karena sebelumnya dengan kerelaan hati dia telah mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Setelah itu, kubawa istriku ke kampung halamanku di Aceh. Kami kembali mengikat janji di Masjid Agung Baiturrahman, sebuah bangunan yang menjadi salah satu bukti kebesaran Allah karena tetap tegak kokoh berdiri di tengah puing-puing bangunan lain saat tsunami melanda bumi Serambi Mekkah. Kedatanganku bersama istri yang seorang bule menimbulkan kegemparan di tanah kelahiranku, bahkan sempat menjadi berita di Aceh Post.
***
Kini aku hidup tenang bersama istri buleku di Jimbaran. Kuisi hari-hariku dengan berdagang dan bekerja serabutan. Orang bilang aku nyentrik dengan gamis dan sorbanku, ditambah gaya bicaraku yang ceplas-ceplos. Tiap hari aku berkeliling dan bersilaturahim door to door, menawarkan dagangan sambil berdakwah. Kupegang betul ajaran Rasulullah, bahwa silaturahim dapat memperpanjang umur dan menderaskan rezeki, insya Allah.
Memandang laut Pulau Dewata nyaris setiap hari, selalu membuat hatiku bergetar. Tak dapat kupungkiri, perih itu masih bersisa, sebab aku hanyalah seorang manusia biasa. Namun tak kuizinkan perasaan itu menguasai hatiku, kuperbanyak istighfar dan kalimat-kalimat syukur kepada-Nya, sebab lautlah yang telah membawaku pada hidayah-Nya.

(Seperti dituturkan oleh Teddy, korban hidup tsunami Aceh 26 Desember 2004)

06.44 | Posted in , , , , | Read More »

Perjalanan Hidup Seorang Korban Tsunami Aceh

Perjalanan Hidup Seorang Korban Tsunami Aceh
Tiap kali memandang laut, hatiku bergetar karena melihat sebuah tanda kebesaran Tuhan, yang membuatku merasa sangat kecil, ibarat sebutir pasir di tepi pantai. Namun tak dapat kupungkiri, aku pernah merasa sangat trauma melihat laut. Sebab laut pula yang telah membuat jalan hidupku berubah seratus delapan puluh derajat, beberapa tahun silam…
***
Waktu itu hari Sabtu, 25 Desember 2004. Aku mengantarkan istri dan putri semata wayangku yang baru berusia delapan bulan ke rumah orangtuaku untuk berakhir pekan. Ada suatu urusan yang mengharuskan aku tak bisa kembali hingga esok hari. Entah kenapa, sebelum pergi, ada dorongan kuat dari dalam hatiku untuk masuk ke kamar Mamak (ibu) yang sedang tidur. Sebuah dorongan yang aneh, karena selama ini aku dikenal sebagai anak paling badung dan cuek dalam keluarga. Namun entah kenapa, hari itu aku ingin sekali memandangi wajah wanita yang melahirkanku itu dari dekat. Kucium kening Mamak yang sedang tidur pulas, dan hatiku bergetar saat melakukannya. Ada sesuatu yang berkecamuk di dadaku, yang tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.
Keesokan paginya, 26 Desember 2004, menjadi hari paling tak terlupakan sepanjang sejarah hidupku. Aku tengah berjualan di pasar saat peristiwa mengerikan itu terjadi. Tak pernah kusangka diriku akan menjadi salah satu saksi hidup sebuah bencana terbesar dalam kancah sejarah dunia. Aku ada di sana, tubuhku tergulung-gulung, terombang-ambing, dan terseret derasnya arus air bah yang meluluhlantakkan bumi Serambi Mekkah hari itu.
Aku tak ingat berapa lama aku meronta-ronta dan mencoba menyelamatkan diri. Ketika akhirnya semua berakhir, kudapati diriku dalam kondisi mengenaskan. Pakaianku berbalut lumpur, tubuhku terluka di sana-sini terkena pecahan beling dan paku. Aku berjalan tertatih, mencoba mencari tempat beristirahat karena lelah yang teramat-sangat mendera fisikku.
Dalam kondisi kebingungan, tiba-tiba, entah dari mana asalnya, seorang kakek tua menghampiriku. Ia menyodorkan selembar gamis putih bersih kepadaku dan menyuruhku mengenakannya. Aku tak sempat memikirkan dari mana datangnya kakek misterius itu, juga bagaimana bisa masih ada pakaian bersih sementara semua yang ada di sekelilingku berlumuran lumpur. Tanpa banyak cakap, aku segera mengganti pakaian yang terasa berat karena lumpur, kemudian bergegas pergi untuk mencari keluargaku.
Luka-luka yang disebabkan pecahan beling dan paku menimbulkan perih di sekujur tubuhku, tapi tak mampu mengalahkan perihnya rasa di hatiku  saat  kudatangi lokasi tempat rumah orangtuaku, namun tak kutemukan apa-apa kecuali puing-puing bangunan yang telah rata dengan tanah. Mamakku, adikku, istriku, dan malaikat kecilku, semua hilang tak bersisa, ikut tersapu amukan air bah bersama ratusan ribu warga Tanah Rencong lainnya. Aku menjerit histeris. Langit serasa runtuh, menimpa hatiku hingga hancur berkeping-keping.
Selanjutnya, tak henti-hentinya aku menangis, menjerit seperti orang gila. Berhari-hari aku terlunta-lunta, dalam kondisi shock berat, menggelandang di jalanan, di tengah gelimpangan mayat-mayat yang mulai menebarkan aroma busuk.
Akhirnya bala bantuan datang. Oleh sebuah LSM, aku dibawa ke sebuah camp pengungsian, tempat aku menghabiskan hari-hari dalam kondisi seperti orang gila. Menjerit dan menangis meratap-ratap, itulah yang kulakukan setiap hari selama berada di barak pengungsian. Dengan waktu yang terasa berjalan begitu lambat.
Hingga suatu hari, saat sedang tidur, aku mendengar seseorang memanggil-manggil namaku.
“Teddy, saya pamanmu!” kata pria itu setelah kami duduk saling berhadapan
Oh Tuhan, ternyata aku masih punya keluarga, ternyata aku tidak sebatang kara seperti perkiraanku. Pamanku yang menetap di Bali, hari itu datang ke Aceh khusus untuk mencari keluarganya. Dan ternyata aku satu-satunya keluarga yang ditemukan dalam kondisi hidup.
Aku lantas diboyong oleh pamanku ke Bali, dalam kondisi masih labil dan dihantui rasa trauma berat. Dalam perjalanan ke Bali, aku terus berteriak-teriak dan menangis seperti orang gila, dan perilaku tersebut berlanjut hingga tiba di Bali dan tinggal bersama keluarga pamanku di sebuah rumah di kawasan Ubung, Denpasar. Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, pamanku terpaksa mengurungku di dalam kamar. Aku tidak boleh ke mana-mana.
Hari demi hari berlalu, kondisiku mulai stabil meskipun belum sepenuhnya sembuh dari trauma. Aku mulai jenuh terus-menerus berdiam diri di dalam kamar. Kepada salah seorang putra pamanku, aku minta keluar dan dibukakan pintu pagar. Semula dia menolak. Namun karena aku terus-menerus mendesaknya, akhirnya dia pun meluluskan permintaanku.
Aku keluar dari rumah pamanku dan berjalan tak tentu arah, tanpa sepeser pun uang di kantongku. Aku berjalan dan terus berjalan. Aku tak ingat lagi berapa lama aku berjalan, hingga tibalah aku di sebuah pantai, yang belakangan kuketahui sebagai Pantai Kuta.
Aku lantas duduk di atas sebongkah batu besar di tepi pantai, memandang ke arah laut lepas dengan kecamuk perasaan yang sulit dilukiskan oleh kata-kata. Aku sekarang berada di Pantai Kuta, sebuah pantai yang terkenal hingga penjuru dunia karena keindahannya, namun duduk di sini, tak sedikit pun kudapati keindahan itu. Yang kulihat hanya sebuah kekejaman terpampang di depan mataku. Kejamnya laut, yang telah merenggut paksa orang-orang tercinta dariku! Mamakku, istriku, adikku, putriku tercinta. Semuanya. Trauma itu kembali menyesakkan dada, dan aku mulai larut dalam ledakan emosi yang menghentak-hentak.
Aku menangis, meraung, hingga orang-orang di sekitar pantai berdatangan mengerumuniku, menanyakan apa yang terjadi. Banyak yang bersimpati dan tergerak untuk mengulurkan tangan. Seorang pedagang nasi bungkus bahkan berbaik hati memberiku nasi bungkus dan air minum.
Susah-payah kukuatkan diriku, mencoba bangkit di tengah puing-puing hatiku yang terserak. Aku mulai memutar otak, mencari cara untuk bertahan hidup. Sebab aku tak mau dikasihani. Walaupun aku punya paman yang mampu membiayaiku, namun aku tak mau bergantung padanya.
Aku lantas berkenalan dengan seorang penjual koran di sekitar pantai Kuta. Kepadanya aku meminta diizinkan ikut membantu menjualkan koran, agar aku bisa punya uang sekadar untuk makan. Syukurlah, ia mau menolongku. Belakangan, setelah mengetahui kisahku sebagai salah seorang korban tsunami Aceh, ia lantas mengenalkanku dengan agen koran kenalannya, sehingga aku bisa langsung mengambil koran dari agen tersebut dengan keuntungan yang lebih banyak.
Maka, berlanjutlah hidupku dalam hari-hari sebagai penjual koran. Aku tenggelam dalam kerasnya hidup di daerah wisata yang namanya pernah tercoreng lantaran diguncang bom dengan jumlah korban tak sedikit, menyebabkan aparat setempat bertindak keras pada penduduk pendatang. Pernah suatu hari aku ditangkap oleh seseorang yang belakangan kuketahui disebut pecalang (polisi adat Bali). Dengan galak dia menginterogasiku, menanyai soal kipem (kartu identitas penduduk musiman). Karena tidak tahu-menahu soal kipem, kukatakan bahwa aku adalah korban tsunami Aceh. Sontak sinar kemarahan di matanya meredup, berubah menjadi tatap iba. Aku lantas dibantunya mengurus kipem dengan tanpa dikenai biaya sepeser pun.
Selanjutnya, aku terus menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitar Kuta, rajin mencari kenalan-kenalan baru. Aku mulai banyak memiliki kenalan orang-orang bule, salah satunya kemudian menjadi pelanggan tetap koran daganganku. Dari sinilah jalan hidupku mulai berbelok. Melalui interaksi dengan bule-bule itu, akhirnya aku berkesempatan untuk bekerja di sebuah restoran milik warga asing di bilangan Kuta.
Awalnya, aku hanya bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran itu. Lama-kelamaan, karena bosku menganggap aku telah bekerja dengan baik, aku naik jabatan menjadi pelayan saji. Lalu sebuah skandal korupsi terungkap, dengan manajer restoran sebagai terdakwanya. Pemilik restoran lantas memecatnya. Setelah itu aku diangkatnya  sebagai manajer pengganti, dengan gaji tiga juta rupiah setiap bulan. Aku mendapat kepercayaan penuh dari pemilik restoran untuk mengelola restoran, sekaligus secara berkala mengirimkan uang hasil penjualan. Tiap bulan, rata-rata aku mentransfer sekitar Rp 30-50 juta ke rekening sang pemilik restoran di luar negeri. Aku pula yang memegang uang belanja harian. Yah, walaupun aku bukan tergolong orang yang religius, namun kejujuran adalah sebuah nilai hidup yang selalu kupegang.
Namun tak dapat kupungkiri bahwa pekerjaan dan pergaulanku sebagai manajer restoran di kawasan wisata semakin menyeretku jauh dari Tuhan. Aku yang sedari masih di Aceh dulu memang jarang sholat dan jauh dari kehidupan religius, setiap hari menghabiskan waktu dengan mabuk-mabukan dan dugem. Hari demi hari, di tengah nikmatnya kemapanan, aku merasakan ada sisi lain dari diriku yang menjerit karena rasa hampa yang mendera. Aku teringat pada adikku, mamakku, istri dan anakku yang telah berpulang. Mengapa hanya aku yang dibiarkan tetap hidup dalam bencana mahadahsyat itu? Tentu ada maksud Tuhan di balik semua ini. Aku telah berhasil bangkit dari keterpurukan, dan Dia telah memberiku kecukupan. Namun uang yang kuperoleh kuhambur-hamburkan hanya untuk dugem dan mabuk-mabukan. Haruskah selamanya aku menjalani hidup dengan penuh kesia-siaan seperti ini?
Dalam keadaan kalut, aku lantas mulai mencari dan mencari. Beberapa waktu kemudian, dorongan hati membawa langkahku pada sebuah masjid di bilangan Imam Bonjol Denpasar. Di sana, aku menemukan sebuah titik terang atas pencarianku, dengan bergabung dalam sebuah jama’ah dakwah. Aku mulai rajin mengkaji ayat-ayat Allah bersama jamaah ini. Lambat-laun kegersangan hatiku mulai terobati. Aku mulai belajar mengenal Allah yang selama ini telah jauh kutinggalkan.
Visi hidupku pun berubah total, yang membuat tekadku bulat untuk meninggalkan pekerjaanku sebagai manajer restoran, dan memulai hidup baru dengan pekerjaan lain. Kujalankan sunnah Rasul dengan berdagang di samping juga bekerja serabutan.
Suatu hari, saat sedang mondar-mandir di kawasan Kuta terkait pekerjaanku sebagai pedagang, tanpa sengaja aku bertemu dengan seorang wanita bule Australia yang menjadi pelanggan setia restoran tempat aku bekerja dahulu. Tak kuduga pertemuan itu menjadi awal dari terungkapnya sebuah fakta. Ternyata, diam-diam dia pernah menaruh hati padaku, dan demikian sebaliknya. Aku juga pernah menyimpan “rasa” kepadanya.
Akhirnya kami menikah. Ya, untuk kedua kalinya aku menikah, kali ini dengan wanita yang usianya terpaut jauh di atasku. Disaksikan teman-teman jama’ahku, kami menikah dalam suasana penuh kesyukuran, karena sebelumnya dengan kerelaan hati dia telah mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Setelah itu, kubawa istriku ke kampung halamanku di Aceh. Kami kembali mengikat janji di Masjid Agung Baiturrahman, sebuah bangunan yang menjadi salah satu bukti kebesaran Allah karena tetap tegak kokoh berdiri di tengah puing-puing bangunan lain saat tsunami melanda bumi Serambi Mekkah. Kedatanganku bersama istri yang seorang bule menimbulkan kegemparan di tanah kelahiranku, bahkan sempat menjadi berita di Aceh Post.
***
Kini aku hidup tenang bersama istri buleku di Jimbaran. Kuisi hari-hariku dengan berdagang dan bekerja serabutan. Orang bilang aku nyentrik dengan gamis dan sorbanku, ditambah gaya bicaraku yang ceplas-ceplos. Tiap hari aku berkeliling dan bersilaturahim door to door, menawarkan dagangan sambil berdakwah. Kupegang betul ajaran Rasulullah, bahwa silaturahim dapat memperpanjang umur dan menderaskan rezeki, insya Allah.
Memandang laut Pulau Dewata nyaris setiap hari, selalu membuat hatiku bergetar. Tak dapat kupungkiri, perih itu masih bersisa, sebab aku hanyalah seorang manusia biasa. Namun tak kuizinkan perasaan itu menguasai hatiku, kuperbanyak istighfar dan kalimat-kalimat syukur kepada-Nya, sebab lautlah yang telah membawaku pada hidayah-Nya.

(Seperti dituturkan oleh Teddy, korban hidup tsunami Aceh 26 Desember 2004)

06.44 | Posted in , , , , | Read More »

Kisah Selembar Baju Bekas

Ya, ini kisah yang terlihat sunguh sederhana. Begitu sederhananya sehingga yang mampu memaknainya pun adalah mereka yang bisa memaknai hikmah pada sebuah kesederhanaan.
Di suatu siang yang panas seorang ibu yang sudah paru baya mengetuk sebuah rumah. Rumah yang cukup besar di antara rumah lain, pemiliknya pun cukup berada, sebuah keluarga yang dikenal cukup baik akhlaknya. Pada pemilik rumah inilah si ibu paruh baya menaruh sebuah harapan. Selembar baju bekas.
Beberapa hari lalu, ibu paruh baya menemui sang nyonya rumah untuk meminta baju bekas milik anak si nyonya, sebuah seragam SMA. Saat itu sang nyonya sedang sibuk sehingga meminta ibu paruh baya itu datang lagi lain waktu untuk mengambil apa yang dimintanya. Tibalah hari ini, nyonya pemilik rumah masih berada di kantor, hanya puteri sulungnya yang menjaga rumah. Dengan penuh keberanian dan harapan, si ibu paruh baya mengetuk pintu rumah itu, keluarlah si putri sulung menemuinya. Dari sini, ibu paruh baya menceritakan maksud hatinya untuk menagih janji sang nyonya memberinya baju seragam bekas. Anaknya sudah mulai masuk sekolah.
“Emm, ibuk maaf, saya kurang tahu di mana ibu saya menyimpan baju bekas tersebut, tapi sebentar saya cari di lemari. Barangkali ada”, ucap putri sulung sesaat setelah ibu paruh baya mengutarakan maksud kedatangannya. Ia pun berlalu menuju kamarnya. Ya, baju yang diminta adalah baju seragamnya waktu SMA, saat ini ia sudah bekerja. Baju itu sudah sangat tidak layak pikirnya. Namun, mengingat apa yang diceritakan ibu paruh baya soal keinginan anaknya untuk istiqomah berjilbab, putri sulung tidak kuasa menolak. Ia pun melihat tumpukan demi tumpukan, berharap menemukan seragam sekolahnya yang dulu. Itu, ada di sana, sebuah atasan yang sudah tidak putih lagi, begitu pula jilbabnya. Untuk seragam Pramuka juga masih ada, begitu pun jilbabnya. Kemudian ia tersadar, bahwa isi lemarinya sudah banyak yang tidak dipakai meskipun masih bagus. Sepertinya akan lebih berguna jika ia berikan kepada sang ibu paruh baya. “Semoga bisa membuat anaknya semakin bersemangat untuk berhijab”, begitu batinnya. Akhirnya terkumpullah beberapa lembar baju seragam dan baju biasa lainnya. Si putri sulung memasukkannya ke dalam sebuah plastik.
“Ibuk, silakan ini bajunya. Semoga anak ibu bisa istiqomah berjilbab”, ucap si sulung sambil mengangsurkan baju-baju yang sudah ia kumpulkan.
“Terima kasih mbak, insyaAlloh saya bilangin supaya dia gak lepas-lepas jilbab lagi”, begitu jawabnya.
“Mbak, saya bisa pinjam uang 30 puluh ribu, anak saya butuh untuk membayar buku, mbak”, lanjut ibu paruh baya itu lirih.
“Emm, sebentar ya buk. Saya ambilkan”, putri sulung pun bergegas mengambilkan uang, bukan 30 ribu tapi 100 ribu, ia tidak tega jika hanya memberinya 30 ribu, sedangkan ibu tersebut hanya bekerja di terminal, membantu supir angkot untuk mendapatkan penumpang.
“Ini buk”, ujar si Sulung sambil mengangsurkan uang Rp 100 ribu,”Tidak perlu dikembalikan”, lanjutnya.
“Terima kasih banyak mba, kemarin saya bingung banget. Masa anak saya bilang begini,
“Buk, nang opo yo, wong Kristen luwih apikan ketimbang wong Islam?” , saya kaget mbak, tapi saya jawab begini “Mungkin nek wong Islam iku mung isa maca Qur’an thok nduk, tapi ora ngamalke isi Al Qur’an”, si Ibu paruh baya menceritakan perihal kejadian beberapa hari lalu yang sedikit banyak membuatnya gelisah.
Putri sulung betul-betul terkesiap, ia yang notabene aktivis dakwah tentu saja tersentak dan kaget. Ternyata anak yang akan memakai seragamnay sangat kritis perihal kondisi sosial di sekitar rumahnya. Pertanyaan yang dikeluarkannya itu membuat dadanya sakit. Ia tidak rela jika agamanya tercoreng karena oknum. Tapi ia bersyukur ibu parah baya ini tidak mengiyakan persepsi anaknya dan memberinya penjelasan yang bisa diterima.
Mereka yang mengamalkan Al Quran insyaAlloh mempunyai sifat yang baik, begitu kira-kira. Sesaat itu, putri sulung pun bersyukur karena Alloh telah memberinya petunjuk untuk mengambil keputusan yang tepat. Menolong ibu paruh baya ini. Jika tidak, bukan hanya nama kelurganya yang akan tercoreng, tapi juga nama Islam, bahkan keyakinan anak tadi terhadap Islam pun mungkin semakin hilang.
“Mba”, ibu paruh baya itu melanjutkan, “Nek angsal, kulo nyuwun Al Qur’an sing onten terjemahane, kajenge di waos kalih anak kulo”.
“Emm, nek Al Qur’an terjemahan meng onten setunggal Buk, tapi engken kulo tak matur ibuk kulo, insyaAlloh dipadosaken”, si sulung berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk benar-benar bisa bermanfaat bagi umat.
Akhirnya pembicaraan mereka berdua pun melebar pada sejarah lampau ibu paruh baya ini. Sudah 12 tahun ia menjanda dan harus menghidupi 3 anaknya sendiri. Ia pernah berjualan makanan kecil namun dirasa kurang menguntungkan. Akhirnya ia kembali mencari rejeki di terminal. Dia mengaku tidak pernah absen sholat, bahkan sering diminta untuk mengajar ngaji ibu-ibu di lingkungan rumahnya. Namun ia merasa tidak pede dan akhirnya menolak untuk mengajari. Ibu paruh baya ini pun mengeluhkan soal hijab, ia belum mau berjilbab karena belum nyaman. Maklum, tempatnya bekerja memang sangat panas. Sebuah terminal. Putri sulung pun menyampaikan bahwa berhijab sama wajibnya dengan sholat dan puasa di bulan Romadhon, siapapun yang merasa Muslim dan baligh wajib mengerjakan. Jika diniatkan, insyaAlloh Alloh akan membantu. Si ibu paruh baya itu pun mengiyakan dan berjanji untuk menguatkan azzamnya menutup aurot.
Secara kebetulan ternyata sandal ibu paruh baya tertinggal di rumah itu. Subhannalloh, saat mengambil sandalnya itu, si ibu sudah menggunakan hijabnya. Bahkan sama sekali tidak terlihat ketidaknyamanan di wajahnya. “Semoga beliau istiqomah”, batin si putri sulung.
Ini mungkin hanya kisah selembar baju bekas, tetapi sesungguhnya adalah kisah tentang pengharapan. Tentang orang-orang yang dengan selapang perasaan mengharapkan penyelesaian hidupnya, di tangan orang-orang Muslim yang dipercaya.
Seperti itu pula semestinya kita menjalani kehidupan kemusliman kita. Menjadi Muslim –dan seperti agama Islam itu sendiri- sama artinya dengan menjadi pusaran pengharapan. Rasululloh SAW bersabda “Sebaik-baik manusia, yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Hanya orang-orang Muslim yang punya daya cipta manfaat, yang akan memancarkan cahaya Islam dalam performa luhur, yang mampu menjadi ruh bagi kehidupan ini.
Terinpirasi oleh karya Ahmad Zairofi AM dalam bukunya Lelaki Pendek, Hitam dan Lebih Jelek dari Untanya. Baju Besi dan Pusaran Pengharapan, Ahmad Zairofi AM.

04.00 | Posted in , | Read More »

Blog Archive

Labels