Inilah 10 Negara Terkaya Dunia Saat Ini

Headline
atas (ki-ka): Austria, Belanda, Swissbawah (ki-ka): Uni Emirat Arab, Luksemburg, Qatar - businessinsider.com
 

IKHWANESIA.COM, Jakarta - Ekonomi global masih bergejolak, namun beberapa negara ternyata dapat melaluinya dengan cukup baik. Bahkan tercatat sebagai negara terkaya dunia. Mana saja?
Kebanyakan orang tahu bahwa Amerika Serikat adalah negara terkaya dunia, diikuti China, Jepang dan lainnya. Hal ini dihitung berdasarkan indikator ekonomi Nominal PDB (Pendapatan Domestik Bruto), PNB (Pendapatan Nasional Bruto) dan banyak lagi.
Tetapi tidak banyak yang tahu tentang negara-negara terkaya berdasarkan PDB per Kapita, yaitu nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh rata-rata penduduk negara itu.
Tidak masalah jika beberapa negara memiliki konstitusi atau raja, karena pada dasarnya ada konstruksi atau manufaktur sebagai bagian besar basis industri mereka. Tentu saja, kepemilikan atas ladang minyak merupakan keuntungan tersendiri.
Berikut peringkat kekayaan negara berdasarkan Produk Domestik Bruto (GDP) per kapita. Semua angka-angka dihitung menggunakan paritas daya beli (PPP) Bank Dunia.
10. Austria
Austria adalah negara pada urutan kesepuluh dalam daftar negara terkaya, dengan PDB per kapita mencapai US$ 39,711. Negara dimana permen dengan merek dagang PEZ ini ditemukan, memiliki populasi sebesar 8,41 juta, dengan sebagian besar berbahasa Jerman. Adapun industri utama Austria adalah konstruksi, makanan, dan logam.
9. Irlandia
Irlandia berada di posisi kesembilan, dengan PDB per kapita mencapai US$ 39.999. Negara dengan jumlah penduduk sebanyak 4,58 juta orang ini menggantungkan ekonominya pada industri utama logam, makanan, dan tekstil.
8. Belanda
Dengan PDB per kapita mencapai US$ 42.447, Belanda menempati posisi kedelapan, Runner up Piala Dunia 2010 ini dikenal untuk tingkat pengangguran yang rendah, dengan populasi mencapai 16,68 juta. Adapun industri utamanya mencakup pertanian, logam, dan produk rekayasa.
7. Swiss
Meskipun dunia mengenal Swiss dari penemuan berupa pisau Swiss Army dan coklatnya lezat, Swiss sebenarnya adalah negara yang bagus bagi investor. Mereka mengklaim PDB per kapita mencapai US$ 46.424 dengan jumlah penduduk 7,86 juta orang. Adapun perekonomian Swiss didasarkan pada industri pariwisata, mesin, dan bahan kimia.
6. Amerika Serikat
Amerika Serikat menempati posisi keenam negara terkaya dengan PDB per kapita US$ 47.084. Tanah kebebasan ini merupakan salah satu negara terpadat di dunia, dengan populasi lebih dari 310 juta penduduk. Industri utamanya meliputi minyak bumi, baja, dan kendaraan bermotor.
5. Singapura
Satu-satunya negara di benua Asia Tenggara yang berhasil masuk daftar ini adalah Singapura, dengan PDB per kapita mencapai US$ 56.797. Singapura adalah sebuah negara dengan 63 pulau dan rumah bagi 5,07 juta penduduk. Adapun industri utamanya mencakup elektronik, kimia, dan jasa keuangan.
4. Norwegia
Sedangkan di posisi keempat negara terkaya adalah Norwegia, dengan PDB per kapita mencapai US$ 56.920. Kerajaan Norwegia adalah salah satu dari beberapa negara dunia yang masih diperintah seorang raja. Negara dengan populasi mencapai 4,97 juta orang ini wilayah strategis ekonomi ini, memiliki minyak bumi dan gas alam, dan pengolahan yang bagus.
3. Uni Emirat Arab
Uni Emirat Arab dengan PDB per kapita sebesar US$ 57.774 menjadi negara terkaya ketiga dunia. Negara yang memiliki Dubai Mall, pusat perbelanjaan terbesar dunia ini, terdiri dari tujuh emirat dan diatur oleh presiden. Uni Emirat Arab juga rumah bagi 8.260.000 orang dan mengkhususkan diri dalam minyak bumi, petrokimia, aluminium, dan semen.
2. Luksemburg
Di posisi kedua adalah Luksemburg, dengan PDB per kapita US$ 89.562. Meskipun merupakan negara Eropa yang kecil, bahkan lebih kecil dari Rhode Island, Luksemburg memiliki bahasa sendiri yaitu Luxembourgish. Selain menggunakan dua bahasa lain yakni Prancis dan Jerman. Penduduk disini tidak banyak, hanya 0,51 juta orang. Sedangkan industri terbesar adalah perbankan, jasa keuangan, besi dan baja.
1.Qatar
Adapun negara yang menduduki peringkat pertama terkaya berdasarkan PDB adalah Qatar, dengan PDB mencapai US$ 91.379 per kapita. Negara penyelenggara Piala Dunia pada 2022 mendatang ini memiliki populasi sebanyak 1,69 juta penduduk. Seperti banyak negara-negara Timur Tengah, produksi minyak mentah dan penyulingan memainkan peran besar bagi pendapatan negara ini. [mdr]

16.22 | Posted in , , , | Read More »

Inilah 10 Negara Terkaya Dunia Saat Ini

Headline
atas (ki-ka): Austria, Belanda, Swissbawah (ki-ka): Uni Emirat Arab, Luksemburg, Qatar - businessinsider.com
 

IKHWANESIA.COM, Jakarta - Ekonomi global masih bergejolak, namun beberapa negara ternyata dapat melaluinya dengan cukup baik. Bahkan tercatat sebagai negara terkaya dunia. Mana saja?
Kebanyakan orang tahu bahwa Amerika Serikat adalah negara terkaya dunia, diikuti China, Jepang dan lainnya. Hal ini dihitung berdasarkan indikator ekonomi Nominal PDB (Pendapatan Domestik Bruto), PNB (Pendapatan Nasional Bruto) dan banyak lagi.
Tetapi tidak banyak yang tahu tentang negara-negara terkaya berdasarkan PDB per Kapita, yaitu nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh rata-rata penduduk negara itu.
Tidak masalah jika beberapa negara memiliki konstitusi atau raja, karena pada dasarnya ada konstruksi atau manufaktur sebagai bagian besar basis industri mereka. Tentu saja, kepemilikan atas ladang minyak merupakan keuntungan tersendiri.
Berikut peringkat kekayaan negara berdasarkan Produk Domestik Bruto (GDP) per kapita. Semua angka-angka dihitung menggunakan paritas daya beli (PPP) Bank Dunia.
10. Austria
Austria adalah negara pada urutan kesepuluh dalam daftar negara terkaya, dengan PDB per kapita mencapai US$ 39,711. Negara dimana permen dengan merek dagang PEZ ini ditemukan, memiliki populasi sebesar 8,41 juta, dengan sebagian besar berbahasa Jerman. Adapun industri utama Austria adalah konstruksi, makanan, dan logam.
9. Irlandia
Irlandia berada di posisi kesembilan, dengan PDB per kapita mencapai US$ 39.999. Negara dengan jumlah penduduk sebanyak 4,58 juta orang ini menggantungkan ekonominya pada industri utama logam, makanan, dan tekstil.
8. Belanda
Dengan PDB per kapita mencapai US$ 42.447, Belanda menempati posisi kedelapan, Runner up Piala Dunia 2010 ini dikenal untuk tingkat pengangguran yang rendah, dengan populasi mencapai 16,68 juta. Adapun industri utamanya mencakup pertanian, logam, dan produk rekayasa.
7. Swiss
Meskipun dunia mengenal Swiss dari penemuan berupa pisau Swiss Army dan coklatnya lezat, Swiss sebenarnya adalah negara yang bagus bagi investor. Mereka mengklaim PDB per kapita mencapai US$ 46.424 dengan jumlah penduduk 7,86 juta orang. Adapun perekonomian Swiss didasarkan pada industri pariwisata, mesin, dan bahan kimia.
6. Amerika Serikat
Amerika Serikat menempati posisi keenam negara terkaya dengan PDB per kapita US$ 47.084. Tanah kebebasan ini merupakan salah satu negara terpadat di dunia, dengan populasi lebih dari 310 juta penduduk. Industri utamanya meliputi minyak bumi, baja, dan kendaraan bermotor.
5. Singapura
Satu-satunya negara di benua Asia Tenggara yang berhasil masuk daftar ini adalah Singapura, dengan PDB per kapita mencapai US$ 56.797. Singapura adalah sebuah negara dengan 63 pulau dan rumah bagi 5,07 juta penduduk. Adapun industri utamanya mencakup elektronik, kimia, dan jasa keuangan.
4. Norwegia
Sedangkan di posisi keempat negara terkaya adalah Norwegia, dengan PDB per kapita mencapai US$ 56.920. Kerajaan Norwegia adalah salah satu dari beberapa negara dunia yang masih diperintah seorang raja. Negara dengan populasi mencapai 4,97 juta orang ini wilayah strategis ekonomi ini, memiliki minyak bumi dan gas alam, dan pengolahan yang bagus.
3. Uni Emirat Arab
Uni Emirat Arab dengan PDB per kapita sebesar US$ 57.774 menjadi negara terkaya ketiga dunia. Negara yang memiliki Dubai Mall, pusat perbelanjaan terbesar dunia ini, terdiri dari tujuh emirat dan diatur oleh presiden. Uni Emirat Arab juga rumah bagi 8.260.000 orang dan mengkhususkan diri dalam minyak bumi, petrokimia, aluminium, dan semen.
2. Luksemburg
Di posisi kedua adalah Luksemburg, dengan PDB per kapita US$ 89.562. Meskipun merupakan negara Eropa yang kecil, bahkan lebih kecil dari Rhode Island, Luksemburg memiliki bahasa sendiri yaitu Luxembourgish. Selain menggunakan dua bahasa lain yakni Prancis dan Jerman. Penduduk disini tidak banyak, hanya 0,51 juta orang. Sedangkan industri terbesar adalah perbankan, jasa keuangan, besi dan baja.
1.Qatar
Adapun negara yang menduduki peringkat pertama terkaya berdasarkan PDB adalah Qatar, dengan PDB mencapai US$ 91.379 per kapita. Negara penyelenggara Piala Dunia pada 2022 mendatang ini memiliki populasi sebanyak 1,69 juta penduduk. Seperti banyak negara-negara Timur Tengah, produksi minyak mentah dan penyulingan memainkan peran besar bagi pendapatan negara ini. [mdr]

16.22 | Posted in , , , | Read More »

P. Ramlee, Permata Aceh Di Negeri Jiran

Siapa sangka, P. Ramlee alias Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh yang merupakan seorang penyanyi, musisi, aktor kawakan, dan sutradara film Malaysia adalah seorang bangsawan yang di dalam dirinya mengalir ‘darah biru’ seorang pelaut kawakan Aceh, Teuku Nyak Puteh Teuku Karim.
Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh atau lebih populer P. Ramlee (seniman) dilahirkan pada hari Rabu 22 Maret 1929 (lahir waktu pagi hari lebaran-red) di Pulau Pinang, Malaysia. Bapaknya, Teuku Nyak Puteh adalah seorang ahli pelayaran yang berasal dari Lhokseumawe. Ibunya bernama Che Mah Hussin berasal dari Kubang Buaya, Butterworth, Malaysia. Penggunaan inisial "P" pada awal namanya diambil dari nama bapaknya Puteh, ketika ia mengikuti lomba menyanyi di Pulau Pinang pada tahun 1947. Sejak saat itu, inisial "P" terus melekat pada namanya hingga akhir hayat. Bakat P. Ramlee di bidang seni, khususnya seni peran dan seni suara sudah ada pada dirinya sejak ia masih kecil.

Ayah P. Ramlee, Teuku Nyak Puteh Teuku Karim yang berasal dari Lhokseumawe ini merupakan seorang pelaut kawakan Aceh yang merantau ke Malaysia dan menetap di Pulau Penang.


Hingga pada tahun 1925, di Kubang Buaya, Butterwort, Malaysia, pelaut Aceh yang gagah perkasa itu menikahi Che Mah Hussein, dara jelita yang bermukim di Kubang Buaya, Butterwort (tempat penyeberangan ferry ke Pulau Penang dari Kedah Darulaman, Malaysia-red).Pencipta dan pelantun lagu berirama rancak ini menjadi yatim setelah sang ayah, Teuku Nyak Puteh meninggal dunia pada tahun 1955 dan menjadi piatu 12 tahun kemudian sang bunda, Che Mah Hussein juga menyusul sang ayah, setelah sebelumnya ‘menghadiahkan’ P. Ramlee seorang adik tiri (lain ayah dan seibu) yang bernama Syeikh Ali.Lima tahun sebelum ayahnya meninggal, pelakon film Pendekar Bujang Lapok ini menikahi Junaidah Daeng Harris yang juga berdarah Aceh pada tahun 1950.

Dari buah perkawinannya yang hanya berusia 4 tahun itu, pria berkulit hitam manis dan perokok berat ini dianugerahkan dua orang putra yaitu Mohd. Nasir P. Ramlee dan Arfan P. Ramlee kedua putranya itu terpaut usia satu tahun (Mohd. Nasir lahir 1953, Arfan lahir pada tahun 1954).Pria penyayang ini mempunyai 10 orang anak, 2 orang anak kandung (dari perkawinannya dengan Junaidah), 3 orang anak tiri dari 3 istrinya yaitu Junaidah, Noorizan, dan Saloma, serta 4 orang anak angkat. Delapan orang anaknya yang lain selain Mohd. Nasir dan Arfan yaitu Sazali, Abdul Rahman, Norma, Armali, Betty, Zakiah, Sabaruddin dan Dian.


Pendidikan formal yang pernah ditempuh P. Ramlee dimulai dari Sekolah Melayu Kampung Jawa, kemudian meneruskan ke sekolah Francis Light sampai kelas lima. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke Penang Free School hingga kelas tujuh. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia juga pernah masuk di sekolah Kaigun (sekolah tentara laut Jepang).Kecintaan P. Ramlee pada seni musik dan seni suara (penyanyi) mendorongnya untuk giat belajar musik. Berawal dari bermain ukelele, kemudian ia beralih belajar gitar dan biola pada Encik Kamaruddin (pemimpin Brass Band di Penang Free School). Kemudian, untuk mengembangkan bakatnya, ia bergabung dalam orkes Teruna Bintang dan Sinaran Bintang Sore.

 Sejak itu, ia sering memenangi berbagai lomba tarik suara, di antaranya Juara III (1945) dan Juara II sekaligus terpilih sebagai Bintang Penyanyi Utama Malaya (1947) dalam lomba tarik suara yang diselenggarakan oleh Radio Pulau Pinang Keterlibatan P. Ramlee dalam seni peran berawal, ketika ia diundang untuk memeriahkan sebuah Pesta Pertanian Ria di Bukit Mertajam pada tanggal 1 Juni 1948. Dalam pesta itu, ia menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sendiri berjudul Azizah. B.S. Rajhans, seorang pengarah film dari Shaw Brothers Singapura juga hadir dalam acara tersebut, dan kebetulan sedang mencari penyanyi berbakat. Setelah mendengar lagu persembahan P. Ramlee, Rajhans menawarkan padanya untuk menjadi penyanyi latar dalam film-film yang akan diarahkannya. Kemudian, pada tanggal 8 Agustus 1948, P. Ramlee pun berangkat ke Singapura dengan menumpang kereta api.

 Di Singapura, ia belajar dan mengembangkan bakatnya di bidang seni peran dan seni suara di Studio Malay Film Productions. Karena kecintaannya dalam dunia film, P. Ramlee mampu melakukan berbagai macam pekerjaan maupun peran. Ia pernah menjadi clepper boy, pembantu jurukamera, menjaga continuity, dan sebagai penyanyi latar. Khusus dalam seni peran, ia mampu memerankan berbagai watak (karakter) misalnya, dalam film pertamanya yang berjudul Cinta, memerankan karakter penjahat (1948); dalam film Nur Asmara dan Nasib bersama D. Harris memerankan karakter lucu (komedi); dan dalam film Bakti memerankan karakter hero (pahlawan). Selain itu, ia adalah bintang film pertama yang bisa menyanyi tanpa menggunakan penyanyi latar. Sejak tahun 1948 hingga 1955, keaktoran P. Ramlee di dunia perfilman terus berkembang dan telah membintangi 27 buah judul film. Datuk L. Krishnan (pengarah/sutradara film Melayu terkenal pada tahun 50-an dan 60-an) adalah salah seorang guru P. Ramlee yang senantiasa memberikan motivasi agar selalu belajar berakting. Selain Krishnan, ia juga banyak dipengaruhi oleh karya sutradara-sutradara asing, seperti Akira Kurosawa dari Jepang dan Satyajit Rai dari India. 

Sementara gaya lakon (akting) P. Ramlee banyak terinspirasi dari dua aktor terkenal India Selatan, yaitu MGR dan Sivaji Ganesan. Kepiawaiannya dalam berakting juga banyak dipengaruhi teman mainnya sesama aktor handal, seperti Nordin Ahmad, Saadiah, A.Rahim, Daeng Idris, Normadiah dan lain-lain.Setelah membintangi film terakhirnya yang berjudul Hang Tuah tahun 1955, P. Ramlee beralih menjadi pengarah atau sutradara film. Film pertama yang disutradarai berjudul Penarik Becak (1955), dan setahun kemudian (1956), ia menyutradarai lagi filmnya yang kedua berjudul Semerah Padi. Film-film arahannya tersebut senantiasa menuai sukses, disamping karena teknik pengambilan gambar (trick-short) dan drama yang baik, juga karena penuh dengan unsur-unsur budaya dan agama. Selain itu, P. Ramlee juga telah melakukan berbagai pembaharuan, baik dari segi teknik, arahan, maupun seni aktingnya. 

Setelah sukses membintangi dan mengarah beberapa film di Singapura, P. Ramlee pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia, untuk bekerja di Studio Merdeka di Ulu Kelang. Selama 9 tahun di studio tersebut, ia berhasil mengeluarkan 18 buah film, menciptakan serta menyanyikan lagu-lagu dalam film sebanyak 60 buah. Dalam proses penciptaan lagu, ia banyak dibantu oleh rekan-rekannya, seperti S. Sudarji, Jamil Sulong, H. M. Rohizad, Ainol dan sebagainya. Tidak diketahui secara tepat, berapa jumlah lagu yang telah diciptakannya, yang pasti dikenali masyarakat seniman kira-kira berjumlah 250 buah. Selain sebagai aktor dan pengarah film, P. Ramlee juga aktif dalam berbagai bidang organisasi, di antaranya Persatuan Artis-artis Malaya (PERSAMA), Kumpulan Musik PANCA SITARA, Pasukan Badminton (SEKAWAN BINTANG), dan Sepak Takraw (SANGGA BUANA).
Disamping itu, ia juga pernah mengadu nasib di bidang perdagangan dengan menerbitkan majalah hiburan Bintang dan majalah Gelanggang Films. Bersama rekan-rekannya, ia pernah mendirikan dua buah perkumpulan film, yaitu Perusahaan Film Malaysia (PERFIMA) dan SAZARA Film Company. P. Ramlee juga sering diundang dalam forum-forum penting, di antaranya dalam Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu Ketiga di Singapura dan di Johor Bahru (1956), dan Kongres Kebudayaan Kebangsaan di Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1971). 

Semasa hidupnya, ia pernah berkunjung ke beberapa negara, di antaranya Indonesia, Hong Kong, Manila dan Tokyo. Film terakhir yang dibintangi sebelum ia menghembuskan nafas terakhir berjudul Laksamana Do Re Mi tahun 1972, sedangkan lagu dan lirik terakhirnya berjudul Ayer Mata di Kuala Lumpur pada tahun 1973. P. Ramlee meninggal dunia pada tanggal 29 Mei 1973 dalam usia 44 tahun, akibat serangan jantung. Jenazahnya dimakamkan di Tanah Perkuburan Islam, Jalan Ampang Kuala Lumpur, Malaysia. Ia meninggalkan sebuah rumah yang berada di jalan Depap yang telah dijadikan Pustaka Peringatan P.Ramlee pada tahun 1986. Selain itu, namanya telah diabadikan sebagai nama jalan di Pusat Bandar Raya Kuala Lumpur menjadi Jalan P. Ramlee (yang dulunya bernama Jalan Parry) pada tahun 1982. Sepanjang hidupnya, ia telah tiga kali menikah, yaitu Junaidah anak pelawak D. Harris (istri pertama, 1948), Norizan bekas isteri Sultan Perak (istri kedua, 1955), dan Salmah Ismail atau Saloma (istri ketiga, 1961).

Karya-karya
Sebagai seniman film dan musik, P.Ramlee telah melahirkan banyak karya film dan lagu, di antaranya:
Abu Hassan Penchuri (1955) Ahmad Albab (1968) Ali Baba Bujang Lapok (1961) Aloha (1950) Anak Bapak (1968) Anak-ku Sazali (1956) Anjoran Nasib (1952) Antara Dua Darjat (1960) Antara Senyum Dan Tangis (1952) Bakti (1950) Bujang Lapok (1957) Bukan Salah Ibu Mengandung (1969) Chinta, film pertama  (1948) Dajal Suchi (1965) Di Belakang Tabir (1969) Do Re Mi (1966) Doktor Rushdi (1970) Enam Jahanam (1969) Gelora (1970) Gerimis (1968) Hang Tuah (1956) Hujan Panas (1953) Ibu / Mother (1953) Ibu Mertua Ku (1962) Jangan Tinggal Daku (1971) Juwita (1951) Kanchan Tirana (1969) Keluarga 69 (1967) Labu Dan Labi (1962) Laksemana Do Re Mi, film terakhir  (1972) Love Parade (1963) Madu Tiga (1964) Masam Masam Manis (1965) Melanchong Ke Tokyo (1964) Merana (1954) Miskin (1952) Musang Berjanggut (1959) Nasib (1949) Nasib Do Re Mi (1966) Nasib Si Labu Labi (1963) Nilam (1949) Noor Asmara (1949) Nujum Pak Belalang (1959) Pancha Delima (1957) Panggilan Pulau (1954) Patah Hati (1952) Penarek Becha (1955) Pendekar Bujang Lapok (1959) Penghidupan (1951) Perjodohan (1954) Putus Harapan (1953) Putus Sudah Kaseh Sayang (1971) Rachun Dunia (1950) Ragam P Ramlee & Damaq (1964) Sabarudin Tukang Kasut (1966) Se Merah Padi (1956) Sedarah (1952) Sejoli (1951) Seniman Bujang Lapok (1961) Sergeant Hassan (1958) Sesudah Suboh (1967) Siapa Salah (1953) Sitora Harimau Jadian (1964) Sumpah Orang Minyak (1958) Takdir Illahi (1950) Tiga Abdul (1964) Aci Aci Buka Pintu Aduh Sayang Aduhai Sayang Ahmad Albab Ai Ai Twist Aku Bermimpi Aku Debuk Aku Menangis Aku Tak Berdaya Aku Terpesona Ala Payong Alam Alam Di Tiup Bayu Alam Maya Alangkah Indah Di Waktu Pagi Alhamdulillah Ali Baba Rock Alunan Biola Anak-ku Sazali Aneka Ragam Angin Malam Apa Guna Berjanji Apabila Kau Tersenyum Apek Dan Marjina Asmara Bergelora Asmara Datang Bersama Sang Bulan Asmara Murni Assalamualaikum Awan Mendung Telah Tiba Awas-awas Jangan Tertawan Ayam Ayam Ayer Mata Ayer Mata Di Kuala Lumpur Azizah Bahagia Bahtera Karam Baidah Barang Yang Lepas Jangan Di Kenang Bawah Rumpunan Bambu Bayangan Wajahmu Beginilah Nasib Belantara Berdendang Ria Berhati Lara Berkorban Apa Saja Bermandi-manda Berpedati Bersama Bertamasha Betapa Riangnya Biarlah Aku Pergi Bila Bila Mama Pakai Chelana Bila Tiba Masa Bintang Hati Bintang Sore Bubor Sagu Budi Dibawa Mati Bujang Merempat Bulan Dan Juga Angin Bulan Jatuh Ke Riba Bulan Mengambang Bumiku Ini Bunga Mekar Bunga Melor Bunyi Gitar Burung Pungok Chemara Jingga Chemburu Chinta Chinta Abadi Choraknya Dunia Cik Cik Keboom Dalam Air Terbayang Wajah Dari Hati Ke Hati Dari Masa Hingga Masa Debaran Jiwa Dendang Perantau Dengar Ini Cherita Dengarlah Kemala Hati Dengarlah Rayuanku Dengarlah Sang Ombak Berdesir Derita Dewi Ilhamku Dewi Puspitaku Di Bibir Mu Terlukis Kata Di Mana Kan Ku Chari Ganti Di Mana Suara Burong Kenari Di Pinggiran Di Pulau Dia Dan Aku Di Renjis-renjis Di Pilis Di Telan Pahit Di Buang Sayang Do Re Mi Duka Berganti Suka Dunia Hanya Pinjaman Dunia Ini Hanya Palsu Embun Menitik Engkau Laksana Bulan Enjit Enjit Semut Dll.Atas karya dan jasa-jasanya bagi dunia seni, P. Ramlee telah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya:Aktor Pria Terbaik, dalam film Anak-ku Sazali pada Festival Film Asia ke-4 di Tokyo (tahun 1957)Award Fotografi Hitam Putih Terbaik pada Festival Film Asia.Gelar Sargeant Titular dari Askar Melayu.Film Komedi Terbaik, dalam film Bujang Lapuk pada Festival Film Asia di Kuala Lumpur (tahun 1959).Film Komedi Terbaik, dalam Film Nujum Pak Belalang pada Festival Film Asia ke-7 di Tokyo (tahun 1960).Bintang Ahli Mangku Negara (AMN) dari DYMM Seri Paduka Baginda di Pertuan Agung Ketiga di Malaysia (tahun 1962).Award Khas The Most Versatile Talent, dalam film Ibu Mertua Ku  pada Festival Film Asia ke-10 di Tokyo (tahun 1963).Film Komedi Terbaik, dalam film Madu Tiga pada Festival Film Asia ke-11 di Taipei (tahun 1964).Pengubah Lagu Terbaik Se Asia pada Festival Film Asia di Hong Kong (1956). Bintang Kebesaran Darjah Panglima Setia Mahkota dengan gelar Tan Sri dari Seri Paduka Baginda Yang di Pertuan Agung di Malaysia (tahun 1990).www.p-ramli.com 




View the original article here

00.38 | Posted in , , , , , | Read More »

P. Ramlee, Permata Aceh Di Negeri Jiran

Siapa sangka, P. Ramlee alias Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh yang merupakan seorang penyanyi, musisi, aktor kawakan, dan sutradara film Malaysia adalah seorang bangsawan yang di dalam dirinya mengalir ‘darah biru’ seorang pelaut kawakan Aceh, Teuku Nyak Puteh Teuku Karim.
Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh atau lebih populer P. Ramlee (seniman) dilahirkan pada hari Rabu 22 Maret 1929 (lahir waktu pagi hari lebaran-red) di Pulau Pinang, Malaysia. Bapaknya, Teuku Nyak Puteh adalah seorang ahli pelayaran yang berasal dari Lhokseumawe. Ibunya bernama Che Mah Hussin berasal dari Kubang Buaya, Butterworth, Malaysia. Penggunaan inisial "P" pada awal namanya diambil dari nama bapaknya Puteh, ketika ia mengikuti lomba menyanyi di Pulau Pinang pada tahun 1947. Sejak saat itu, inisial "P" terus melekat pada namanya hingga akhir hayat. Bakat P. Ramlee di bidang seni, khususnya seni peran dan seni suara sudah ada pada dirinya sejak ia masih kecil.

Ayah P. Ramlee, Teuku Nyak Puteh Teuku Karim yang berasal dari Lhokseumawe ini merupakan seorang pelaut kawakan Aceh yang merantau ke Malaysia dan menetap di Pulau Penang.


Hingga pada tahun 1925, di Kubang Buaya, Butterwort, Malaysia, pelaut Aceh yang gagah perkasa itu menikahi Che Mah Hussein, dara jelita yang bermukim di Kubang Buaya, Butterwort (tempat penyeberangan ferry ke Pulau Penang dari Kedah Darulaman, Malaysia-red).Pencipta dan pelantun lagu berirama rancak ini menjadi yatim setelah sang ayah, Teuku Nyak Puteh meninggal dunia pada tahun 1955 dan menjadi piatu 12 tahun kemudian sang bunda, Che Mah Hussein juga menyusul sang ayah, setelah sebelumnya ‘menghadiahkan’ P. Ramlee seorang adik tiri (lain ayah dan seibu) yang bernama Syeikh Ali.Lima tahun sebelum ayahnya meninggal, pelakon film Pendekar Bujang Lapok ini menikahi Junaidah Daeng Harris yang juga berdarah Aceh pada tahun 1950.

Dari buah perkawinannya yang hanya berusia 4 tahun itu, pria berkulit hitam manis dan perokok berat ini dianugerahkan dua orang putra yaitu Mohd. Nasir P. Ramlee dan Arfan P. Ramlee kedua putranya itu terpaut usia satu tahun (Mohd. Nasir lahir 1953, Arfan lahir pada tahun 1954).Pria penyayang ini mempunyai 10 orang anak, 2 orang anak kandung (dari perkawinannya dengan Junaidah), 3 orang anak tiri dari 3 istrinya yaitu Junaidah, Noorizan, dan Saloma, serta 4 orang anak angkat. Delapan orang anaknya yang lain selain Mohd. Nasir dan Arfan yaitu Sazali, Abdul Rahman, Norma, Armali, Betty, Zakiah, Sabaruddin dan Dian.


Pendidikan formal yang pernah ditempuh P. Ramlee dimulai dari Sekolah Melayu Kampung Jawa, kemudian meneruskan ke sekolah Francis Light sampai kelas lima. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke Penang Free School hingga kelas tujuh. Selain itu, pada masa pendudukan Jepang, ia juga pernah masuk di sekolah Kaigun (sekolah tentara laut Jepang).Kecintaan P. Ramlee pada seni musik dan seni suara (penyanyi) mendorongnya untuk giat belajar musik. Berawal dari bermain ukelele, kemudian ia beralih belajar gitar dan biola pada Encik Kamaruddin (pemimpin Brass Band di Penang Free School). Kemudian, untuk mengembangkan bakatnya, ia bergabung dalam orkes Teruna Bintang dan Sinaran Bintang Sore.

 Sejak itu, ia sering memenangi berbagai lomba tarik suara, di antaranya Juara III (1945) dan Juara II sekaligus terpilih sebagai Bintang Penyanyi Utama Malaya (1947) dalam lomba tarik suara yang diselenggarakan oleh Radio Pulau Pinang Keterlibatan P. Ramlee dalam seni peran berawal, ketika ia diundang untuk memeriahkan sebuah Pesta Pertanian Ria di Bukit Mertajam pada tanggal 1 Juni 1948. Dalam pesta itu, ia menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sendiri berjudul Azizah. B.S. Rajhans, seorang pengarah film dari Shaw Brothers Singapura juga hadir dalam acara tersebut, dan kebetulan sedang mencari penyanyi berbakat. Setelah mendengar lagu persembahan P. Ramlee, Rajhans menawarkan padanya untuk menjadi penyanyi latar dalam film-film yang akan diarahkannya. Kemudian, pada tanggal 8 Agustus 1948, P. Ramlee pun berangkat ke Singapura dengan menumpang kereta api.

 Di Singapura, ia belajar dan mengembangkan bakatnya di bidang seni peran dan seni suara di Studio Malay Film Productions. Karena kecintaannya dalam dunia film, P. Ramlee mampu melakukan berbagai macam pekerjaan maupun peran. Ia pernah menjadi clepper boy, pembantu jurukamera, menjaga continuity, dan sebagai penyanyi latar. Khusus dalam seni peran, ia mampu memerankan berbagai watak (karakter) misalnya, dalam film pertamanya yang berjudul Cinta, memerankan karakter penjahat (1948); dalam film Nur Asmara dan Nasib bersama D. Harris memerankan karakter lucu (komedi); dan dalam film Bakti memerankan karakter hero (pahlawan). Selain itu, ia adalah bintang film pertama yang bisa menyanyi tanpa menggunakan penyanyi latar. Sejak tahun 1948 hingga 1955, keaktoran P. Ramlee di dunia perfilman terus berkembang dan telah membintangi 27 buah judul film. Datuk L. Krishnan (pengarah/sutradara film Melayu terkenal pada tahun 50-an dan 60-an) adalah salah seorang guru P. Ramlee yang senantiasa memberikan motivasi agar selalu belajar berakting. Selain Krishnan, ia juga banyak dipengaruhi oleh karya sutradara-sutradara asing, seperti Akira Kurosawa dari Jepang dan Satyajit Rai dari India. 

Sementara gaya lakon (akting) P. Ramlee banyak terinspirasi dari dua aktor terkenal India Selatan, yaitu MGR dan Sivaji Ganesan. Kepiawaiannya dalam berakting juga banyak dipengaruhi teman mainnya sesama aktor handal, seperti Nordin Ahmad, Saadiah, A.Rahim, Daeng Idris, Normadiah dan lain-lain.Setelah membintangi film terakhirnya yang berjudul Hang Tuah tahun 1955, P. Ramlee beralih menjadi pengarah atau sutradara film. Film pertama yang disutradarai berjudul Penarik Becak (1955), dan setahun kemudian (1956), ia menyutradarai lagi filmnya yang kedua berjudul Semerah Padi. Film-film arahannya tersebut senantiasa menuai sukses, disamping karena teknik pengambilan gambar (trick-short) dan drama yang baik, juga karena penuh dengan unsur-unsur budaya dan agama. Selain itu, P. Ramlee juga telah melakukan berbagai pembaharuan, baik dari segi teknik, arahan, maupun seni aktingnya. 

Setelah sukses membintangi dan mengarah beberapa film di Singapura, P. Ramlee pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia, untuk bekerja di Studio Merdeka di Ulu Kelang. Selama 9 tahun di studio tersebut, ia berhasil mengeluarkan 18 buah film, menciptakan serta menyanyikan lagu-lagu dalam film sebanyak 60 buah. Dalam proses penciptaan lagu, ia banyak dibantu oleh rekan-rekannya, seperti S. Sudarji, Jamil Sulong, H. M. Rohizad, Ainol dan sebagainya. Tidak diketahui secara tepat, berapa jumlah lagu yang telah diciptakannya, yang pasti dikenali masyarakat seniman kira-kira berjumlah 250 buah. Selain sebagai aktor dan pengarah film, P. Ramlee juga aktif dalam berbagai bidang organisasi, di antaranya Persatuan Artis-artis Malaya (PERSAMA), Kumpulan Musik PANCA SITARA, Pasukan Badminton (SEKAWAN BINTANG), dan Sepak Takraw (SANGGA BUANA).
Disamping itu, ia juga pernah mengadu nasib di bidang perdagangan dengan menerbitkan majalah hiburan Bintang dan majalah Gelanggang Films. Bersama rekan-rekannya, ia pernah mendirikan dua buah perkumpulan film, yaitu Perusahaan Film Malaysia (PERFIMA) dan SAZARA Film Company. P. Ramlee juga sering diundang dalam forum-forum penting, di antaranya dalam Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu Ketiga di Singapura dan di Johor Bahru (1956), dan Kongres Kebudayaan Kebangsaan di Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1971). 

Semasa hidupnya, ia pernah berkunjung ke beberapa negara, di antaranya Indonesia, Hong Kong, Manila dan Tokyo. Film terakhir yang dibintangi sebelum ia menghembuskan nafas terakhir berjudul Laksamana Do Re Mi tahun 1972, sedangkan lagu dan lirik terakhirnya berjudul Ayer Mata di Kuala Lumpur pada tahun 1973. P. Ramlee meninggal dunia pada tanggal 29 Mei 1973 dalam usia 44 tahun, akibat serangan jantung. Jenazahnya dimakamkan di Tanah Perkuburan Islam, Jalan Ampang Kuala Lumpur, Malaysia. Ia meninggalkan sebuah rumah yang berada di jalan Depap yang telah dijadikan Pustaka Peringatan P.Ramlee pada tahun 1986. Selain itu, namanya telah diabadikan sebagai nama jalan di Pusat Bandar Raya Kuala Lumpur menjadi Jalan P. Ramlee (yang dulunya bernama Jalan Parry) pada tahun 1982. Sepanjang hidupnya, ia telah tiga kali menikah, yaitu Junaidah anak pelawak D. Harris (istri pertama, 1948), Norizan bekas isteri Sultan Perak (istri kedua, 1955), dan Salmah Ismail atau Saloma (istri ketiga, 1961).

Karya-karya
Sebagai seniman film dan musik, P.Ramlee telah melahirkan banyak karya film dan lagu, di antaranya:
Abu Hassan Penchuri (1955) Ahmad Albab (1968) Ali Baba Bujang Lapok (1961) Aloha (1950) Anak Bapak (1968) Anak-ku Sazali (1956) Anjoran Nasib (1952) Antara Dua Darjat (1960) Antara Senyum Dan Tangis (1952) Bakti (1950) Bujang Lapok (1957) Bukan Salah Ibu Mengandung (1969) Chinta, film pertama  (1948) Dajal Suchi (1965) Di Belakang Tabir (1969) Do Re Mi (1966) Doktor Rushdi (1970) Enam Jahanam (1969) Gelora (1970) Gerimis (1968) Hang Tuah (1956) Hujan Panas (1953) Ibu / Mother (1953) Ibu Mertua Ku (1962) Jangan Tinggal Daku (1971) Juwita (1951) Kanchan Tirana (1969) Keluarga 69 (1967) Labu Dan Labi (1962) Laksemana Do Re Mi, film terakhir  (1972) Love Parade (1963) Madu Tiga (1964) Masam Masam Manis (1965) Melanchong Ke Tokyo (1964) Merana (1954) Miskin (1952) Musang Berjanggut (1959) Nasib (1949) Nasib Do Re Mi (1966) Nasib Si Labu Labi (1963) Nilam (1949) Noor Asmara (1949) Nujum Pak Belalang (1959) Pancha Delima (1957) Panggilan Pulau (1954) Patah Hati (1952) Penarek Becha (1955) Pendekar Bujang Lapok (1959) Penghidupan (1951) Perjodohan (1954) Putus Harapan (1953) Putus Sudah Kaseh Sayang (1971) Rachun Dunia (1950) Ragam P Ramlee & Damaq (1964) Sabarudin Tukang Kasut (1966) Se Merah Padi (1956) Sedarah (1952) Sejoli (1951) Seniman Bujang Lapok (1961) Sergeant Hassan (1958) Sesudah Suboh (1967) Siapa Salah (1953) Sitora Harimau Jadian (1964) Sumpah Orang Minyak (1958) Takdir Illahi (1950) Tiga Abdul (1964) Aci Aci Buka Pintu Aduh Sayang Aduhai Sayang Ahmad Albab Ai Ai Twist Aku Bermimpi Aku Debuk Aku Menangis Aku Tak Berdaya Aku Terpesona Ala Payong Alam Alam Di Tiup Bayu Alam Maya Alangkah Indah Di Waktu Pagi Alhamdulillah Ali Baba Rock Alunan Biola Anak-ku Sazali Aneka Ragam Angin Malam Apa Guna Berjanji Apabila Kau Tersenyum Apek Dan Marjina Asmara Bergelora Asmara Datang Bersama Sang Bulan Asmara Murni Assalamualaikum Awan Mendung Telah Tiba Awas-awas Jangan Tertawan Ayam Ayam Ayer Mata Ayer Mata Di Kuala Lumpur Azizah Bahagia Bahtera Karam Baidah Barang Yang Lepas Jangan Di Kenang Bawah Rumpunan Bambu Bayangan Wajahmu Beginilah Nasib Belantara Berdendang Ria Berhati Lara Berkorban Apa Saja Bermandi-manda Berpedati Bersama Bertamasha Betapa Riangnya Biarlah Aku Pergi Bila Bila Mama Pakai Chelana Bila Tiba Masa Bintang Hati Bintang Sore Bubor Sagu Budi Dibawa Mati Bujang Merempat Bulan Dan Juga Angin Bulan Jatuh Ke Riba Bulan Mengambang Bumiku Ini Bunga Mekar Bunga Melor Bunyi Gitar Burung Pungok Chemara Jingga Chemburu Chinta Chinta Abadi Choraknya Dunia Cik Cik Keboom Dalam Air Terbayang Wajah Dari Hati Ke Hati Dari Masa Hingga Masa Debaran Jiwa Dendang Perantau Dengar Ini Cherita Dengarlah Kemala Hati Dengarlah Rayuanku Dengarlah Sang Ombak Berdesir Derita Dewi Ilhamku Dewi Puspitaku Di Bibir Mu Terlukis Kata Di Mana Kan Ku Chari Ganti Di Mana Suara Burong Kenari Di Pinggiran Di Pulau Dia Dan Aku Di Renjis-renjis Di Pilis Di Telan Pahit Di Buang Sayang Do Re Mi Duka Berganti Suka Dunia Hanya Pinjaman Dunia Ini Hanya Palsu Embun Menitik Engkau Laksana Bulan Enjit Enjit Semut Dll.Atas karya dan jasa-jasanya bagi dunia seni, P. Ramlee telah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya:Aktor Pria Terbaik, dalam film Anak-ku Sazali pada Festival Film Asia ke-4 di Tokyo (tahun 1957)Award Fotografi Hitam Putih Terbaik pada Festival Film Asia.Gelar Sargeant Titular dari Askar Melayu.Film Komedi Terbaik, dalam film Bujang Lapuk pada Festival Film Asia di Kuala Lumpur (tahun 1959).Film Komedi Terbaik, dalam Film Nujum Pak Belalang pada Festival Film Asia ke-7 di Tokyo (tahun 1960).Bintang Ahli Mangku Negara (AMN) dari DYMM Seri Paduka Baginda di Pertuan Agung Ketiga di Malaysia (tahun 1962).Award Khas The Most Versatile Talent, dalam film Ibu Mertua Ku  pada Festival Film Asia ke-10 di Tokyo (tahun 1963).Film Komedi Terbaik, dalam film Madu Tiga pada Festival Film Asia ke-11 di Taipei (tahun 1964).Pengubah Lagu Terbaik Se Asia pada Festival Film Asia di Hong Kong (1956). Bintang Kebesaran Darjah Panglima Setia Mahkota dengan gelar Tan Sri dari Seri Paduka Baginda Yang di Pertuan Agung di Malaysia (tahun 1990).www.p-ramli.com 




View the original article here

00.38 | Posted in , , , , , | Read More »

Negeri "Achai"

Pada masa perang lalu, sebagian kecil orang tertarik dengan perdebatan bagaimana menuliskan kata Aceh. Ada yang menuliskannya dengan Acheh, Atjeh dan Aceh. Pertengkaran bisa menghebat karena cara penulisan diklaim menentukan kadar keAcehannya.
Mungkin juga hal itu tidaklah sepelik yang dimaknakan oleh yang mereka pertengkarkan. Mungkin Aceh mewakili penulisan ejaan baru; Atjeh mewakili penulisan ejaan lama, dan Acheh bukan mewakili ejaan Melayu. Sebetulnya kepelikan – akibat sok paling politis dan keacehan itu— semakin berkurang manakala kita telusuri pada sejumlah artikel tentang sejarah Aceh.Dennys Lombard memberikan catatan khusus tentang penyebutan beberapa nama tempat di Aceh. Dalam bukunya: Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), bahkan ia meletakkan bagian aneka penulisan kata Aceh di bagian awal bukunya itu.Sebelumnya, apa yang kita kenal sekarang sebagai Perlak (840-1292), oleh Marco Polo ditulis Ferlec. Ada juga yang menuliskannya Barlak, Perla—yang dalam dialek Aceh disebut: Peureulak. Demikian pula Idi yang dahulu juga sudah dikenal, maka ditulis oleh Karl May sebagai Edi. Lalu bagaimana dengan Benua Tamiang (960-1558), yang disebut dengan dialek Aceh sebagai Tamieng. Ini kerajaan tertua ketiga, setelah Perlak dan Samudra Pasai.

Dan, bila Tamiang diserang Majapahit pada 1352, maka Pasai diserang pada 1360, atau menurut catatan Marre sekitar akhir abad 14. Sedangkan Perlak sudah bangkrut atau merosot menjadi kekuatan politik lokal pada masa itu.Kita ambil contoh lagi, penulisan yang kita kenal saat ini sebagai Samudra (1267-1524) —yakni nama dari salah satu negara tradisional yang pernah ada di Aceh— pernah ditulis sebagai Sumutra, Samutera atau Samara. Dalam catatan Cina disebut Su-men-da-la atau Xu-wen-da-na.

 Contoh lain, yang dalam ucapan sehari-hari sekarang mulai disebut-sebut Pasee, bagaimanakah penulisannya yang benar? Apakah menggunakan satu atau dua abjad e. Lalu nama itu ditulis Pasai dalam catatan sejarah sekarang yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Padahal dulunya, di abad 16-17, pernah dituliskan sebagai Pasem, Pacem, dan Pacee. Bahkan pernah ditulis sebagai Pasey, atau Basma.Berikutnya, kita mengenal sebutan dan penulisan Pidie yang jarang melahirkan berdebatan. Namun dahulu, pada akhir abad 16, ketika dua bersaudara de Houtman ditangkap oleh raja di Pidie, maka masih ditulis sebagai Pidir dan Pidi.

Nah, sekarang kita tak mengenal lagi Lamuri (900-1513), sebuah negara tradisional yang pernah diserang Sriwijaya pada 930; dan oleh kekuatan politik intenasional, yakni Chola I pada 1030 (mungkin berasal dari Thailand). Mungkin karena tertutup oleh kebesaran Aceh Darussalam maka tidak diperdebatkan. Namun, bisa juga digali kembali sebagai puncak kebesaran Aceh Besar, sebelum kejayaan Aceh Darussalam yang sekarang pusatnya berada dalam teritorial Kotamadya Banda Aceh.Dalam catatan Cina ditulis sebagai Lamli, Lan-wu-li, Lam-bu-li atau Lan-bo-li. Dalam teks Arab disebut sebagai Rami, Ramni, Lamri, Lawri atau Lambri, dan Gupta mencatat ada yang menuliskannya Lamiri dan Lamori. Menurut Cowan yang dikutip oleh Lombard, “Lamuri berasal dari Lam-Puri, artinya “Kota Dalam” (Kota Puri).”


Mungkin nama tersebut menjelaskan kontek sosial dan politik Aceh Besar saat itu bahwa Islam belum menjadi agama dan kekuatan politik yang dominan.Lalu bagaimana dengan Aceh (1511-1903)? Ia bermula sebagai nama sebuah kota, kemudian nama sebuah kesultanan, sejalan dengan kebesaran negara tradisional itu menjadi sebuah nama (inti) teritorial politik, lalu nama sebuah bangsa, bahasa dan akhirnya suku di antara sejumlah suku yang hidup di dalam teritorial Aceh manakala telah menjadi bagian dari wilayah politik Indonesia. Achei, penyebutan yang pertama sekali ditemukan dalam karya Barros. Sejak kemunculan karya-karya Eropa abad 16 hingga 18 sudah ditemukan penyebutan Achem, Achin, dan Atchin. Sedangkan mulai umum dikenal pada abad 17, adalah Achen.

Pires masih menyebutnya sebagai Achey.
Namun dalam salinan pernyataan Sultan ‘Ala ad-Din –sebagai raja yang memerintah di wilayah Bawah Angin— yang berkenaan dengan perjanjian dagang dengan Inggris pada 1602, tertulis sebagai Acheen. Sedangkan dalam salinan surat Ratu Elizabeth —sebagai Ratu Inggris, Prancis dan Irlandia— kepada Raja Aceh pada 1601 tersebutkan Achem (King of Achem).

Dalam salinan surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja Prancis yang dihantarkan oleh Beaulieu, tersebutkan Achen. Suatu periode sejarah yang menjelaskan Aceh telah menaklukan kekuatan-kekuatan politik di wilayah masyrik –kerajaan Deli, Pahang, Kedah dan Perak; dan wilayah maghrib – kerajaan Pariaman, Tiku dan Paseman. Sementara Sultan Turki yang menyebut dirinya sebagai Sultan Rum menyebut Negeri Aceh Darussalam terletak di bumi masyrik.

Dalam naskah Cina abad 17 dituliskan sebagai A-ts’i dari bentuk pengucapan lama Acih, dan ada juga yang menyebutnya Ya-qi. Dalam catatan Dong xi yang kao (1618) disebut A-qi. Namun para pedagang Arab dan Persia –yang mana menurut Das Gupta menjadikan tempat peristirahatannya—lebih mengenal dengan sebutan Achin. Jika bersumberkan pada ahli sejarah Pakistan, Allama Quadri yang menemukan besarnya pengaruh Sind di Aceh, maka Lombard mendapat sebutan lainnya, yakni Achchay (yang dalam bahasa Urdu berarti menyenangkan).Baru masuk ke abad 19 penulisan itu membaku menjadi Atjeh. Kemudian, penulisan Aceh pun mengikuti perkembangan ejaan Bahasa Indonesia setelah paruh pertama abad 20 hingga saat ini.Perihal asal-usul nama tersebut, menurut Lombard kalau berdasarkan pada kebiasaan Melayu yang cenderung memberikan nama tempat dengan mengacu pada nama tumbuh-tumbuhan, Achi merupakan nama tanaman khas setempat (betapa pun belum ada orang yang bisa menunjukkan pohon tersebut).DasGupta –yang menulis disertasi di Cornell University pada 1961, dan menurut pengakuan Lombard belum sempat dibacanya—mencatat adanya 2 kemungkinan asal muasal nama Aceh.

 Pertama, nama itu berasal dari sebuah legenda yang mengisahkan seorang putri raja yang hilang, lalu ditemukan di Sumatera oleh abangnya. Achi sebutan untuk adik perempuan tersebut. Lalu, Putri Hindu tersebut menjadi ratu di negeri yang kemudian dikenal sebagai Acheh.Versi kedua, ada kapal yang ditumpangi oleh pedagang dari Gujarat yang masuk ke sungai Aceh –yang dahulunya bernama Chera— ketika sampai sekitar kampung Pande mereka terkena hujan lebat. Lalu, ketika mereka mendapatkan tempat istirahat, maka mereka berseru: “Acha! Acha! Acha! (yang artinya baik)” Lalu segera mereka menamakan negeri itu sebagai Negeri Achai.Dalam buku untuk pelajaran membaca dan bahasa Aceh pada tingkat sekolah dasar pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, versi yang terakhir ini dikisahkan kembali oleh Jauhari Ishak dan Abu Hani. Ketika ditimpa hujan lebat, maka awak kapal Gujarat itu berteduh di pohon kayu yang besar, seraya mengatakan: Atja! Atja! Atja! Atja! Atja! (yang artinya dalam bahasa Aceh: ceudah). Lalu kapal itu bertolak ke Pidie.***
Otto Syamsuddin Ishak, Modus Aceh.



View the original article here

22.29 | Posted in , , , , | Read More »

Negeri "Achai"

Pada masa perang lalu, sebagian kecil orang tertarik dengan perdebatan bagaimana menuliskan kata Aceh. Ada yang menuliskannya dengan Acheh, Atjeh dan Aceh. Pertengkaran bisa menghebat karena cara penulisan diklaim menentukan kadar keAcehannya.
Mungkin juga hal itu tidaklah sepelik yang dimaknakan oleh yang mereka pertengkarkan. Mungkin Aceh mewakili penulisan ejaan baru; Atjeh mewakili penulisan ejaan lama, dan Acheh bukan mewakili ejaan Melayu. Sebetulnya kepelikan – akibat sok paling politis dan keacehan itu— semakin berkurang manakala kita telusuri pada sejumlah artikel tentang sejarah Aceh.Dennys Lombard memberikan catatan khusus tentang penyebutan beberapa nama tempat di Aceh. Dalam bukunya: Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), bahkan ia meletakkan bagian aneka penulisan kata Aceh di bagian awal bukunya itu.Sebelumnya, apa yang kita kenal sekarang sebagai Perlak (840-1292), oleh Marco Polo ditulis Ferlec. Ada juga yang menuliskannya Barlak, Perla—yang dalam dialek Aceh disebut: Peureulak. Demikian pula Idi yang dahulu juga sudah dikenal, maka ditulis oleh Karl May sebagai Edi. Lalu bagaimana dengan Benua Tamiang (960-1558), yang disebut dengan dialek Aceh sebagai Tamieng. Ini kerajaan tertua ketiga, setelah Perlak dan Samudra Pasai.

Dan, bila Tamiang diserang Majapahit pada 1352, maka Pasai diserang pada 1360, atau menurut catatan Marre sekitar akhir abad 14. Sedangkan Perlak sudah bangkrut atau merosot menjadi kekuatan politik lokal pada masa itu.Kita ambil contoh lagi, penulisan yang kita kenal saat ini sebagai Samudra (1267-1524) —yakni nama dari salah satu negara tradisional yang pernah ada di Aceh— pernah ditulis sebagai Sumutra, Samutera atau Samara. Dalam catatan Cina disebut Su-men-da-la atau Xu-wen-da-na.

 Contoh lain, yang dalam ucapan sehari-hari sekarang mulai disebut-sebut Pasee, bagaimanakah penulisannya yang benar? Apakah menggunakan satu atau dua abjad e. Lalu nama itu ditulis Pasai dalam catatan sejarah sekarang yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Padahal dulunya, di abad 16-17, pernah dituliskan sebagai Pasem, Pacem, dan Pacee. Bahkan pernah ditulis sebagai Pasey, atau Basma.Berikutnya, kita mengenal sebutan dan penulisan Pidie yang jarang melahirkan berdebatan. Namun dahulu, pada akhir abad 16, ketika dua bersaudara de Houtman ditangkap oleh raja di Pidie, maka masih ditulis sebagai Pidir dan Pidi.

Nah, sekarang kita tak mengenal lagi Lamuri (900-1513), sebuah negara tradisional yang pernah diserang Sriwijaya pada 930; dan oleh kekuatan politik intenasional, yakni Chola I pada 1030 (mungkin berasal dari Thailand). Mungkin karena tertutup oleh kebesaran Aceh Darussalam maka tidak diperdebatkan. Namun, bisa juga digali kembali sebagai puncak kebesaran Aceh Besar, sebelum kejayaan Aceh Darussalam yang sekarang pusatnya berada dalam teritorial Kotamadya Banda Aceh.Dalam catatan Cina ditulis sebagai Lamli, Lan-wu-li, Lam-bu-li atau Lan-bo-li. Dalam teks Arab disebut sebagai Rami, Ramni, Lamri, Lawri atau Lambri, dan Gupta mencatat ada yang menuliskannya Lamiri dan Lamori. Menurut Cowan yang dikutip oleh Lombard, “Lamuri berasal dari Lam-Puri, artinya “Kota Dalam” (Kota Puri).”


Mungkin nama tersebut menjelaskan kontek sosial dan politik Aceh Besar saat itu bahwa Islam belum menjadi agama dan kekuatan politik yang dominan.Lalu bagaimana dengan Aceh (1511-1903)? Ia bermula sebagai nama sebuah kota, kemudian nama sebuah kesultanan, sejalan dengan kebesaran negara tradisional itu menjadi sebuah nama (inti) teritorial politik, lalu nama sebuah bangsa, bahasa dan akhirnya suku di antara sejumlah suku yang hidup di dalam teritorial Aceh manakala telah menjadi bagian dari wilayah politik Indonesia. Achei, penyebutan yang pertama sekali ditemukan dalam karya Barros. Sejak kemunculan karya-karya Eropa abad 16 hingga 18 sudah ditemukan penyebutan Achem, Achin, dan Atchin. Sedangkan mulai umum dikenal pada abad 17, adalah Achen.

Pires masih menyebutnya sebagai Achey.
Namun dalam salinan pernyataan Sultan ‘Ala ad-Din –sebagai raja yang memerintah di wilayah Bawah Angin— yang berkenaan dengan perjanjian dagang dengan Inggris pada 1602, tertulis sebagai Acheen. Sedangkan dalam salinan surat Ratu Elizabeth —sebagai Ratu Inggris, Prancis dan Irlandia— kepada Raja Aceh pada 1601 tersebutkan Achem (King of Achem).

Dalam salinan surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja Prancis yang dihantarkan oleh Beaulieu, tersebutkan Achen. Suatu periode sejarah yang menjelaskan Aceh telah menaklukan kekuatan-kekuatan politik di wilayah masyrik –kerajaan Deli, Pahang, Kedah dan Perak; dan wilayah maghrib – kerajaan Pariaman, Tiku dan Paseman. Sementara Sultan Turki yang menyebut dirinya sebagai Sultan Rum menyebut Negeri Aceh Darussalam terletak di bumi masyrik.

Dalam naskah Cina abad 17 dituliskan sebagai A-ts’i dari bentuk pengucapan lama Acih, dan ada juga yang menyebutnya Ya-qi. Dalam catatan Dong xi yang kao (1618) disebut A-qi. Namun para pedagang Arab dan Persia –yang mana menurut Das Gupta menjadikan tempat peristirahatannya—lebih mengenal dengan sebutan Achin. Jika bersumberkan pada ahli sejarah Pakistan, Allama Quadri yang menemukan besarnya pengaruh Sind di Aceh, maka Lombard mendapat sebutan lainnya, yakni Achchay (yang dalam bahasa Urdu berarti menyenangkan).Baru masuk ke abad 19 penulisan itu membaku menjadi Atjeh. Kemudian, penulisan Aceh pun mengikuti perkembangan ejaan Bahasa Indonesia setelah paruh pertama abad 20 hingga saat ini.Perihal asal-usul nama tersebut, menurut Lombard kalau berdasarkan pada kebiasaan Melayu yang cenderung memberikan nama tempat dengan mengacu pada nama tumbuh-tumbuhan, Achi merupakan nama tanaman khas setempat (betapa pun belum ada orang yang bisa menunjukkan pohon tersebut).DasGupta –yang menulis disertasi di Cornell University pada 1961, dan menurut pengakuan Lombard belum sempat dibacanya—mencatat adanya 2 kemungkinan asal muasal nama Aceh.

 Pertama, nama itu berasal dari sebuah legenda yang mengisahkan seorang putri raja yang hilang, lalu ditemukan di Sumatera oleh abangnya. Achi sebutan untuk adik perempuan tersebut. Lalu, Putri Hindu tersebut menjadi ratu di negeri yang kemudian dikenal sebagai Acheh.Versi kedua, ada kapal yang ditumpangi oleh pedagang dari Gujarat yang masuk ke sungai Aceh –yang dahulunya bernama Chera— ketika sampai sekitar kampung Pande mereka terkena hujan lebat. Lalu, ketika mereka mendapatkan tempat istirahat, maka mereka berseru: “Acha! Acha! Acha! (yang artinya baik)” Lalu segera mereka menamakan negeri itu sebagai Negeri Achai.Dalam buku untuk pelajaran membaca dan bahasa Aceh pada tingkat sekolah dasar pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, versi yang terakhir ini dikisahkan kembali oleh Jauhari Ishak dan Abu Hani. Ketika ditimpa hujan lebat, maka awak kapal Gujarat itu berteduh di pohon kayu yang besar, seraya mengatakan: Atja! Atja! Atja! Atja! Atja! (yang artinya dalam bahasa Aceh: ceudah). Lalu kapal itu bertolak ke Pidie.***
Otto Syamsuddin Ishak, Modus Aceh.



View the original article here

22.29 | Posted in , , , , | Read More »

Blog Archive

Labels